Dipaksa menikah dengan pria yang terkenal dingin dan kejam untuk menggantikan Kakak tirinya yang pergi melarikan diri menjelang pernikahan, Gia tak bisa menolak.
Gia berdiri di samping Tuan Ardiansyah yang berkuasa, dengan seluruh tubuh gemetar dan air mata yang menggenang di pelupuk mata.
Dia takut kalau Tuan Ardiansyah tau yang ada di balik kain veil itu adalah dirinya, bukan Siska Kakaknya.
Tapi tangan hangat dengan jari yang besar justru menggenggam tangannya.
"Bernapaslah, ikuti kataku. Semua akan baik-baik saja!"
Bagaimana jadinya jika Tuan Ardiansyah yang terkenal kejam itu justru tak seperti yang orang katakan. Dia justru begitu hangat dan perhatian, apa Siska akan menyesal telah meninggalkan pernikahan waktu itu?
Apa Siska akan kembali dan merusak kebahagiaan yang baru saja Gia dapatkan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon santi.santi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kopi dan rahasia kecil
Cahaya matahari pagi menyusup malu-malam melalui celah gorden sutra yang tebal, menyinari wajah Gia yang masih terlelap. Perlahan, Gia membuka matanya dan mengerjap beberapa kali. Hal pertama yang ia rasakan adalah kehangatan yang tidak biasa di sampingnya. Saat kesadarannya terkumpul sepenuhnya, barulah ia menyadari bahwa kepalanya tidak lagi beralaskan bantal, melainkan lengan kekar milik Ares.
Gia seketika menahan napas. Wajah Ares begitu dekat, hingga hembusan napas pria itu terasa lembut menyentuh dahinya. Ares tampak masih terlelap dengan ekspresi wajah yang jauh lebih santai tanpa kerutan di dahi yang biasanya muncul saat pria itu sedang memikirkan urusan perusahaan.
Gia bermaksud menggeser tubuhnya sedikit agar tidak terlalu menempel, namun pergerakan kecil itu justru membuat mata Ares terbuka perlahan. Suara pria itu terdengar sangat serak dan dalam khas bangun tidur, memberikan getaran yang aneh di dada Gia.
"Mau ke mana? Masih pagi, Gia!" Gumam Ares. Bukannya melepaskan, tangan satunya justru menarik pinggang Gia agar kembali mendekat ke arahnya.
Gia seketika salah tingkah, wajahnya terasa panas memerah. Baru kali ini dia disentuh laki-laki sampai seperti itu.
"E-eh, Mas Ares sudah bangun? Saya... emm, Gia mau siapkan sarapan!"
Ares terkekeh kecil. Suara tawa rendah itu terdengar begitu akrab di telinga Gia.
"Nggak usah buru-buru. Biar pelayan yang urus dapur. Sini bentar, temani Mas!"
Ares kemudian menumpu kepalanya dengan tangan, menatap Gia yang tampak kaku di hadapannya.
"Tidur nyenyak semalam? Mas nggak nendang kamu, kan?"
"Enggak, Mas... tapi..." Gia meremas ujung selimut dengan gugup.
"Nggak apa-apa ya kalau tidur seranjang, Mas Ares nggak keberatan?"
Ares tersenyum tipis. Ia mengulurkan tangannya, mengacak rambut Gia yang sedikit berantakan dengan gerakan gemas.
"Ya nggak apa-apa, Gia. Kamu kan istri Mas. Mas justru yang harusnya tanya, kamu nyaman nggak tidur di sini?"
"Nyaman, Mas," jawab Gia lirih, hampir tidak terdengar.
"Lebih nyaman tidur pakai bantal apa pakai baju Mas?"
Blushhh...
Wajah Gia yang masih sembab karena bangun tidur langsung memerah sempurna. Hal apa yang membuat Ares mengeluarkan lelucon macam itu pagi-pagi begini. Sepertinya Ares harus bertanggungjawab karena membuat jantung anak orang berdetak tak karuan.
"Mas makin gemas sama kamu kalau lagi malu-malu gini, kecil!"
"Masss!" Gia mengeluh dengan manja namun Ares malah terkekeh menertawakan Gia.
Ares bergeser sedikit, menatap langit-langit kamar dengan posisi tangan di belakang kepala.
"Dengar ya, Gia. Mas tahu kita mulainya nggak normal. Mas juga tahu Mas orangnya kaku dan sering bikin kamu takut. Mas juga jauh lebih tua dari kamu. Tapi kalau lagi di kamar ini, kamu nggak perlu formal banget sama Mas. Santai saja, ya?"
Gia mengangguk pelan, mencoba mencerna kehangatan yang ditawarkan pria itu.
"Iya, Mas"
Ares tersenyum lebar, menunjukkan sisi dirinya yang jarang ia perlihatkan kepada dunia luar.
"Mas Ares mau sarapan apa?" tanya Gia, kali ini dengan nada bicara yang sedikit lebih berani.
Ares tampak berpura-pura berpikir serius dengan wajah tampannya itu.
"Hmm... Mas mau kopi buatan kamu saja. Tapi nanti ya, lima menit lagi. Mas masih mau lihat wajah bangun tidur kamu yang lucu ini!"
Gia sontak menutup wajahnya menggunakan bantal karena malu, membuat Ares kembali tertawa lepas memenuhi seisi kamar utama tersebut.
🌹🌹🌹
Gia akhirnya berhasil meloloskan diri dari dekapan Ares dan segera beranjak menuju dapur. Meskipun mansion itu memiliki banyak pelayan, ia bersikeras ingin membuatkan kopi itu sendiri. Dia juga tidak kapok sama sekali dengan omelan Nyonya besar. Dia hanya ingin menjadi istri, atau peliharaan yang baik untuk Ares yang sudah memperlakukannya dengan begitu baik. Di dapur yang megah dan sunyi, Gia sibuk mencari letak biji kopi dan mesin pemanas air, hingga akhirnya aroma robusta yang kuat mulai memenuhi ruangan.
Tak lama kemudian, langkah kaki santai terdengar mendekat. Ares muncul dengan kemeja putih yang belum dikancingkan sempurna, rambutnya masih sedikit acak-acakan, memberikan kesan maskulin yang sangat alami.
Ares menarik kursi tinggi di meja bar dapur, memerhatikan gerak-gerik Gia yang tampak begitu telaten. Ia tidak menyangka bahwa kehadiran seorang wanita di dapurnya bisa memberikan pemandangan yang sejuk di pagi hari.
"Pelan-pelan saja, Gia. Mas nggak lari ke mana-mana kok," Goda Ares saat melihat tangan Gia sedikit gemetar saat menuangkan air panas.
Gia tersenyum malu dan meletakkan cangkir itu di depan Ares.
"Ini, Mas. Gia nggak tahu Mas sukanya yang seperti apa, jadi Gia buatkan yang standar saja!"
Ares menyesap kopi itu perlahan. Matanya terpejam sejenak, menikmati kehangatan yang menjalar di tenggorokannya.
"Enak. Pas banget di lidah Mas. Kamu memang tahu cara bikin Mas ketagihan, ya?"
Wajah Gia kembali memerah. "Mas Ares bisa saja. Itu kan cuma kopi biasa!"
Ares meletakkan cangkirnya, lalu menatap Gia dengan raut wajah yang sedikit lebih serius namun tetap santai.
"Gia, Mas mau tanya. Sebenarnya, apa yang kamu pikirkan saat pertama kali tahu kalau kamu yang harus menggantikan Siska di altar hari itu? Jujur saja sama Mas!"
Gia terdiam sebentar, jemarinya memainkan ujung celemek yang ia kenakan.
"Jujur... Gia takut, Mas. Gia takut Mas Ares bakal benci saya seumur hidup karena Gia cuma cadangan. Gia takut Mas bakal anggap Gia pengganggu di antara Mas dan Kak Siska. Dan..." Gia melirik Ares dengan takut-takut.
"Dan?" Ares menunggu kelanjutan ucapan Gia.
"Dan kata orang... Mas itu..."
"Mas kejam, galak, dingin dan suka makan orang, gitu?"
"Emmm.." Gia meringis menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
"Ya tidak sampai makan orang Mas!"
Ares menghela napas, ia meraih tangan Gia yang berada di atas meja bar.
"Dengar ya. Mas memang kecewa sama Siska, tapi Mas nggak pernah menyesal hari itu yang berdiri di sana adalah kamu. Justru setelah beberapa hari ini, Mas malah mikir... mungkin memang seharusnya begini jalannya"
Ares mengusap punggung tangan Gia dengan ibu jarinya.
"Mas nggak cari wanita yang sempurna buat dipamerkan, Gia. Mas cuma butuh seseorang yang bisa diajak bicara seperti ini. Jadi, jangan pernah merasa rendah diri lagi, ya?"
Gia hanya mengangguk karena dia kira Ares akan marah dengan ucapannya tadi.
"Dan, jangan dengarkan juga omongan orang diluar sana tentang Mas. Coba Mas tanya sama kamu, apa selama kamu jadi istri Mas, Mas pernah marah-marah sampai mau makan kamu?" Gia hanya menggeleng menjawabnya.
"Semua itu hanya rumor. Jangan pikirkan. Lihat saja apa yang ada di depan mata kamu!"
Gia menatap mata Ares, mencari kebohongan di sana, namun yang ia temukan hanyalah ketulusan yang menenangkan.
"Tapi Mas, apa Mas nggak merasa rugi? Menikah sama Gia yang nggak punya apa-apa, sedangkan Kak Siska punya segalanya?"
Ares malah terkekeh, suaranya terdengar sangat ringan.
"Punya segalanya? Siska punya ego yang besar, Gia. Dan itu melelahkan buat Mas. Kamu punya ketulusan, dan itu jauh lebih mahal harganya di mata Mas"
Ares kemudian menarik tangan Gia sedikit lebih dekat hingga wajah mereka hanya berjarak beberapa senti di atas meja bar.
"Kamu tahu nggak apa yang paling Mas suka dari pagi ini?"
"Apa, Mas?"
Tanya Gia polos dengan jantung yang berdebar kencang.
"Suara kamu pas panggil 'Mas Ares'. Kedengarannya lebih nyata daripada semua pujian yang Mas dapat di kantor!" Bisik Ares sambil memberikan senyum tipis yang mematikan.
Gia terpaku, merasakan kehangatan yang menjalar dari tangan Ares ke seluruh tubuhnya. Di dapur yang sunyi itu, rahasia-rahasia kecil mulai terungkap, dan untuk pertama kalinya, Gia merasa bahwa ia bukan lagi sekadar pengganti, melainkan pusat dari dunia baru yang sedang dibangun oleh Ares.
sabar satria, dah maklumin aja orang lagi bucin mah suka begitu
Tuh semua jadi tahu kalau Gia istri Ares Ardiansyah, gak ada yg berani nganggu tuh di kampus