NovelToon NovelToon
Ling Feng : Menyulam Tanya Dalam Bahasa Sunyi Dunia.

Ling Feng : Menyulam Tanya Dalam Bahasa Sunyi Dunia.

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Epik Petualangan
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: MagnumKapalApi

Karya Orisinal.

Genre: Fantasi Timur, Kultivasi, Xianxia.
Sub-Genre: Filosofi, Romance, Adventure, Action.

Desa kecil yang dipenuhi buai kenangan, Jinglan namanya. Di sebalik kabus fajar di ladang, hiduplah Aku—Ling Feng—berdiri ragu, mencoba merabit kata Pak Tua Chen, menyulamnya dengan tanya yang berbalut sunyi. Dalam pengembaraan, Aku menenun apa yang kubawa.

“Untuk Apa Kehidupan Dijalani?”

Jawab mungkin tak pernah kudapatkan. Namun, akankah Jawab sudi menyapaku kelak dan menanti?

Kupastikan langkahku setia pada arah, walau kelak degup jiwa tak lagi tegak menopang raga, kan kusulam tanya dalam bahasa sunyi dunia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MagnumKapalApi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 11 : Di Bawah Tenda Api, Takdir Mulai Bergerak.

Perkemahan sekte lebih mengesankan ketika kulihat dari jarak dekat.

Tenda-tenda itu tidak berdiri seperti kain yang dipancang seadanya. Tenunan rumit menjalar di permukaannya, berkilau samar saat api unggun bergetar, seakan cahaya bukan hanya memantul, tetapi ditahan lalu dilepaskan perlahan. Tiang-tiangnya diukir simbol yang tak kupahami, namun tubuhku menangkapnya lebih dulu. Ada getaran tipis, tertib, seperti sesuatu yang telah lama belajar menahan diri.

Tenda yang diberikan padaku dan Abu kecil, bersih, dan sunyi. Bau herbal menggantung di udara, pahit dan hangat sekaligus.

Seorang tabib datang tanpa banyak suara. Wanita setengah baya, sorot matanya tajam, bukan kejam, melainkan terbiasa melihat luka tanpa gentar.

Tangannya bergerak mantap. Saat jemarinya menyentuh dadaku, rasa dingin merambat lalu mengalir pelan, membersihkan, menata ulang. Energi itu berbeda dari Xue Gou. Tidak liar. Tidak merobek. Ia tahu batasnya.

“Kau beruntung,” katanya, hampir datar. “Tulang rusukmu berhenti sebelum paru-paru.” Kain balut beraroma daun kering melingkari dadaku.

“Masih ada sisa kotoran. Tapi tubuhmu sudah mulai menolaknya sendiri.”

Ia beralih ke Abu. Lama ia memeriksa kaki depan yang terluka. Alisnya mengerut, bukan karena ragu, melainkan menghitung.

“Tendon rusak. Ada infeksi energi.”

Ia menoleh padaku.

“Tapi ada bekas pemurnian. Kau yang melakukannya?”

Aku mengangguk.

“Itu yang menahan luka ini agar tidak runtuh lebih cepat,” katanya. “Bisa disembuhkan. Tapi butuh waktu. Dan istirahat. Bergerak sekarang hanya akan memperdalam ingatan sakitnya.”

“Bisakah …?”

Pertanyaanku berhenti di tengah.

Ia mengangguk.

Cukup sekali.

Setelah ia pergi, sunyi kembali mengisi tenda. Aku duduk di samping Abu, mengelus kepalanya pelan, mengikuti napasnya yang mulai teratur.

“Kau dengar itu?” bisikku. “Istirahat.”

Ia menggeram rendah, lalu berbaring. Kepalanya bertumpu di pangkuanku, berat dan hangat, seperti janji yang tidak diucapkan.

Tak lama kemudian, langkah kaki berhenti di depan tenda.

Xiao Lu masuk lebih dulu. Di belakangnya, seorang pria yang lebih tua. Rambutnya beruban, diikat rapi. Janggutnya pendek, terawat. Usianya mungkin sekitar lima puluh, tapi cara ia berdiri membuat angka itu tak berarti.

Matanya biru tua.

Tatapan itu tidak menusuk, tidak menekan, namun terasa seperti air dalam yang diam, tempat sesuatu bisa tenggelam tanpa suara. Aku merasa dilihat, bukan hanya tubuhku, tapi celah-celah yang belum sempat kututup.

Ia berdiri di sana sejenak.

Dan entah kenapa, dadaku menegang, seperti tanah yang tahu hujan besar sedang ditahan tepat di atasnya.

"Shifu, ini Ling Feng," kata Xiao Lu.

Shifu—Guru—Pemimpin. Mengangguk. Lalu, duduk di bangku kecil di seberangku. Gerakannya efisien, tanpa pemborosan energi.

"Xiao Lu memberitahuku apa yang terjadi," katanya. Suaranya dalam, tenang, tapi penuh otoritas. "Kamu dari Jinglan. Bertahan dari Xue Gou. Dan memiliki kemampuan komunikasi dengan alam."

"Sepertinya begitu, Tuan," jawabku.

"Panggil aku Shifu Sheng," katanya. "Kami dari Sekte Cang Huo Zang. Kami telah mengejar Xue Gou dan kelompoknya selama tiga bulan. Mereka bukan sekadar bandit, mereka kultivator terlarang yang menggunakan metode perampasan energi untuk mempercepat kemajuan mereka."

"Perampasan energi," ulangku. "Seperti yang mereka lakukan pada serigala ini."

Shifu Sheng melihat Abu, matanya menyipit. "Ya. Dan pada manusia juga. Mereka mengambil energi kehidupan dari makhluk hidup untuk memperkuat diri sendiri. Itu melanggar hukum alam dan semua kode etik kultivasi."

Dia kembali menatapku. "Kau mengatakan kereta bendera Xue Gou dibakar, tapi bukan oleh kami."

"Ya. Xiao Lu mengatakan demikian."

"Dan itu benar," kata Shifu Sheng. "Kami merencanakan serangan, tapi belum melaksanakannya. Seseorang telah mendahului kami."

"Apakah ada sekte lain yang mengejarnya?" tanyaku.

"Beberapa. Tapi tidak ada yang kami tahu memiliki rencana menyerang Xue Gou sekarang." Dia berdiri, berjalan mondar-mandir di dalam tenda kecil. "Atau ... mungkin itu dari dalam."

Kecurigaanku terhadap Wei Zhang menguat, tapi sekali lagi, aku diam. Kenapa? Mungkin karena peringatan naluriah, sesuatu yang mengatakan bahwa informasi ini lebih berharga jika disimpan untuk diriku sendiri dulu.

"Kau punya ide?" tanya Xiao Lu, memperhatikan raut wajahku.

"Tidak," jawabku, terlalu cepat. “Aku hanya memikirkan. Untuk apa hidup dijalani?”

Shifu Sheng berhenti, menatapku. Dia tahu aku berbohong, itu jelas dari caranya mengangkat satu alis. Tapi dia tidak menekan.

"Kamu butuh istirahat," katanya. "Besok, kita akan bicara lebih banyak. Dan ... mungkin kamu bisa membantu kami melacak Xue Gou. Jejak energimu mungkin masih terhubung dengannya, setelah konfrontasi itu."

Setelah mereka pergi, tenda kembali menjadi ruang yang terlalu sunyi untuk disebut kosong.

Aku berbaring di alas tidur darurat, menatap atap kain yang beriak halus setiap kali angin malam menyentuhnya. Bayang-bayang api unggun di luar bergerak samar, seperti ingatan yang tak mau diam.

Di lantai, Abu terbaring di sisiku. Napasnya kini lebih dalam, lebih teratur, irama hidup yang perlahan menemukan jalannya kembali.

Namun pikiranku tak mengikuti ketenangan itu. Ia berputar, saling bertabrakan, seperti dedaunan yang terperangkap pusaran angin. Sekte Cang Huo Zang tampak tertib, terjaga, nyaris terlalu rapi untuk dunia yang baru saja hampir merenggut nyawaku. Kebaikan mereka terasa nyata, tapi kepercayaan bukan sesuatu yang tumbuh hanya dari niat baik. Dan bayangan kereta Xue Gou yang terbakar kembali muncul, api yang datang dari tangan siapa? Jika benar dari Wei Zhang, apa yang mendorongnya? Dendam yang terlambat, atau perhitungan dingin saat kesempatan terbuka?

Lebih dalam dari semua itu, ada pertanyaan yang lebih berat, yang tidak bisa kusingkirkan hanya dengan logika.

Ke mana aku akan melangkah setelah ini?

Nama Jinglan muncul di kepalaku seperti gema dari lembah yang jauh. Bukan jauh oleh jarak, melainkan oleh waktu dan keadaan batin.

Desa itu adalah buaian, tempat dunia mengecil agar seorang anak bisa belajar bernapas. Dan tanpa benar-benar kusadari, aku telah melangkah keluar dari buaian itu. Dunia di hadapanku kini lebih luas, lebih liar, dan lebih berbahaya. Tapi juga … lebih hidup. Seolah setiap langkah ke depan membawa denyut yang belum pernah kurasakan sebelumnya.

Tanganku terangkat, menyentuh manik batu biru di leherku. Dingin, seperti biasanya. Namun kini ada sesuatu yang lain, getaran halus, nyaris tak terasa, seperti denyut jantung kedua yang bersembunyi di balik dadaku. Benda itu tidak lagi diam. Ia mendengarkan. Atau mungkin … menunggu.

Untuk apa hidup dijalani?

Pertanyaan itu tidak keluar sebagai teriakan, hanya bisikan yang larut di antara napas. Abu mengangkat kepalanya, mata kuningnya menatapku—jernih, hadir, tanpa ragu. Dalam tatapan itu, aku menemukan jawaban yang tidak berbentuk kata. Mungkin hidup dijalani untuk ini: untuk melindungi ketika bisa, untuk belajar ketika tak tahu, dan untuk menemukan makna bukan dengan jawaban, melainkan dengan berani tinggal di dalam pertanyaan.

Keputusan itu tumbuh pelan, tanpa dentang. Aku akan membantu sekte ini melacak Xue Gou. Bukan karena dendam, bukan karena darah yang hampir tertumpah, tetapi karena ada sesuatu yang harus dihentikan, perampasan yang merusak keseimbangan, yang menyakiti makhluk hidup demi kemajuan semu.

Namun di balik tujuan itu, ada arus lain yang lebih pribadi. Rasa ingin tahu yang selama ini terpendam kini bangkit, tak lagi bisa diabaikan. Siapa orang tuaku sebenarnya? Mengapa warisan seperti manik batu ini berada di tanganku, jika mereka hanya petani sederhana? Pola pertahanan yang muncul saat aku hampir mati, itu bukan kebetulan. Dan bukan sesuatu yang lahir dari ladang dan cangkul.

“Ayah … Ibu …” bisikku pada kegelapan, pada ruang di antara ingatan dan kenyataan. “Apa yang kalian sembunyikan dariku?”

Tidak ada jawaban. Hanya angin malam yang menyusup lewat celah tenda, membawa aroma tanah asing, tanah yang bukan Jinglan. Dunia lain. Dunia yang kini mulai mengakuiku sebagai bagiannya.

Aku memejamkan mata, membiarkan lelah menarik tubuhku turun. Namun sebelum tidur benar-benar datang, satu niat mengendap dengan jelas. Besok, aku akan bertanya pada Shifu Sheng, tentang manik batu ini, tentang pola pertahanan itu, tentang kemungkinan warisan kultivasi yang mengalir dalam darahku tanpa pernah kusebut namanya.

Dan mungkin, perlahan, aku akan mulai mengenali diriku sendiri. Bukan hanya Ling Feng dari Jinglan, tetapi Ling Feng yang mendengar napas bumi, yang memegang rahasia yang belum terbuka, dan yang kini berdiri di ambang dunia yang bernapas, bersuara, berdenyut, penuh rahasia yang tidak hanya ingin didengar, tetapi juga ditanyai.

Kali ini, aku siap.

1
anggita
like👍, bunga🌹
Life is Just an Illusion
semangat kak jadilah dewa fantim /Curse//Curse/
Gudang Garam Filter: dewa fantim mah Ucok kak /Curse//Curse/
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!