NovelToon NovelToon
Cinta Dalam Kebencian

Cinta Dalam Kebencian

Status: tamat
Genre:Romantis / Penyesalan Suami / Tamat
Popularitas:2.3M
Nilai: 4.8
Nama Author: La Sha

Canna adalah seorang gadis desa biasa yang di nikahi seorang pengusaha ternama secara diam-diam, setelah insiden memilukan. Bahkan tanpa sepengetahuan dirinya sendiri. Ia mulai menyadari sesuatu saat hatinya sudah mulai terbuka.

Namun, kesungguhan yang diperlihatkan Delano padanya tidaklah nyata. Lelaki tampan itu hanya menginginkan seorang bayi darinya. Setelahnya ia akan menceraikannya.

Rasa cinta yang mulai tumbuh dalam diri Canna, berbaur menjadi rasa benci.

Bagaimanakah nasib rumah tangga mereka kedepannya? Bercerai ataukah bertahan? Mampukah Canna melindungi buah hatinya dari orang-orang yang ingin mengambil keuntungan darinya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon La Sha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Penolakan

"Canna. Panggil aku dengan nama Canna saja!" sahut Canna tersenyum manis, mengakhiri jabatan tangan mereka.

"Rupanya kamu disini!"

Canna membeku mendengar suara familiar tersebut, berpaling dengan segera dan mendapati Pinus yang menyeringai kearahnya.

"Jadi, karena dia kamu menolak diriku!" Pinus pura-pura merajuk.

"Bukan! Bukan karena dia. Ada hal lain yang tidak bisa aku jelaskan!" sahut Canna cepat, melirik pada Ren yang memperhatikan percakapan mereka. Bagaimana mungkin ia menolak Pinus hanya demi seorang lelaki yang baru dikenalnya selama beberapa detik yang lalu.

"Dan kamu bocah, apa yang sedang kamu lakukan disini? Bukankah paman sudah menyuruhmu untuk bekerja hari ini?" Pinus menatap tajam Ren dengan tangan terlipat didada.

"Ampun Paman! Ren akan bekerja setelah ini. Tapi Ren ingin menghibur Nona yang sedih karena ditindas oleh lelaki yang tidak bertanggung jawab!" sindir Ren dengan lirikan matanya.

"Apa kamu bilang!? Siapa yang sudah menindasnya? Katakan sekali lagi!?" gertak Pinus kesal.

Canna meringis mendengar perdebatan kecil mereka berdua. Pantas saja ia merasa familiar dengan wajah Ren, ternyata Ren adalah keponakan Pinus dan wajahnya terlihat sangat mirip.

"Aku lari dari Pinus tetapi malah menghamprir Ren yang lebih gila dari Pinus!" Canna menepuk kepalanya yang terasa sakit.

"Sekarang! Mana berkas yang tadi aku suruh kamu untuk mengambilnya?" pinta Pinus tegas.

Ren tampak cemberut, menatap sekilas kearah Canna yang masih menatap dirinya dengan meringis.

"Baiklah! Baiklah! Aku akan mengambil berkasnya untukmu. Tapi, bisakah kamu menjagakan Canna untukku?" pinta Ren, membuat Pinus menatapnya dengan horor.

"Siapa yang atasan disini dan siapa yang seharusnya memerintah!?"

"Baiklah. Aku mengalah padamu dan tidak akan membantah lagi!" Ren segera berdiri.a

"Cantik! Aku pergi dulu ya, setelah ini kita bisa bertemu lagi di lain waktu!" Tangan Ren terulur ingin mengacak rambut Canna. Tetapi, belum sampai jangkauannya, Pinus sudah mencegahnya terlebih dahulu.

"Tidak sopan! Kamu baru beberapa detik mengenalnya tetapi sudah terlihat sangat akrab!" Pinus menyingkirkan tangan Ren.

Canna masih pada posisinya, merasa canggung dengan 2 lelaki yang sedang berdebat manis didepannya.

"Canna! Kita belum selesai bicara!"

"Eh!" sahut Canna terkejut sembari menatap kepergian Ren yang menghilang ditepi jalan.

"Aku rasa kamu sudah tahu jawabannya. Aku... tidak bisa menjadi seperti yang kamu mau."

Pinus meraih kedua belah bahu Canna, meremasnya pelan. Menatap dalam mata hitam pekat milik Canna. Mata yang meneduhkan bagi siapa saja yang melihatnya.

"Tidak ada alasan yang mampu untuk menolakku. Aku tahu, kamu juga mencintaiku. Tapi kenapa kamu memberikan keputusan sepihak seperti itu?" desak Pinus tenang.

"Aku_ Kak Pinus! Keputusan ada ditanganku. Kenapa kamu masih mengeras berbicara seperti itu. Lagi pula, aku tidak seperti yang kamu bilang!" Canna menurunkan kedua tangan Pinus dari bahunya. Berangsur mundur dari hadapan Pinus.

"Ma'af. Aku tidak seperti dulu lagi," lirih Canna kembali berpaling dan meninggalkan Pinus yang kembali terpaku menatap kepergiaannya.

Canna kembali berjalan tanpa tentu arah, memikirkan nasibnya yang tidak sebaik keinginannya. Hari perlahan gelap tanpa ia sadari. Canna sedang duduk di halte bis sendirian, menunggu angkutan yang lewat.

"Apa yang dilakukan wanita itu! Apakah dia pikir kalau dia adalah wanita malam? Wanita panggilan?" Delano memperhatikan Canna dari kejauhan dibalik mobilnya. Wanita itu terlihat lebih banyak melamun. Kebetulan ia baru saja pulang dari kantornya.

"Bagaimana kalau kita menghampirinya, sebelum dia diganggu oleh lelaki lain. Apalagi sekarang sudah malam hari. Tidak baik wanita berada ditempat sesepi itu sendirian," saran Derris.

"Tidak perlu!" sahut Delano saat melihat Pinus yang menghampiri Canna. Membawanya menaiki mobilnya. Entah kemana Pinus akan membawa wanita itu. Dan kenapa Canna tidak menolak saat Pinus mengajaknya. Mungkinkah setelah ini mereka akan__

"Sekarang kita pulang!" perintah Delano dingin berusaha menekan amarahnya.

***

Suasana didalam mobil Pinus tampak Canggung. Canna lebih memilih menatap keluar jendela. Sedangkan Pinus sesekali melirik padanya.

"Ma'af! Kalau siang tadi aku terus memaksamu. Bukan seperti itu keinginanku."

Canna berpaling mendengarnya, kembali menatap kearah jendela mobil.

"Tidak ada yang perlu dima'afkan. Dan kamu tidak bersalah, tetapi akulah yang bersalah," sahutnya memilin ujung bajunya.

"Canna. Aku tidak akan merubah keputusanku. Kamu tidak menerimaku tidak menjadi masalah bagiku. Tapi aku akan tetap berusaha untuk menjadikan dirimu sebagai kekasihku."

Deg.

Rasa sakit kembali mendera hati Canna. Tangannya kembali meraba perutnya, semua itu tidak lepas dari lirikan mata Pinus.

"Terima kasih sudah mengantarkanku pulang. Dan kuharap kamu memikirkan kembali apa yang sudah kamu ucapkan," ucap Canna setelah sampai didepan mansion Delano.

"Aku tidak akan menarik kata-kataku. Kuharap kamu mau menerimaku suatu hari nanti setelah melihat perjuanganku," sahut Pinus tegas seiring menutupnya pintu mobil miliknya.

Canna segera berjalan tanpa menghiraukan ucapan Pinus. Ia tetap pada keputusannya, tidak akan mau menerima Pinus karena ia sudah hamil anak Delano. Canna berjalan dengan ragu kearah pintu utama. Kali ini suasananya agak sepi, penjaga pun tidak berjaga diluar seperti biasanya, ini mencurigakan. Ia berjalan dengan mengendap-endap.

Gelap. Suasana dalam mansion sangat gelap saat Canna membuka pintu. Bahkan pintunya tidak dikunci.

"Kenapa tidak dikunci? Apakah sudah terjadi sesuatu?" Canna melangkah dengan hati-hati dikegelapan.

Ceklek!

Canna mematung saat lampu tiba-tiba menyala. Ia melihat Delano yang sedang duduk santai dikursi tamu dengan aura yang menakutkan. Bahkan masih dengan pakaian lengkapnya. Apakah ia baru saja pulang dari kantor.

"Darimana saja dirimu!?" bentak Delano keras sambil menatapnya tajam.

Membuat Canna terlonjak kaget dan menunduk. Ia begitu terkejut saat lampu tiba-tiba menyala, ditambah lagi dengan keberadaan Delano disana. Bagaikan seorang hantu.

"Apa yang dia lakukan disini? Apakah aku akan mendapatkan hukuman sekarang!?" batin Canna.

"Aku... aku... dari...," tunjuk Canna kearah pintu dengan nada ragu tanpa berani menatap Delano.

"Darimana? Dari menjual diri!?" Delano berdecih. Ia berdiri dan berjalan mendekat kearah Canna, masih dengan tatapan datar dan tajamnya. Mengangkat dagu Canna dengan tangan kanannya.

"Tatap diriku saat sedang bicara!?" ucapnya dengan ekspresi marah.

Aura ini benar-benar menakutkan. Canna terpaksa mengangkat kepalanya dan terpaut mata dengan Delano selama beberapa detik.

"Apakah kamu senang berada diluar sana sampai selarut ini? Apa yang kamu dapatkan? Apakah uang ataukah kesenangan?" Delano berdesis, mengatupkan rahangnya keras, memperhatikan Canna dengan seksama.

"Aku tidak seperti itu Tuan Delano. Aku masih bisa membedakan mana yang baik untuk diriku dan mana yang buruk untuk kujauhi!" sahut Canna tegas membela diri. Merasa marah dengan tuduhan Delano yang menghina dirinya. Mengatakan seolah dia adalah seorang jalang.

"Bagus! Kalau kamu sadar diri. Tapi, aku tidak percaya dengan tingkah polosmu itu. Bisa saja kamu sudah melakukannya dengan pria lain!" tuduh Delano. Kali ini ia benar-benar merasa cemburu melihat Canna yang diantar oleh Pinus. Ia juga tahu tentang rencana Pinus hari ini yang ingin menjadikan Canna sebagai kekasihnya. Ia dapatkan informasi dari anak buah yang dikirimnya untuk mengawasi Canna.

"Berapa banyak pria yang sudah kamu goda diluar sana!?" bentaknya kesal.

"Kamu!" telunjuk Canna mengarah tepat kewajah Delano. Dengan mata memerah ia segera berlari dari hadapan Delano tanpa mampu menyelesaikan ucapannya.

Kenapa mesti sekarang ia cengeng, seharusnya ia menampar wajah pria brengsek yang sudah merusak hidupnya. Bukannya justru lari dengan mata yang hampir banjir airmata.

Canna menutup pintu kamarnya dengan keras, menguncinya dari dalam dan membiarkan anak kuncinya berada di lubang kuncinya.

Tok tok tok

Canna hanya menatap pintu tersebut sekilas, tanpa ingin menyahut. Pasti Delano yang melakukan semua itu. Dia benar-benar jahat. Canna menelungkupkan wajahnya diatas bantal, meratapi nasibnya yang sial. Seandainya ia tidak diperkosa oleh Delano hingga hamil, pasti sekarang ia sedang berbahagia bersama Pinus.

"Nona Canna! Buka pintunya!" suara Fiore terdengar dari balik pintu.

"Ada apa?" sahut Canna lebih keras, ia berjalan mendekat kearah pintu. Menyeka air matanya dan mengatur emosinya.

"Makan malam sudah siap dan tuan Delano sudah menunggu dimeja makan!" sahutnya.

"Aku tidak lapar. Aku sudah makan diluar tadi!" tolak Canna.

Setelahnya tidak terdengar lagi suara Fiore. Mungkin ia sudah pergi. Bergegas Canna berjalan kearah kamar mandi, membersihkan dirinya. Setelahnya ia segera duduk diatas tempat tidur. Menatap handphone miliknya, berharap Daisy menghubunginya.

Pintu kembali diketok, dengan cepat Canna merebahkan dirinya dan membalut tubuhnya dengan selimut. Ia tidak siap berhadapan dengan Delano. Laki-laki itu membuatnya merasa marah dengan ucapannya tadi. Bukan dirinya yang bersalah, tapi kenapa Delano harus semarah itu. Lagi pula, hubungan mereka hanyalah pembantu dan tuan rumah.

***

"Tuan. Sepertinya Nona Canna sudah tidur!" ucap Fiore kembali kedapur dengan nampan ditangannya.

"Benarkah? Secepat itu?" sahut Delano menghentikan makannya.

"Sepertinya iya. Karena tidak terdengar suara apapun dari kamarnya."

Delano mengangguk dan kembali meneguk minuman miliknya.

"Apakah tidak keterlaluan kamu menyebut Canna seperti tadi?" tanya Derris. Ia juga mendengar tuduhan dan kemarahan Delano diruang tamu.

"Apakah keterlaluan?" sahut Delano kesal. Berdiri dan berjalan kearah lantai atas.

"Kunci kamar Canna!" Pintanya pada Oryza yang berjalan dibelakangnya.

Oryza dengan segera menyerahkan kunci kamar Canna pada Delano. Lelaki itu dengan segera membukanya, tetapi gagal. Pintunya sama sekali tidak bisa dibuka.

"Kenapa tidak bisa? Apakah kuncinya rusak!?" Delano semakin terlihat kesal. Ingin sekali ia menerobos masuk dan memeluk wanita itu. Menyesal ia bersikap kasar pada Canna tadi.

Oryza maju dan mencoba untuk membukanya, tetapi juga gagal.

"Sepertinya anak kunci milik Nona Canna masih melekat dilubangnya sehingga tidak bisa dibuka!" sahut Oryza kembali kebelakang Delano.

"Apakah dia sedang melakukan hal yang berbahaya didalam sana? Apakah perkataanku tadi keterlaluan?" Delano mendesah, mendelik kearah Derris.

"Sepertinya kata-katamu membuatnya sedih dan lebih mengurung diri dikamar!" sahut Derris.

Delano tampak panik mendengarnya, ia kembali mencoba membuka kunci tersebut dan kembali gagal.

"Dobrak pintunya!" perintah Delano.

Derris dan Oryza saling menatap dengan ekspresi terkejut.

"Tapi Tuan, ini sudah malam. Mungkin saja Nona Canna sedang beristirahat dan benar-benar sudah tidur!" sahut Oryza.

"Benarkah? Apakah kamu yakin dengan semua itu dan mampu menjamin kalau benar-benar tidak terjadi sesuatu padanya!?" kesal Delano dengan setengah membentak.

Oryza terdiam, tidak mampu menjawabnya.

"Kalau tidak tahu, maka dobrak pintunya!" perintah Delano kembali kesal.

"Jangan didobrak! Aku akan masuk melalui pintu balkon kamarnya saja!" sahut Derris cepat. Delano melirik kearah Derris dengan tajam, membuat Derris kembali diam tidak berkutik.

"Tidak ada yang boleh masuk ke kamarnya saat dia sedang tidur kecuali aku!" Delano berdesis dan meninggalkan mereka berdua dengan langkah cepat.

Ia meraih kunci balkon kamar Canna dan berjalan menuju ke kamarnya. Melompat dari balkon kamarnya ke balkon kamar Canna.

Saat pintu balkon sudah terbuka. Dengan langkah perlahan, Delano menuju ranjang Canna. Menyibak selimut dan menatap wajah Canna dengan seksama. Ada bekas jejak airmata disana. Sesedih itukah Canna karena sikapnya ataukah ia sedih karena tidak bisa bersama dengan Pinus.

Ingin rasanya Delano menghukum Canna karena kesalahannya hari ini. Tetapi ia berupaya untuk menahan diri dan segera keluar dari kamar Canna.

"Bagaimana keadaan Nona Canna?" tanya Derris dan Oryza bersamaan.

"Dia baik-baik saja dan sedang tidur sekarang. Jangan ganggu dia!" perintah Delano memasuki ruang kerjanya.

***

1
ZrLee Darman
ceritanya bagus 👍🏻
ZrLee Darman
aahh sllu saja kmu dijebak sama orang yg sama..hedeehhh
ZrLee Darman
Lou seperti ulat Keket aja disini
Shifa Burhan
sesimple ini pertanyaan nya

kau anggap apa jika ada wanita lain kayak gini, saat kalian (author dan reader) berbuat salah pada suami kalian dan rumah tangga kalian ada masalah dan datang wanita lain yang mendekati dan selalu baik pada suami kalian, wanita itu selalu merayu dan selalu mencari cara mendekati bahkan wabita itu menyarankan suami kalian untuk bercerai dan suami kalian juga bersikap baik pada suami kalian,
jadi kalian anggap apa wanita kayak gini, setelah kalian menilai maka kalian bandingkan sikap kalian pada louis, disitu lah kalian bisa lihat sifat aslinya kalian?
epifania rendo
entalah
epifania rendo
saling terbukalaha
epifania rendo
pasti surat yang di tanda tangan buat urus surat nikah
epifania rendo
kasian canna
epifania rendo
Delano
epifania rendo
menarik
epifania rendo
bagai mana adiknya
epifania rendo
apa isi vidionya
epifania rendo
mampir
Azubair21
😁🥰🥰🥰🥰👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻
Yulia Rosmita
makanya ungkap semua thor jadi g ada egois salah paham dan kekerasan
Yulia Rosmita
lemot
Yulia Rosmita
kelamaan thor sampe sekarang canna aja masih belum tau dia udah nikah dan sekarang dia hamil delano juga masih gatau
Yulia Rosmita
apa aq kurang update ya di part delano nikah sama canna
Yulia Rosmita
maaf nikah ko g ada kata sah nya klo gitu cuma delano aja donk yg sah
Batara Zalzabil
bosan putar2 trs crtx
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!