NovelToon NovelToon
MASALALU YANG MENGANTAR KEBAHAGIAAN

MASALALU YANG MENGANTAR KEBAHAGIAAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Ibu Mertua Kejam / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Penyesalan Suami
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: zanita nuraini

Naya percaya cinta cukup untuk mempertahankan pernikahan.

Namun tekanan dari ibu mertua yang terus menuntut keturunan, ditambah kemunculan masa lalu suaminya dengan sebuah kenyataan pahit, membuat hidup Naya perlahan runtuh.
Ini bukan kisah perempuan yang kalah, melainkan tentang Naya—yang pergi, bangkit, dan menemukan bahagia yang benar-benar ia pilih.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zanita nuraini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB. 18. Kebenaran Yang Mulai Terbuka

Keesokan harinya, Naya terbangun dengan kepala yang masih terasa berat. Bukan karena kurang tidur semata, melainkan sisa tangis yang semalam tak kunjung reda. Matanya sembab, kelopak matanya terasa perih, seolah setiap air mata yang jatuh telah meninggalkan bekas.

Namun di balik lelah itu, ada sesuatu yang berbeda dalam dadanya.

Bukan takut.

Bukan ragu.

Melainkan tekad.

Ia duduk di tepi ranjang cukup lama, menatap pantulan dirinya di cermin. Wajah itu terlihat rapuh, tetapi sorot matanya tidak lagi sama. Naya tahu, jika ia terus diam, maka perlakuan Ratna tidak akan pernah berhenti. Hari ini uang. Besok bisa harga diri. Lusa mungkin masa depan anaknya.

Setelah Adit berangkat kerja, Naya melangkah ke arah lemari. Tangannya sedikit bergetar saat mengeluarkan sebuah map kecil yang selama ini ia sembunyikan. Map itu berisi luka-luka yang ia kumpulkan dalam diam.

Satu per satu, Naya menyusunnya dengan rapi.

Catatan tangan berisi tanggal, jumlah uang, dan alasan yang selalu terdengar manis di awal, tetapi pahit di akhir.

Untuk kebutuhan rumah.

Untuk keperluan mendadak.

Untuk menutup utang.

Padahal tak satu pun pernah benar-benar mendesak.

Naya memfotokopi catatan itu. Lalu dengan napas tertahan, ia memindahkan rekaman suara Ratna dari ponsel ke sebuah flashdisk kecil. Rekaman yang dulu ia simpan hanya sebagai penguat hati, kini berubah menjadi senjata terakhir.

Tak lupa, ia menyalin rekaman CCTV rumah. Dalam video itu, terlihat jelas bagaimana Ratna datang dengan wajah memelas, bahu sedikit merunduk, suara dilembutkan. Lalu pergi dengan langkah ringan dan senyum puas.

Semua bukti itu ia masukkan ke dalam satu map cokelat.

Tangannya gemetar saat menutup map itu, tetapi hatinya terasa mantap.

Ini bukan lagi soal dirinya.

Ini soal kejujuran.

Soal batas yang selama ini diinjak-injak.

Dengan menarik napas panjang, Naya memberanikan diri menelepon ayah mertuanya, Rangga Wirawan.

Di ujung sana, Rangga tengah bersantai di sebuah apartemen mewah, ditemani seorang perempuan muda. Ia mendengus kesal saat melihat nama Naya muncul di layar ponselnya.

“Ada apa lagi ini,” gumamnya pelan.

Namun begitu panggilan itu ia angkat dan suara Naya terdengar, ekspresinya berubah seketika.

“Iya, Nay?” jawab Rangga, nadanya dibuat setenang mungkin.

“Ayah, Naya mau bertemu,” ucap Naya sopan, tapi jelas dan tegas. “Ada hal penting yang ingin Naya sampaikan.”

Rangga terdiam beberapa detik. Ia bisa merasakan ada sesuatu yang tidak biasa dari nada suara menantunya itu.

“Baik,” jawabnya akhirnya. “Kita ketemu di kafe dekat kantor ayah.”

Saat ini, Naya sudah duduk di kafe yang dimaksud. Jam dinding menunjukkan hampir satu jam berlalu. Cangkir minuman di depannya tak lagi mengeluarkan uap, dingin dan tak tersentuh.

Beberapa kali Naya melirik ponselnya. Ada rasa gugup, tetapi ia menahannya. Ia hampir berdiri untuk pulang ketika sebuah suara memanggilnya.

“Naya.”

Ia menoleh. Rangga berdiri di sana dengan setelan rapi. Wajahnya tampak lelah, garis-garis usia semakin jelas, tetapi wibawanya tetap tak berkurang.

“Maaf ayah telat,” ujar Rangga sambil duduk. “Ayah lagi sibuk. Banyak urusan.”

“Tidak apa-apa, Yah,” jawab Naya singkat.

Rangga menatapnya lekat. “Apa yang mau kamu sampaikan?”

Naya tak ingin berputar-putar. Dengan tangan yang kini lebih stabil, ia membuka map cokelat itu dan mengeluarkan isinya satu per satu. Catatan, fotokopi, lalu flashdisk.

“Ini catatan uang yang ibu minta ke Naya selama ini,” ucapnya pelan namun jelas. “Ini rekaman suara ibu. Dan ini… rekaman CCTV di rumah.”

Rangga mengambil semuanya. Wajahnya berubah seiring rekaman diputar. Alisnya berkerut, matanya menyipit, rahangnya mengeras ketika suara Ratna terdengar tertawa kecil di akhir rekaman.

Ia menatap Naya lama. “Lalu… kamu mau apa selanjutnya?”

Naya menunduk sejenak, mengumpulkan keberanian. “Ayah, maafkan Naya. Kalau ibu tetap seperti ini, Naya akan melaporkan ke pihak berwajib. Ini sudah masuk penipuan.”

Rangga terdiam.

“Sekarang Naya mau tanya,” lanjut Naya dengan suara yang sedikit bergetar, “sebenarnya… berapa uang yang ayah beri ke ibu sampai ibu selalu bilang uang dari ayah kurang?”

Rangga menghela napas panjang. Bahunya turun, seolah beban lama akhirnya terbuka.

“Seratus juta,” jawabnya berat. “Itu uang jajan saja. Kebutuhan rumah, asisten, dan yang lain ayah yang tanggung.”

Naya terpaku.

Seratus juta…

Hanya untuk jajan.

Dadanya terasa sesak. Bukan hanya karena jumlahnya, tetapi karena kebohongan yang begitu lama dibiarkan tumbuh.

“Terima kasih, Yah,” ucap Naya akhirnya. “Naya pamit.”

Ia berdiri, membungkuk sopan, lalu pergi, meninggalkan Rangga yang masih duduk dengan wajah gelap dan pikiran berkecamuk.

Dalam perjalanan pulang, amarah Rangga semakin membara. Begitu tiba di rumah, ia langsung memanggil asisten.

“Ratna di mana?” tanyanya tajam.

“Nyonya ada di belakang, Tuan,” jawab asisten itu hati-hati.

Rangga melangkah cepat. Di belakang rumah, Ratna tengah bersantai seolah tak ada apa-apa.

“RATNA!” bentaknya keras.

Ratna menoleh kaget. Jarang sekali suaminya memanggil dengan suara seperti itu.

Rangga melemparkan ponselnya ke atas meja. “Lihat ini!”

Ratna menatap layar. Wajahnya langsung pucat, napasnya tersendat.

“Mas tahu dari mana?” tanyanya gugup.

“Tidak penting aku tahu dari mana,” jawab Rangga dingin. “Yang jelas, hentikan semua ini. Kalau kamu masih berani seperti ini, uang jajan kamu aku potong.”

Tanpa menunggu jawaban, Rangga pergi.

Ratna mengepal tangan. Dadanya naik turun menahan amarah.

“Kurang ajar,” desisnya. “Awas saja kau, menantu sialan.”

Di tempat lain, Mira duduk di kontrakan kecilnya. Hari itu ia mendapat shift siang, sehingga pagi ini ia bisa mengurus anaknya.

Anak laki-laki itu bernama Rafi. Usianya sekitar tiga tahun. Rambut hitamnya sedikit berantakan, matanya besar dan jernih.

Mira mengajaknya bermain di lantai, tetapi pikirannya melayang jauh. Tidak seharusnya anak kecil ini hidup dalam kekurangan. Ayah dan keluarga ayahnya orang berada, sementara Rafi tumbuh dalam ruang sempit dan sunyi.

“Mama,” panggil Rafi tiba-tiba.

“Iya, sayang?” jawab Mira.

“Mama kenapa nangis?”

Mira tersentak. Ia menyentuh pipinya. Air mata memang terus mengalir tanpa ia sadari.

“Tidak, Nak,” katanya sambil tersenyum lemah. “Mama tidak nangis.”

Namun Rafi mendekat. Dengan tangan kecilnya, ia mengusap air mata ibunya, lalu memeluknya erat.

“Mama… aku sayang mama. Mama jangan nangis lagi.”

Hati Mira hancur. Ia memeluk anaknya sekuat tenaga.

“Iya, Nak,” bisiknya lirih. “Maafkan mama.”

Sementara itu, di rumah keluarga Pramudya, suasana tak kalah aneh.

Aluna duduk murung di kursi makan, menolak menyentuh makanannya.

“Ayo, Aluna,” bujuk sang oma. “Makan dulu. Nanti sakit.”

“Aku mau ummi,” jawab Aluna keras kepala. “Ummi yang di mall.”

Oma terdiam. Tak ada satu pun yang mengajarkan panggilan itu pada Aluna. Keluarga mereka pun bukan keluarga yang biasa menggunakan sebutan tersebut.

Salma Pramudya menatap cucunya dengan perasaan yang sulit dijelaskan. Wajah perempuan di mall itu kembali terlintas di benaknya.

...****************...

Selamat malam readers selamat membaca tinggalkan jejak kalian like komen nya terimakasih...

1
sherapine
bagus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!