Dulu Salma Tanudjaja hidup dalam kebodohan bernama kepercayaan. Kini, ia kembali dengan ingatan utuh dan tekad mutlak. Terlahir Kembali, Aku Tidak Akan Bodoh Lagi adalah kisah kesempatan kedua, kecerdasan yang bangkit, dan balas dendam tanpa cela. Kali ini, Salma tak akan jatuh di lubang yang sama, ia yang akan menggali lubang itu untuk orang lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INeeTha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Musuh yang Sebenarnya
Pukul tujuh malam, kediaman keluarga Tanudjaja terasa lebih dingin dari biasanya.
Baru saja Salma melangkah masuk dari luar, ia mendapati Riko dan Manda sudah duduk di ruang tengah. Wajah Riko tampak suram, sementara Manda duduk tegak dengan ekspresi penuh kekhawatiran yang dibuat-buat.
Salma hanya melirik sekilas, berniat langsung naik ke lantai atas tanpa membuang waktu.
"Salma," panggil Riko, menghentikan langkah adiknya. "Kita bersaudara sudah lama nggak ketemu, duduk dulu, kita ngobrol sebentar."
"Ada urusan apa, Kak? Kalau cuma mau basa-basi, sori, aku nggak punya waktu," jawab Salma datar tanpa menoleh. "Lagipula, orang yang dituduh mau nyontek ujian sepertiku ini harus belajar mati-matian, 'kan?"
Wajah Manda memucat. Meski tahu Salma menyindirnya, ia hanya bisa memendam kebencian. Dengan suara lemah, ia berkata, "Salma, soal kejadian siang tadi, aku minta maaf. Aku tahu aku nggak sebanding sama kamu, tapi aku beneran takut dikirim ke luar negeri, makanya aku terpaksa..."
"Aku yang maksa kamu?" Salma menoleh, senyum sinis tersungging di bibirnya. "Kenapa kamu nggak sekalian bilang kalau kamu ngebunuh orang karena aku yang megangin tanganmu buat nusuk dia?"
Manda tersentak, mulutnya terkunci rapat.
Riko menyela, nada suaranya terdengar kecewa, "Salma, kamu biasanya berjiwa besar. Kenapa sekarang setelah bergaul sama orang-orang nggak jelas, kamu jadi berubah total begini?"
"Jaga bicaramu, Kak! Siapa yang Kakak sebut 'nggak jelas'? Bukannya orang yang nyuri soal ujian buat ngejebak saudara sendiri itu yang lebih pantas disebut sampah?" Salma menatap Riko tajam, auranya menekan. "Cara pandang Kakak soal moral bener-bener bikin prihatin."
Setiap kata Salma terasa seperti tamparan keras di wajah Manda. Riko, anehnya, tidak marah. Ia malah tertawa kecil. "Sepertinya adik kecil kita benar-benar sudah dewasa. Lidahmu makin tajam sampai Kakak kalah telak."
Salma akhirnya duduk di seberang Riko, tetap waspada. Ia tahu betul Riko adalah orang yang menghalalkan segala cara. "Kakak mau ngomong apa?"
"Kejadian ini memang salah Manda. Tapi, bisakah kamu bantu bicara yang baik-baik di depan Papa?" pinta Riko.
Sebenarnya, Riko sedang menahan amarah. Pihak sekolah bersikeras mengeluarkan Manda, dan Riko curiga ada campur tangan Aksa Abhimana di baliknya. Karena Riko belum bisa menetap di Indonesia sepenuhnya, ia butuh Manda tetap di sini.
Sayangnya, Salma bukan lagi gadis polos yang mudah dimanipulasi.
"Kak, Manda itu adikmu, tapi aku juga adikmu. Kenapa Kakak belain dia dan nggak belain aku?" tanya Salma dingin. "Yang jahatin aku itu dia. Atas dasar apa aku harus maafin dia?"
Riko tertegun. Ia tak menyangka Salma akan menjawab setegas itu.
"Salma Tanudjaja! Kamu udah punya segalanya, kenapa pelit banget nggak mau kasih sedikit buat aku?" Manda mulai panik dan kehilangan kendali.
"Diam!" bentak Riko. "Manda, keluarga Tanudjaja nggak berhutang apa-apa sama kamu. Salma benar, Kakak salah perhitungan."
Manda terbelalak, wajahnya pucat pasi. "Kak... Kakak harus bantuin aku."
Ia menerjang maju, berlutut di depan Riko sambil menangis. "Aku mohon, tolong aku sekali ini aja. Aku nggak mau ke luar negeri."
Melihat Manda yang menyedihkan, Riko justru merasa jijik. Dasar bodoh. Tak peduli Salma dekat dengan siapa sekarang, di masa depan, Salma hanya boleh menjadi milik Riko Tanudjaja.
"Kak, Kakak beneran udah nggak peduli sama ikatan saudara kita?" Manda makin histeris.
"Manda, apa kamu pernah peduli soal ikatan saudara sama Salma?" Riko menatapnya tajam.
Manda tercekat. Salma yang malas melihat drama ini pun bangkit berdiri. "Kalau nggak ada apa-apa lagi, aku naik dulu."
Baru saja Salma sampai di belokan tangga, ia mendengar Manda bertanya lirih pada Riko, "Kak, Kakak beneran nggak mau bantu aku?"
"Masalah yang kamu buat terlalu fatal. Sekolah sudah tidak bisa ditekan lagi. Kamu... jaga dirimu baik-baik saja," jawab Riko datar.
"Sekolah nggak bisa ditekan?" Manda menjerit putus asa, diikuti suara tubuh yang ambruk ke lantai.
Di tangga, Salma tersenyum dingin. Manda, tunggu sampai Papa dan Mama pulang, baru kamu tahu apa itu neraka.
Beberapa saat kemudian, suara pecahan barang yang keras membuat Salma turun kembali.
Di ruang tengah, vas antik kesayangan Seno sudah hancur berkeping-keping. Manda meringkuk di pojokan sofa, gemetar hebat. Para pelayan berdiri mematung ketakutan.
Wajah Seno merah padam. Ia menunjuk Manda dan membentak, "Manda Tanudjaja! Siapa yang ngajarin kamu sehina itu? Nyontek? Terus fitnah Salma nyuri soal? Gimana bisa aku membesarkan anak durhaka kayak kamu?"
Air mata Manda deras mengalir. "Pa, maafin aku... aku salah. Mataku buta karena cemburu. Tolong jangan buang aku, Pa."
"Cemburu? Cemburu apa?!" Seno murka. "Aset atas namamu bahkan lebih banyak separuh dari punya Salma! Selama ini kami kurang apa sama kamu? Nggak nyangka..."
"Pa, aku takut... waktu perhatian kalian beralih ke Salma, aku takut kalian nggak sayang aku lagi..." Manda merangkak, memeluk kaki Seno sambil tersengal-sengal. Ia tidak bisa kehilangan status Nona Muda Tanudjaja.
Seno membungkuk, perlahan melepaskan cengkeraman tangan Manda. Tatapannya begitu dingin hingga membuat Manda putus asa.
Seno mengibaskan kakinya kuat-kuat. Manda terlempar, jatuh terduduk, dan kepala bagian belakangnya membentur lantai dengan keras.
"Ma... tolong bujuk Papa..." Manda beralih merangkak ke arah Shintia.
Shintia menarik napas panjang, menatap Manda dengan pedih. "Manda, Mama juga sangat kecewa padamu."
Tangis Manda seketika terhenti. Tamat sudah.
"Kamu balik ke kamar, bereskan barang-barangmu. Besok pagi pesawat ke Inggris. Mulai sekarang kamu nggak usah balik lagi ke sini," ucap Seno dingin. "Aku cuma punya satu putri, yaitu Salma Tanudjaja."
Manda bagai disambar petir. Seluruh jiwanya seolah tersedot keluar.
Saat itulah Salma melangkah masuk, memberi isyarat pada para pelayan untuk pergi. Ia berjalan lurus menuju Seno.
"Pa," panggil Salma. "Boleh nggak dengerin pendapat aku?"
Melihat Salma, amarah Seno berganti rasa bersalah. "Maafin Papa ya, Salma. Dulu Papa yang salah."
"Pa, yang lalu biar berlalu," Salma tersenyum tipis. "Aku akui kejadian ini bikin sakit hati. Tapi aku memutuskan buat maafin Kak Manda. Aku nggak mau sendirian di rumah segede ini. Jadi, boleh nggak batalin aja rencana kirim dia ke luar negeri?"
Seno, Shintia, bahkan Riko terkejut. Manda yang sudah putus asa seolah hidup kembali, tak percaya Salma membelanya.
Salma melanjutkan, "Cuma kalau dia ada di dekat kita, Papa Mama baru bisa mastiin dia beneran berubah atau nggak."
Mendadak Manda merasakan amarah. Ucapan Salma jelas penuh sindiran. Tapi ia tak berani bersuara.
Cih, belas kasihan Salma? Nggak apa-apa. Selama aku masih di sini, aku punya kesempatan rebut semuanya kembali.
Riko yang sedari tadi diam akhirnya buka suara, "Pa, Salma bener. Manda memang keterlaluan, tapi kasihlah dia kesempatan buat berubah."
Seno goyah. "Salma, kamu serius?"
"Aku nggak bercanda." Salma mengangguk mantap.
Membiarkan Manda ke luar negeri itu terlalu enak. Dia harus merasakan tatapan jijik dan hinaan di sekolah. Hancurkan mentalnya perlahan, ambil kembali aset keluarga, baru tendang dia pergi.
"Balik ke kamar, renungkan kesalahanmu. Kalau sampai ada kejadian kayak gini lagi, nggak ada ampun," putus Seno tegas.
"Makasih Papa, makasih Salma." Manda menghapus air mata, berjalan tertatih menuju tangga. Begitu membelakangi mereka, wajahnya berubah jahat.
Salma, semua penghinaan hari ini, suatu hari nanti harus kamu bayar seratus kali lipat!
Setelah Manda pergi, suasana sedikit mencair. Seno beralih pada Riko. "Riko, kamu juga. Balik ke Indo kok dadakan. Kapan mau masuk kantor bantuin Papa?"
Riko tersenyum lebar, merangkul bahu Shintia. "Pa, Ma, aku baru dua puluh tahun. Izinin aku main dulu dua tahun lagi ya? Aku mau menikmati hidup ala anak sultan yang santuy dulu."
Salma menatap Riko dingin. Akting orang ini jauh di atas Manda. Di kehidupan sebelumnya, empat tahun setelah kematian Salma, Riko sudah menguasai seluruh Tanudjaja Group.
Dia adalah musuh yang sebenarnya.
Mata Riko sesekali melirik Salma dengan tatapan yang sulit dibaca. Rasanya seperti sedang diincar oleh predator. Salma bergidik, Jangan-jangan Riko selama ini menganggapku sebagai 'mangsa'?
Keesokan harinya, di depan gerbang sekolah.
Salma turun dari mobil, melirik Manda yang ikut turun di belakangnya. "Manda, semoga kamu bisa manfaatin kesempatan ini baik-baik."
"Salma, tolong maafin aku. Aku janji nggak bakal ngelakuin hal kayak gitu lagi," kata Manda dengan sikap merendah, meski hatinya berteriak ingin menghancurkan Salma.
"Iya, aku percaya!" Salma mendekatkan wajahnya, tersenyum dingin. "Karena, kamu nggak akan pernah punya kesempatan kayak gitu lagi."
Salma melangkah masuk ke area sekolah. Manda mengertakkan gigi, mengepalkan tangan hingga memutih, lalu mengikuti dari belakang.
Begitu Manda melangkah masuk gerbang, ia merasakan tatapan orang-orang di sekitarnya begitu menusuk. Rasanya seperti sedang ditelanjangi.
"Nggak nyangka Manda Tanudjaja semanjijikkan itu. Play victim banget."
"Lebih lucu lagi, kemarin Salma ngaku kalau dia pewaris asli keluarga Tanudjaja, Manda cuma anak angkat."
"Sumpah? Salma anak kandung Pak Seno? Pantesan Salma diem aja selama ini. Hati Manda busuk banget ya, udah nyontek, maling soal, nuduh Salma pula."
Kata-kata itu masuk ke telinga Manda tanpa ampun. Wajahnya memerah padam. Ia yang selama ini dipuja bak Dewi Sekolah, sama sekali tidak bisa menerima jatuhnya harga dirinya seperti ini.
Dari kejauhan, Salma tersenyum puas. Lihat kan Manda? Ini baru mimpi burukmu. Saat topengmu robek, mereka yang dulu memujamu akan jadi yang paling pertama menginjakmu.
Keputusasaan Manda adalah hiburan bagi Salma. Karena Manda pantas mendapatkannya.
Dulu, orang tuanya menikah bertahun-tahun tanpa dikaruniai anak.
Saat itu Tanudjaja Group masih dipegang Kakek Tanudjaja.
Karena suka anak-anak, pasangan suami istri Tanudjaja itu sering melakukan kegiatan amal di panti asuhan.
Di panti asuhan itulah mereka melihat Riko dan Manda kecil yang sakit-sakitan dan nyaris meninggal.
Orang tua Salma tidak tega, lalu membawa mereka berobat ke sana ke mari. Tak lama kemudian, Shintia hamil Salma.
Mereka menganggap Riko dan Manda sebagai pembawa keberuntungan, jadi mereka memutuskan untuk mengadopsi keduanya.
Tapi apa balasan dua orang ini? Mata Salma menyiratkan tawa dingin
Salma melangkah ringan menuju kelas X-7. Sepanjang jalan, orang-orang kini menyapanya dengan hormat.
Salma hanya mengangguk kaku. Ia tahu mereka hanya penjilat yang realistis.
Begitu Salma masuk kelas, suasana ribut seketika hening. Semua mata tertuju padanya dengan tatapan takut bercampur kagum.
Di pojokan, Aksa Abhimana tersenyum cerah, memamerkan deretan giginya yang rapi. Wajah kaku Salma langsung mencair, ia tak tahan untuk tidak membalas senyum itu.
Anak-anak kelas X-7 tertegun. Senyum Salma ternyata begitu menyilaukan.
Aksa mengangkat kotak bekal dari laci mejanya dengan wajah bangga. Salma berjalan lurus, menyambar kotak bekal itu dari tangan Aksa, lalu duduk di kursinya dengan santai.
Semua orang menatap iri pada interaksi manis itu.
Namun, keheningan pecah saat Manda masuk kelas.
Kali ini, teman-teman sekelasnya tidak menahan diri. Melly Gunawan dan gengnya sudah dikeluarkan, jadi Manda benar-benar sendirian.
"Kok masih punya muka buat sekolah sih?"
"Bikin malu kelas X-7 aja. Mending pindah sekolah deh, ngerusak pemandangan."
"Sok suci, munafik. Hari ini mau nyontek lagi? Atau ngejebak siapa lagi?"
Orang-orang yang dulunya mati-matian menjilat Manda, sekarang berlomba menghinanya. Persis seperti apa yang dialami Salma di masa lalu.
Salma sedang asyik menikmati sarapan penuh cinta dari Aksa. Namun, tepat di titik di mana Manda hampir meledak dan suasana makin kacau, Salma tiba-tiba menggebrak meja dengan keras.
BRAK!
"Kalian bisa diem nggak sih?!"
penampilan cupu ternyata suhu 😂
darin sinta,salsa,ini salma
semangat Thor ⚘️⚘️⚘️