NovelToon NovelToon
What We Were Never Given

What We Were Never Given

Status: sedang berlangsung
Genre:Angst
Popularitas:321
Nilai: 5
Nama Author: Oryelle

Nareya, anak sulung bermimpi meniti karir di dunia fashion, harus merelakannya demi menjadi tulang punggung keluarga. Terlahir untuk berjuang sejak dini membuat dia tidak tertarik soal pernikahan.

Tidak menikah, berkecukupan, dan bisa membahagiakan keluarganya adalah keinginan sederhana Nareya. Tapi siapa sangka, dia justru menyetujui perjanjian pernikahan dengan mantan Bosnya?

Kala terlahir berdarah campuran membuatnya dicap sebagai noda. Demi pengakuan para tetua, dia menyeret Nareya dalam sebuah perjanjian.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Oryelle, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

5. Sebenarnya Siapa Dia?

Agis dengan vespa tua milik ayahnya berkendara menuju pasar malam. Sesekali dia melirik ke kaca spion. Nareya yang membonceng tampak sedang memejamkan mata menikmati semilir angin. Rambut panjangnya beterbangan. Senyum Agis pun mengembang.

Pertama kali ke pasar malam, mata Nareya langsung terpaku pada bianglala yang khas dengan rangka yang dicat warna-warni. Sangkar-sangkar besinya menggantung mengelilingi roda besar setinggi pohon kelapa. Setiap sangkar cukup untuk dua orang dewasa atau tiga anak kecil. Saat berputar, sangkar itu ikut bergoyang pelan dan berdecit setiap melewati sambungan besi.

“Seru banget, gila. Rame. Ini pertama kalinya gue naik sangkar burung gini” ujar Nareya.

“Bukanya udah biasa? Burung Beo kan suka ngoceh di kandang”

“Enak aja, gue lebih ke Burung Perkutut yang merdu”

“Eh eh eh… ngeri juga pas di atas, ini kenapa goyang-goyang sih.” Nareya refleks berpegangan ke Agis yang berada di sebrang.

“Lo ngapain pegangan ke gue?! ini jadi berat sebelah, anjir–makin goyang”

Nareya mundur berpegangan di rangka supaya kembali seimbang “Aduh gue takut, mana ini dipaling puncaknya”

“Rey bisa tenang gak?! Aduh lo malah buat makin gerak-gerak terus”

“Ngapa lo jadi marah-marah ke gue!”

Agis mengerti nada bicaranya ini, sorot mata ini, sedang sensitif. Ada masalah apa lagi dia?Meskipun Nareya sering ceplas-ceplos, tapi dia paham itu hanya kamuflase dari apa yang sebenarnya Nareya rasakan. Dibandingkan langsung melemparkan pertanyaan, dia memilih mengalihkan fokus Nareya dengan humornya.

“Ahahaha makin gue gerak-gerakin sekalian nih” Agis sengaja menjahili Nareya yang sudah kesal.

“Gis! gue takut bgt. Gue getok juga kepala lu.” gertak Nareya.

Bianglala yang mereka naiki akhirnya berhenti berputar, semua bergantian turun. Tapi Agis dan Nareya malah lebih gaduh dari anak-anak yang baru saja turun. Mereka belum juga berhenti saling membalas pukul asal. Cukup mengusik tapi tidak sampai melukai.

Di sebrang mereka terlihat  jagung yang sedang dibakar diatas bara, sesekali diolesi bumbu, lalu dikipas berulang kali sampai matang merata. Aroma bakar dari jagung yang dibumbui  membuat Nareya melupakan niatnya untuk membalas Agis lagi. Dia meminta Agis untuk mentraktir jagung bakar.

Agis hanya terkekeh tak kuasa menolak melihat ekspresi Nareya memohon.

“Aduh panas banget, kebas lidah gue” keluh Nareya

“Mau gue kunyahin?” tanya Agis.

“Itu si namanya lo yang makan” jawab Nareya cepat, Agis hanya terkekeh.

Sambil terus mengunyah Nareya bercerita semua soal dirinya dipecat oleh Kala. Seketika Agis langsung meletakan jagungnya dan memperhatikan Nareya.

Dia hafal betul ketika Nareya menikmati makananya, akan mengeluarkan unek-uneknya dengan lancar. Agis mengerti bagaimana perjuangan teman kecilnya. Perempuan satu ini hampir tidak pernah ingin merepotkan orang lain, meski sedang di kondisi sulit sekalipun. Yang Agis lakukan sekarang adalah menyediakan waktu dan perhatian untuk mendengarnya.

Hanya saja ini pertama kalinya bukan lagi masalah ekonomi, bagaimana dia begitu terluka saat dianggap wanita bayaran. Seperti biasa, Agis tetaplah sama, seberat apapun masalah yang diceritakan Nareya, dia menanggapi dengan lelucon.

“Hahaha gak kebayang mukanya dia yang sengak itu kena tampar perempuan. Harusnya lo tahan dikit lah kasihan dia.”

“Lo tau gue lah gimana ke cowo. Karena gue butuh kerjaan aja makanya gue gak ngamuk. Walaupun akhirnya tetep gak tahan juga, haha”

“Tapi gue jadi curiga. Jadi, gue balik ke kantor bareng Kala kan. Dia bawa mobil sport Audi TT. Maksud gue— emang dengan gaji manager bisa punya gaya hidup kayak gitu? Kalau mobil kan gak sekedar kebeli aja. Pajak dan perawatanya itu kan gak sebanding sama penghasilan dia. Jangan-jangan ya dia sama aja, suka selundupkan barang perusahaan?”

“Ngaco lu, Audi? Dapet pinjem kali ah lo suka mikir kemana-mana. Orang biasanya juga dia bawa BMW itu juga seri lama yang mungkin beli second.”

“Tapi gak cuma itu, kayak enteng banget waktu pecat gue seolah dia memang punya kuasa lebih dari seorang manager, kesan yang dia kasih juga kayak lebih tinggi lah dibanding seorang manager biasa. Intuisi gue tuh jarang meleset ya."

“Bukan intuisi, karena dari dulu lo suka ngulik para kaum elit, makanya lo peka tingkah mereka.Tapi dia memang aneh. Kalau memperkenalkan diri cuma mau disebut ‘Kala’. Diberkas di manapun juga namanya cuma Kala. Orang tua mana yang pelit kasih nama ke dia?”

“Hahaha iya aneh juga ya. Udah lah gue udah dipecat juga”

“Lo gak minta uang pesangon?”

“Gue si males kalo harus ketemu Kala lagi”

“Terus lo mau gimana abis ini?”

“Yah, lo mah ga usah khawatir sama gue, besok juga gue pasti dapet kerjaan lagi”

Nareya tahu ini akan berat baginya. Dia harus mendapatkan pekerjaan secepat yang dia bisa. Tak peduli lagi dengan latar belakang pendidikan, apapun pekerjaan yang bisa didapatkan besok akan dikerjakan. Mengeluh, saat ini tidak akan menyelesaikan masalah. Nareya memilih mengenakan topeng ketegaran, untuk menahan sisi rapuhnya naik ke permukaan.

***

“Sesuai dugaan lo, ibu tiri berulah lagi” ucap Ardito.

“Lo udah siapin bahan buat media kan? Ingat, pastikan jangan sampe bocor”

“Lo yakin bakal bongkar itu? Bukanya bagi lo, keluarga itu segalanya ya? Ya walaupun lo gak diakui, haha” ledek Ardhito.

Ardito memang sudah sangat dekat dengan Kala, sehingga konflik keluarga tak segan lagi jadi bahan humornya. Ardito juga tidak pernah takut dipecat. Indentitas dan informasi adalah hal yang paling dijaga para kelas atas. Dan Ardito memegang itu semua. Begitu juga Kala tak pernah takut dikhianati Ardito, dia juga memegang kendali penuh terhadapnya.

Sebagai keturunan Atmasena, dia harusnya menyandang nama belakang seperti semua garis keturunannya. Tapi terlahir dari ibu berdarah asing membuatnya dianggap mengotori silsilah.

Haknya tidak diberikan bukan karena tidak pantas, tapi hanya karena konsep kuno para tetua. Keluarga Atmasena dikenal sebagai kaum kanan pemerintahan, sangat anti asing. Tapi satu pria keturunan Atmasena mencintai wanita berdarah Belanda dan melahirkan Kala. Nama belakangnya tidak pernah disematkan. Identitas nya pun disembunyikan.

“Bongkar sekarang namanya bunuh diri. Tunggu instruksi gue!”

“Siap dah Bos. Anyway, itu mantan karyawan lo gimana nasibnya?”

“Kenapa tanya?”

“Bokap nya gak kerja, punya adik dua, lo pecat tanpa rasa bersalah gitu?”

“Gue gak minta lo selidiki dia kan?!”

“Wait, apa nih kok lo agak marah gitu? kenapa kalau gue cari tau soal cewe itu?”

“Rasa bersalah yang lo maksud itu nggak ada. Dia melakukan kekerasan fisik dan verbal itu  sesuai aturan disini. Sah saja gue pecat” ujar Kala.

Tentu saja rasa bersalah itu hanya akan timbul karena melakukan tindakan yang tidak semestinya. Tapi Kala, setiap tindakanya sudah dia perhitungkan. Jadi, rasa bersalah tidak ada di kamus hidup seorang Kala.

“Keluarga Wijayanto itu kan dari kalangan abdi negara jelas hidupnya sudah dijamin negara.” lanjut Kala

“Lo gak tau? Keseringan nyuruh-nyuruh doang makanya nyari informasi sendiri aja nggak bisa”

“Putra pertama Wijayanto, Wira. Satu-satunya keturunan laki-laki yang bukan seorang abdi negara adalah ayah Nareya.”

“Bukan gak bisa, tapi buat apa informasi itu”

“Ya buat gue kalo lo gak mau”

“Sejak kapan lo bisa memutuskan apa yang lo mau?”

Obrolan mereka terhenti saat pintu dibuka tiba-tiba tanpa mengetuk. Seorang pria tengah baya berdiri diambang pintu. Sorot matanya tajam tertuju paka Kala.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!