Darrel melepaskan gemerlap kemewahan keluarganya dan memilih hidup sederhana demi wanita yang mencintainya. Namun, pengorbanannya berbuah pahit: sang istri justru meninggalkannya, karena tak tahan dengan kerasnya kehidupan pasca kemewahan.
Terpuruk dan seorang diri, Darrel harus menghadapi kenyataan pahit membesarkan kedua anak kembarnya. Akankah dia menyerah pada keadaan dan kembali pada kehidupan lamanya yang penuh kemudahan? Atau justru bangkit, menemukan kekuatan tersembunyi dalam dirinya, dan membuktikan bahwa dia mampu bangkit dan menemukan cinta sejati?
Kisah perjuangan seorang ayah yang terkhianati, demi masa depan kedua buah hatinya.
Temukan kisah mereka hanya di sini:
"Sang Pewaris Tersembunyi" karya Moms TZ, bukan yang lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Moms TZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
26.
Rooftop rumah Daniel
Darrel, Lucky, dan Daniel tampak ngobrol santai sesekali tertawa bersama sambil mengenang masa-masa remaja mereka yang penuh dengan kenakalan dan impian. Mereka sama sekali tidak membahas tentang berita yang sedang viral seolah itu hanya angin lalu.
"Ingat nggak, waktu kita bolos sekolah dan nyoba bikin band?" tanya Lucky sambil tertawa.
"Gila! Band yang nggak jelas juntrungannya," timpal Daniel sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. "Tapi lumayan sih, bisa buat deketin cewek."
"Ah, dasar buaya!" ledek Zeya sambil melempar bantal ke arah Daniel.
"Ya kan, itu semua aku lakukan supaya kamu cemburu," kata Daniel mengedipkan matanya ke arah sang istri.
"Heleh, gombal." Zeya kembali melemparnya dengan bantal.
"Tahu nggak sih, Ze. Daniel itu kan, frustasi deketin kamu dari jaman piyik, tapi kamunya cuek bebek," ledek Lucky.
"Tiap pulang sekolah dia galau lalu nangis ngadu sama maminya, kalau kamu dekat dengan cowok lain. Hahahaha...." sambungnya sambil tertawa membuka aib Daniel.
Apa yang terjadi selanjutnya Daniel dan Lucky balas saling meledek.
"Dari pada kamu, sampai sekarang masih jomblo, wleeek...!" Daniel tak mau kalah.
"Eh, aku ini jomblo berkualitas, Bro," protes Lucky. "Daripada buru-buru nikah ujung-ujungnya salah pilih, kayak onoh." Lucky menunjuk ke arah Darrel dengan dagunya.
Darrel hanya tersenyum mendapatkan sindiran dari Lucky. Memang benar dirinya buru-buru nikah dengan Nancy. Wanita yang berhasil meyakinkan hatinya untuk melangkah ke jenjang pernikahan bahkan menentang orangtuanya. Namun, dirinya merasa bersyukur, setidaknya dari pernikahan itu dia memiliki Zayn dan Zoey, anak-anak yang lucu dan menggemaskan. Mereka yang selalu membuatnya bersemangat menjalani hidup ini.
"Semua telah berlalu," kata Darrel. "Menyesal mungkin ada, tapi kembali lagi mungkin ini sudah suratan takdir. Andai aku tidak menikah dengannya mana mungkin aku punya anak-anak seperti mereka." Dia tersenyum sambil menatap Zayn dan Zoey yang asyik bermain rumah-rumahan bersama saudara sepupunya.
"Aaa, kamu benar, Rel. Nggak ada gunanya menyesali masa lalu," sahut Lucky. "Yang penting sekarang bagaimana merencanakan masa depan dan kita bisa membuat sesuatu yang bermanfaat bagi orang lain."
"Betul! Dengan tercetusnya ide Bang Rel membuat aplikasi KopiKeliling itu adalah sebuah gebrakan yang bagus," sambung Zeya. "Kita bisa membantu para pedagang kopi kecil agar bisa bertahan dan berkembang."
"Ingat, kita bisa dibilang sukses jika kita bisa mensukseskan orang lain," lanjutnya sambil mengepalkan tangannya ke atas.
"Dan kita akan terus berjuang untuk mewujudkan visi itu," tambah Lucky dengan nada penuh semangat.
Tiba-tiba, ponsel Darrel berdering. Dia melihat nama "PT FYP Investama" muncul di layar ponselnya. Jantungnya berdebar kencang, selanjutnya dia segera mengangkat telepon.
"Halo, selamat siang," sapa Darrel dengan sedikit gugup.
"Selamat siang, Pak Darrel," jawab suara seorang wanita dari seberang telepon dan Darrel mengenali suara itu. Jantungnya semakin berdebar dengan cepat. Dia tersenyum tipis sampai tak ada seorangpun yang menyadarinya.
"Saya Vira dari PT FYP Investama. Kami ingin memberitahukan bahwa kami telah menyetujui proposal investasi Anda untuk aplikasi KopiKeliling."
Darrel terkejut dan senang bukan main. Dia tidak menyangka bahwa PT FYP Investama akan memberikan jawaban secepat ini.
"Benarkah?" seru Darrel dengan senyum lega.
"Benar sekali, Pak. Kami sangat terkesan dengan potensi aplikasi KopiKeliling dan kami yakin bahwa bisnis ini akan berkembang pesat," lanjut Vira. "Kami ingin mengharap kedatangan Anda di kantor untuk membahas detail kontrak dan langkah-langkah selanjutnya."
"Tentu saja! Saya akan dengan senang hati datang ke sana," jawab Darrel dengan tersenyum lebar. Entah apa arti senyum itu.
"Kira-kira kapan Anda punya waktu?" tanya Vira selanjutnya.
"Kapan saja saya punya waktu, bahkan sekarang pun bisa," sambut Darrel dengan antusias.
"Baik, Pak Darrel. Kami tunggu kedatangan Anda di kantor. Selamat siang." Vira mengakhiri panggilannya.
Setelah menutup telepon, Darrel melompat kegirangan. "Alhamdulillah, Terimakasih, Ya Tuhan," seru Darrel dalam hati.
Dia langsung menghampiri Lucky dan memeluknya erat-erat. Namun saat akan memeluk Zeya, serta merta tubuhnya segera didorong oleh seseorang. Siapa lagi kalau bukan Papa Daniel yang menatap Darrel dengan sorot mata tajam dan menusuk.
"Eeh, enak saja mau cari kesempatan," ucapnya dengan ketus yang langsung membuat Darrel dan Lucky tertawa terbahak-bahak sampai mengeluarkan airmata.
"Sorry, Niel. Abang reflek saking bahagianya," ucap Darrel sambil mengusap airmata di sudut matanya.
"Lucky dan Zeya adalah bagian dari Aplikasi KopiKeliling sekarang. Lagipula, Zeya itu sudah abang anggap adik perempuan sendiri."
"Dasar bucin akut. Amit-amit dah, semoga nanti aku nggak kaya si kudanil," ejek Lucky.
Sementara Daniel tampak cuek sambil merangkul istrinya menunjukkan kepemilikan. "Dih, tetap saja kalian bukan muhrim," kata Daniel keukeuh. " Emang ada apaan sih, pakai meluk-meluk segala?" tanyanya kemudian masih dengan suaranya yang terdengar kesal.
"Tadi itu telepon dari PT FYP Investama. Mereka memberitahu bahwa perusahaan itu setuju untuk berinvestasi di aplikasi KopiKeliling!" jawab Darrel dengan senyum bahagia.
"Serius?" Lucky dan Zeya kompak bertanya dan mendapat anggukan dari Darrel. Lucky dan Zeya langsung ikut bersorak gembira dan bangga dengan usaha Darrel yang berhasil meyakinkan mereka.
"Mereka memintaku datang ke sana untuk membicarakan detail kontrak dan langkah selanjutnya." Darrel memberitahu.
"Lalu, kapan kamu akan ke sana?" tanya Lucky.
"Bagaimana kalau kita ke sana sekarang?" Darrel balik bertanya.
Namun, belum sempat Lucky menjawab, ponsel Darrel kembali berdering. Kali ini, nama "Arman - PT Mitra Inovasi" muncul di layar.
Darrel mengerutkan kening. Dia merasa enggan untuk mengangkat telepon itu.
"Angkat saja, Rel," kata Lucky. "Kita perlu tahu apa yang mereka inginkan."
Darrel menghela napas kasar lalu dengan enggan mengangkat telepon.
"Halo, selamat siang," sapa Darrel dengan nada dingin.
"Selamat siang, Pak Darrel," jawab Arman dari seberang telepon. "Kami ingin meminta maaf atas kesalahpahaman yang terjadi beberapa waktu lalu. Kami mengakui bahwa kami telah melakukan kesalahan dan kami bersedia untuk bernegosiasi dengan Anda."
"Negosiasi tentang apa?" tanya Darrel dengan nada curiga.
"Kami bersedia untuk memberikan dana investasi yang lebih besar dari PT FYP Investama, asalkan Anda bersedia untuk bekerjasama dengan kami," jawab Arman. "Kami janji, kami akan memberikan dukungan penuh untuk pengembangan aplikasi KopiKeliling dan tidak akan mengganggu bisnis Anda."
Darrel terdiam sejenak, dia menatap Lucky dan Zeya dengan ekspresi bimbang. Dirinya dihadapkan pada dua pilihan yang sulit: menerima investasi dari PT FYP Investama yang terpercaya, atau menerima tawaran yang lebih menggiurkan dari PT Mitra Inovasi Nusantara tetapi penuh dengan ketidakpastian. Keputusan apa yang akan dia ambil? Dan apa konsekuensi dari keputusannya itu?