Follow fb : mumuyaa
ig : @tulisanmumu
Zaidan tidak tahu, apakah ini cinta pada pandangan pertama, atau hanya rasa kasihan hingga rasa ingin melindungi saja karena dirinya yang merupakan seorang polisi. Namun yang ia tahu, ia ingin melindungi wanita itu.
“Saya berjanji. Saya akan pastikan pria bajingan ini pasti akan menerima hukuman yang berat. Dia tidak akan pernah lolos, tidak akan pernah merasakan dunia luar lagi. Jadi… jangan buat hati ibumu patah lagi."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mumu.ai, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PPPL 15
Jam dinding di sudut toko menunjukkan pukul sembilan malam. Lampu-lampu toko masih menyala terang, menandakan Happy Mart akan tetap buka hingga pagi. Meski begitu, ritme pelanggan mulai melambat. Tak seramai sore tadi, hanya sesekali orang masuk untuk membeli rokok, kopi sachet, atau mi instan.
Zahra berdiri di balik kasir, merapikan struk dan menyusun uang dengan teliti, mencegah ada kesalahan. Sedikit saja ada selisih, dirinya harus mengganti rugi, dan tentu saja Zahra tidak ingin hal itu terjadi.
“Ra, jam sepuluh kamu udah bisa pulang, ya,” ujar supervisor malam sambil mengecek layar komputer yang ada di samping Zahra. “Nanti kasir diambil alih sama anak shift malam.”
“Iya, Bang,” jawab Zahra singkat.
Tak lama kemudian, Rere menghampirinya sambil membawa satu cup mi instan yang baru saja diseduhnya. “Aku lanjut sampai pagi. Kamu nanti pulang hati-hati, ya.”
“Lho, kenapa sampai pagi?” tanya Zahra heran sebab temannya itu tidak ada mengatakan apapun sebelumnya.
“Minggu depan aku mau pulang kampung. Jadi minta gantiin sama si Nora,” jawab Rere sambil memakan mi instannya.
“Oh.” Zahra mengangguk tanda paham.
Rere kembali ke area belakang dekat gudang untuk melanjutkan memakan mi instannya, sedang Zahra keluar dari kasir dan berjalan menuju lorong tengah. Ia merapikan rak mi instan, memastikan semuanya menghadap ke depan dan tersusun rapi. Kebiasaan lama itu sedikit membantu menenangkan pikirannya.
Namun tetap saja, bayangan sidang pagi tadi menyusup kembali.
Nada suara jaksa. Tatapan hakim yang datar. Dan kata ‘terdakwa’ yang rasanya berat sekali untuk disandang.
Sidang berikutnya… keterangan saksi.
Zahra menelan ludah. Ia tahu, sidang itu akan jauh lebih menguras mental dibanding hari ini. Tangannya sempat bergetar saat mengangkat satu dus mi dari troli kecil. Ia berhenti sejenak, memejamkan mata, lalu menarik napas panjang.
“Aku harus kuat,” bisiknya pelan.
Pukul sembilan lewat empat puluh lima, ia kembali ke kasir untuk serah terima. Setelah semuanya selesai, Zahra menuju ruang belakang untuk barang-barangnya. Ia mengenakan jaketnya, merapikan tas, lalu menatap wajahnya sendiri di cermin kecil yang tergantung di dinding.
Wajahnya masih terlihat lelah, tapi matanya tak sekosong tadi pagi. Ada rasa takut yang masih tertinggal, namun kini bercampur dengan tekad tipis yang mulai tumbuh. Ia sadar, tidak bisa berlama-lama dalam kegundahan.
Tepat pukul sepuluh malam, Zahra melangkah keluar dari toko. Pintu otomatis menutup kembali di belakangnya, sementara di dalam, aktivitas tetap berjalan seperti biasa. Happy Mart tak pernah benar-benar tidur, buka dua puluh empat jam seperti warung madura.
Udara malam menyambutnya dengan angin yang lembap. Lampu jalan memantul di aspal, dan suara kendaraan masih terdengar walau tidak seramai siang hari. Zahra mengeluarkan ponselnya dari saku jaket sebab ia merasa sebuah getaran.
Ternyata sebuah pesan masuk baru saja muncul.
Kamu sudah selesai kerja?
Zahra terdiam sejenak membaca pesan yang dikirim oleh Zaidan, jarinya menggantung di atas layar. Ada rasa hangat yang tak ia sangka muncul di dadanya ketika menerima pesan itu.
Lalu Zahra mengetik pelan.
Iya, Pak. Baru selesai. Mau pulang sekarang. Terima kasih banyak buat hari ini.
Pesan itu terkirim. Zahra menyimpan kembali ponselnya, lalu menyalakan motor tuanya. Suara mesin yang bergetar pelan terdengar akrab di telinganya. Takut malam semakin larut, Zahra mulai membawa motornya itu menuju rumah ternyamannya.
*
*
*
Zaidan menatap lekat layar ponselnya. Pesan balasan dari Zahra sudah lama terbaca, namun belum juga ia kunci. Lagi-lagi perempuan itu mengucapkan terima kasih kepadanya.
Zaidan menarik napas dalam-dalam, lalu menghembuskannya kasar. Tangannya naik menyusuri rambut, mengacaknya frustrasi. Ia menjatuhkan tubuh ke atas kasur, menatap langit-langit kamar yang temaram.
“Kenapa aku jadi kayak gini sih…” gumamnya lirih.
Ia sadar, ada sesuatu yang tidak beres pada dirinya. Selama ini Zaidan selalu merasa mampu mengendalikan banyak hal, seperti emosi, godaan, bahkan tekanan. Namun sekarang, pikirannya terasa kacau oleh satu sosok yang seharusnya tidak ia pikirkan sejauh ini.
Zaidan bukan pria suci. Lingkungannya sejak SMK jauh dari kata ideal. Rokok, tawuran kecil, nongkrong sampai pagi, semuanya pernah ada di sekelilingnya. Tapi ia memilih menjauh. Bukan karena sok alim, tapi karena ia tahu batas.
Saat sudah berpenghasilan sendiri, tawaran minuman keras bahkan obat terlarang bukan hal asing. Apalagi di lingkar pertemanan tertentu. Namun ia selalu menolak. Ada tanggung jawab besar di pundaknya, seperti nama keluarga, jabatan, dan prinsip yang ia pegang mati-matian.
Selama ini, semua bisa ia atur.
Kecuali yang satu ini.
Perasaan yang tak bisa ia beri nama. Bukan sekadar kasihan. Bukan juga sekadar rasa ingin melindungi. Ada sesuatu yang lebih dalam dan justru itulah yang membuatnya takut.
Bayangan Zahra kembali muncul. Cara perempuan itu bicara pelan, tatapan matanya yang sering menunduk, senyumnya yang selalu dipaksakan agar terlihat baik-baik saja. Dan ucapan terima kasihnya… seolah dunia terlalu sering bersikap kejam padanya, hingga hal kecil pun layak disyukuri.
Zaidan memejamkan mata, tapi pikirannya malah berputar semakin liar. Ia teringat kejadian sepulang bekerja tadi.
Zaidan bahkan tidak langsung pulang. Entah dorongan apa yang membelokkan stangnya ke arah Happy Mart. Ia berhenti di seberang jalan, berdiri di bawah lampu jalan yang redup, berpura-pura sibuk dengan ponsel.
Tujuannya jelas. Bukan belanja.
Tak lama kemudian, pintu toko terbuka. Zahra berdiri di sana, membantu seorang ibu paruh baya menaikkan galon air ke atas mobil. Wanita itu tampak lelah tapi masih berdiri tegak dan semangat bekerja. Zaidan langsung menghela napasnya saat itu.
Tak ingin ketahuan dan tak ingin terlihat aneh, Zaidan memilih pergi. Setidaknya ia sudah memastikan perempuan itu baik-baik saja.
Kini, kenangan itu justru membuat kepalanya semakin berdenyut.
“Gila,” desahnya pelan.
Zaidan berguling ke samping, menarik selimut menutupi sebagian tubuhnya. Lampu kamar ia matikan, menyisakan cahaya kecil dari luar jendela.
Ia tahu, terus memikirkan ini tidak akan membawa ke mana-mana. Besok ia harus kembali bekerja, kembali menjadi Zaidan yang rasional dan profesional. Bukan Zaidan yang gelisah hanya karena satu pesan singkat.
Dengan napas yang masih berat, ia memaksa matanya terpejam.
“Tidur, Dan. Besok masih panjang,” bisiknya pada diri sendiri.
Pelan-pelan kantuk itupun datang. Meski pikirannya belum benar-benar tenang, tubuhnya ternyata menyerah lebih dulu. Namun tetap saja, nama itu masih terus terngiang-ngiang di kepalanya.