Karena cinta tak direstui orang tuanya, Sonya merelakan keperawanannya untuk Yudha, lelaki yang sangat ia cintai. Namun hubungan itu harus berakhir karena Sonya akan segera dijodohkan dengan Reza.
Setelah malam panas itu, Sonya justru diusir dari rumah dan berakhir hamil anak Yudha. Ia ingin kembali pada Yudha, tetapi lelaki itu sudah pergi ke luar negeri.
Saat Sonya bertekad membesarkan anak itu seorang diri, takdir kembali mempermainkannya. Anak tersebut menderita kanker darah dan membutuhkan donor sumsum tulang belakang dari ayah kandungnya.
Apa yang akan dilakukan Sonya. Kembali pada Yudha demi kesembuhan sang anak, atau pergi ketika Yudha kembali ke Indonesia dengan seorang anak laki laki dan calon istrinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Puji170, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11
"Situasi seperti apa yang kamu maksudkan? Semua sudah jelas keluarga itu benar-benar membuatmu hancur tanpa sisa," ujar Bayu.
Yudha terdiam sejenak, pikirannya kembali pada malam kelam yang ingin ia kubur dalam-dalam. Bayu memperhatikan ekspresi Yudha, mencoba menebak apa yang sedang dipikirkannya.
"Tapi, Yud," ucap Bayu hati-hati, "Jika keluarga Prawira kembali terlibat, itu bisa berdampak pada semua yang kita bangun selama ini. Terutama jika Sonya memanfaatkan masa lalumu."
Mendengar nama Sonya, rahang Yudha mengeras. "Masa lalu itu tidak akan pernah kembali, Bayu. Aku sudah membuat keputusan untuk melupakannya."
Namun, Bayu masih ragu. "Bagaimana jika Sonya punya rencana lain? Dia tinggal di sini sekarang, Yud. Dekat. Jika dia benar-benar ingin mengacaukan hidupmu, dia tidak perlu usaha besar untuk melakukannya."
Yudha menarik napas panjang, berusaha menenangkan pikirannya yang mulai terusik. "Aku tidak akan membiarkan dia menghancurkan apa yang sudah aku bangun. Jika dia mencoba sesuatu, aku akan menghadapinya. Dan aku punya rencanaku sendiri!"
Esok harinya...
Sonya mempersiapkan menu yang akan ia presentasikan di hadapan tim manajemen penilaian. Tidak hanya rasa yang menjadi penentu kemenangan, tetapi juga nilai gizi dari setiap hidangan. Sonya sadar bahwa persaingan ini tidak mudah, namun ia merasa beruntung. Dengan kecerdasan di atas rata-rata dan pengalamannya selama lima tahun terakhir, Sonya yakin bisa menghadapi tantangan ini.
"Semoga ini rejeki untuk Sasa," gumam Sonya disela-sela jemarinya yang kini sibuk bergerak ke sisi satu dan ke sisi lainnya.
Selama bertahun-tahun mendalami dunia kuliner, Sonya belajar gizi secara otodidak, membaca buku, dan berdiskusi dengan sahabatnya yang lulusan ilmu gizi. Hari ini, hasil kerja kerasnya terpampang di meja, berbagai hidangan yang tersaji dengan penuh estetika, siap memikat para juri. Namun, jauh di lubuk hatinya, ada rasa cemas yang sulit ia abaikan.
"Sebelumnya saya ada pengumuman," suara berat seorang lelaki bertubuh tambun menggema di ruangan. "Rekrutmen ini membuka dua lowongan kerja. Yang pertama untuk katering khusus karyawan, dan yang kedua untuk melayani pimpinan perusahaan ini, Pak Yudha."
Kata-kata itu segera menciptakan riuh rendah di ruangan. Wajah peserta bersinar penuh harapan. Semua tahu, melayani bos besar seperti Yudha Anggara adalah tiket emas untuk dikenal luas. Dalam beberapa hari saja, nama katering yang dipilih pasti akan tersebar di seluruh penjuru kota, membuka peluang besar bagi usaha mereka.
Namun, harapan itu seketika terguncang. "Sayangnya, untuk lowongan kedua, pemenangnya sudah ditentukan."
Keheningan tegang memenuhi ruangan. Sejurus kemudian, suara protes mulai terdengar, membelah atmosfer.
"Apa? Bagaimana bisa? Bukankah kita bersaing secara adil?" seru salah satu peserta, suaranya penuh keberatan.
Lelaki itu mengangkat tangannya, meminta semua orang tenang. "Saya hanya menyampaikan instruksi dari pimpinan. Saya bawahan di sini, jadi tolong jangan salahkan saya."
"Tapi siapa tim yang terpilih? Apakah mereka bermain curang?" desak seorang peserta dengan nada marah.
Lelaki tambun itu berdehem, lalu dengan santai mengarahkan tangannya ke satu sudut ruangan. Matanya menyipit, senyum sinis tersungging di bibirnya. "Ya benar, tim Soin Catering yang ditunjuk langsung oleh pimpinan."
Seketika, seluruh mata tertuju pada Sonya. Rasa panas menjalar ke wajahnya. Tatapan penuh iri, amarah, dan penghinaan menusuk seperti ribuan jarum. Sonya duduk terpaku, kebingungan dan tak tahu harus berbuat apa. Jantungnya berdetak kencang, tetapi bukan karena kebanggaan. Ada rasa tidak nyaman yang membuncah, rasa bahwa ini bukanlah penghargaan atas usahanya.
"Apa ini permainan yang dimainkan Yudha Anggara?" pikirnya. Sebuah pertanyaan muncul di benaknya, mengaburkan rasa bahagia yang seharusnya ia rasakan. Pandangannya menatap kosong ke arah lelaki tambun itu, berusaha menemukan jawaban di balik senyumnya yang penuh ejekan.
Sonya masih duduk terpaku di kursinya, tatapan peserta lain menusuk seperti ribuan belati. Keputusan tiba-tiba ini terasa tidak masuk akal. Di satu sisi, ini adalah peluang besar baginya untuk menunjukkan kemampuannya. Namun, di sisi lain, ada keraguan yang terus menghantui, apakah ini benar-benar hasil usahanya, atau ada campur tangan lain?
"Bu Sonya," panggil staf panitia, membuyarkan lamunannya. "Anda diminta ke ruang CEO untuk konfirmasi lanjutan."
Jantung Sonya berdebar kencang. "Ruang CEO?" pikirnya. Mengapa harus bertemu langsung dengan Yudha? Dalam sekejap, kenangan lama tentang Yudha muncul begitu saja, pria yang pernah begitu dekat dengannya, namun yang telah ia sakiti begitu dalam.
Sonya menghela napas panjang, mencoba menenangkan dirinya. "Ini bukan waktu untuk ragu," pikirnya, dan ia melangkah menuju ruangan itu, meskipun langkahnya terasa semakin berat.
Setelah sampai di ruang CEO, pintu terbuka, dan di sana duduk Yudha Anggara. Pandangannya dingin, berbeda dengan Yudha yang ia kenal dulu, begitu hangat. Setiap tatapan itu mengingatkannya pada masa-masa yang tak ingin ia ingat keputusan yang ia buat, kata-kata yang ia lontarkan, dan rasa bersalah yang terus menghantuinya.
"Silakan duduk," ujar Yudha dengan nada datar.
Sonya duduk, berusaha untuk tetap tenang meskipun jantungnya berdetak tak karuan. Setiap detik di ruang ini terasa seperti masa lalu yang kembali menghantuinya. Dia tahu, Yudha adalah lelaki yang telah ia sakiti dengan keputusannya yang bodoh dulu. "Jika aku bisa mengulang semuanya, aku pasti tidak akan menyakitinya seperti itu," batinnya, namun semuanya sudah terlambat. Saat ini, ia hanya bisa berhadapan dengan Yudha sebagai seorang profesional.
"Saya ingin memastikan Anda memahami tugas ini," ucap Yudha, suara tegasnya menggema di ruangan sunyi. "Ini bukan soal keberuntungan atau campur tangan siapa pun. Jika Anda tidak mampu, saya tidak akan segan mengganti Anda."
Kata-katanya terasa seperti tamparan bagi Sonya. Tentu saja, ini adalah Yudha. Pria yang tak pernah membiarkan dirinya menunjukkan kelemahan. Namun, di balik kata-katanya yang dingin, Sonya bisa merasakan ada sesuatu yang tersembunyi. Mungkin ini adalah cara Yudha untuk menjaga jarak dari kenangan mereka yang pahit.