Sejak kelas satu SMA, Raviel Althaire hanya mengamati satu perempuan dari kejauhan. Tidak mendekat, tidak memiliki, hanya menyimpan rasa yang perlahan berubah menjadi obsesi.
Satu malam yang seharusnya dilupakan justru menghancurkan segalanya. Pagi datang bersama tangis dan kepergian tanpa penjelasan.
Saat identitas gadis itu terungkap, Raviel sadar satu hal—perempuan yang terluka adalah orang yang selama ini menguasai pikirannya.
Sejak saat itu, ia tidak lagi mengagumi.
Ia mengikat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon his wife jay, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tanpa judul (1)
Nara akhirnya tiba di depan rumah sederhananya ketika matahari mulai merunduk di balik atap-atap tetangga. Tangannya terangkat untuk membuka pintu, tetapi gerakannya terhenti saat ponsel di genggamannya bergetar pelan. Sebuah pesan masuk dari nomor tak dikenal.
Keningnya berkerut, lalu jemarinya bergerak membuka notifikasi itu.
> Selamat sore, Saudari Elinara Evelyn. Kami dari Althaire Corp International. Kami melihat berbagai varian cake yang Anda unggah melalui media sosial. Perusahaan kami tertarik untuk melakukan pemesanan untuk acara Anniversary perusahaan kami. Apakah memungkinkan memesan 200 pcs cake?
Nara membeku.
Matanya membaca ulang pesan itu, bukan sekali, melainkan dua kali, seakan takut salah memahami setiap kata yang tertera.
“Dua ratus?” gumamnya lirih, napasnya tercekat.
Jumlah itu bukan angka kecil baginya. Selama ini, pesanan paling banyak yang pernah ia terima hanya puluhan. Jantungnya berdegup lebih cepat, bukan karena ragu, melainkan campuran antara terkejut dan harapan yang tiba-tiba tumbuh.
Tangannya sedikit bergetar saat membalas pesan tersebut.
> Selamat sore. Terima kasih atas ketertarikannya. Apakah pengantaran bisa dilakukan dua minggu dari sekarang?
Balasan datang tidak lama kemudian.
> Tentu. Kami tidak keberatan dengan waktu tersebut.
Nara mengembuskan napas panjang. Senyum tipis terukir di bibirnya, matanya berkaca-kaca bukan karena sedih, melainkan lega.
“Alhamdulillah,” bisiknya penuh syukur. “Akhirnya ada yang beli lagi.”
Ia membuka pintu rumah, lalu masuk dengan langkah ringan, seolah beban di pundaknya berkurang setengahnya. Tas diletakkan di atas kursi, sementara tubuhnya langsung melangkah menuju dapur. Tanpa menunda, Nara mulai menyiapkan bahan makanan.
Udang dibersihkan dengan telaten, kangkung dicuci hingga bersih, dan kentang direbus untuk dijadikan perkedel. Setiap gerakannya rapi, teratur, seakan memasak adalah satu-satunya cara baginya menenangkan hati.
Ia ingin bundanya makan.
Ia ingin bundanya senang.
Tak lama kemudian, suara pintu depan terbuka. Bunda Amara masuk dengan beberapa tote bag belanja di tangannya, penuh dengan pakaian baru. Nara menoleh, ingin berbicara, namun kata-kata itu kembali tertahan di tenggorokan. Ia ingin menasihati agar bundanya sedikit berhemat, tetapi keberanian itu tidak pernah benar-benar ada.
“Bun, sini makan dulu,” ucap Nara lembut. “Nara sudah masakin.”
Langkah Amara terhenti sesaat, lalu kembali berjalan menuju kamar tanpa menoleh.
“Saya tidak mau makan masakan kamu,” jawabnya dingin. “Tugas kamu hanya satu. Berikan uang. Itu sudah cukup.”
Pintu kamar tertutup dengan suara pelan, tetapi bagi Nara, bunyinya terasa menghantam dada.
Ia berdiri kaku di dapur, sendok kayu masih tergenggam di tangannya. Senyum kecil yang sempat muncul perlahan runtuh, tergantikan oleh rasa perih yang tak bisa ia sembunyikan.
Nara menatap meja makan kosong. Andai ayahnya masih ada, mereka pasti duduk bersama. Andai kecelakaan itu tidak pernah terjadi. Namun kenyataan tetap sama—ayahnya pergi saat Nara berusia delapan belas tahun, dan sejak hari itu, bundanya berubah.
Air mata menetes tanpa bisa dicegah.
Meski begitu, Nara tetap membawa masakan itu ke meja. Ia duduk seorang diri, menyuapkan makanan ke mulutnya dengan tangan yang gemetar. Makan sambil menangis adalah pengalaman yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya. Setiap kunyahan terasa pahit, seolah bercampur dengan rasa kehilangan yang belum pernah benar-benar sembuh.
Selesai makan, Nara membersihkan meja, lalu berjalan menuju ruang tengah. Ia menyalakan televisi hanya untuk mengusir sunyi yang terlalu bising. Namun tayangan apa pun tak benar-benar ia perhatikan.
“Hoam…”
Ia menguap panjang. Matanya perih, kelopak terasa berat.
Nara merebahkan tubuh di sofa, memeluk bantal kecil, lalu memejamkan mata. Tak butuh waktu lama hingga ia terlelap, dengan sisa air mata yang masih membekas di pipinya.
Malam turun perlahan.
Tepat pukul sepuluh, sebuah bayangan bergerak di balik rumah itu. Pintu terbuka tanpa suara. Seseorang masuk dengan langkah tenang, seakan tempat itu bukanlah wilayah asing baginya.
Ia tidak datang untuk mencuri.
Ia datang untuk memastikan.
Raviel berdiri di ruang tengah, menatap sosok gadis yang tertidur lelap di sofa. Wajah itu tampak rapuh dalam tidur, jauh dari senyum ceria yang ia lihat siang tadi.
“Cantik,” gumamnya pelan.
Tangannya terangkat, menyingkirkan sehelai rambut yang menutupi wajah Nara. Sentuhan itu ringan, nyaris tak terasa, seolah ia takut membangunkannya. Dengan hati-hati, Raviel menggendong tubuh Nara ala pengantin, langkahnya stabil menuju kamar.
Ia membaringkan Nara di ranjang, lalu menarik selimut menutupi setengah tubuhnya. Raviel duduk di sisi ranjang, menatap wajah itu dalam diam.
“Apakah kamu menangis?” bisiknya, ibu jarinya mengusap pipi Nara yang masih lembap.
Tak ada jawaban, hanya napas teratur yang terdengar.
“Sebentar lagi,” ucap Raviel pelan, suaranya penuh keyakinan yang mengerikan. “Aku akan memilikimu, Ara. Dan aku tidak akan pernah melepaskanmu.”
Ia menunduk, mengecup kening Nara dengan lembut, lalu bangkit dan pergi meninggalkan kamar, seolah tak pernah ada di sana.