Bagas, seorang petani yang hidup di desa. Walaupun seorang pertani, dia mempunyai keuangan yang stabil. Bahkan bisa di katakan dia dan keluarga termasuk orang berada.
Namun, uang bukan segalanya. Buktinya, walaupun banyak uang dia tidak bisa menikah dengan pacar yang sudah menemaninya sejak delapan tahun terakhir.
Kenapa begitu?
Dan alasan apa yang membuat mereka tidak menyatu ...
Yuk, ikuti kisah Bagas ❤️
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muliana95, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mencoba Saling Mengenali
Malam pun beranjak dan kini, keduanya berada di ruang yang sama, ruang yang telah di dekorasi seindah mungkin oleh pihak pelaminan.
Dan disini lah, mereka. Saling duduk berhadapan, setelah melakukan kewajiban kepada yang maha kuasa.
Bagas menggaruk kepalanya. Dia gak tahu harus ngomong apa. Mendadak lidahnya kelu.
Sedangkan Safira merasakan hal yang sama. Bahkan, sejak tadi dia belum berani memperlihatkan rambutnya.
Dan bagaimana caranya Safira ganti baju, ataupun mengenakan mukena?
Dia membawa baju ganti ke kamar mandi. Begitu juga dengan hijabnya. Dan ketika Bagas ke kamar mandi untuk wudu. Itulah, kesempatan bagi Safira agar mengenakan mukenanya.
"Emm— boleh aku tahu lebih banyak tentangmu?" Bagas membuka obrolan.
"Tentang apa?" Safira bertanya malu-malu. Bahkan, dia lebih memilih menundukkan kepalanya.
"Selain nama lengkap, dan juga kamu yang gak bisa mengendarai sepeda motor," balas Bagas, meremas sarungnya. Gugup.
"Sebenarnya, aku bisa bawa motor sendiri! Itu hanya akal-akalannya bang Malik aja," ucap Safira jujur.
"Bawa motor? Baru tahu kamu sekuat itu," kekeh Bagas, mencoba mencairkan situasi.
"Eh, bukan maksudku mengendarai sepeda kotor," ralat Safira dengan muka memerah.
"Kotor? Jenis kendaraan apa itu?" tanya Bagas, mulai menikmati tingkah Safira.
"Eh ..." Safira semakin gelagapan.
Dan Bagas malah semakin ketawa, melihat tingkah lucu istrinya.
"Dik ... Bisakah, aku memanggil mu dengan sebutan dik?" tanya Bagas, setelah mengontrol diri.
Safira mengerjap. Sedetik kemudian, dia mengangguk dan menunduk.
"Dan bolehkah aku mencium mu?" tanya Bagas ragu.
Tanpa menatap Bagas, Safira menganggukkan kepalanya.
Dan Bagas, mendekatkan tangannya ke wajah Safira. Dengan pelan, dia mengangkat dagu Safira, agar tatapan mereka bertemu.
Bagas mendekatkan wajahnya. Dan reflek, Safira menutupi kedua matanya.
Sebuah kecupan mendarat, di kening Safira.
Lama. Seolah-olah Bagas sedang menyerap energi negatif disana.
"Makasih," ucap Bagas pelan.
"Bolehkah?" tanyanya menatap Safira.
Safira mengangguk. Walaupun dia merasa asing dengan Bagas. Namun, dia juga harus memenuhi kewajibannya. Dan inilah, saat bagi keduanya untuk saling melakukan ibadah terpanjang sepanjang masa.
Pagi menyingsing. Bagas, kini membantu warga yang mulai memindahkan tenda-tenda bekas dari acara resepsi kemarin.
Sedangkan Safira. Dia sibuk di dapur, membersihkan segala hal, yang harus di lakukan.
Namun, sesekali wajahnya bersemu. Dia kembali teringat tentang malam panjang yang baru saja dilewatkannya.
✨✨✨
Dan di tempat lain. Sejak semalam Nadia gak bisa memejamkan matanya. Bayangan dimana Bagas akan menyentuh istrinya terus saja mengusik kalbu.
Sampai akhirnya. Hari ini, Nadia drop. Bahkan sekarang, dia berakhir di rumah sakit.
"Makanya gak usah banyak pikiran. Kalian itu gak berjodoh," ujar Hesti seraya menyuapkan makan siang untuk Nadia.
Nadia diam. Karena dia memang tak punya tenaga walaupun sekedar membantah ibunya.
"Bagus Nadia, dengan kamu pingsan begini. Ayah punya alasan kalo kamu menolak perjodohan kemarin," Anwar datang dengan wajah sumringah.
Lagi-lagi Nadia diam. Karena pada akhirnya setiap keluhannya tak pernah di dengarkan oleh kedua orang tuanya.
"Mereka percaya?" Hesti tak kalah senang, mendengar penuturan dari suaminya.
"Percaya lah ... Kan aku mengirimkan foto Nadia, yang masih terbaring," kekeh Anwar, seolah sebuah bongkahan batu besar telah berpindah tempat dari pundaknya.
"Mungkin ini namanya, disetiap cobaan pasti ada hikmahnya," sambung Hesti lagi.
"Aku harap, walaupun kamu bahagia. Kamu gak akan melupakan aku bang," monolog Nadia, seraya memejamkan matanya.
✨✨✨
Musim turun sawah telah di mulai. Kala itu, Nadia baru memasuki umur lima belas tahun. Remaja cantik itu, datang ke sawah untuk mengantarkan makanan pada orang yang sedang menabur benih di sawahnya.
Dengan langkah tertatih, dia berjalan. Sesekali tersenyum pada orang yang menyapanya.
Namun, ketika tiba di salah satu pematang sawah yang baru saja di perbaiki. Nadia mencoba turun ke sawah langsung.
Namun siapa sangka, keseimbangan teruji. Dia hampir saja terpeleset, jatuh ke dalam sawah.
Beruntung, sebuah tangan kekar menahannya. Alhasil, Nadia terselamatkan. Namun, tidak dengan makanannya.
"Aa, makanannya ..." jerit Nadia, menahan tangis.
"Eh, maaf ..." Bagas gelagapan. Terkejut dengan jeritan yang di dengarkannya.
"Tolong aku," Nadia menatap Bagas, penuh harap. "Aku harus menyerahkan ini sama mereka," adu Nadia lagi.
"Sebaiknya adik pulang dulu aja. Minta orang tuanya untuk menggantikan makanannya," balas Bagas.
"Mereka gak ada di rumah, dan aku gak punya uang untuk membelinya lagi," isak Nadia.
Bagas mengerjap. Dia menggaruk kepalanya yang tak gatal.
Namun, sesaat dia melihat tentengannya sendiri yang selamat.
"Sebaiknya kamu pulang aja. Biar abang yang gantikan makanannya. Mau diantar kemana?" tanya Bagas. Karena jujur, ini pertama kalinya ia melihat sosok Nadia.
Kenapa begitu? Karena sebelumnya Bagas sekolah dan merantau di kota.
Dan dia juga seorang pemuda yang memperhatikan gadis-gadis di desanya. Apalagi, anak yang masih remaja seperti Nadia.
"Benarkah? Makasih bang ... Abang bisa mengantarnya ke sawah pak Anwar. Biasanya semua orang di sawah ini mengenali ayah saya," balas Nadia riang.
Bagas mengangguk. Karena dia memang mengenali Anwar. Sebab sawah keduanya yang memang berdekatan.
Nadia terkejut, ketika sentuhan seorang perawat yang hendak menyuntikan obat ke infusnya terasa.
"Maaf mbak ..." perawat mengucap lirih. Mungkin dia sadar, telah membangunkan seseorang dari mimpi indahnya.
Nadia mengangguk. Hanya mengangguk, tanpa mengeluarkan sepatah katapun.
"Mimpi itu terasa nyata ... Andai aku bisa mengulangi waktu saat kita pertama berjumpa bang. Mungkin, aku akan melarang hatiku untuk jatuh cinta padamu," batin Nadia.
✨✨✨
Seminggu telah berlalu, kini Nadia dan Bagas mulai terpisah.
Terpisah bukan karena bekerja jauh. Tapi karena Bagas, harus membantu orang tuanya untuk menyiapkan acara ngunduh mantu di rumahnya.
"Kali ini, kita harus merayakan sebesar-besarnya," ujar Sulis penuh semangat.
"Iya ... Ini kan, pesta anak lelaki satu-satunya. Masak kita adakan secara sederhana," kakak kedua ikut menimpali.
"Makanya, aku mengundang seluruh teman-teman ku, semasa SMA," sambung kakak ketiga Bagas.
Dan Bagas sendiri hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala. Karena lagi-lagi pendapatnya tak berarti apa-apa, dibandingkan ketiga penguasa hati ayahnya.
Iya, walaupun dia anak lelaki satu-satunya. Sejak kecil Bagas selalu diajari untuk menghormati perempuan. Dia di tuntut untuk menjaga ketiga kakak-kakaknya jika suatu hari nanti, ayahnya telah tiada.
"Bagas, kalian sudah ehem kan?" tanya kakak ketiga, bernama Santi.
"Santi ..." Sulis menegurnya, dengan menggelengkan kepala.
"Mau tanya kak, siapa tahu dia udah bisa melupakan Nadia, setelah merasakan anu ..." Santi merenggut.
Namun, ketika nama itu di sebut. Bagas sempat mematung.
kebiasaan ih