NovelToon NovelToon
Dia Lagi Dia Lagi

Dia Lagi Dia Lagi

Status: sedang berlangsung
Genre:Pernikahan Kilat / Pelakor jahat / Nikahmuda / CEO / Dijodohkan Orang Tua / Nikah Kontrak
Popularitas:3k
Nilai: 5
Nama Author: Siti Khodijah Lubis

Gawat, ini benar-benar gawat. Oke perkenalkan, aku Ravindra Arvana, dari keluarga terpandang Arvana. Aku KUALAT!
Karena aku ketahuan menyelingkuhi istri kontrakku dengan cinta pertamaku masa SMP. Tapi kan... dia cuma istri kontrak.
Anyway, setelah kepergok, semesta seperti tidak membiarkan aku dan Yunika, selingkuhanku, bersama.
Ada aja halangan. Apalagi sejak itu, hasratku ke dia kok hilang?!?
Aku memohon maaf pada Tafana, istriku, agar kutukan ini berakhir.
Dia setuju memaafkan dengan syarat:
1. Aku menceraikannya
2. Aku mencarikan PENGGANTIKU yang lebih baik dariku
Masalahnya pria muda, lajang, baik hati dan tidak sombong dengan status kekayaan menyaingiku SANGAT JARANG...
Begitu ketemu kandidatnya... kok kejadiannya begini?
Pokoknya kalian baca aja lah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Khodijah Lubis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kembali Salah Langkah

Malam merapat ke rumah itu tanpa suara. Lampu ruang tengah dimatikan satu per satu, menyisakan lorong gelap yang hanya diterangi cahaya remang dari luar. Tafana sudah tertidur di kamarnya, napasnya tak terdengar dari sini, tapi keberadaannya justru terasa lebih nyata.

Ravindra membuka pintu perlahan, menahan napas saat engsel berdecit samar. Ia berhenti sejenak, memastikan rumah tetap diam. Ada rasa bersalah yang menyelinap, tipis namun menusuk. Ia menepisnya.

Aku cuma mau sebentar, pikirnya. Aku akan pulang sebelum dia bangun.

Di luar sana, klub malam menunggunya. Janjinya pada teman-teman SMPnya menunggu.

-oOo-

Lampu klub berputar lambat, memecah gelap jadi kilatan warna. Di tengah hiruk-pikuk musik, Ravindra menemukan teman-teman SMP-nya sudah menunggu. Tawa mereka keras, canggung, dan akrab. Tawa yang lahir dari masa lalu yang tak menuntut apa pun. Gelas diangkat, pundak ditepuk. Ravindra ikut tertawa, merasa ringan.

Yunika datang beberapa menit kemudian.

Gaun ketatnya memantulkan cahaya, rambut panjangnya tergerai melambai. Begitu ia mendekat, perhatian langsung beralih. Sorakan kecil pecah. Godaan dilemparkan tanpa basa-basi, seperti rahasia yang sudah lama diketahui bersama. Seseorang mendorong Ravindra ke depan, yang lain menarik tangan Yunika. Mereka disatukan di tengah lantai dansa, tanpa ruang untuk menolak.

Musik menghentak. Ravindra dan Yunika berdiri saling berhadapan.

Mula-mula canggung, lalu ritme mengambil alih. Tubuh mereka bergerak mengikuti beat yang sama. Jarak menyempit, hampir tak ada ruang kosong di antaranya. Yunika tersenyum, menautkan tangan ke bahu Ravindra. Ravindra membalas, telapak tangannya menetap di pinggang Yunika. Mereka benar-benar berdansa berdua, terpisah dari kerumunan meski dikelilingi orang.

Ravindra tersenyum lepas. Bahunya turun, rahangnya mengendur. Di sini, ia bukan suami yang pulang ke rumah sunyi. Bukan lelaki yang harus menjelaskan diri. Ia hanya seorang pria yang menikmati malam, versi dirinya yang Tafana tak pernah lihat.

Di dekat bar, Darren berhenti melangkah.

Matanya menangkap Yunika lebih dulu. Lalu Ravindra. Tubuh mereka yang terlalu dekat, gerak yang terlalu akrab untuk disalahartikan. Darren tak perlu waktu lama. Semua potongan menyatu rapi. Menghilangnya Yunika, gelisah Ravindra. Bukan dugaan lagi, ini kepastian.

Darren meneguk minumnya pelan, menatap mereka tanpa berkedip.

Affair itu belum mati. Dan kini, ia melihatnya sendiri.

-oOo-

Darren melangkah mendekat dengan senyum yang sengaja dibuat santai. Lampu klub memantul di jaket kulitnya, membuatnya terlihat terlalu percaya diri untuk situasi yang seharusnya canggung. Ia menyapa Ravindra seolah mereka memang kenal lama dengan tepukan ringan di bahu dan tawa kecil yang dipaksakan akrab.

“Eh, di sini juga, Bang?” katanya nyaring, cukup keras untuk terdengar di antara musik.

Ravindra menegang seketika. Refleksnya cepat, ia sedikit memutar tubuh, memosisikan dirinya di depan Yunika, seakan bisa menyembunyikan perempuan itu dari pandangan Darren. Senyumnya kaku. Rahangnya mengeras.

“Aku ke sini sama temen-temen SMP,” jawabnya singkat, menunjuk samar ke arah kerumunan. Alasan yang terdengar wajar, tapi terlalu siap.

Yunika menangkap perubahan itu. Wajahnya menegang. Tanpa suara, ia melangkah mundur, lalu melipir ke sisi lain lantai dansa. Geraknya hati-hati, seperti seseorang yang tahu dirinya sedang berada di wilayah berbahaya. Ia tidak ingin Darren mengenalinya dan membuka kartu di depan Ravindra.

Darren melihat semuanya. Dan ia menikmati detik demi detik.

Ia tidak pergi. Justru sebaliknya, Darren memperpanjang obrolan. Bertanya soal kabar, pekerjaan, basa-basi yang tak penting. Ia berdiri terlalu dekat, tertawa terlalu lepas. Sesekali tangannya menyentuh lengan Ravindra, gestur akrab yang disengaja. Matanya sesekali melirik ke arah Yunika, memastikan perempuan itu melihat dan mengerti.

Pesannya jelas: gue kenal dia akrab. Dan gue bisa bicara kapan saja.

Setelah merasa cukup, Darren menepuk bahu Ravindra sekali lagi, lalu berbalik menuju bar.

Senyumnya belum pudar. Tujuannya tercapai. Yunika tahu, posisinya tidak seaman yang ia kira.

Beberapa menit kemudian, di sudut klub yang lebih gelap dan sepi, Yunika mendatangi Darren. Nada suaranya ditekan, tapi tak bisa sepenuhnya menyembunyikan paniknya.

“Ngapain lo ngobrol sama cowok gue?”

Darren menoleh pelan, menyeringai. “Santai aja. Bukan soal lo kok,” katanya ringan. Lalu menambahkan, lebih pelan, “kecuali lo mau.”

Jarinya mengangkat dagu Yunika, memaksanya menatap. Pandangannya turun perlahan, menilai tanpa malu. “Seksi banget malam ini. Ini mau dipamerin ke siapa?”

Yunika menepis tangannya, kesal dan defensif. “Lo beneran suka sama gue nggak sih? Kok malah mau intimidasi gue?”

Darren mendekat. Suaranya rendah, tegas. “Gue suka sama lo, bukan berarti gue harus setuju dengan semua kelakuan lo.” Ia menatap lurus. “Gini deh, lo kan mau cowok yang menuntut dipilih. Sekarang gue minta nih, sama gue aja ya, tinggalin dia.”

Yunika ragu sesaat, lalu menutup mata.

Darren mencium bibirnya, lama, menekan. Yunika membalas, terbuai, lupa sekeliling.

Mereka tidak sadar, dari kejauhan, Gano memperhatikan. Kebingungan terpampang di wajah teman SMP Yunika itu. Barusan ia melihat Yunika terlalu dekat dengan Ravindra. Sekarang perempuan yang sama mencium pria lain.

Ia mengangkat ponsel dan memotret cepat. Wajah pria itu tak jelas, tapi jaket kulit, postur, dan situasinya cukup kuat untuk menimbulkan pertanyaan. Foto itu belum dikirim ke siapa pun.

Namun ancamannya sudah ada.

-oOo-

Pagi datang dengan sunyi yang bersih. Tafana duduk di tepi ranjang, menatap cahaya yang merayap lewat celah tirai. Baru ia sadari hampir setahun pernikahan itu berjalan. Angka itu terasa ganjil di dada: tidak berat, tidak ringan, hanya penuh pertanyaan.

Ia menimbang jarak yang belakangan muncul. Percakapan yang lebih singkat. Pulang yang sering terlambat. Raut Ravindra yang kerap lelah dan jauh. Namun ingatannya berhenti pada satu hal yang tak bisa ia sangkal, cara Ravindra merawatnya saat sakit. Telaten, cemas, hadir. Dari sana, Tafana memilih percaya. Bukan karena tak melihat perubahan, melainkan karena ia masih yakin suaminya orang baik.

Keputusan itu sederhana tapi tegas: pernikahan ini pantas diperjuangkan.

Ia menyetel alarm di tanggal hari jadi mereka, lalu beranjak ke dapur dengan niat kecil yang terasa besar. Pao daging favorit Ravindra. Ia belajar pelan-pelan, menguleni adonan dengan sabar, membiarkan uap panas memenuhi dapur.

Ini akan jadi kejutan kecil, pikirnya. Diam-diam ia ingin mengantar ke kantor tanpa pesan, tanpa rencana rumit. Hanya ingin memberi kejutan indah.

Di waktu yang sama, di kantor Ravindra, siang bergerak ke arah yang salah.

Yunika duduk di pangkuannya, terlalu dekat untuk disebut bercanda. Jari-jarinya mengait di leher Ravindra, tawa rendahnya tenggelam oleh bunyi pintu tertutup. Ciuman mereka berlangsung lama, cukup lama untuk melupakan jam di dinding, menunda akal sehat.

Ravindra yang pertama tersadar. Ia menarik napas, menjauh setengah langkah. Tatapannya beralih ke layar komputer yang padam dan tumpukan berkas yang menunggu. Ada getar panik di suaranya saat berkata, “Kembali bekerja sana! Kamu bikin aku nggak fokus.”

Nada itu bukan penolakan penuh, melainkan peringatan. Ia berdiri, merapikan kemeja, dan membuka pintu. Yunika membaca isyaratnya. Dengan senyum yang belum sepenuhnya hilang, ia pergi.

Ravindra menutup pintu, sendirian, membawa dua dunia yang tak saling tahu dan kesalahan yang kian rapat disimpannya.

-oOo-

Sekretaris mengetuk pintu sekali, lalu menyelipkan kepala. “Pak Ravindra, istri Anda datang.”

Kata istri memukul lebih keras dari yang seharusnya. Ravindra berdiri terlalu cepat.

Kursinya berdecit. Tangannya refleks merapikan kemeja, menarik napas pendek, lalu mengusap bibir dengan punggung tangan. Ada sisa panas yang belum reda. Ia menatap cermin kecil di sisi lemari, memastikan wajahnya tampak wajar,atau setidaknya cukup untuk dilihat orang yang paling percaya padanya.

Pintu terbuka.

Tafana masuk dengan langkah tenang. Tidak tergesa, tidak curiga. Ia membawa kotak makan berwarna pucat, meletakkannya di meja kerja Ravindra seolah itu hal paling biasa di dunia.

Senyumnya kecil, hangat. “Cobain masakanku.”

Ravindra menelan ludah. Ia mengangguk cepat, terlalu cepat. Tafana mendekat setengah langkah, sekadar memastikan kotak itu tak tergeser. Dari jarak itu, ia melihatnya.

“Kok bibir kamu merah?” tanyanya ringan, lebih karena heran daripada curiga.

Kebohongan keluar sebelum Ravindra sempat berpikir. “Aku pinjam lipbalm asisten.”

Tafana mengangguk. Tidak ada jeda panjang, tidak ada tatapan menekan. Ia memilih percaya. Namun di dalam dirinya, sesuatu tercatat—tanpa suara, tanpa kesimpulan.

Hening tipis menggantung. Ravindra yang seharusnya lega justru merasa terpojok oleh ketenangan itu. Panik mencari jalan keluar, ia meledak ke arah yang salah.

“Buat apa sih kamu kesini? Cuma buat antar ini aja?” suaranya meninggi, tajam, tidak proporsional. “Aku kan nggak minta. Sana pulang, ganggu kerjaan aja.”

Tafana membeku. Wajahnya pucat seketika. “Aku… cuma mau antar makanan buat kamu,” ucapnya pelan. “Maaf kalau ganggu.”

Ia berbalik dengan kepala tertunduk. Pintu menutup pelan, tapi bunyinya terdengar keras di telinga Ravindra. Detik berikutnya ia baru sadar tindakannya terlalu kejam, namun sudah terlambat.

Tangannya gemetar saat membuka kotak makan. Uap hangat naik, membawa aroma yang ia kenal betul. Pao daging. Favoritnya sejak lama.

Hantaman kesadaran datang beruntun: Tafana memperhatikan dan mempelajari hal-hal kesukaannya. Tafana peduli, bahkan pada hal-hal kecil yang tak pernah ia minta.

Ravindra menutup mata. Rasa bersalah menggerogoti, lebih perih karena ia tahu betul kepada siapa ia menyakiti. Ia mengambil ponsel, menulis daftar pendek yang perlu ia beli: bunga, camilan kesukaan Tafana, makan malam.

Ia ingin, setidaknya, berusaha menebus kesalahannya.

1
Arin
Ternyata kenalan Tafana gak kaleng-kaleng, direktur tempat Yunika bekerja. Jika nanti perselingkuhan terkuak, habislah dia. Semoga di pecat dari tempat kerjanya
amilia amel
yessss...
ini baru permulaan, pembalasan untuk pelakor harus lebih sadis😀😀
kalea rizuky
lama ketauan cpet donk
kalea rizuky
moga cpet cerai males uda selingkuh tidur bareng jalang ogah klo. balik
nuraeinieni
bagus tuh tafana,kasi pelajaran sama pelakor biar merasa bersalah dan ketakutan.
Ni nyoman Sukarti
lanjut thor.... penasaran nih...😄🤭
nuraeinieni
bagus tuh tafana,bila perlu hampiri mereka dan ucapkan selamat atas selingkuhan mereka.
amilia amel
Alhamdulillah.... Tafana sudah tau dengan mata kepala sendiri
amilia amel
dahlah lepaskan Tafana saja
daripada menambah sakit hati dalam diri tafana meskipun tertutupi
hukum tabur tuai menunggumu, yang lebih bersenang-senang dengan kendaraan plat kuning
Arin
Kalau memang gak bisa tumbuhin rasa cinta sama Tafana..... udah ceraikan saja. Bersatulah situ sama selingkuhan mu. Biar tau kelakuan cintamu yang suka celap celup sama orang lain juga. Gedeg lihat laki model gini. Bikin naik darah....
nuraeinieni
ayo sierra bantu tafana selidiki hubungan yunika dgn ravind buar mereka terciduk sama tafana.
amilia amel
lepaskan salah satunya, jangan serakah
kalo serakah malah nggak dapat dua-duanya 😅😅
nuraeinieni
dasar buaya buntung,obral janji,pembohong,bodoh,mau saja di kadalin sama pelakor.
Arin
Suami model gini boleh di getok pake palu gak sih kepalanya. Pura-pura lupa apa memang lupa ada istri dirumah. Kalau memang pilih Yunika, ya harus lepas salah satunya. Jangan main di belakang kayak gini. Perhatian dan semua tindakan sayang dibesarin buat selingkuhan....
amilia amel
jangan sampai Darren jatuh cinta sama yunika.... 🙏🏻🙏🏻🙏🏻
Arin
Wanita manipulatif gini di perjuangin hadeuh🤦‍♀️🤦‍♀️🤦‍♀️🤦‍♀️Ya udahlah namanya juga cinta keblinger. Udah punya istri, masih saja jalan dengan cinta pertama belum kelar
nuraeinieni
semoga saja nih yunika mencerita kan kebohonganya pada darren.
nuraeinieni
bodoh sekali ravindra,terlalu cepat percaya tanpa menyelidikinya,yunika berhasil membodohi ravindra,tp ingat yunika,sepandai pandainya kamu menyimpan rahasia,suatu saay akan terbongkar.
amilia amel
hemmmmm
nuraeinieni
modus ya darren,,,😃menyuruh yunika nginap di tempatmu,,,😂
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!