Meski sudah menikah, Nabila Rasmini tetap menjadi aktris ternama. Filmnya laku dan dia punya banyak fans. Namun tak ada yang tahu kalau Nabila ternyata memiliki suami toxic. Semuanya tambah rumit saat Nabila syuting film bersama aktor muda naik daun, Nathan Oktaviyan.
Syuting film dilakukan di Berlin selama satu bulan. Maka selama itu cinta terlarang Nabila dan Nathan terjalin. Adegan ciuman panas mereka menjadi alasan tumbuhnya api-api cinta yang menggebu.
"Semua orang bisa merasakan cemistry kita di depan kamera. Aku yakin kau pasti juga merasakannya." Nathan.
"Nath! Kau punya tunangan, dan aku punya suami. Ini salah!" Nabila.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Desau, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 34 - Jujur
Nathan berdiri kaku di ruang apartemennya. Dini sudah berdiri di hadapannya, wajah cantiknya memerah, napasnya naik turun tidak teratur. Mata perempuan itu berkilat, bukan karena air mata, melainkan amarah yang meledak-ledak.
“Kamu jawab, Nathan!” bentaknya. “Siapa perempuan itu?”
Nathan mengusap wajahnya frustasi. Kepalanya masih dipenuhi suara Nabila barusan, nada datar yang justru terdengar paling rapuh. Ia menarik napas panjang, seolah keputusan yang selama ini dia tunda akhirnya harus diucapkan.
“Dini,” ucapnya pelan tapi tegas. “Kita perlu jujur sekarang.”
Dini mendengus sinis. “Oh, sekarang kamu mau jujur? Setelah bilang cinta ke perempuan lain di depanku?”
“Aku tidak pernah benar-benar mencintaimu,” lanjut Nathan, menatap lurus. “Sejak awal.”
Kalimat itu seperti tamparan tak kasatmata. Dini terdiam beberapa detik, lalu tertawa pendek, tawa yang terdengar rapuh dan aneh. “Kamu bercanda, kan?”
“Tidak.”
“Kita bertunangan!” suara Dini meninggi. “Orang tua kita sudah sepakat. Media sudah tahu. Dunia tahu!”
“Itu bukan berarti aku bahagia,” balas Nathan. “Aku dipaksa. Dan aku mencoba menjalani ini karena tekanan. Tapi aku tidak bisa lagi.”
Wajah Dini berubah drastis. Tangannya mengepal, lalu tanpa peringatan dia melempar vas kecil di meja ke arah dinding. Pecahannya berserakan.
“Kamu egois!” teriaknya. “Setelah semua yang aku lakukan? Aku menjaga reputasimu, aku selalu ada!”
“Kamu mencintai bayangan tentang aku,” kata Nathan lirih. “Bukan aku yang sebenarnya.”
Itu membuat Dini semakin kalap. “Kamu tidak boleh pergi!” dia mendekat, mencengkeram lengan Nathan. “Aku tidak akan membiarkanmu! Kamu milikku!”
Nathan melepaskan cengkeraman itu dengan susah payah. “Dini, ini sudah tidak sehat.”
“Tidak sehat?” Dini tertawa keras, nyaris histeris. “Kalau begitu aku akan membuatnya sehat dengan caraku sendiri.”
Dini menatap Nathan dengan sorot mata berbahaya. “Kamu boleh membenciku. Tapi kamu tetap akan menikah denganku. Aku tidak peduli siapa perempuan itu.”
Nathan terdiam. Untuk pertama kalinya, ia melihat ketakutan yang nyata di balik wajah cantik Dini, ketakutan kehilangan, bercampur obsesi yang tidak rasional.
...***...
Pagi datang dengan langit kelabu. Nabila duduk di kursi belakang mobil bersama Indy. Ia mengenakan pakaian sederhana, topi menutupi rambutnya, masker dan kacamata hitam menyembunyikan wajah yang biasa menghiasi layar lebar. Meski begitu, bahunya tampak tegang.
“Kamu yakin mau melakukan visum?” tanya Indy lembut, sesekali melirik dari kaca spion.
Nabila mengangguk. “Aku tidak mau menunda. Kalau aku mundur sekarang, aku mungkin tidak akan pernah berani lagi.”
Indy tersenyum sambil mengangguk. "Aku sangat mendukungmu melakukan ini!" ucapnya mantap.
Mobil berhenti di depan sebuah fasilitas medis yang tidak terlalu mencolok. Nabila menarik napas panjang sebelum turun. Setiap langkah terasa berat, tapi tekadnya lebih berat lagi.
Di dalam, prosedur berjalan formal dan dingin. Nabila berusaha memisahkan perasaan dari kenyataan, menjawab pertanyaan seperlunya, menahan getaran di tangannya. Indy setia berada di sisinya, tak banyak bicara, tapi kehadirannya menenangkan.
Yang Nabila tidak tahu, di balik meja administrasi, seorang pria paruh baya memperhatikannya terlalu lama. Tatapannya bukan tatapan profesional, melainkan penuh perhitungan. Saat Nabila menyebutkan keperluannya dengan suara pelan, pria itu mengangguk sambil mencatat. Namun setelah itu, dia melangkah ke sudut ruangan, mengeluarkan ponsel, dan mengetik pesan singkat.
Tak sampai satu jam kemudian, Lukman duduk di ruang kerjanya. Ponselnya bergetar. Dia membaca pesan itu sekali, lalu tersenyum tipis, senyum yang sama sekali tidak mengandung penyesalan.
“Jadi kamu mau melawan sekarang,” gumamnya pelan. Ia berdiri, merapikan jasnya. “Kalau begitu, kita lihat seberapa jauh kamu bisa melangkah, Nabila.”
billa dipenjara tidak papa menyelamatkan semua korban lukman gak akan lama nanti para saksi akan muncul sendiri.
modelan lukman kalau gak dead gak akan berhenti