NovelToon NovelToon
SUKSES BERKAT DUKUNGAN ANAK ANAK

SUKSES BERKAT DUKUNGAN ANAK ANAK

Status: sedang berlangsung
Genre:Suami Tak Berguna / Duda
Popularitas:5.2k
Nilai: 5
Nama Author: E'Ngador Together

Ketika dunia seolah runtuh di sekelilingnya, hanya cinta anak-anak yang bisa membangunnya kembali.

Rian baru saja di-PHK ketika rumah tangganya yang sudah berjalan 7 tahun hancur berkeping-keping. Dituduh selingkuh oleh istri, Novi, dan dipermalukan oleh keluarga besarnya, ia tidak punya pilihan selain kembali ke kampung halaman dengan membawa dua anaknya – Hadian dan Alea. Kedua anak itu dengan tegas memilih mengikuti ayahnya, bahkan menolak untuk bertemu dengan ibunda kandung mereka yang kini sudah hidup dengan orang lain.

Di rumah panggung peninggalan orangtuanya, Rian memulai dari nol. Dengan tangan yang terlatih bekerja keras dan dukungan tak lekang dari kedua anaknya, ia mengolah lahan pertanian, membuka peternakan, hingga akhirnya mendirikan perusahaan dan restoran yang sukses.

Setiap langkah kemajuan yang diraihnya tak pernah lepas dari kehadiran Hadian dan Alea. Ketika pertemuan tak terduga dengan Novi dan keluarga barunya terjadi berkali-kali, anak-anak itu tetap berdir

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon E'Ngador Together, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

30. MENINJAU LAHAN PERTANIAN

Pada hari Minggu pagi yang cerah, setelah menyelesaikan sarapan dan pekerjaan rumah kecil, Rian mengajak Hadian dan Alea untuk mengunjungi lahan pertanian kecil yang dulunya dikelola oleh orang tuanya sebelum mereka meninggal dunia. Lahan tersebut terletak sekitar setengah kilometer dari rumah panggung, di seberang sungai desa yang airnya masih jernih dan mengalir dengan tenang.

“Kita akan pergi ke sawah yang dulu miliki Kakek dan Nenekmu ya,” ujar Rian dengan suara yang penuh dengan kenangan, sementara mereka menyusuri jalan tanah yang menghubungkan rumah mereka dengan lahan pertanian. “Di sana mereka dulu menanam padi, jagung, dan berbagai jenis sayuran. Aku ingin kamu melihatnya agar kamu tahu dari mana asal-usul keluarga kita sebagai petani.”

Hadian berjalan dengan cepat di sebelah ayahnya, matanya penuh dengan rasa ingin tahu. Alea berlari-lari kecil di sekitar mereka, terkadang berhenti untuk melihat kupu-kupu yang terbang di antara rerumputan tinggi atau mengambil bunga kecil yang tumbuh liar di pinggir jalan.

Setelah berjalan sekitar sepuluh menit, mereka akhirnya sampai di lokasi lahan pertanian yang ditinggalkan itu. Kondisinya jauh berbeda dari apa yang Rian ingat – hamparan tanah yang dulu subur dan penuh dengan tanaman sekarang hanya menjadi padang rumput liar yang tinggi dan lebat. Beberapa semak belukar tumbuh liar di seluruh area lahan, dan parit irigasi yang dulunya digunakan untuk mengalirkan air ke sawah sudah hampir tertutup oleh rerumputan dan lumpur.

“Wah, penuh rumput liar ya Papa,” ujar Hadian dengan suara yang penuh kesedihan, melihat sekeliling lahan yang luas namun sudah tidak terawat sama sekali. Dia tidak bisa membayangkan bahwa tempat yang sekarang terlihat begitu tandus dan terbengkalai pernah menjadi lahan pertanian yang produktif yang menyediakan makanan bagi keluarga mereka dulu.

Rian mengangguk perlahan, menyentuh rerumputan tinggi yang sudah mencapai pinggangnya. “Ya, Nak,” jawabnya dengan suara yang bergetar sedikit. “Setelah Kakek dan Nenek tidak bisa merawatnya lagi, tidak ada yang mau mengambil alih pengelolaannya. Seiring waktu, lahan ini menjadi seperti ini – penuh dengan rumput liar dan tidak bisa digunakan untuk apa-apa lagi.”

Alea mendekat dan menarik lengan ayahnya dengan lembut. “Papa, kita bisa membersihkan lahan ini kan?” tanya dia dengan suara yang penuh dengan harapan. “Kalau sudah bersih, kita bisa menanam banyak sayuran dan jagung seperti dulu kan?”

Rian menepuk kepala putrinya dengan lembut dan memberikan senyum hangat. “Kita bisa mencoba, sayang,” jawabnya dengan suara yang penuh dengan tekad. “Meskipun akan membutuhkan banyak usaha dan waktu, tapi aku yakin bahwa kita bisa membuat lahan ini kembali produktif seperti dulu. Ini adalah warisan dari Kakek dan Nenekmu – kita harus menjaganya dan membuatnya berguna lagi.”

Mereka mulai berjalan melintasi lahan yang luas, dengan Rian menjelaskan setiap bagian lahan kepada anak-anak. Dia menunjukkan di mana sawah padi dulu berada, di mana mereka menanam jagung dan kacang-kacangan, serta di mana kebun sayuran kecil yang pernah menghasilkan berbagai jenis sayuran segar untuk keluarga mereka. Bahkan di tengah rerumputan tinggi, beberapa bekas parit irigasi dan bedengan tanam masih bisa dilihat dengan jelas.

“Di sini dulu aku sering bermain dengan saudara-saudaraku ketika masih kecil,” ujar Rian dengan suara yang penuh dengan kenangan, menghentikan langkahnya di sebuah area yang sedikit lebih rata. “Kita akan menangkap ikan kecil di parit irigasi atau mencari ubi jalar yang tumbuh liar di sekitar sini. Kadang-kadang Kakek akan membawaku ke sini untuk mengajarkan cara membajak tanah dan menanam benih.”

Hadian mendengarkan dengan penuh perhatian, membayangkan bagaimana rasanya bekerja di lahan yang sama dengan kakeknya yang sudah tiada. Dia melihat sekeliling dengan mata yang penuh dengan tekad, sudah mulai memikirkan bagaimana cara membersihkan lahan ini dan membuatnya kembali subur.

“Papa, kalau kita akan membersihkan lahan ini, kita harus mulai dari mana ya?” tanya Hadian dengan suara yang jelas. “Kita bisa meminta bantuan Pak Soleh dan tetangga lain kan? Kalau kita bekerja bersama-sama, pasti lebih cepat selesai.”

Rian mengangguk dengan senyum bangga. “Itu ide yang bagus, Nak,” jawabnya dengan suara yang penuh dengan harapan. “Kita bisa mulai dengan membersihkan bagian kecil terlebih dahulu – mungkin bagian yang dulu menjadi kebun sayuran. Kita bisa membersihkan rumput liar dan semak belukar, kemudian menggemburkan tanah dan membersihkan parit irigasi agar air bisa mengalir dengan lancar lagi.”

Mereka menghabiskan beberapa jam di lahan tersebut, dengan Rian menunjukkan kepada anak-anak cara mengenali jenis rumput liar yang harus dibuang dan yang mungkin bisa dimanfaatkan sebagai pakan ternak. Hadian bahkan menemukan beberapa tanaman ubi jalar yang masih tumbuh liar di antara rerumputan, sementara Alea mengumpulkan bunga-bunga liar yang cantik untuk dibuat dekorasi nanti.

Ketika matahari mulai terik di langit tengah hari, mereka beristirahat di bawah naungan pohon trembesi besar yang tumbuh di pinggir lahan. Rian membawa bekal makanan yang dibuat oleh Nenek Siti – nasi hangat dengan lauk tempe bakar dan sayuran rebus. Mereka makan bersama di atas tikar yang mereka sebarkan di bawah pohon, menikmati makanan yang sederhana namun sangat nikmat setelah berjalan dan melihat-lihat sepanjang pagi.

“Sekarang aku mengerti mengapa Papa sangat ingin memiliki lahan pertanian sendiri,” ujar Hadian setelah menyelesaikan makanannya. “Ini bukan hanya tentang menghasilkan makanan, tapi juga tentang menjaga warisan dari Kakek dan Nenek kan?”

Rian mengangguk dengan mata yang berkaca-kaca. “Betul sekali, Nak,” jawabnya dengan suara yang penuh dengan emosi. “Lahan ini adalah bagian dari sejarah keluarga kita. Kakek dan Nenek bekerja keras untuk menjaganya dan membuatnya produktif. Kita harus melanjutkan pekerjaan mereka agar lahan ini tidak hilang dan bisa memberikan manfaat bagi kita dan generasi mendatang.”

Alea mengangguk dengan penuh kesetujuan, meskipun dia mungkin belum sepenuhnya memahami makna mendalam dari apa yang dikatakan ayahnya. Namun dia tahu bahwa lahan ini penting bagi ayahnya, dan itu sudah cukup untuk membuatnya ingin membantu membersihkannya dan membuatnya kembali indah seperti dulu.

Setelah istirahat dan membersihkan tempat makan, mereka mulai berjalan kembali ke rumah. Di jalan pulang, Rian berbicara dengan anak-anak tentang rencana mereka untuk membersihkan lahan pertanian – bagaimana mereka akan melakukan pekerjaan secara bertahap, meminta bantuan dari tetangga desa, dan mencari benih serta alat-alat yang dibutuhkan untuk menanam tanaman. Hadian dengan antusias mengajukan ide-ide tentang bagaimana cara mengelola irigasi dan merencanakan jenis tanaman yang akan mereka tanam, sementara Alea bercerita tentang dekorasi yang akan dia buat untuk menghiasi area sekitar lahan ketika sudah bersih.

Ketika mereka sampai di rumah panggung, matahari sudah mulai bergeser ke arah barat dan memberikan warna jingga yang indah pada langit. Rian melihat kembali ke arah lahan pertanian yang terletak di kejauhan, merasakan tekad yang semakin kuat dalam dirinya untuk membuat lahan tersebut kembali produktif. Dia tahu bahwa pekerjaan yang akan datang tidak akan mudah – mereka harus bekerja keras setiap hari, menghadapi berbagai tantangan seperti cuaca yang tidak menentu dan serangan hama tanaman – namun dengan dukungan dari anak-anak, keluarga, dan tetangga desa, dia yakin bahwa mereka akan bisa mewujudkan impian mereka.

Hadian sudah mulai membuat daftar alat-alat yang dibutuhkan untuk membersihkan lahan, sementara Alea sudah mulai merencanakan dekorasi yang akan dia buat dari bunga dan daun yang dia kumpulkan di lahan tersebut. Rian melihat anak-anaknya dengan hati yang penuh dengan cinta dan rasa syukur – meskipun mereka masih muda, mereka sudah memahami pentingnya kerja keras dan menjaga warisan keluarga.

Di malam hari itu, ketika mereka berkumpul bersama dengan Nenek Siti dan Pak Soleh untuk makan malam, Rian memberitahu mereka tentang rencana mereka untuk membersihkan lahan pertanian peninggalan orang tuanya. Tanpa ragu, Pak Soleh menawarkan bantuan dan bahkan menyatakan bahwa dia akan memberikan beberapa alat pertanian dan benih untuk membantu mereka memulai. Nenek Siti juga menawarkan untuk mengajarkan anak-anak cara menanam dan merawat tanaman seperti yang dia pelajari dari orang tuanya.

“Lahan itu adalah milik keluarga kita semua, Rian,” ujar Nenek Siti dengan suara yang penuh dengan penghormatan. “Kita semua akan membantu kamu membuatnya kembali seperti dulu – sebuah lahan yang subur dan penuh dengan kehidupan yang memberikan makanan dan kebahagiaan bagi keluarga kita.”

Dengan dukungan yang diberikan oleh keluarga dan tetangga, serta semangat yang tinggi dari anak-anak, Rian merasa bahwa segala kesulitan yang mereka alami di masa lalu seolah menjadi batu loncatan untuk meraih masa depan yang lebih baik. Lahan pertanian yang penuh dengan rumput liar itu mungkin terlihat seperti tidak berharga bagi orang lain, namun bagi mereka, itu adalah harapan baru – sebuah kesempatan untuk membangun kehidupan yang layak, menjaga warisan keluarga, dan menunjukkan bahwa dengan kerja keras dan kebersamaan, segala sesuatu yang tampak mustahil bisa menjadi kenyataan.

1
Dewiendahsetiowati
ada typo Thor Budi yang harusnya kakak jadi ayah
Dewiendahsetiowati
hadir thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!