NovelToon NovelToon
Ruang Ajaib Gadis Desa Memikat Pangeran Yogyakarta

Ruang Ajaib Gadis Desa Memikat Pangeran Yogyakarta

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa pedesaan / Bertani / Ruang Ajaib / Reinkarnasi / Fantasi Wanita / Balas Dendam
Popularitas:14.5k
Nilai: 5
Nama Author: INeeTha

Sekar Wening hidup sebagai gadis desa terbuang yang kelaparan di gubuk bocor dilereng bukit Menoreh. Ia dianggap pembawa sial, tak berguna, tak diinginkan.

Tak ada yang tahu, jiwanya adalah seorang profesor biohayati jenius yang mati dalam ledakan laboratorium.

Saat tanda lahir di jari manisnya bersinar, sebuah ruang ajaib terbuka. Tanah surga, air kehidupan, dan takdir baru menantinya. Dari gadis hina menjadi wanita yang mengguncang desa hingga Keraton, Sekar bersiap membalikkan nasib, dan tanpa ia sadari, di tengah kebangkitannya, hati seorang Pangeran Yogyakarta mulai terpikat padanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INeeTha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Lidah Tajam Bibi Mirna

Matahari lereng Menoreh mulai merangkak naik, mengirimkan hawa gerah yang memicu penguapan berlebih pada pori-pori kulit Sekar yang masih dehidrasi.

Sekar memaksakan diri turun ke sungai kecil di belakang gubuk, menyusul ibunya yang sudah lebih dulu pergi membawa tumpukan baju kotor.

Langkahnya goyah, namun egonya sebagai seorang Profesor tidak mengizinkan dia berdiam diri melihat ibunya diperbudak oleh tumpukan kain.

Aroma sungai yang bercampur dengan lumut dan sisa sabun batangan menusuk indra penciuman Sekar.

Di sana, Rahayu sedang berlutut di atas batu datar, tangannya yang kurus bergerak ritmis memukulkan kayu ke arah kain lurik yang tebal.

"Ibu, biar Sekar bantu," ucap Sekar, suaranya masih agak parau namun penuh tekad.

Rahayu menoleh, wajahnya menunjukkan kekhawatiran yang luar biasa. "Lho, Nduk, kamu kan masih sakit. Istirahat saja di rumah, biar Ibu yang selesaikan."

Sekar tidak membantah, dia langsung berjongkok di samping ibunya dan meraih sepotong kemeja putih yang warnanya sudah menguning di bagian kerah.

Observasi Mikroskopis: Akumulasi sebum dan keratin yang teroksidasi selama berbulan-bulan. Membutuhkan surfaktan konsentrasi tinggi untuk memecah ikatan rantai karbon ini.

Secara fisik, tangan 18 tahun Sekar Wening mulai gemetar saat mencoba mengucek kain kasar itu. Kulit telapak tangannya terasa tipis, perih saat bergesekan dengan serat kain yang kaku.

"Bukan begitu cara mencucinya, Sekar. Kamu cuma bikin sabunnya habis sia-sia," sebuah suara melengking tinggi membelah kesunyian sungai.

Sekar dan Rahayu menoleh serentak.

Di atas jalan setapak yang lebih tinggi, berdiri seorang wanita dengan daster batik motif kontemporer yang mencolok.

Rambutnya disasak tinggi, wajahnya penuh dengan bedak yang terlalu tebal untuk ukuran pagi hari di desa.

Dia adalah Bibi Mirna. Adik bungsu ayahnya yang selalu merasa dirinya setara dengan sosialita Keraton hanya karena kakaknya menjabat di kota.

Mirna melangkah turun dengan gaya yang dibuat-ibuat, menghindari lumpur seolah-olah kakinya terbuat dari porselen mahal.

"Ya ampun, Kak Rahayu... lihat itu putri kesayanganmu," Mirna mencibir sambil menunjuk Sekar dengan jari yang kukunya dicat merah menyala.

"Megang baju saja jijik begitu. Pantas saja Mas Radit tidak mau menjemputnya ke kota. Bikin malu saja!"

Rahayu menunduk dalam, tangannya berhenti memukul baju. "Maaf, Mirna. Sekar baru saja bangun dari sakit, tenaganya belum pulih."

"Alasan!" Mirna berkacak pinggang, aroma parfum melati murahan yang menyengat langsung memenuhi udara di sekitar mereka.

Analisis Kimia: Senyawa sintetis berbau melati dengan kadar alkohol tinggi. Neurotoksik ringan jika dihirup terlalu lama dalam cuaca panas seperti ini.

"Sakit atau tidak, dia itu memang tidak berguna," lanjut Mirna, matanya menatap tajam ke arah tanda lahir di jari manis Sekar.

"Sudah pembawa sial, malas pula. Kamu tahu tidak, Kak? Di kota, Mas Radit itu sedang naik daun."

Mirna tersenyum sombong, seolah-olah kesuksesan kakaknya adalah miliknya sendiri.

"Dia sering masuk koran, sering rapat sama pejabat tinggi. Bayangkan kalau orang-orang tahu dia punya anak yang mencuci baju saja tidak becus begini? Bisa jatuh martabat keluarga Adhiwijaya gara-gara sampah ini!"

Sekar berhenti mengucek. Dia menarik napas panjang, mencoba menekan lonjakan adrenalin yang memicu amarah di dadanya.

Benak profesornya secara spontan membuat analisis. Subjek menunjukkan gejala Narcissistic Personality Disorder. Menggunakan penghinaan untuk memvalidasi superioritas semu miliknya.

Sekar mendongak, menatap Mirna dengan tatapan jernih dan dingin, tatapan yang biasanya membuat mahasiswa doktoralnya gemetar di ruang sidang.

"Bilih kepareng, Bibi..." Sekar memulai dengan bahasa Jawa halus yang sangat tenang.

"Jika memang martabat Bapak begitu tinggi, bukankah seharusnya adik dari seorang pejabat besar tidak perlu berteriak-teriak di pinggir sungai seperti ini? Suara Bibi terdengar sampai ke seberang bukit. Bukankah itu juga... sedikit memalukan bagi nama Adhiwijaya?"

Mirna tertegun. Mulutnya yang merah terbuka lebar, tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar.

Sekar Wening yang biasanya hanya menunduk dan menangis, baru saja membalasnya dengan kalimat yang sangat sopan tapi menusuk ke ulu hati.

"Kamu... kamu berani menjawab?!" Suara Mirna naik satu oktav, wajahnya memerah di bawah lapisan bedak. "Kurang ajar! Cah cilik, tapi hatinya busuk! Pantas saja kamu dibuang Bapakmu!"

Mirna melangkah maju, tangannya bergerak cepat ingin menjambak rambut Sekar. Namun, dengan perhitungan presisi seorang ilmuwan, Sekar sedikit memiringkan tubuhnya.

Gubrak!

Kaki Mirna yang mengenakan sandal wedges plastik terpeleset di atas batu sungai yang berlumut.

Wanita itu jatuh terduduk di air dangkal yang berlumpur. Daster batiknya yang "mahal" seketika basah kuyup dan kotor.

"Aduh! Aduuhh! Sialan!" Mirna menjerit, mencoba bangun namun malah makin belepotan lumpur.

Rahayu panik dan ingin menolong, tapi Sekar menahan lengan ibunya dengan lembut.

"Bibi sepertinya butuh waktu untuk mendinginkan kepala, Bu," bisik Sekar pelan.

Sekar kemudian beralih menatap Mirna yang masih meronta di air dengan ekspresi datar tanpa emosi.

"Maaf, Bibi. Sebaiknya segera pulang dan ganti baju. Bakteri di air sungai ini bisa menyebabkan iritasi kulit jika tidak segera dibilas."

"Kamu... kamu benar-benar pembawa sial, Sekar Wening!" Mirna berteriak histeris sambil berdiri dengan susah payah.

"Dasar sampah bangsawan! Kamu tidak punya tempat di keluarga kami! Tunggu saja, aku akan bilang pada Eyang biar kamu diusir sekalian dari gubuk ini!"

Mirna pergi sambil menghentak-hentakkan kakinya yang berlumpur, meninggalkan serentetan makian yang memecah ketenangan pagi.

Suasana sungai kembali sunyi, hanya menyisakan suara gemericik air dan napas Rahayu yang tersengal karena takut.

"Nduk... kamu tidak seharusnya begitu," bisik Rahayu, matanya berkaca-kaca. "Nanti Bibi Mirna makin benci sama kita."

Sekar kembali berjongkok, meraih kemeja putih tadi dan mulai mencucinya lagi dengan gerakan yang lebih efisien.

"Ibu," ucap Sekar tanpa menoleh. "Kebencian mereka tidak akan berkurang hanya karena kita bersikap baik. Mereka membenci kita karena mereka merasa berkuasa atas kita. Dan itu harus berhenti."

Rahayu terdiam. Dia menatap punggung anak gadisnya yang terlihat begitu rapuh namun memancarkan aura kekuatan yang asing.

Sekar merasa perih di tangannya makin menjadi-jadi. Dia melihat jari manisnya, tempat tanda lahir berbentuk bulir padi itu berada. Tiba-tiba, tanda lahir itu berdenyut.

Rasa hangat yang aneh mengalir dari jari itu, merambat ke seluruh lengannya, menghilangkan rasa sakit dan lelah dalam sekejap.

Sekar mengerutkan kening. Secara biologis, regenerasi sel secepat ini mustahil terjadi.

Hipotesis: Ada anomali energi yang berpusat pada dermal papillae di area tanda lahir.

Dia menatap aliran air sungai yang keruh di depannya. Di dalam kepalanya, suara profesornya berbisik: Cari tahu sumbernya, Sekar. Logika ini harus punya jawaban.

Sekar baru saja akan bertanya pada ibunya tentang asal-usul tanda lahir itu saat perutnya kembali melilit karena lapar.

Pemandangan Mirna tadi hanyalah gangguan kecil. Masalah utamanya tetap: mereka tidak punya makanan yang layak.

Mereka harus bertahan hidup di tengah keluarga yang menganggap mereka sebagai aib yang harus dimusnahkan.

"Ayo pulang, Bu. Cuciannya biar Sekar yang bawa," ajak Sekar sambil mengangkat ember kayu yang berat dengan tenaga yang tiba-tiba muncul entah dari mana.

Sambil berjalan pulang, Sekar menatap langit Menoreh yang luas.

Dia adalah Prof. Dr. Sekar Ayu Prameswari. Dia telah memecahkan kode genetika tanaman yang paling rumit di dunia.

Dia tidak akan membiarkan hidupnya dan ibunya berakhir tragis hanya karena lidah tajam seorang wanita desa yang narsistik.

Jika dunia ini menganggapnya pembawa sial, maka dia akan membuktikan bahwa "sial" bagi mereka adalah "keajaiban" bagi dunia.

Di kejauhan, di balik pepohonan rimbun lereng bukit, sebuah kilatan lensa kamera DSLR sempat menangkap bayangan Sekar yang sedang mengangkat ember.

Seorang pria muda dengan topi baseball mengernyitkan dahi, menatap layar pratinjau kameranya dengan minat yang dalam.

1
Luvqaseh😘😘
mak nye pun..bodo amat...
Musdalifa Ifa
bagus Sekar pertahankan sikap tegas mu dan beri pengertian pada ibu mu walaupun itu menyakitkan nya tapi itu lebih baik daripada hidup dalam dunia halu
Leni Ani
lanjut thor,bagus sekar.kalau bapak durjanem mu iku banyak tingkah mintak tolong aja sm mas arya😅😅👍👍
Leni Ani
ndas mu prasitiyo,mana mau sekar sm kamu yg mentelantar kan nya sm ibu nua di gubuk reyo,malah nanti karir mu yg amblas😅😅😅😅👍
gina altira
jgn kasih celah Sekar,, babat habis klo bisa
Leni Ani
mantap sekar jangan mau jd alat uji coba orang lain.lebih baik kamu tambah beli tabah supaya orang tahu kerja keras mu💪💪👍👍
nur
aq kok ksel banget rsane ro ibumu sekar
Leni Ani
😅😅😅😅💪👍
sahabat pena
dia adalah pangeran.
Lala Kusumah
good job Sekar 👍👍👍💪💪💪😍😍😍
lin sya
good sekar bpk durhaka itu anak yang dibuang dan dianggep sial mau dijdiin sapi perah gk tau malu, klo mengusik viralin aj dimajalah koran biar jabatan terancam jd gembel, greget bacanya 🤭
Markuyappang
suka dengan karakter sekar tapi nggak suka dengan karakter ibunya. ibunya terlalu bodoh dan gampang banget ditipu, alasannya selalu ingin jadi keluarga yg utuh tapi nggak pernah ngelihay gimana anaknya berjuang. udah selalu diingetin tapi selalu diulangin trs menerus gak pernah berubah. kirain yg habis nyuri barang anaknya bakalan berubah eh ternyata masih sama aja masih sama sama bodoh, terlalu nurut keluarga laknat itu, terlalu takut, dan terlalu berharap. kenapa gak bisa lihat susahnya anaknya berjuang dan menderitanya anaknyaaa gegara keinginan dia coba. lama lama anak mu sendiri yg pergi gegara sikap bodohmu itu bu rahayuu
Darti abdullah
luar biasa
Leni Ani
cerita nya bagus tapi kebanyaan analisis ngak bagus jg thor,jadi analidis yg banyak cerita pemeran nya sedikit,itu jadi nya cerita pemeran dlm cerita ini kayak kasat mata🙏🏻
INeeTha: Terimakasih 🙏🙏🙏
total 1 replies
Alif
alurnya lambat readher harus sabar membacanya
Musdalifa Ifa
wow Sekar selamat ya🤝, dan untuk author juga wow ceritanya bagus 👍
nur
lanjut kan sekar
Lala Kusumah
Alhamdulillah akhirnya .... bahagianya aku 😍😍😍
gina altira
Jd tarung ga yaaaa
gina altira
Kereennnn
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!