NovelToon NovelToon
Gue Jadi Figuran?

Gue Jadi Figuran?

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus / Angst / Transmigrasi ke Dalam Novel / Selingkuh / Balas dendam dan Kelahiran Kembali / Fantasi Wanita
Popularitas:35.2k
Nilai: 5
Nama Author: eka zeya257

Seyra Avalen, gadis bar-bar yang hobi balapan liar tak pernah menyangka jika kejadian konyol di hidupnya justru membuat dia meninggal dan terjebak di tubuh orang lain.

Seyra menjadi salah satu karakter tidak penting di dalam novel yang di beli sahabatnya, sialnya dia yang ingin hidup tenang justru terseret ke dalam konflik para pemeran utamanya.

Bagaimana Seyra menghadapi kehidupan barunya yang begitu menguras emosi, mampukah Seyra menemukan happy ending dalam situasinya kali ini?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon eka zeya257, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 29

"Gue baik-baik aja, kenapa?" tanya balik Arthur, dia masih sibuk merapikan rambut gadis itu.

Seyra menggeleng, "Cabut, yuk."

Arthur mengangguk, dia meraih tangan Seyra dan menggenggamnya dengan erat. Mereka berdua berjalan menuju kelas dengan pikiran masing-masing sampai suara Arthur kembali terdengar.

"Lo udah suka sama gue belum, Sey?" Tanyanya penasaran.

Seyra melirik sekilas ke arah Arthur yang masih menggenggam tangannya erat. Langkah mereka tetap seirama, tetapi pertanyaan itu membuat langkah Seyra melambat setengah detik.

"Lo berharap banget, ya?" balas Seyra santai.

Arthur menyeringai. "Jawab dulu."

Seyra mendengus pelan. "Kenapa sih lo nanya begitu tiba-tiba?"

Arthur mengangkat bahu. "Penasaran aja."

"Penasaran atau takut?" Seyra menoleh, menatapnya lurus.

Arthur terkekeh kecil. "Takut apaan?"

Seyra berhenti berjalan. Arthur ikut berhenti karena tangan mereka masih terhubung.

"Takut gue beneran cuma nganggep lo nggak lebih dari teman," ucap Seyra ringan, tapi sorot matanya tajam.

Arthur terdiam sepersekian detik. Senyumnya tidak langsung hilang, tapi ada sesuatu yang berubah di wajahnya.

"Lo masih mikirin soal taruhan itu?" tanyanya pelan.

Seyra mengangkat bahu. "Gue realistis aja."

Arthur menghela napas pendek, lalu melepaskan genggaman tangannya hanya untuk berdiri tepat di depan Seyra.

"Gue salah waktu itu," katanya akhirnya. "Awalnya iya, itu taruhan."

Seyra tidak terlihat terkejut. "Gue tahu."

"Tapi sekarang nggak lagi."

Seyra menyilangkan tangan di depan dada. "Semua cowok bilang gitu kalau udah keburu ketahuan."

Arthur tersenyum miring. "Lo pikir gue segitu gampangnya?"

"Gue pikir lo tipe yang gampang bosan kalo menjalin hubungan sama cewek."

Arthur terdiam. Ucapan itu jelas mengena tepat di hatinya, selama ini tak pernah terlintas sedikit pun di benaknya jika dia akan memiliki perasaan lebih untuk Seyra.

"Lo dengar dari siapa omongan ngawur kayak gitu?"

"Cuma nebak, nggak ada yang ngasih tahu gue," ungkap Seyra.

Arthur menggeleng pelan. "Dan lo percaya?"

"Entahlah, menurut lo?"

Arthur mengusap tengkuknya, sedikit frustrasi. "Gue nggak nyangka bakal sejauh ini, gue bukan tipe orang yang kayak gitu."

"Yakin?"

Arthur mengangguk tanpa ragu, sangat sulit baginya mendapatkan kepercayaan gadis itu. Arthur melangkah mendekat satu langkah. "Lo belum jawab pertanyaan gue."

Seyra menatapnya beberapa detik, mencoba membaca ekspresinya. Tidak ada nada bercanda di sana. Hanya rasa penasaran. Dan sedikit… kekhawatiran.

"Kenapa lo butuh jawabannya sekarang?" tanya Seyra pelan.

"Karena gue nggak mau menyesal di kemudian hari."

Seyra terkekeh kecil, berusaha menutupi sesuatu yang bergetar di dadanya. "Kalau gue bilang belum?"

Arthur menatapnya tanpa berkedip. "Gue bakal tunggu."

"Kalau gue bilang nggak bakal pernah?"

"Gue bikin lo berubah pikiran."

Seyra memutar bola matanya. "Ambisius."

Arthur tersenyum tipis. "Jadi?"

Seyra melangkah mendekat hingga jarak mereka hanya sejengkal. Dia menatap Arthur lekat-lekat.

"Gue nggak tahu," jawabnya jujur.

Arthur terdiam.

"Tapi gue nggak benci lo," lanjut Seyra. "Dan gue nggak pergi walaupun gue tahu soal taruhan itu."

Arthur menelan ludah.

"Itu udah cukup buat sekarang?"

Arthur menghembuskan napas pelan, lalu tersenyum. "Ya, gue rasa itu cukup."

Bel berbunyi nyaring, memecah momen itu.

Seyra berbalik dan kembali berjalan. Arthur segera menyusul, kali ini tanpa menggenggam tangannya, hanya berjalan di sampingnya.

Namun sebelum mereka sampai di depan kelas, Arthur kembali bersuara pelan.

"Gue bakal buktiin ke lo."

Seyra melirik sekilas. "Buktiin apa?"

"Kalau lo bakal suka sama gue."

Seyra tidak menjawab. Tapi sudut bibirnya terangkat tipis.

***

Jam pelajaran baru saja usai, Seyra berjalan keluar kelas. Saat dia berada di lorong, tanpa sengaja netranya menangkap seorang pemuda yang memiliki pipi chubby, tanpa pikir panjang Seyra menghampiri pemuda itu.

Dia bersiul genit hingga membuat atensi pemuda bernama Olaf yang merupakan adik kelasnya menoleh, Seyra mengedipkan satu matanya dan mulai mengeluarkan jurus maut penggodanya.

"Hai," sapa Seyra menampilkan senyum manisnya.

Olaf terkejut, pipinya yang chubby semakin terlihat menggemaskan saat dia mengernyitkan dahi, bingung dengan sikap gadis itu.

"Eh, Kak Seyra. Ada apa, Kak?" tanya Olaf polos.

Seyra mendekat sedikit, berusaha menampilkan pesonanya. "Lo kenal gue?"

Tanpa ragu Olaf mengangguk, "Kenal, siapa di sekolah ini yang nggak kenal sama Kakak?"

Seyra berpura-pura berpikir sejenak, lalu mengibaskan rambut panjangnya ke belakang. Membuat beberapa murid di sana terkekeh, mereka yang sedang melangkah akhirnya berhenti dan menonton adegan dimana Seyra menggoda adik kelasnya.

"Benar juga, gue terkenal banget rupanya." Seyra mengangguk-anggukan kepalanya pelan.

Olaf tidak bisa menahan tawa. "Kakak, kan suka berantem. Udah pasti terkenal."

Ucapan menohok dari Olaf membuat Seyra kikuk, dia menggaruk tengkuknya yang tak gatal. "Tau aja lo. Ngomong-ngomong nama lo Olaf, kan?"

"Iya, kenapa sama nama gue, Kak?"

Seyra menepuk pundak Olaf pelan, "Pantas, waktu lo senyum gue merasa di pegunungan bersalju ternyata lo berasal dari sana."

Olaf menggelengkan kepalanya pelan, tak tahu harus menjawab apa karena namanya memang mirip dengan sosok kartun di film frozen.

"Lo mau pulang?" Tanya Seyra.

Belum sempat Olaf menjawab, suara melengking dari Agha menggema. "Seyra! lo di panggil kepala sekolah."

"Ganggu aja, ngapain sih gue harus ke sana?" Seyra mencebikan bibirnya sebal.

Agha mengangkat bahunya acuh. "Mana gue tahu, udah sana buruan keburu di amuk lo nanti."

Seyra berdecak keras, dia berbalik menuju ruang kepala sekolah. Begitu tiba di sana, dia terkejut melihat ayahnya sudah duduk di kursi depan meja kepala sekolah.

"Duduk, Seyra." Titah kepala sekolah.

Seyra menurut, perasaannya mendadak tidak enak. Belum lagi tatapan ayahnya yang seperti akan memakannya hidup-hidup.

"Kamu menghajar murid sekelas mu, kan?" ujar kepala sekolah.

"Nggak! saya cuma nampar dia sekali itu pun nggak sampai bikin giginya rontok." Jawab Seyra tidak terima.

Helaan napas panjang terdengar dari kedua pria itu, mereka menatap Seyra dengan frustasi.

"Seberapa kuat kamu menamparnya?" kali ini ayahnya yang bertanya.

Seyra menunduk, tidak berani menatap ayahnya. "Cukup keras, tapi bukan sampai bikin dia pingsan atau apa," jawabnya pelan, berusaha mempertahankan suara.

Kepala sekolah menggelengkan kepala, matanya menatap Seyra dengan penuh kekhawatiran. "Ini bukan pertama kalinya kamu terlibat masalah, Seyra. Kami harus mengambil tindakan tegas kali ini."

"Dia yang mulai duluan!" Seyra merasa darahnya mendidih. "Dia menumpahkan jus ke seragam saya, Pak."

Ayahnya mengusap wajahnya dengan tangan, terlihat sangat frustrasi. "Seyra, kamu harus belajar mengendalikan emosi. Menyelesaikan masalah dengan kekerasan bukanlah solusi."

"Maaf." Jawab Seyra cepat, tapi dia tidak menyesal sama sekali hanya saja dia malas memperpanjang ocehan dari kepala sekolah.

Kepala sekolah mencoba menengahi, "Kami bisa mencari cara lain untuk menyelesaikan ini. Mungkin mediasi dengan siswa tersebut dan orang tuanya?"

Seyra merasa hatinya berdesir. "Nggak perlu, dimana anak itu sekarang? Biar saya yang urus sendiri masalah ini."

Ayahnya menatapnya dalam-dalam, ada rasa sakit di matanya. "Seyra, jangan bikin ulah lagi."

1
Whana Park
.
ᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ ⍣⃝🦉ꪻ꛰͜⃟ዛ༉
eh aron deh namanya😅 kirain xander
ᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ ⍣⃝🦉ꪻ꛰͜⃟ዛ༉
bukannya xander yang celakai seorang ya thor
ᴊᴜʏ -ᴋɪᴍ
Lanjut thor, seru
Dedi Dahlia
sip lanjut senangat.,up datenya💪💪🙂🙂
falea sezi
ya masak mati lagi
ᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ ⍣⃝🦉ꪻ꛰͜⃟ዛ༉
palingan adeknya aron suka sama Arthur dan cinta di tolak makanya si alya bundir. jd dya dendam sama Arthur, weh aron cinta tidak bisa di paksakan, gilaaa memang
ᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ ⍣⃝🦉ꪻ꛰͜⃟ዛ༉
waduh thor jangan sampe terjadi apa apa sama seorang dunk
ᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ ⍣⃝🦉ꪻ꛰͜⃟ዛ༉
milik siapa thor🤭
apa milik bapak bapak dengan satu anak itu ya
ᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ ⍣⃝🦉ꪻ꛰͜⃟ዛ༉
cerita bagus, aq suka
sayang nya valeri bukan wanita kuat seperti adiknya
ᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ ⍣⃝🦉ꪻ꛰͜⃟ዛ༉
g bisa berkata-kata thor🥺
ᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ ⍣⃝🦉ꪻ꛰͜⃟ዛ༉
elsa ini pelaku nya, dya suruh Arthur untuk di lepas
ᴊᴜʏ -ᴋɪᴍ
Lanjut Thor, and semangat💪
ᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ ⍣⃝🦉ꪻ꛰͜⃟ዛ༉
bener val, lupakan ozil biar ozil menyesal🤬
ᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ ⍣⃝🦉ꪻ꛰͜⃟ዛ༉
val, jadi perempuan mandiri, stop kejar kejar ozil. biar ozil yang balik kejar kami, biar dya menyesal
ᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ ⍣⃝🦉ꪻ꛰͜⃟ዛ༉
thor buat pala Arthur tau dunk prestasi anaknya kl dya lebih jago dr gio
ᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ ⍣⃝🦉ꪻ꛰͜⃟ዛ༉
kasian seyra mamanya pilih kasih untuk ayahnya sayang sama dya
ᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ ⍣⃝🦉ꪻ꛰͜⃟ዛ༉
hahahaha....
ngebut aq bacanya thor🤣
ᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ ⍣⃝🦉ꪻ꛰͜⃟ዛ༉
nah kan udah jatuh cinta tuh 🤭
ᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ ⍣⃝🦉ꪻ꛰͜⃟ዛ༉
Arthur ambil kesempatan dalam kesempitan, bakalan jatuh cinta beneren nih bocah sama seyra
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!