NovelToon NovelToon
Cinta Kontrak Seorang CEO

Cinta Kontrak Seorang CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / CEO
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Ana Sutiana

Ketika hidupmu dipenuhi dengan rutinitas dan kesibukan, tiba-tiba sebuah kontrak cinta muncul di depan mata. Sakira Anindya, seorang wanita muda yang mandiri, harus menjalani perjanjian unik dengan seorang CEO tampan dan misterius, Rafael Pratama. Awal dari perjanjian itu hanyalah formalitas, tapi hati tak pernah bisa diajak kompromi.

bisakah Sakira menjaga jarak tanpa terjerat perasaan? Ataukah kontrak ini justru membuka jalan bagi cinta yang tak pernah ia duga? Drama, romansa, dan rahasia CEO menanti untuk mengubah hidup Sakira selamanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ana Sutiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 28. Ketika hati tak lagi bisa bersembunyi

Sakira menatap Rafael tanpa berkedip.

Permintaan pria itu masih terngiang di telinganya.

Kalau begitu… jelaskan sekarang.

Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi bagi Sakira rasanya seperti membuka pintu yang selama ini ia kunci rapat-rapat.

Ia menghela napas pelan.

Tidak semuanya bisa dijelaskan dengan mudah, Rafael,” ucapnya akhirnya.

Rafael tidak bergerak dari tempatnya berdiri.

Tatapannya tetap tertuju pada Sakira, seolah menunggu setiap kata yang keluar dari bibir wanita itu.

Coba saja,” jawabnya tenang.

Sakira menunduk sebentar. Ia mencoba menyusun kata-kata di kepalanya, tetapi perasaannya terlalu berantakan.

“Aku pergi karena… aku mulai melupakan satu hal penting.”

“Apa itu?”

“Bahwa semua ini hanya sementara.”

Angin siang kembali berhembus melewati mereka.

Sakira menatap Rafael lagi, matanya terlihat lebih jujur dari sebelumnya.

“Kontrak kita punya batas waktu. Kamu tahu itu. Aku juga tahu.”

Rafael tidak membantah.

Dan semakin lama aku tinggal di rumahmu… semakin sulit bagiku untuk mengingat itu.”

Kata-kata itu keluar dengan pelan, tetapi cukup jelas.

Rafael memperhatikan setiap perubahan ekspresi di wajah Sakira.

“Apa kamu menyesalinya?” tanya pria itu.

Sakira langsung menggeleng.

“Tidak.”

Jawaban itu keluar begitu cepat bahkan dirinya sendiri sedikit terkejut.

“Aku tidak menyesal pernah ada di sana,” lanjutnya pelan. “Aku hanya takut suatu hari nanti aku tidak bisa pergi ketika kontrak itu berakhir.”

Hening.

Rafael menatapnya lebih dalam.

Untuk pertama kalinya, ia benar-benar memahami apa yang Sakira rasakan.

Namun alih-alih menjauh, pria itu justru melangkah satu langkah lagi mendekat.

“Lalu sekarang?” tanyanya.

Sakira menelan ludah.

“Aku mencoba pergi lebih dulu.”

“Supaya tidak terlalu sakit?”

Sakira tidak menjawab.

Namun diamnya sudah cukup menjelaskan segalanya.

Beberapa detik kemudian, Rafael menghembuskan napas panjang.

“Logika yang aneh.”

Sakira mengerutkan kening.

“Aneh?”

Rafael mengangguk.

“Kalau kamu takut terluka, bukankah seharusnya kamu menghindari semuanya sejak awal?”

Sakira terdiam.

Ucapan Rafael membuat dadanya terasa sesak. Ia tahu pria itu tidak sepenuhnya salah. Jika sejak awal ia benar-benar ingin menghindari rasa sakit, seharusnya ia tidak pernah menerima perjanjian kontrak itu.

Namun kenyataannya tidak sesederhana itu.

“Karena saat itu aku tidak punya pilihan lain,” akhirnya Sakira berkata lirih.

Rafael menatapnya tanpa berkedip.

Aku butuh uang,” lanjut Sakira. “Aku butuh pekerjaan. Dan kontrak itu… datang di saat aku benar-benar terdesak.”

Rafael tidak langsung menjawab.

Untuk pertama kalinya sejak mereka menikah secara kontrak, pria itu benar-benar mendengarkan tanpa menyela.

“Aku tahu itu hanya kesepakatan,” kata Sakira lagi. “Aku juga tahu seharusnya aku tidak melibatkan perasaan.”

Ia tertawa kecil, namun terdengar pahit.

Tapi manusia tidak selalu bisa mengendalikan hatinya.”

Angin malam berhembus pelan di balkon apartemen itu. Kota di bawah mereka masih hidup dengan lampu-lampu yang berkelip seperti bintang.

Rafael menatap wajah Sakira yang terlihat lelah.

“Jadi kamu ingin pergi?” tanyanya pelan.

Sakira menunduk.

“Kalau aku tetap di sini… aku takut semuanya akan menjadi lebih rumit.”

“Lebih rumit dari sekarang?”

Sakira tidak menjawab.

Keheningan kembali menyelimuti mereka.

Beberapa detik kemudian Rafael melangkah mendekat, jaraknya kini hanya beberapa langkah dari Sakira.

“Kalau kamu pergi,” katanya pelan, “kontrak kita belum selesai.”

Sakira mengangkat wajahnya perlahan. Matanya menatap Rafael dengan campuran bingung dan sedikit kesal.

Kontrak?” ulangnya lirih. “Kamu masih memikirkan itu di saat seperti ini?”

Rafael menghela napas panjang. Ia berdiri di samping pagar balkon, memandang lampu kota yang berkilau di kejauhan. Cahaya itu membuat bayangan wajahnya terlihat lebih serius dari biasanya.

“Bukan hanya kontrak,” katanya akhirnya. “Tapi janji.”

Sakira terdiam. Kata itu membuat dadanya terasa sesak.

Beberapa bulan lalu, semuanya memang dimulai dari sebuah kontrak. Perjanjian sederhana yang seharusnya hanya berlangsung beberapa waktu. Tidak ada perasaan, tidak ada keterikatan. Hanya kesepakatan yang saling menguntungkan

Setidaknya… itu yang mereka pikirkan di awal.

Angin malam kembali berhembus, membawa dingin yang pelan-pelan merayap ke kulit.

Sakira memeluk lengannya sendiri.

“Aku tidak pernah meminta semuanya jadi seperti ini,” katanya pelan.

“Aku juga tidak,” jawab Rafael.

Hening kembali jatuh di antara mereka.

Rafael melangkah satu langkah lagi mendekat. Kini jarak mereka hanya sejengkal. Dari dekat, ia bisa melihat jelas mata Sakira yang sedikit memerah.

“Kamu benar-benar ingin pergi?” tanyanya.

Sakira menunduk lagi. Ia mencoba mencari kata-kata yang tepat, tetapi semuanya terasa sulit.

“Kalau aku tetap di sini,” katanya akhirnya, “aku takut aku akan berharap terlalu banyak.”

Rafael mengernyit sedikit.

“Berharap apa?”

Sakira tersenyum tipis, tetapi senyum itu tidak sampai ke matanya.

3“Hal-hal yang tidak termasuk dalam kontrak kita.”

Kalimat itu menggantung di udara malam.

Rafael menatapnya lama, seolah mencoba membaca sesuatu yang tersembunyi di balik kata-kata itu. Lalu perlahan ia tertawa kecil, bukan karena lucu, tetapi karena sesuatu yang terasa pahit.

“Lucu sekali,” katanya.

Sakira mengangkat alis.

“Apa yang lucu?”

“Aku juga mulai berharap hal yang sama.”

Sakira terdiam.

Ia menatap Rafael dengan mata sedikit membesar, seakan tidak yakin dengan apa yang baru saja ia dengar.

Rafael menggosok tengkuknya, terlihat sedikit canggung.

Awalnya semua terasa mudah,” lanjutnya. “Kita hanya berpura-pura. Tidak ada yang serius. Tapi entah sejak kapan… semuanya berubah.”

Lampu mobil di jalan jauh di bawah bergerak seperti aliran cahaya yang tidak pernah berhenti. Kota tetap hidup, sementara di balkon kecil itu waktu terasa melambat.

“Aku tidak pandai mengatakan hal seperti ini,” kata Rafael lagi.

Sakira menunggu.

“Aku hanya tahu satu hal.”

“Apa itu?”

Rafael menatap langsung ke matanya.

“Aku tidak ingin kamu pergi.”

Kata-kata itu sederhana, tetapi cukup membuat jantung Sakira berdebar lebih cepat.

Ia menggeleng pelan, mencoba menenangkan dirinya sendiri.

“Kamu hanya terbiasa aku ada di sini,” katanya. “Itu berbeda.”

“Tidak,” jawab Rafael tegas.

Sakira menatapnya lagi.

Rafael jarang berbicara dengan nada seperti itu.

“Kalau hanya terbiasa,” lanjut Rafael, “aku tidak akan berdiri di sini mencoba menahanmu.”

Ia berhenti sejenak, lalu berkata lebih pelan.

“Aku juga tidak akan merasa kehilangan bahkan sebelum kamu benar-benar pergi.”

Sakira menggigit bibirnya. Ia berusaha menahan emosi yang tiba-tiba muncul di dadanya.

“Rafael…”

“Kalau kontrak itu yang membuatmu ingin pergi,” kata Rafael, “kita bisa mengakhirinya sekarang.”

Sakira terdiam.

Angin kembali bertiup, membuat rambutnya bergerak pelan.

“Lalu setelah itu?” tanyanya.

Rafael tersenyum tipis.

“Setelah itu,” katanya, “kita mulai dari awal.”

“Tanpa kontrak?”

“Tanpa kontrak.”

Untuk pertama kalinya malam itu, Sakira tertawa kecil.

Bukan tawa yang keras, tetapi cukup untuk membuat suasana yang tegang perlahan mencair.

“Kamu tahu?” katanya.

“Apa?”

“Kamu sangat buruk dalam menyatakan perasaan.”

Rafael mengangkat bahu.

“Mungkin.”

“Tapi…”

Sakira menatapnya lagi.

“Setidaknya kali ini kamu jujur.”

Rafael tersenyum.

Dan untuk pertama kalinya sejak percakapan itu dimulai, keheningan di antara mereka tidak lagi terasa berat.

Di bawah langit malam yang luas, dua orang yang awalnya terikat oleh kontrak perlahan mulai memahami sesuatu yang tidak pernah tertulis di dalamnya.

bersambung...

1
Ana Sutiana
bagus dan menarik ceritanya untuk di baca
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!