NovelToon NovelToon
Cinta Kontrak Seorang CEO

Cinta Kontrak Seorang CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / CEO
Popularitas:4.5k
Nilai: 5
Nama Author: Ana Sutiana

Ketika hidupmu dipenuhi dengan rutinitas dan kesibukan, tiba-tiba sebuah kontrak cinta muncul di depan mata. Sakira Anindya, seorang wanita muda yang mandiri, harus menjalani perjanjian unik dengan seorang CEO tampan dan misterius, Rafael Pratama. Awal dari perjanjian itu hanyalah formalitas, tapi hati tak pernah bisa diajak kompromi.

bisakah Sakira menjaga jarak tanpa terjerat perasaan? Ataukah kontrak ini justru membuka jalan bagi cinta yang tak pernah ia duga? Drama, romansa, dan rahasia CEO menanti untuk mengubah hidup Sakira selamanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ana Sutiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 32. Wanita dari masa lalu

Pagi datang lebih cepat dari yang Nadira harapkan.

Sinar matahari yang masuk melalui celah tirai apartemen perlahan menyinari ruang tamu yang masih sepi. Jam di dinding menunjukkan pukul enam pagi, tetapi Nadira sudah terbangun sejak satu jam yang lalu.

Ia sama sekali tidak bisa tidur nyenyak.

Pikirannya masih dipenuhi oleh kejadian semalam.

Tentang Vanessa.

Tentang Raka yang pergi begitu saja setelah menerima telepon dari wanita itu.

Dan yang paling mengganggu—

Raka belum pulang sampai Nadira akhirnya tertidur di sofa.

Nadira menatap pintu kamar Raka yang masih tertutup.

Ia tidak tahu apakah pria itu sudah kembali atau belum.

Perlahan ia bangkit dari sofa lalu berjalan menuju dapur kecil di sudut apartemen. Ia menuangkan segelas air putih dan meminumnya perlahan.

Hening.

Apartemen itu terasa begitu sunyi.

Biasanya ia akan mendengar suara langkah Raka di pagi hari atau suara mesin kopi yang dinyalakan pria itu.

Namun pagi ini semuanya terasa berbeda.

Nadira menatap meja makan kosong.

Tanpa sadar hatinya terasa sedikit sesak.

“Kenapa aku jadi memikirkan ini…” gumamnya pelan.

Ia menggelengkan kepala, mencoba menenangkan dirinya sendiri.

Ini hanya pernikahan kontrak.

Tidak ada alasan baginya untuk merasa seperti ini.

Tepat saat itu pintu kamar Raka terbuka.

Nadira menoleh.

Pria itu keluar dari kamar dengan pakaian kerja yang sudah rapi. Jas hitamnya tergantung di tangannya, rambutnya masih sedikit basah seolah baru selesai mandi.

Mata mereka bertemu.

“Kau sudah bangun?” tanya Raka.

Nadira mengangguk.

“Iya.”

Ia memperhatikan pria itu sejenak.

“Kamu pulang jam berapa?”

Raka berjalan menuju dapur lalu mengambil segelas air.

“Subuh.”

Jawaban itu singkat.

Nadira menahan diri untuk tidak bertanya lebih jauh.

Namun akhirnya ia tetap bertanya,

“Masalah Vanessa sudah selesai?”

Raka berhenti sejenak sebelum menjawab.

“Belum.”

Nadira tidak tahu kenapa, tapi jawabannya membuat hati kecilnya terasa tidak nyaman.

Raka mengambil kopinya lalu duduk di kursi meja makan.

“Kau tidak perlu memikirkan ini,” katanya.

Nadira tersenyum kecil.

“Aku tidak memikirkannya.”

Namun senyum itu terasa sedikit dipaksakan.

Raka menatapnya sejenak seolah tahu bahwa wanita itu tidak sepenuhnya jujur.

Tapi ia tidak mengatakan apa-apa.

Beberapa jam kemudian.

Gedung perusahaan terlihat sibuk seperti biasa.

Karyawan berlalu-lalang membawa dokumen dan laptop mereka. Suasana kantor dipenuhi suara percakapan dan aktivitas pekerjaan.

Nadira berjalan menuju mejanya sambil membawa beberapa berkas.

Ia mencoba fokus pada pekerjaannya.

Namun pikirannya masih sedikit kacau.

“Pagi, Nadira!”

Suara ceria tiba-tiba menyapanya.

Nadira menoleh.

Lina, rekan kerjanya, berjalan mendekat dengan ekspresi penasaran.

“Kamu tahu tidak?” bisiknya.

“Apa?”

Lina terlihat sangat bersemangat.

“Ada wanita cantik datang ke kantor pagi ini.”

Nadira tidak terlalu tertarik.

“Oh ya?”

“Iya! Katanya dia tamu penting CEO.”

Nadira berhenti berjalan.

CEO.

Raka.

Entah kenapa sebuah firasat muncul di hatinya.

“Siapa namanya?” tanya Nadira.

Lina berpikir sejenak.

“Vanessa kalau tidak salah.”

Jantung Nadira seakan berhenti sesaat.

“Dia sekarang ada di ruang CEO.”

Nadira mencoba tetap tenang.

“Oh.”

Ia melanjutkan berjalan menuju mejanya.

Namun pikirannya langsung dipenuhi berbagai kemungkinan.

Vanessa datang ke kantor.

Menemui Raka.

Pagi-pagi sekali.

Nadira menarik napas panjang lalu duduk di kursinya.

“Aku tidak boleh memikirkan ini.”

Namun tepat saat itu—

Pintu lift terbuka.

Dan seseorang berjalan keluar.

Nadira tanpa sadar menoleh.

Vanessa.

Wanita itu berjalan dengan percaya diri mengenakan gaun putih elegan. Rambut panjangnya tergerai rapi, dan senyumnya tampak begitu tenang.

Seolah ia sudah sangat terbiasa berada di tempat itu.

Beberapa karyawan bahkan langsung memperhatikannya.

“Siapa dia?”

“Cantik sekali.”

“Katanya kenal CEO.”

Bisik-bisik mulai terdengar di sekitar kantor.

Vanessa berhenti tepat di depan meja Nadira.

Senyumnya muncul lagi.

“Selamat pagi.”

Nadira menatapnya dengan tenang.

“Selamat pagi.”

Vanessa menyilangkan tangannya.

“Aku datang menemui Raka.”

Nadira mengangguk.

“Saya tahu.”

Vanessa memperhatikan Nadira beberapa detik.

“Kamu terlihat lelah.”

“Aku baik-baik saja.”

Vanessa tersenyum tipis.

“Dia pasti pulang sangat larut tadi malam.”

Kalimat itu terasa seperti sindiran halus.

Nadira tidak menjawab.

Vanessa kemudian berkata pelan,

“Raka memang selalu seperti itu.”

“Apa maksudmu?”

Vanessa mendekat sedikit.

“Dia tidak pernah bisa menolak permintaanku.”

Nadira menatapnya tajam.

Namun sebelum ia sempat mengatakan apa-apa, pintu ruang CEO terbuka.

Raka keluar.

Tatapannya langsung berhenti pada dua wanita yang berdiri di sana.

“Vanessa.”

“Raka.”

Suasana tiba-tiba terasa tegang.

Vanessa tersenyum manis.

“Aku hanya ingin menyapamu.”

Raka menatapnya sebentar lalu berkata,

“Kita bicara di dalam.”

Vanessa mengangguk.

Namun sebelum masuk ke ruangan, ia menoleh sebentar ke arah Nadira.

Senyumnya kembali muncul.

Senyum yang sulit ditebak.

Lalu ia masuk ke ruangan CEO bersama Raka.

Pintu tertutup.

Dan Nadira hanya berdiri diam di tempatnya.

Di dalam ruangan CEO.

Raka berdiri di dekat meja kerjanya.

“Kenapa kau datang ke kantor?”

Vanessa duduk santai di kursi.

“Aku hanya ingin bertemu denganmu.”

“Kita sudah bertemu semalam.”

Vanessa menatapnya.

“Aku tidak punya tempat lain untuk pergi.”

Raka menghela napas pelan.

“Kau bisa tinggal di hotel.”

“Aku takut.”

Jawaban itu membuat Raka mengerutkan kening.

“Mereka masih mencariku.”

Vanessa menunduk.

“Kalau mereka menemukan aku…”

Raka terdiam.

Ia tahu situasi ini tidak sederhana.

Namun di sisi lain, ia juga tidak bisa mengabaikan seseorang yang pernah begitu penting dalam hidupnya.

Vanessa kemudian berkata pelan,

“Bolehkah aku tinggal sementara di apartemenmu?”

Raka langsung menatapnya.

“Apartemenku?”

Vanessa mengangguk.

“Hanya sampai masalah ini selesai.”

Raka langsung memikirkan satu hal.

Nadira.

Apartemen itu sekarang juga tempat tinggal istrinya.

Meskipun pernikahan mereka hanya kontrak—

Situasinya tetap akan menjadi sangat rumit.

Sementara itu di luar ruangan.

Nadira mencoba fokus bekerja.

Namun pikirannya terus kembali ke ruang CEO.

Tentang apa yang sedang mereka bicarakan.

Tentang apa yang akan terjadi selanjutnya.

Dan tanpa ia sadari—

Perasaan yang seharusnya tidak ada dalam pernikahan kontrak itu mulai tumbuh perlahan.

Perasaan yang membuat semuanya menjadi jauh lebih rumit.

Karena sekarang…

Ini bukan lagi sekadar kontrak.

Ini sudah mulai menyangkut hati.

Nadira menatap layar komputernya tanpa benar-benar membaca dokumen yang terbuka di depannya. Huruf-huruf di layar seolah bergerak tanpa arti. Setiap beberapa menit, tanpa sadar ia melirik ke arah pintu ruang CEO.

Pintu itu masih tertutup.

Sudah hampir dua puluh menit sejak Vanessa masuk bersama Raka.

Di sekelilingnya, para karyawan mulai kembali sibuk dengan pekerjaan masing-masing, tetapi sesekali masih terdengar bisikan pelan tentang wanita cantik yang datang menemui CEO pagi-pagi sekali.

“Siapa sebenarnya dia?”

“Pacarnya CEO, ya?”

“Sepertinya mereka dekat sekali.”

Bisikan-bisikan itu membuat Nadira merasa semakin tidak nyaman.

Ia mencoba mengabaikannya dengan kembali mengetik laporan yang harus ia selesaikan. Namun pikirannya tetap melayang.

Tiba-tiba pintu ruang CEO terbuka.

Nadira tanpa sadar mengangkat kepalanya.

Vanessa keluar lebih dulu.

Wanita itu terlihat santai, bahkan masih tersenyum seperti sebelumnya. Ia merapikan rambutnya sebentar sebelum melangkah keluar dari ruangan.

Beberapa karyawan langsung berpura-pura sibuk ketika ia lewat.

Vanessa berjalan melewati meja Nadira.

Namun kali ini ia berhenti.

“Kita bertemu lagi,” katanya dengan nada ringan.

Nadira menatapnya tenang.

“Ya.”

Vanessa sedikit mencondongkan kepalanya.

“Kau bekerja sangat dekat dengan ruang Raka.”

“Itu memang bagian dari pekerjaanku.”

Vanessa tersenyum tipis.

“Menarik.”

Nadira tidak menjawab.

Beberapa detik mereka hanya saling menatap.

Lalu Vanessa berkata dengan santai,

“Aku mungkin akan sering datang ke sini.”

Kalimat itu membuat Nadira sedikit mengernyit.

“Saya tidak bisa mengatur siapa yang boleh datang ke kantor ini.”

Vanessa tertawa kecil.

“Kau benar.”

Ia kemudian menambahkan pelan,

“Lagipula… Raka tidak keberatan.”

Sebelum Nadira sempat mengatakan apa-apa lagi, Vanessa sudah berjalan menuju lift.

Pintu lift tertutup.

Suasana kantor kembali normal.

Namun di dalam hati Nadira, sesuatu terasa berbeda.

Beberapa saat kemudian, interkom di mejanya berbunyi.

Suara sekretaris dari ruang CEO terdengar.

“Nadira, Pak Raka memanggilmu.”

Nadira sedikit terkejut.

“Baik.”

Ia berdiri lalu berjalan menuju ruang CEO.

Setiap langkah terasa sedikit berat, meskipun ia tidak tahu kenapa.

Sesampainya di depan pintu, ia mengetuk pelan.

“Masuk.”

Nadira membuka pintu.

Raka sedang berdiri di dekat jendela, menatap ke arah luar gedung. Tangannya dimasukkan ke dalam saku celana, ekspresinya terlihat serius.

“Kau memanggilku?” tanya Nadira.

Raka menoleh.

“Iya. Duduklah.”

Nadira duduk di kursi di depan meja kerja.

“Ada laporan yang harus kamu cek?” tanyanya.

Namun Raka menggeleng.

“Bukan soal pekerjaan.”

Nadira sedikit bingung.

“Lalu?”

Raka terlihat ragu sejenak sebelum berkata,

“Vanessa mungkin akan datang beberapa kali ke kantor.”

Nadira menatapnya.

“Oh.”

Ia mencoba terdengar biasa saja.

“Dia sedang menghadapi masalah.”

“Aku tahu.”

Raka memperhatikan ekspresi Nadira.

“Kau tidak keberatan?”

Nadira tersenyum kecil.

“Kenapa aku harus keberatan?”

Beberapa detik mereka saling diam.

Lalu Nadira berkata pelan,

“Ini hanya pernikahan kontrak, kan?”

Kata-kata itu terdengar ringan.

Namun entah kenapa, kalimat itu justru membuat suasana di ruangan menjadi lebih sunyi.

Raka menatapnya cukup lama.

Dan untuk pertama kalinya sejak pagi tadi—

Ia merasa bahwa situasi di antara mereka mulai berubah.

Bukan karena kontrak.

Melainkan karena sesuatu yang jauh lebih sulit untuk dijelaskan.

Bersambung..

1
Saridi Rangkas
sangat bagus cerita nya
Saridi Rangkas
👍
JR Rhna
tak dijelaskan secara terperinci apa keuntungan yg didapatkan dari kedua belah pihak.ceritanya sangat cepat tanpa penjelasan lebih
Ana Sutiana: iya maaf ya?? kadang saya suka ga fokus menulis nya??,, maaf juga masih berantakan kisah nya🙏
total 1 replies
Ratna Ningsih
kok banyak yg di ulang ulang ceritanya
Ana Sutiana
bagus dan menarik ceritanya untuk di baca
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!