Nadin Kirana tidak pernah menyangka hidupnya akan hancur dalam semalam. Ayahnya kabur membawa uang perusahaan, meninggalkan utang sebesar sepuluh miliar rupiah dan adiknya yang sedang kritis di rumah sakit. Dikejar oleh rentenir kejam dan diboikot dari semua pekerjaan, Nadin tersudut di ujung jurang.
Satu-satunya jalan keluar datang dari Gilang Mahendra—CEO dari Mahendra Corp, pria bertangan dingin yang dikenal tidak memiliki belas kasihan dalam bisnis maupun kehidupan pribadinya. Gilang bersedia melunasi seluruh utang Nadin dan membiayai pengobatan adiknya, namun dengan satu syarat mutlak: Nadin harus menandatangani kontrak untuk menjadi "miliknya" sepenuhnya selama tiga tahun.
Tidak ada cinta. Tidak ada janji pernikahan. Nadin hanya menjadi properti pribadi Gilang yang harus siap memuaskan pria itu kapan pun dan di mana pun dia inginkan, serta tinggal bersamanya di penthouse mewahnya bagaikan burung dalam sangkar emas.
Awalnya, hubungan mereka murni transaksional dan dipenuhi kebe
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hazard111, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12: Rahasia Perak dan Detak Jantung yang Berpacu
Rintik hujan kembali membasahi kaca jendela raksasa penthouse pada malam harinya. Di dalam kamar mandi utama yang luas dan berdinding marmer putih, Nadin Kirana berdiri mematung di depan cermin wastafel. Suara aliran air dari keran yang sengaja dia biarkan menyala menjadi satu-satunya hal yang memecah keheningan.
Tangan Nadin yang bergetar pelan merogoh saku jas kerjanya yang tersampir di keranjang pakaian kotor. Dia mengeluarkan sebuah kartu nama berwarna perak. Permukaan kartu itu memantulkan cahaya lampu kamar mandi, memperlihatkan nama Bastian Wirawan dan deretan angka nomor telepon pribadi pria tersebut.
Kartu perak itu terasa sangat dingin, sedingin racun kecurigaan yang kini mengalir di dalam pembuluh darah Nadin.
Ucapan Bastian di kafetaria siang tadi terus berputar di kepalanya bagaikan kaset rusak. Pria itu tidak percaya pada kebetulan, Nadin. Pria itu menciptakan kebetulan. Kalimat itu menghantui setiap sudut pikiran logisnya. Bagaimana jika selama ini dia tidak diselamatkan, melainkan digiring secara paksa masuk ke dalam perangkap yang sudah disiapkan Gilang Mahendra sejak awal?
Nadin memejamkan matanya rapat-rapat. Kepalanya terasa mau pecah. Jika tebakan Bastian benar, maka pria yang menidurinya setiap malam, pria yang kini menguasai setiap inci tubuh dan hidupnya, adalah monster yang sama yang menghancurkan keluarganya. Namun di sisi lain, Gilang juga memegang nyawa adiknya. Jika Nadin mencoba melarikan diri menggunakan bantuan Bastian, konsorsium gelap yang memburu ayahnya akan langsung merobek nyawa Arya.
Nadin terjebak. Dia berada di dasar jurang yang sangat gelap, dan tidak ada satu pun tali yang bisa ditariknya tanpa melukai dirinya sendiri.
Suara pintu kamar utama yang terbuka membuat Nadin tersentak kaget. Gilang sudah pulang.
Dengan gerakan panik dan serba cepat, Nadin menyembunyikan kartu nama perak itu. Dia tidak bisa membuangnya ke tempat sampah karena para pelayan yang membersihkan penthouse pasti akan melaporkannya pada Dimas. Matanya menyapu sekeliling kamar mandi. Pandangannya jatuh pada sebuah botol losion tubuh berukuran besar berbahan plastik gelap yang jarang dia pakai. Nadin memutar tutup botol itu, melipat kartu perak tersebut menjadi bagian kecil, dan menekannya masuk ke dalam cairan losion hingga tenggelam sepenuhnya.
Dia baru saja selesai mencuci tangannya saat pintu kamar mandi diketuk dari luar.
"Nadin," panggil suara bariton Gilang yang berat dan serak.
Nadin segera mengambil handuk kecil, mengeringkan wajah dan tangannya, lalu membuka pintu. Gilang berdiri di ambang pintu, sudah melepaskan jas dan dasinya. Dua kancing kemeja pria itu terbuka, memperlihatkan kulit dadanya yang sedikit berkeringat. Mata hitam Gilang menatap Nadin dengan intensitas yang selalu berhasil membuat bulu kuduk Nadin meremang.
"Kau menghabiskan waktu terlalu lama di dalam," ucap Gilang pelan. Pria itu melangkah masuk, mengikis jarak di antara mereka hingga Nadin terpaksa mundur dan punggungnya menabrak meja wastafel marmer.
"Saya... saya hanya sedang mencuci muka," jawab Nadin terbata-bata. Dia menundukkan pandangannya, takut pria cerdas ini bisa membaca kebohongan dari matanya.
Gilang mengangkat tangan kanannya. Jari-jari pria itu yang besar dan kasar menyelipkan beberapa helai rambut Nadin yang basah ke belakang telinga. Sentuhan itu terasa sangat kontras dengan aura berbahaya yang memancar dari tubuhnya.
"Aku bisa mencium bau ketakutanmu, Nadin," bisik Gilang tepat di telinga wanita itu. "Apa yang sedang kau pikirkan? Apakah racun dari mulut Bastian masih mengganggumu?"
Nadin menelan ludah dengan susah payah. "Tidak. Saya tidak memikirkan dia."
"Bagus," geram Gilang puas. Tangan pria itu turun ke leher Nadin, memberikan cengkeraman lembut yang memperingatkan. "Karena malam ini, aku akan memastikan otakmu terlalu lelah untuk memikirkan apa pun selain diriku."
Malam itu, Gilang menepati janjinya dengan cara yang paling absolut. Pria itu mendominasi Nadin di atas ranjang dengan ritme yang mematikan, menuntut penyerahan diri yang tidak menyisakan ruang sedikit pun bagi Nadin untuk menyembunyikan rahasia. Di bawah sentuhan Gilang yang panas dan membakar kewarasan, Nadin terpaksa melupakan kartu perak di dalam botol losion, melupakan keraguannya, dan kembali tenggelam dalam lautan gairah yang mengikatnya pada sang iblis.
Keesokan paginya, suasana di lantai enam puluh markas besar Mahendra Corp terasa sangat sibuk. Nadin sedang duduk di meja gambarnya, menyelesaikan revisi perhitungan untuk pilar bawah tanah Menara Selatan. Gilang sedang tidak ada di ruangannya. Pria itu sedang memimpin rapat penting dengan investor asing di ruang rapat utama yang terletak di ujung sayap barat gedung.
Jam menunjukkan pukul sepuluh pagi ketika ponsel baru milik Nadin tiba-tiba berdering nyaring.
Nadin meletakkan pensilnya. Dia melihat nama Dokter Adrian berkedip di layar. Perasaan panik seketika menyergap dadanya. Dokter Adrian tidak pernah meneleponnya secara langsung kecuali ada kondisi darurat.
Dengan tangan gemetar, Nadin menggeser tombol hijau di layar. "Halo, Dokter Adrian? Ada apa?"
"Nadin, kamu harus ke rumah sakit sekarang," suara Adrian di seberang sana terdengar sangat tegang dan terburu-buru, diiringi suara riuh langkah kaki dan bunyi mesin medis. "Tekanan darah Arya tiba-tiba anjlok drastis. Ginjalnya yang tersisa mengalami infeksi akut yang menyebar ke darah. Profesor Lee sedang mencoba melakukan prosedur stabilisasi darurat, tapi kondisinya sangat kritis."
Dunia Nadin seakan berhenti berputar. Udara di dalam ruang kerja yang luas itu seolah tersedot habis. Ponsel di tangannya nyaris terjatuh.
"Saya... saya segera ke sana," ucap Nadin dengan suara yang nyaris tidak terdengar. Dia memutuskan panggilan itu dengan tangan bergetar hebat.
Tanpa memedulikan tas atau jas kerjanya, Nadin berlari keluar dari ruang kerja CEO. Matanya memanas oleh air mata kepanikan. Dia tidak bisa kehilangan Arya. Adiknya adalah satu-satunya alasan mengapa dia masih bertahan hidup di neraka ini.
Nadin berlari menyusuri lorong marmer menuju ruang rapat utama. Dua orang petugas keamanan berbadan besar langsung menyilangkan tangan mereka di depan pintu ganda ruang rapat, menghalangi langkah Nadin.
"Maaf, Nona Kirana. Tuan Mahendra sedang mengadakan rapat tertutup dengan pihak luar. Tidak ada yang boleh masuk," ucap salah satu penjaga dengan tegas.
"Minggir!" teriak Nadin dengan suara bergetar. Keputusasaan memberinya tenaga yang tidak terduga. Nadin mendorong dada penjaga itu sekuat tenaga, mengabaikan rasa sakit di tangannya sendiri. "Adik saya sedang sekarat! Saya harus bertemu dengannya sekarang!"
Keributan di luar pintu itu rupanya terdengar ke dalam. Pintu ganda berbahan kayu tebal itu tiba-tiba ditarik dari dalam. Dimas muncul dengan wajah tegang. Di belakang Dimas, terlihat belasan pria asing berjas mahal sedang duduk mengelilingi meja rapat, dan di ujung meja, Gilang Mahendra berdiri dengan rahang mengeras.
"Ada apa ini?" suara Gilang menggelegar dingin, membelah kesunyian ruang rapat.
Nadin menerobos masuk melewati Dimas. Air mata sudah mengalir deras membasahi pipinya. Dia menatap langsung ke arah Gilang tanpa memedulikan tatapan terkejut dari para investor asing bernilai triliunan rupiah di ruangan tersebut.
"Arya kritis, Gilang," isak Nadin, suaranya pecah di tengah ruangan. "Infeksi darah. Saya harus ke rumah sakit. Tolong saya."
Mendengar hal itu, ekspresi wajah Gilang berubah dalam sepersekian detik. Pria yang biasanya selalu tenang dan penuh perhitungan itu mendadak memancarkan aura kegelapan yang sangat menakutkan. Gilang tidak memedulikan dokumen kontrak di tangannya. Dia melemparkan dokumen itu ke atas meja begitu saja.
"Rapat ini ditunda," perintah Gilang dengan nada mutlak kepada seluruh investor di ruangan itu. Pria itu menatap Dimas. "Siapkan mobil di lobi bawah. Hubungi pihak keamanan untuk mengosongkan jalan raya dari gedung ini menuju rumah sakit. Aku tidak mau ada lampu merah yang menghalangi perjalananku."
"Baik, Tuan Mahendra," Dimas langsung berlari sambil menempelkan alat komunikasi ke telinganya.
Gilang melangkah panjang menghampiri Nadin. Pria itu tidak peduli pada ratusan pasang mata yang menatap mereka. Gilang langsung meraih bahu Nadin dan menarik wanita itu ke dalam pelukannya. Tubuh Nadin bergetar hebat karena tangisan, dan Gilang memeluknya dengan sangat erat, menyembunyikan wajah Nadin di bidang dadanya.
"Kita pergi sekarang. Adikmu tidak akan mati. Aku tidak mengizinkannya mati," bisik Gilang tegas di puncak kepala Nadin.
Perjalanan menuju rumah sakit terasa seperti di dalam sebuah film aksi. Mobil Maybach hitam itu melaju dengan kecepatan penuh membelah jalanan Jakarta. Suara sirine dari dua mobil pengawal di depan dan di belakang mereka meraung nyaring, memaksa semua kendaraan untuk menyingkir.
Di dalam kabin mobil, Nadin meringkuk di sudut kursi sambil menggigit bibir bawahnya hingga berdarah, berusaha menahan suara isakannya. Gilang duduk di sebelahnya dengan rahang mengeras. Pria itu sedang menelepon seseorang, menggunakan bahasa Inggris dengan nada yang sangat mengancam.
"Aku tidak peduli prosedur apa pun yang harus kalian langgar. Temukan darah dengan rhesus yang cocok sekarang juga. Jika satu jam dari sekarang darah itu belum ada di ruang operasi, aku akan membeli rumah sakit kalian dan memecat kalian semua," ancam Gilang sebelum membanting ponselnya ke atas kursi.
Nadin menatap pria di sebelahnya dengan pandangan kabur oleh air mata. Pada saat seperti ini, kekejaman dan kekuasaan absolut Gilang terasa seperti anugerah yang paling indah. Bastian mungkin berkata bahwa Gilang adalah iblis, tetapi saat ini, iblis inilah satu-satunya makhluk yang berusaha melawan takdir kematian demi adiknya.
Setibanya di rumah sakit, Gilang setengah menyeret Nadin menuju lift khusus. Lantai sepuluh sudah dipenuhi oleh para staf medis yang berlarian. Di depan ruang VVIP, Dokter Adrian dan Profesor Lee sedang berdiskusi dengan wajah yang sangat tegang.
Begitu melihat Gilang dan Nadin datang, Profesor Lee langsung menghampiri.
"Tuan Mahendra, Nona Kirana," sapa Profesor Lee cepat. "Kondisi pasien sangat kritis. Infeksinya menyebar sangat cepat. Kami harus melakukan prosedur cuci darah darurat yang diiringi dengan penyuntikan antibiotik spektrum luas secara langsung ke pembuluh jantung. Risiko gagal jantungnya sangat tinggi."
Nadin merasa lututnya kehilangan tulang. Dia nyaris ambruk ke lantai jika tangan kokoh Gilang tidak segera menahan pinggangnya dengan kuat.
"Berapa persentase keberhasilannya?" tanya Gilang dingin. Mata hitamnya menatap lurus ke arah Profesor Lee.
"Empat puluh persen," jawab Profesor Lee dengan jujur.
Gilang melepaskan pelukannya dari Nadin perlahan. Pria itu melangkah maju hingga jaraknya sangat dekat dengan Profesor Lee. Tinggi badan Gilang yang menjulang membuat dokter senior itu terlihat kerdil.
"Dengarkan aku baik-baik, Profesor," desis Gilang, suaranya sangat rendah namun menggema di lorong yang sunyi itu. "Aku tidak membayar mahal timmu untuk mendengar angka empat puluh persen. Lakukan apa pun yang harus kalian lakukan. Gunakan mesin eksperimental yang baru saja aku donasikan bulan lalu. Jika anak itu tidak membuka matanya lagi besok pagi, aku pastikan lisensi medis seluruh timmu akan dicabut secara permanen."
Profesor Lee menelan ludah, wajahnya memucat, namun dia mengangguk tegas. "Kami akan melakukan yang terbaik, Tuan Mahendra."
Tim dokter segera bergegas masuk kembali ke dalam ruangan. Pintu kaca tebal ditutup rapat, lampu indikator merah di atas pintu menyala, menandakan prosedur darurat sedang berlangsung.
Nadin jatuh terduduk di kursi tunggu. Dia menyembunyikan wajahnya di telapak tangannya. Air matanya sudah kering, digantikan oleh rasa kebas dan dingin yang menjalar ke seluruh tubuhnya. Menunggu adalah siksaan paling kejam yang pernah diciptakan.
Dua jam berlalu seperti dua abad. Gilang tidak pergi ke mana-mana. Pria itu berdiri menyandar di dinding seberang, tidak pernah melepaskan pandangannya dari Nadin. Gilang telah membatalkan seluruh jadwal perusahaannya hari itu, sebuah tindakan irasional yang membuat ponsel Dimas tidak berhenti berdering sejak tadi.
Akhirnya, lampu merah di atas pintu padam. Profesor Lee keluar dari ruangan, melepaskan masker bedahnya. Wajah dokter tua itu dipenuhi keringat, namun ada kelegaan di matanya.
"Prosedurnya berhasil. Pasien sudah stabil," ucap Profesor Lee. "Tubuhnya merespons antibiotik dengan sangat baik. Masa kritisnya sudah lewat, meskipun kita harus memantaunya secara intensif selama dua puluh empat jam ke depan."
Mendengar kata-kata itu, pertahanan Nadin runtuh sepenuhnya. Seluruh beban yang menghimpit dadanya meledak keluar. Dia menangis sejadi-jadinya, menutupi mulutnya untuk meredam isakan yang sangat memilukan.
Gilang melangkah mendekati Nadin. Pria itu meraih kedua lengan Nadin dan menarik wanita itu untuk berdiri. Tanpa peduli pada keberadaan para staf medis dan pengawal, Gilang menarik Nadin ke dalam pelukan yang sangat posesif dan mendominasi. Pria itu memeluk Nadin seolah ingin menyembunyikan wanita itu dari kekejaman dunia.
"Sudah kubilang, dia tidak akan mati," bisik Gilang di telinga Nadin. Tangan besar Gilang mengusap punggung Nadin yang bergetar.
Nadin membalas pelukan Gilang dengan sangat erat. Dia mencengkeram jas mahal pria itu, melampiaskan seluruh rasa syukur, kelelahan emosional, dan keputusasaannya. Di dalam pelukan yang berbau parfum vetiver itu, Nadin menyadari bahwa dia telah terikat terlalu dalam. Keraguannya tentang masa lalu kini tertutupi oleh realita di depan matanya. Gilang adalah penjahat terkejam di dunianya, namun pria ini juga adalah pelindung terkuatnya.
Gilang menundukkan kepalanya, memaksa Nadin untuk mendongak. Tangan Gilang mengusap sisa air mata di pipi Nadin dengan kasar. Mata hitam Gilang menatap Nadin dengan gairah kelam yang tidak lagi disembunyikan. Adrenalin dari ketegangan tadi telah berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih gelap dan berbahaya.
"Aku menyelamatkan nyawa adikmu lagi hari ini, Nadin," bisik Gilang, suaranya terdengar sangat parau. Tatapan pria itu terasa membakar kulit Nadin. "Dan aku tidak menerima ucapan terima kasih dalam bentuk kata-kata."
Tanpa memberikan kesempatan Nadin untuk menjawab, Gilang menarik Nadin menyusuri lorong, membuka pintu sebuah kamar perawatan VIP kosong yang berada di ujung lorong, dan mendorong Nadin masuk ke dalamnya. Pria itu mengunci pintu dengan cepat.
Di dalam ruangan yang hanya diterangi cahaya matahari senja dari jendela itu, sisa-sisa kewarasan Nadin benar-benar dihapus. Gilang menyerang bibirnya dengan ciuman yang dipenuhi keputusasaan dan dominasi mutlak. Nadin tidak melawan. Rasa lelah akibat menangis membuat tubuhnya menurut pada setiap sentuhan kasar yang diberikan Gilang.
Pria itu menyudutkan Nadin ke dinding, tangannya menyusuri tubuh Nadin dengan urgensi yang sangat memabukkan. Hawa panas dari tubuh mereka berdua mengalahkan dinginnya udara pendingin ruangan.
"Tubuhmu, jiwamu, dan kesetiaanmu. Semuanya milikku, Nadin. Hanya milikku," geram Gilang di antara ciuman mereka yang memburu, mengklaim setiap inci keberadaan Nadin dengan intensitas yang membutakan.
Di dalam kamar rumah sakit yang sunyi itu, Nadin memejamkan matanya rapat-rapat, membiarkan tubuhnya melayang di atas batas antara rasa sakit, syukur, dan kenikmatan yang gelap. Dia tidak tahu apakah pria yang memeluknya ini adalah iblis atau malaikat, namun malam ini, Nadin hanya bisa menyerahkan dirinya sepenuhnya pada kehendak sang penguasa.