Pembalasan Item Surgawi
"Sampah tidak berguna." Itulah julukan bagi Tian Feng. Di saat murid lain bertaruh nyawa demi setetes energi kultivasi, Feng justru memilih tidur malas sebagai pelayan di Paviliun Pengobatan.
Namun, dunia tidak tahu bahwa Feng menyembunyikan rahasia besar: Ia adalah keturunan terakhir Aliran Tao Terlarang yang diburu seluruh dunia.
Dengan bantuan Perkamen Alkimia Arus Balik, Feng mengambil jalan pintas mematikan. Ia bisa menjadi kuat dalam semalam tanpa latihan! Tapi, surga tidak memberi cuma-cuma. Setiap kekuatan instan menciptakan Hutang Karma—sebuah "penagihan" nyawa yang datang dalam bentuk petir bencana dan musuh-musuh haus darah.
Demi menyembunyikan identitasnya, Feng rela difitnah sebagai "Kelinci Percobaan Medis" yang sekarat. Namun, saat segel giok di dadanya retak dan para Tetua mulai mengincarnya, si pemalas ini terpaksa bangun.
Satu pil untuk menghancurkan pedang jenius. Satu teknik untuk membungkam langit.
Mampukah Tian Feng melunasi hutang karmanya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Raden Saleh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 16: GEMA DARI KEGAGALAN
Mata raksasa di langit itu perlahan tertutup, namun rasa diawasi tidak sedikit pun menghilang dari tengkuk Tian Feng. Udara di Makam Dewa yang Berhutang mendadak menjadi lebih berat, seolah-olah setiap butir kabut ungu di sana mengandung berat ribuan ton penyesalan.
Feng terus melangkah. Setiap kali pedang hitam-emasnya menebas kerangka penjara, ia merasakan aliran energi yang dingin masuk ke dalam meridiannya. Namun, ada harga yang harus dibayar. Setiap kali energi itu masuk, sebuah bisikan lirih terdengar di telinganya—suara tangisan, tawa gila, dan permohonan ampun dari jiwa-jiwa yang pernah memegang pedang ini sebelumnya.
"Abaikan mereka, Feng. Itu hanya sisa-sisa gema dari mereka yang terlalu lemah untuk membayar hutang mereka sendiri," suara Yue Er terdengar dari kejauhan, meskipun sosoknya tidak terlihat.
Feng berhenti di depan dasar Menara Penagihan. Menara itu tidak memiliki pintu. Dindingnya terbuat dari tumpukan pedang, perisai, dan kitab-kitab yang telah membatu, membentuk struktur spiral yang menembus kabut ungu.
"Bagaimana cara masuk ke sini?" gumam Feng.
> "Peringatan Sistem: Otoritas Terdeteksi. Menara ini tidak dimasuki dengan kaki, melainkan dengan pengakuan."
>
Feng mengerutkan kening. "Pengakuan?"
Ia meletakkan telapak tangannya pada dinding pedang yang membatu itu. Seketika, permukaan menara bergetar. Pedang-pedang tua itu mulai bergeser, membuka sebuah celah sempit yang hanya cukup untuk satu orang. Dari dalam celah itu, mengalir keluar aroma kertas tua dan tinta yang sudah kering.
Feng melangkah masuk. Di dalam menara, tidak ada tangga. Hanya ada ruang luas yang dipenuhi oleh ribuan timbangan gantung yang melayang di udara. Sebagian besar timbangan itu miring ke satu sisi, menahan beban batu hitam yang berat, sementara sisi lainnya yang berisi cahaya putih tampak kosong dan terangkat tinggi.
"Ini adalah catatan kegagalan leluhurmu," sosok Yue Er muncul dari balik bayangan salah satu timbangan. Ia kini tidak lagi memegang apel, melainkan sebuah gulungan perkamen panjang yang menjuntai hingga ke lantai. "Keluarga Tian bukan hanya penganut Tao. Kalian adalah Bankir Surga. Tugas kalian adalah memastikan energi di dunia tetap seimbang. Tapi leluhurmu... mereka menjadi tamak. Mereka mulai menyimpan bunga energi untuk diri mereka sendiri."
Yue Er menunjuk ke lantai atas menara yang diselimuti kegelapan. "Di atas sana, ada enam bayangan leluhurmu. Mereka tidak bisa mati, tapi tidak bisa hidup. Mereka terjebak dalam hutang abadi mereka sendiri. Untuk mendapatkan kekuatan penuh, kau harus mengalahkan mereka satu per satu. Bukan dengan kekuatan fisik, tapi dengan membuktikan bahwa kau bisa memikul beban yang mereka jatuhkan."
Feng menatap timbangan-timbangan itu. "Jadi, aku harus menjadi penagih hutang bagi keluargaku sendiri?"
"Tepat. Dan lawan pertama mu sudah menunggumu."
Sesosok bayangan muncul dari tumpukan timbangan di tengah ruangan. Ia mengenakan jubah penganut Tao yang sangat mewah, namun wajahnya hancur setengah, memperlihatkan tengkorak yang berkilau emas. Di tangannya, ia memegang sebuah sempoa raksasa yang terbuat dari tulang dewa.
"Tian Hu, leluhur generasi keenam," bisik Yue Er. "Dia yang memulai sistem 'Hutang Karma' yang kau gunakan di sekte. Dia mencoba memanipulasi waktu dengan meminjam energi dari masa depan, namun ia tidak pernah sanggup membayarnya kembali."
Tian Hu mengangkat sempoanya. Suara lentingan biji sempoa yang saling berbenturan menciptakan gelombang suara yang membuat meridian Feng bergetar hebat.
"Generasi ketujuh..." suara Tian Hu parau dan bergema. "Kau datang untuk melunasi, atau untuk menambah beban?"
"Aku datang untuk menutup buku," jawab Feng tenang. Ia mengangkat Pedang Hutang Darah.
Tring!
Tian Hu menggerakkan jarinya pada sempoa. Seketika, Feng merasa tubuhnya menjadi sangat berat. Ia melihat ke bawah dan terkejut melihat rantai-rantai cahaya hitam mulai melilit pergelangan kakinya.
> "Analisis Sistem: Teknik Penunda Waktu. Target sedang menarik hutang waktu dari masa depan Anda. Setiap detik yang Anda habiskan, usia biologis Anda berkurang satu bulan."
>
"Sialan!" kutuk Feng. Ia merasakan rambutnya mulai memutih di bagian ujung. "Leluhur macam apa yang mencuri umur cucunya sendiri?"
Feng mencoba menebas rantai itu, namun pedangnya hanya melewati cahaya hitam tersebut tanpa memberikan efek. Ia menyadari bahwa serangan fisik tidak berguna di sini. Ini adalah pertarungan konsep hukum alam.
"Jangan lawan rantainya, Feng!" teriak Yue Er dari pinggir. "Terima hutangnya! Tunjukkan padanya bahwa kau memiliki 'modal' yang lebih besar!"
Feng memejamkan mata. Ia berhenti meronta. Ia membiarkan rantai hitam itu melilit seluruh tubuhnya. Ia membuka Dantiannya lebar-lebar, melepaskan energi es abadi dan api matahari yang telah ia selaraskan.
"Kau ingin waktu?" bisik Feng. "Ambil saja. Tapi kau harus sanggup menahan panasnya matahari dan dinginnya es abadi yang ada di dalamnya."
Feng melakukan Seni Transmutasi Sunyi secara terbalik. Alih-alih menyerap, ia memuntahkan seluruh energi yang ia dapatkan dari Han Shuo dan Tetua Agung langsung ke dalam rantai hutang tersebut.
Tian Hu tertawa sinis, namun tawanya segera berubah menjadi teriakan kesakitan. Rantai cahaya hitam itu mulai membara dan membeku secara bersamaan. Sempoa di tangannya mulai retak. Energi yang diberikan Feng terlalu murni dan terlalu liar untuk sistem hutang Tian Hu yang sudah rapuh.
"Hutang ini... terlalu panas!" teriak Tian Hu.
Prak!
Sempoa tulang itu pecah berkeping-keping. Rantai yang melilit Feng hancur menjadi debu cahaya. Tian Hu jatuh berlutut, bayangannya perlahan memudar menjadi partikel emas yang lembut.
"Kau... kau tidak meminjam," gumam Tian Hu sebelum menghilang sepenuhnya. "Kau adalah pemilik modalnya..."
Partikel emas dari Tian Hu masuk ke dalam Liontin Giok Feng. Seketika, informasi baru membanjiri pikiran Feng. Ia mendapatkan akses ke lantai kedua menara, dan yang lebih penting, ia mendapatkan teknik baru: "Jari Penagih Takdir".
Feng terengah-engah. Rambutnya kembali menghitam, namun rasa lelahnya luar biasa. Ia melihat ke arah Yue Er. "Satu turun. Lima lagi?"
"Jangan sombong dulu," Yue Er mendekat, mengusap keringat di dahi Feng dengan lengan bajunya. "Tian Hu adalah yang terlemah. Dia hanya bermain dengan waktu. Leluhur di lantai atas... mereka bermain dengan ruang, jiwa, dan bahkan penciptaan. Dan ingat, kau hanya punya enam hari tersisa."
Sementara itu, jauh di dimensi Puncak Awan Putih, Guru Lin sedang berdiri di depan kawah tempat Feng menghilang. Ia tidak sendirian. Lin Xuelan berdiri di sampingnya, menatap langit yang telah disegel oleh cahaya Feng.
"Dia masih hidup," bisik Xuelan. "Aku bisa merasakannya melalui ikatan darah pelayan keluargaku. Tapi auranya berubah. Ia tidak lagi terasa seperti manusia."
"Itu yang aku takutkan," jawab Guru Lin pelan. "Jika dia kembali sebagai penganut Tao sejati, Istana Karma tidak akan mengirim utusan lagi. Mereka akan mengirimkan tentara pemusnah. Dan sekte ini... tidak akan sanggup menahan napas mereka."
Tiba-tiba, tanah di bawah kaki mereka bergetar. Retakan-retakan kecil mulai muncul di segel cahaya yang ditinggalkan Feng. Dari balik segel, terdengar suara ribuan drum perang yang ditabuh.
Hakim Kiamat kedua tidak menunggu tujuh hari. Ia sedang mencoba mendobrak paksa dari luar.
Kembali ke Menara Penagihan, Feng baru saja hendak melangkah ke tangga menuju lantai dua ketika sebuah suara dentuman keras terdengar dari langit ungu di luar menara.
Pilar cahaya hijau yang melindungi menara bergetar hebat.
"Mereka menemukanku secepat ini?" tanya Feng, menoleh ke arah Yue Er.
Yue Er menatap ke langit dengan wajah pucat. "Bukan mereka. Itu adalah Mata Pengintai Surga. Hakim Kiamat telah menemukan pintu masuk ke dimensi ini. Feng, kau tidak punya waktu enam hari lagi. Kau harus mencapai puncak menara... malam ini juga."
Feng menatap pedangnya yang kini berlumuran cahaya emas sisa energi Tian Hu. Ia merasakan jantungnya berdegup kencang, bukan karena takut, tapi karena sensasi kekuatan yang terus tumbuh di dalam dirinya.
"Baiklah," Feng menyeringai tipis, aura malasnya kini benar-benar terkubur di bawah tekad yang membara. "Ayo kita lihat berapa banyak hutang yang bisa kulunasi dalam satu malam."
Ia berlari menuju lantai dua, sementara di belakangnya, bayangan leluhur generasi kelima mulai terbentuk dari tumpukan kitab yang melayang. Kali ini, auranya jauh lebih tajam, seperti ribuan pedang yang dihunus secara bersamaan.
Feng terpaksa mempercepat pendakiannya karena Hakim Kiamat mulai mendobrak dimensi Makam. Di lantai kedua, ia harus berhadapan dengan leluhur yang merupakan seorang ahli pedang tanpa tanding. Mampukah Feng mengalahkan lima leluhur sisanya sebelum fajar tiba, atau ia akan menjadi salah satu timbangan yang gagal di menara tersebut?