Demi menyelamatkan perusahaan ayahnya, Alina menerima pernikahan kontrak dengan pewaris konglomerat yang dingin dan kejam. Di mata semua orang, ia hanyalah wanita murahan yang menikah demi uang.
Tak ada yang tahu, Alina sebenarnya pewaris keluarga finansial terbesar yang sengaja menyembunyikan identitasnya.
Saat kontrak hampir berakhir dan rahasianya terbongkar, sang suami justru jatuh cinta. Kini, ketika kebenaran terungkap siapa yang sebenarnya sedang mempermainkan siapa?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Laskar Bintang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aliansi atau Kehancuran
Langit Jakarta pagi itu cerah, tapi suasana di kantor pusat Ardhana Capital terasa seperti menjelang badai.
Sejak kemunculan Aurora Holdings, pergerakan saham Ardhana menjadi lebih sensitif. Setiap rumor kecil memicu fluktuasi. Setiap pernyataan publik ditafsirkan sebagai sinyal perang.
Alina berdiri di depan layar besar ruang rapat, menatap grafik pergerakan saham yang naik turun tajam dalam dua hari terakhir.
“Mereka mengakumulasi perlahan,” kata kepala divisi keuangan. “Tidak cukup besar untuk memicu alarm regulator, tapi konsisten.”
Arsen duduk di kursi sampingnya, tangan terlipat.
“Strategi klasik,” gumamnya. “Masuk diam-diam, lalu tekan saat waktunya tepat.”
Alina mengangguk pelan.
“Kita tidak bisa menunggu sampai mereka punya cukup saham untuk mempengaruhi keputusan.”
“Setuju,” jawab Arsen. “Kita butuh aliansi sebelum mereka memperluas pengaruh.”
Semua mata beralih pada Alina.
Ia menarik napas dalam.
“Aku punya satu nama,” katanya perlahan.
Beberapa orang di ruangan itu langsung mengerti.
Nama itu bukan sembarangan.
Grup investasi keluarga Hartono mitra lama Ardhana di masa kakeknya masih hidup. Hubungan itu renggang setelah konflik internal keluarga mencuat.
“Apakah mereka masih mau bekerja sama?” tanya salah satu direktur ragu.
Alina terdiam sesaat.
“Dulu mereka percaya pada kakekku,” katanya pelan. “Sekarang mereka harus percaya padaku.”
Pertemuan dengan pihak Hartono dilakukan tertutup di sebuah gedung perkantoran tua yang jauh dari sorotan media.
Alina datang bersama Arsen.
Di ruang pertemuan yang sederhana, seorang pria berusia enam puluhan menunggu mereka. Tatapannya tajam, tapi tidak bermusuhan.
“Akhirnya cucu Ardhana datang sendiri,” katanya tenang.
Alina tersenyum sopan.
“Saya datang bukan sebagai cucu,” jawabnya. “Tapi sebagai CEO yang ingin membangun kembali kepercayaan.”
Percakapan berlangsung panjang.
Alina tidak menyembunyikan apa pun tentang audit, tentang Aurora, tentang tekanan proyek yang dihentikan.
“Kau tahu risiko yang kau hadapi?” tanya pria itu akhirnya.
“Tahu,” jawab Alina mantap.
“Dan kau tetap ingin membuka semuanya?”
“Ya.”
Pria itu memandangnya lama, seolah mencari bayangan kakeknya di wajah gadis itu.
“Ayahmu dulu terlalu lembut,” katanya pelan. “Kau berbeda.”
Alina tidak tahu apakah itu pujian atau peringatan.
“Kami bersedia masuk sebagai investor strategis,” lanjut pria itu akhirnya. “Tapi bukan untuk menjadi tameng.”
Alina mengangguk.
“Saya tidak mencari tameng. Saya mencari mitra.”
Arsen meliriknya sekilas.
Nada suaranya bukan lagi nada seorang gadis yang meminta bantuan.
Itu suara pemimpin.
Berita masuknya Hartono Group sebagai investor strategis diumumkan tiga hari kemudian.
Pasar merespons positif.
Saham Ardhana stabil.
Aurora Holdings tidak lagi leluasa bergerak tanpa perhitungan.
Namun ketenangan itu hanya sementara.
Sore itu, Arsen menerima kabar bahwa proyek properti yang sebelumnya ditangguhkan kini menghadapi gugatan hukum dari organisasi lingkungan yang baru muncul.
“Terlalu cepat,” gumam Arsen. “Mereka bergerak simultan.”
Alina menatap dokumen gugatan.
Organisasi itu tidak pernah terdengar sebelumnya.
Alamatnya mencurigakan.
“Kita selidiki pendanaannya,” katanya tegas.
Malam itu, di rumah, suasana terasa berat.
Alina duduk di ruang kerja kecilnya, membaca laporan demi laporan.
Arsen masuk dengan dua cangkir teh hangat.
“Kau belum berhenti?” tanyanya lembut.
“Belum bisa.”
Ia meletakkan cangkir di meja dan berdiri di belakangnya.
“Kau tahu,” katanya pelan, “aku bangga padamu.”
Alina tersenyum samar tanpa menoleh.
“Karena aku keras kepala?”
“Karena kau tidak memilih jalan mudah.”
Keheningan nyaman tercipta sesaat.
Namun Alina akhirnya berbicara.
“Aku takut.”
Arsen terdiam.
“Bukan takut kalah,” lanjutnya. “Tapi takut jika semua ini menyeretmu terlalu jauh.”
Arsen tersenyum tipis.
“Kau pikir aku berdiri di sampingmu tanpa tahu risikonya?”
Alina menoleh, menatapnya.
“Aurora tidak hanya menyerang Ardhana,” katanya pelan. “Jika mereka kalah di sini, mereka bisa mengalihkan tekanan ke Wijaya.”
Arsen mengangkat bahu ringan.
“Kalau itu terjadi, kita hadapi juga.”
“Kita?” ulang Alina.
Arsen membungkuk sedikit hingga wajah mereka sejajar.
“Kita.”
Satu kata itu membuat dadanya terasa hangat.
Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia tidak merasa sedang melindungi seseorang sendirian.
Keesokan harinya, kabar mengejutkan datang.
Aurora Holdings mengajukan permintaan resmi untuk duduk dalam rapat pemegang saham sebagai pengamat.
Langkah itu legal.
Tapi jelas sebuah sinyal.
“Mereka ingin menunjukkan kehadiran,” kata kepala divisi hukum.
Alina berdiri di depan jendela ruang rapat, memikirkan langkah berikutnya.
“Biarkan mereka masuk,” katanya akhirnya.
Semua orang menoleh kaget.
“Biarkan?” tanya salah satu direktur.
“Ya,” ulang Alina tenang. “Jika mereka ingin menonton, biarkan mereka melihat langsung bahwa kita tidak goyah.”
Arsen menatapnya dengan sorot mata penuh apresiasi.
Itu bukan keputusan emosional.
Itu langkah strategis.
Rapat pemegang saham berlangsung tegang.
Perwakilan Aurora duduk di baris belakang, diam tapi mencatat setiap detail.
Alina memimpin rapat dengan suara stabil.
Ia memaparkan hasil audit lanjutan, langkah perbaikan tata kelola, serta rencana ekspansi baru yang melibatkan Hartono Group.
Tidak ada nada defensif.
Tidak ada tanda ketakutan.
Di akhir rapat, perwakilan Aurora berdiri.
“Kami berharap langkah transparansi ini benar-benar dijalankan konsisten,” katanya dingin.
Alina tersenyum tipis.
“Kami berharap investor yang masuk juga memiliki niat yang sama.”
Tatapan mereka bertemu beberapa detik.
Tidak ada kata tambahan.
Tapi pesan tersampaikan.
Malam itu, setelah semua selesai, Alina berdiri di balkon rumahnya.
Kota berkilau di bawah langit gelap.
Arsen datang dan berdiri di sampingnya.
“Kita belum menang,” katanya pelan.
“Aku tahu.”
“Tapi kita juga belum kalah.”
Alina tersenyum kecil.
“Aku tidak pernah membayangkan pernikahan kontrak ini berubah menjadi medan perang seperti ini.”
Arsen tertawa pelan.
“Aku juga tidak pernah membayangkan akan jatuh cinta di tengah perang.”
Alina menoleh cepat.
“Arsen—”
Ia mengangkat tangan, menghentikannya.
“Aku tidak butuh jawaban sekarang,” katanya lembut. “Aku hanya ingin kau tahu.”
Angin malam menyentuh wajah mereka.
Aliansi telah terbentuk.
Musuh mulai terlihat jelas.
Permainan semakin terbuka.
Namun satu hal menjadi semakin pasti
Jika ini adalah perang finansial, maka mereka tidak lagi bertahan.
Mereka mulai menyerang balik.
Dan bab berikutnya mungkin akan menentukan…
Apakah aliansi yang mereka bangun cukup kuat untuk mencegah kehancuran.
(BERSAMBUNG)