NovelToon NovelToon
Sajadah Untuk Sang Kupu-kupu

Sajadah Untuk Sang Kupu-kupu

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Romansa
Popularitas:8.6k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

​Sebuah jam tangan tua milik sang ibu menghilang, membawa Ustadz Adnan pada sebuah nazar yang menguji keimanannya di mata manusia. Ia berjanji: jika pria yang menemukannya, akan ia beri sawah; jika wanita, akan ia jadikan istri.
​Namun, semesta seolah sedang menguji nuraninya saat jam tersebut kembali melalui tangan Kinan—seorang wanita penghibur yang merasa dirinya telah ternoda oleh pekatnya dunia malam.
​"Saya ini bukan bidadari surga, Ustadz. Mana mungkin saya bisa bersanding dengan Anda?"
​Bagi Adnan, Kinan bukanlah sebuah kesalahan, melainkan pintu dakwah yang paling nyata. Namun, keputusan Adnan melamar Kinan memicu badai penolakan. Keluarga, santri, hingga masyarakat mengecam sang Ustadz karena dianggap mencoreng martabat gelarnya demi seorang "pendosa."
​Di antara cibiran dunia dan upaya Kinan untuk lari dari masa lalunya, Adnan tetap teguh pada prinsipnya: "Saya mencari teman menuju surga, bukan seseorang yang merasa sudah memilikinya."


Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4

Suasana di luar aula kian memanas. Fauziah, yang hatinya terbakar api cemburu dan merasa kesucian pesantren sedang dinodai, tidak bisa lagi menahan diri.

Ia memprovokasi beberapa santriwati dan pengurus asrama yang berpikiran sempit.

"Lihat! Dia masih berani duduk di sana, di tempat suci kita!" seru Fauziah sambil menunjuk ke arah Kinan yang tampak rapuh di halaman pondok.

"Kalau dia tidak pergi, keberkahan pondok ini akan hilang! Usir dia! Usir pendosa itu!"

Emosi santri yang tersulut mulai tak terkendali. Seseorang memungut batu kerikil dari halaman, lalu melemparkannya.

Plak!

Batu itu mengenai bahu Kinan. Ia tersentak, namun hanya bisa meringkuk, menyembunyikan wajahnya yang basah oleh air mata.

Ia merasa serangan ini adalah hukuman yang memang pantas ia terima.

"Pergi kamu, pelacur!" teriak suara lain.

"Jangan kotori lantai asrama kami!"

Batu-batu berikutnya menyusul. Salah satu lemparan yang cukup tajam mengenai kening Kinan, membuat darah segar mengucur, membasahi wajahnya yang pucat.

Kinan hanya bisa terisak, pasrah jika maut menjemputnya di tempat yang ia kira akan menjadi pelabuhannya.

"HENTIKAN!!!"

Sebuah teriakan menggelegar membelah kegaduhan.

Adnan berlari keluar dari aula dengan wajah yang memerah karena amarah yang jarang terlihat.

Ia segera memeluk bahu wanita itu, membiarkan punggungnya sendiri yang terkena sisa-sisa lemparan kerikil.

"Astaghfirullah! Apa yang kalian lakukan?!" suara Adnan bergetar, penuh kekecewaan.

Ia menatap satu per satu wajah para santrinya, terutama Fauziah yang terpaku dengan batu masih di tangan.

"Inikah hasil mengaji kalian bertahun-tahun? Menghakimi sesama manusia seolah kalian sudah memegang kunci surga?"

Adnan mengeluarkan sapu tangan putih dari sakunya, lalu dengan sangat lembut ia menyeka darah yang mengalir di kening Kinan.

Kinan hanya bisa menunduk, badannya bergetar hebat karena trauma.

"Dia datang ke sini untuk mencari Allah, dan kalian menyambutnya dengan lemparan batu?"

Adnan menatap tajam ke arah Fauziah. "Jika ada satu lagi batu yang melayang, maka lemparkan lah ke saya! Karena saya yang membawanya ke sini!"

Kyai Mansyur, yang sejak tadi berdiri di ambang pintu aula, menyaksikan semua itu dengan mata berkaca-kaca.

Ia melihat keteguhan putranya, dan ia melihat ketulusan di mata Kinan yang penuh luka.

Hati sang Kyai yang keras perlahan luluh. Ia menyadari bahwa membuang Kinan saat ini sama saja dengan membunuh harapan seseorang untuk bertaubat.

Kyai Mansyur menghela napas panjang, sebuah helaan napas yang sarat dengan beban dan kepasrahan pada takdir.

"Sudah, cukup semuanya," ucap Kyai Mansyur dengan suara berat.

Suasana seketika langsung hening di pondok pesantren.

"Masuklah ke asrama masing-masing. Jangan ada lagi yang bertindak melampaui batas."

Kyai Mansyur menatap Adnan, lalu beralih ke Kinan.

"Adnan, bawa dia masuk untuk dibersihkan lukanya. Malam ini juga, di hadapan saksi yang ada, aku sendiri yang akan menikahkan kalian secara siri."

Fauziah terjatuh lemas di aspal, batu di tangannya terlepas.

Harapannya hancur seketika ketika mendengar perkataan dari Kyai Mansyur.

Sementara itu, di tengah perih luka di keningnya, Kinan merasakan sebuah keajaiban yang tak pernah ia bayangkan: pintu surga yang ia kira sudah tertutup rapat, kini perlahan mulai terbuka melalui tangan seorang lelaki yang ia anggap terlalu suci untuknya.

Kinan memegang lengan baju Adnan dengan jemari yang gemetar hebat.

Darah hangat masih merembes dari luka di keningnya, bercampur dengan air mata yang membuat pandangannya kabur.

Di hadapannya, ratusan pasang mata santri menatapnya dengan kebencian yang nyata, dan di belakangnya, berdiri seorang Kyai besar yang baru saja memberikan restu dengan berat hati.

"Antarkan aku pulang, Ustadz. Tolong, antarkan aku pulang sekarang," bisik Kinan.

"Aku tidak pantas di sini. Tempat ini terlalu suci untuk kaki yang penuh lumpur sepertiku."

Kinan memandang sekeliling tembok pesantren yang putih, aroma tasbih, dan lantunan ayat suci yang sayup-sayup terdengar dari asrama.

Baginya, semua itu terasa seperti hakim yang siap menghukumnya setiap detik.

"Darah di keningku ini adalah peringatan, Ustadz. Jika dunia Anda dan dunia saya tidak akan pernah bisa menyatu. Jika Anda memaksaku tinggal, Anda hanya akan menghancurkan diri Anda sendiri. Biarkan aku kembali ke kegelapanku, Ustadz. Setidaknya di sana, aku tidak perlu merasa sekecil ini."

Adnan menunduk, menatap wanita yang sedang hancur di hadapannya.

Ia tidak melepaskan rangkulannya, justru mempereratnya seolah ingin membagi kekuatan.

"Kinan," suara Adnan terdengar begitu tenang, kontras dengan keributan di hati Kinan.

"Dunia yang kamu sebut 'pulang' itu bukan rumahmu lagi. Tempat itu adalah penjara yang selama ini membelenggu jiwamu."

Adnan menoleh ke arah Kyai Mansyur yang masih berdiri terpaku, lalu kembali menatap Kinan.

"Jika kamu pergi sekarang, kamu bukan hanya meninggalkan aku, tapi kamu membuang tangan Allah yang sedang menarikmu keluar dari jurang itu. Kamu bilang kamu tidak pantas? Tidak ada satu pun manusia di dunia ini yang benar-benar pantas berdiri di hadapan Allah kecuali karena rahmat-Nya."

Adnan mengusap tetesan darah di pipi Kinan dengan ujung ibu jarinya.

"Malam ini, rumahmu bukan lagi di klub itu. Rumahmu adalah di sini, di sampingku. Luka ini akan sembuh, tapi jika kamu kembali ke sana, jiwamu yang akan mati selamanya. Mari, kita selesaikan apa yang sudah kita mulai."

Kinan menatap mata Adnan, mencari secercah kebohongan atau keraguan, namun yang ia temukan hanyalah ketulusan yang tak bertepi.

Di kejauhan, Fauziah hanya bisa menyaksikan dengan hati yang remuk saat Adnan membimbing Kinan masuk kembali ke dalam aula untuk memulai prosesi ijab Kabul.

Suasana dini hari di Pondok Pesantren Al-Hidayah terasa begitu dingin dan mencekam.

Jarum jam menunjukkan pukul empat pagi, waktu di mana biasanya para santri terbangun untuk tahajud, namun kali ini, ada sebuah takdir besar yang sedang dipertaruhkan di ruang tamu kediaman Kyai Mansyur.

Adnan memanggil seorang abdi dalem sepuh untuk membantu Kinan.

"Tolong temani Mbak Kinan ke kamar. Siapkan pakaian yang layak untuknya, bersihkan lukanya, dan pastikan dia merasa nyaman. Saya tunggu di ruang tamu," ucap Adnan lembut.

Kinan hanya bisa mengangguk lemah, kepalanya masih terasa berdenyut akibat lemparan batu tadi.

Ia mengikuti langkah pelayan itu dengan bahu yang merosot, seolah memikul beban seluruh dunia.

Sementara itu Adnan segera menuju kamarnya untuk mengganti baju kokonya yang terkena noda darah dengan jubah putih bersih dan sorban yang tertata rapi.

Di cermin, ia menatap dirinya sendiri—seorang Ustadz muda yang sebentar lagi akan mempertaruhkan seluruh reputasinya demi sebuah janji pada Sang Pencipta.

Tidak ada keraguan, hanya ada ketenangan yang bersumber dari keyakinan.

Saat ia melangkah ke ruang tamu, suasana sudah tertata sederhana. Kyai Mansyur duduk dengan wajah kaku, di sampingnya ada seorang penghulu dari desa sebelah yang datang dengan tergesa-gesa, serta dua orang pengurus pondok senior sebagai saksi.

Udara pengap oleh aroma kopi dan ketegangan yang tak terucapkan.

Tak berselang lama, pintu kayu berderit pelan.

Kinan muncul mengenakan gamis putih sederhana milik salah satu keluarga santri dan kerudung lebar yang menutupi luka di keningnya.

Wajahnya yang tanpa riasan kini tampak pucat namun jauh lebih bersih, seolah-olah lapisan debu dunia malam telah luntur tersiram air wudhu.

Ia berjalan menunduk, tak berani menatap siapa pun, lalu duduk di sudut ruangan, agak jauh dari meja akad.

Adnan bangkit dari duduknya. Ia melangkah mendekat, memberikan ruang yang tenang bagi wanita itu.

"Sebelum kita mulai, saya perlu mencatat data untuk akad ini. Siapa nama lengkap Anda, dan siapa nama ayah kandung Anda?"

Kinan mendongak sedikit, matanya masih sembab.

"Kinan Kinara Putri, Ustadz. Ayah saya bernama Prayoga, tapi beliau sudah lama meninggal dunia."

Adnan mencatatnya dengan tenang. "Baik. Dan satu hal lagi yang sangat penting..." Adnan menjeda, menatap manik mata Kinan yang menyimpan sejuta luka.

"Sesuai syariat, saya harus menanyakan ini langsung padamu. Sebagai mahar atau mas kawin, apa yang kamu inginkan dariku?"

Kinan sedikit terkejut ketika mendengar perkataan dari Adnan.

Di dunianya yang lama, ia selalu dihargai dengan rupiah yang kasar, sebuah transaksi yang merendahkan martabat. Namun di sini, ia ditanya tentang haknya sebagai seorang wanita terhormat.

"Saya tidak butuh harta, Ustadz. Cukup bimbing saya agar tidak kembali ke tempat itu lagi. Itu sudah lebih dari cukup."

Adnan tersenyum tipis, sebuah senyum yang menenangkan.

"Bimbingan adalah kewajiban saya sebagai suami kelak. Tapi mahar adalah tanda cinta dan penghormatan. Izinkan saya memberikan sesuatu yang layak untukmu."

1
falea sezi
kapok laki. kok gampang bgt esmosi
falea sezi
cerai aja beres athar ini ttep blooonn
Rosmazita Imah
macam tu la. kena bertegas
Dar Pin
haduh kenapa Adnan terus yg salah sebagai seorang istri meskipun atas nama keselamatan dan mendesak harusnya tetap membangunkan suaminya beda KL suaminya nggak dirumah sebenernya ini mau dibuat pisah apa gimana ya Thor maaf bukanya membela Adnan dan seharusnya pamannya menghubungi Adnan dulu bukan Kinan bagaimanapun itu tengah malam aku rasa bukan hanya Adnan yg marah semua suami jg akan emosi 😄
Dar Pin
semoga cepat hamil biar nggak kesepian ya Thor 👍
Dar Pin
kadang kita hanya mengingat kesalahan seseorang tapi lupa kebaikannya ayo Kinan lapangkan hatimu kasihan Adnan dia jg banyak berkorban buat kamu diusir dr pondok dilempari batu semua demi kamu jg rela meninggalkan pondo jg keluarga bahkan ayahnya semua demi kamu 💪
Dar Pin
bagus kak ceritanya setiap masalah harus diselesaikan dengan kepala dingin komunikasi dan bicara dr hati kehati lebih baik dari kata perceraian 👍
Mrs. Ketawang
Adakalanya seorg yg pintar memberi tausiah atopun nasehat kpd org lain tp lupa akan hidupnya yg trkadang tdk sesuai dg lisannya🙏🏻
ustadz jg manusia bysa😁
Rosmazita Imah
kenapa up 2 kali benda part yang sama
my name is pho: maaf kak ada kesalahan tekhis.
🙏🙏
yang bab 31 ketinggalan 🤭🙏
total 1 replies
Astrid Kucrit
lah, di ulang kak?
my name is pho: maaf kak ada kesalahan tekhis.
bab 31 ketinggalan
total 1 replies
falea sezi
Kinan jangan2 masih perawan
Dar Pin
begitu dong Adnan turunkan ego masing masing untuk menyelesaikan masalah yg terpenting komunikasi 💪
Mrs. Ketawang
gongnya ... nanti saat MP trnyata Kinan masih mnjaga satu"nya kesuciannya mski Kinan bkerja d club mlm...
Syok berat tuh pak ustadz Adnan😅
Dar Pin
jangan kasih cobaan yg lebih LG dong Thor Adnan udah berusaha menyembuhkan luka istrinya tidak ada manusia yg sempurna beri kesempatan yg kedua buat adnan
tiara
Athar membuat Kinan berusaha menerima Adnan kembali,semoga tidak ada lagi yang mengganggu kehidupan mereka
gaby
Maaf sekedar masukan, ga di terima jg gapapa. Masa sih Adnan ga dapet hukuman apa2?? Kesalahannya fatal loh, menuduh istri berbuat zina & mengabaikan istri demi wanita lain. Kalo di telaah bukankah Adnan yg berbuat Zina dgn Fauziah. Zina itu ga mesti berhubungan intim, lewat mata & sentuhan aja bisa di bilang zina. Bukankah Adnan merangkul Faiziah wkt tersiram kuah panas, bukankah Adnan menerima ajakan Wanita lain lalu meninggalkan istri. Ko enak bgt jadi Adnan, setelah kesalahan fatal yg membuat istrinya luka secara fisik & mental tp di lupakan aja kesalahannya yg di sengaja. Jujur aq jd kehilangan minat bacanya kalo Adnan ga di hukum. Ga mesti cerai, seenggaknya menjauhlah dr adnan sementara. Biar sama2 introspeksi diri. Rendah bgt harga diri wanita, di fitnah & di lukai secara fisik tp cm bisa diem aja.
my name is pho: sabar kak nanti ada hukumannya
total 1 replies
Rosmazita Imah
adnan jangan sia2kan lagi peluang yang di berikan
Rosmazita Imah
semoga athar akan menjadi penghubung hubungan kinan dan adnan ke arah yg lebih baik.
gaby
Yah, kirain ibunya Athar doang yg meninggal, ternyata ayahnya jg. Coba kalo ayahnya duda, siapa tau cocok sm Kinan😄😄
my name is pho: 🤭 hehe
total 1 replies
Rosmazita Imah
so sad for both of u
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!