NovelToon NovelToon
TERPAKSA MENIKAHI CEO DINGIN

TERPAKSA MENIKAHI CEO DINGIN

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Percintaan Konglomerat / Cinta setelah menikah / Nikah Kontrak / Nikahmuda
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author:

Demi melunasi hutang ayahnya, Aluna Maheswari terpaksa menandatangani kontrak pernikahan dengan Arkan Wijaya — CEO muda yang terkenal dingin, kejam, dan tak tersentuh wanita mana pun. Pernikahan itu hanya sandiwara selama satu tahun. Tanpa cinta. Tanpa sentuhan. Tanpa perasaan. Namun siapa sangka, di balik sikap dinginnya, Arkan menyimpan luka masa lalu yang kelam. Dan Aluna… adalah satu-satunya wanita yang perlahan mencairkan hatinya. Masalahnya, mantan tunangan Arkan kembali. Dan rahasia besar tentang kematian ibu Arkan mulai terungkap. Kontrak mereka mungkin hanya satu tahun. Tapi perasaan? Tidak ada tanggal kedaluwarsa.

Kunci yang Diperebutkan

Suara tembakan kedua terdengar lebih dekat.

Kaca jendela di ruang arsip benar-benar pecah kali ini. Pecahannya berhamburan ke lantai, memantulkan cahaya lampu darurat yang berkedip-kedip.

Arkan langsung menarik Aluna lebih rendah.

“Semua tiarap!” teriaknya.

Surya meraih kursi dan menjatuhkannya sebagai perlindungan darurat. Kevin merangkak ke arah pintu samping yang tadi mereka lewati.

Raisa berdiri satu detik lebih lama dari yang lain—bukan karena panik, tapi karena menghitung.

“Mereka bukan polisi,” katanya cepat. “Polisi tidak bergerak seperti itu.”

“Lalu siapa?” Surya membentak.

“Tim pembersih.”

Darah Aluna terasa membeku.

“Pembersih apa?”

“Orang-orang yang memastikan masalah benar-benar hilang.”

Arkan menatapnya tajam. “Kau tahu ini akan terjadi?”

Raisa tidak mengelak. “Aku tahu ada kemungkinan.”

“Dan kau tetap membawa kami ke sini?” Kevin mendesis.

“Aku tidak membawa kalian. Kalian yang memancing.”

Suara langkah kaki terdengar di lorong luar. Berat. Teratur. Lebih dari dua orang.

Arkan segera mengambil keputusan.

“Kita tidak bisa terjebak di ruangan ini. Ada pintu arsip belakang?”

Kevin mengangguk cepat. “Ada, tapi terkunci manual.”

“Buka.”

Kevin merangkak ke arah rak dokumen, memutar panel kecil di dinding yang tadi sudah ia cek sebelumnya. Tangan gemetarnya nyaris membuatnya salah memasukkan kode.

Aluna masih menggenggam liontin di tangannya.

Kunci.

Bukan hanya data.

Tapi alasan semua ini terjadi.

Tembakan lain meletus, kali ini menghantam pintu utama ruang arsip.

Kayu retak.

Surya mengumpat.

“Mereka serius!”

“Fokus!” Arkan membentak.

Panel akhirnya berbunyi klik.

“Terbuka!” seru Kevin.

Arkan menarik Aluna berdiri. “Kita keluar satu-satu. Raisa dulu.”

Raisa tidak protes. Ia membuka pintu sempit itu, memperlihatkan lorong servis gelap yang jarang digunakan.

“Turun tangga, belok kiri, ada pintu darurat ke parkiran belakang,” katanya cepat.

“Dan kau tahu ini dari mana?” Surya bertanya curiga.

“Aku melakukan riset sebelum datang.”

Pintu utama ruang arsip mulai digedor keras.

Arkan mendorong Aluna masuk ke lorong.

“Jangan lepaskan liontin itu,” bisiknya.

Mereka bergerak cepat menuruni tangga besi yang berderit. Suara gedoran dan tembakan terdengar semakin dekat di atas.

Aluna berusaha mengatur napasnya.

Ini bukan lagi perang psikologis.

Ini nyata.

Dan seseorang benar-benar ingin mereka mati.

Mereka tiba di parkiran belakang gedung yang hampir kosong. Hanya beberapa mobil tua terparkir di sudut.

“Mobilku di sana,” Kevin menunjuk sedan abu-abu.

“Jangan gunakan mobil yang terdaftar atas namamu,” Raisa langsung memotong.

Kevin terdiam.

“Dia benar,” Arkan setuju cepat. “Mereka bisa melacak.”

Surya menunjuk sepeda motor tua milik petugas kebersihan yang tergantung kuncinya.

“Itu lebih cepat.”

“Tidak cukup untuk lima orang,” Kevin berkata tegang.

Suara pintu darurat di atas terbuka keras.

Mereka hanya punya detik.

Arkan membuat keputusan lagi.

“Berpisah.”

Aluna menatapnya. “Apa?”

“Kalau kita bergerak bersama, mereka hanya perlu satu tembakan tepat.”

“Tidak,” Aluna menggeleng cepat.

Arkan menggenggam bahunya.

“Dengarkan aku. Target mereka bukan aku. Bukan Kevin. Bukan Surya.”

Tatapannya turun ke tangan Aluna.

“Targetnya itu.”

Liontin kecil itu terasa seperti bom waktu.

Raisa maju satu langkah.

“Aku bawa dia.”

Arkan langsung menatapnya dingin.

“Tidak.”

“Kau lebih dikenal. Lebih mudah dikenali. Aku bisa menghilang.”

Kevin mengangguk pelan. “Dia benar.”

“Kenapa aku harus percaya padamu?” Arkan bertanya tajam.

Raisa menatapnya tanpa berkedip.

“Karena kalau aku ingin liontin itu, aku sudah mengambilnya tadi.”

Sunyi satu detik.

Langkah kaki terdengar mendekat dari tangga darurat.

Aluna memutuskan sendiri.

“Aku ikut Raisa.”

Arkan membeku. “Luna—”

“Aku bukan barang yang bisa dipindahkan sesukamu,” katanya cepat, napas terengah. “Ini tentang ayahku. Tentang hidupku.”

Keheningan hanya bertahan sepersekian detik.

Lalu Arkan mengangguk kaku.

“Baik. Tapi kau hubungi aku setiap satu jam.”

“Kalau kami masih hidup,” Surya bergumam pahit.

Raisa menarik tangan Aluna.

“Kita lewat gang belakang.”

Arkan menatap Aluna sekali lagi.

Tatapan itu bukan hanya khawatir.

Tapi takut kehilangan.

Dan Aluna melihatnya.

Benar-benar melihatnya.

Namun tidak ada waktu untuk membahas itu.

Mereka berpisah.

Gang belakang gedung sempit dan lembap. Bau sampah menusuk hidung.

Raisa berjalan cepat tanpa terlihat panik.

Aluna berusaha mengimbangi langkahnya.

“Siapa mereka sebenarnya?” Aluna bertanya di antara napas.

“Jaringan yang ayahmu hampir bongkar,” Raisa menjawab singkat.

“Nama?”

Raisa menggeleng. “Belum ada yang bisa membuktikan secara resmi. Tapi di lingkaran dalam, mereka dikenal sebagai Konsorsium.”

Kata itu terasa berat.

“Mereka mencuci uang proyek besar, menyuap pejabat, memanipulasi tender lintas negara.”

“Dan ayahku tahu semua itu?”

“Ya.”

Aluna merasakan jantungnya berdebar tak terkendali.

“Kenapa dia tidak kabur saja?”

Raisa berhenti sebentar, menatapnya.

“Karena dia percaya sistem masih bisa diperbaiki.”

Air mata Aluna menggenang lagi.

“Dan kau?”

“Ayahku tidak sekuat itu.”

Mereka kembali bergerak.

Di ujung gang, Raisa menghentikan langkah.

Sebuah mobil hitam terparkir.

Bukan miliknya.

Bukan milik Arkan.

Mesinnya masih hangat.

“Masuk,” Raisa berbisik.

Aluna membeku.

“Ini mobil siapa?”

“Cadangan.”

“Cadangan dari siapa?”

Raisa menatapnya lurus.

“Dari orang yang juga ingin Konsorsium hancur.”

Aluna menelan ludah.

“Masih ada pihak lain?”

Raisa mengangguk.

“Tidak semua orang jahat di dunia ini.”

Suara teriakan terdengar samar dari arah gedung.

Mereka tidak punya pilihan.

Aluna masuk ke kursi penumpang.

Mobil langsung melaju cepat keluar gang.

Beberapa detik kemudian, dua motor melintas di belakang mereka.

Mengikuti.

“Mereka melihat kita,” Aluna berbisik.

“Aku tahu.”

Raisa menekan pedal gas.

Motor semakin mendekat.

Salah satu pengendara mengangkat sesuatu.

Kilatan logam.

“Raisa!” teriak Aluna.

Tembakan memecah kaca belakang mobil.

Aluna menjerit pelan.

Raisa membelok tajam ke kiri, masuk ke jalan sempit.

Motor pertama hampir kehilangan keseimbangan.

Namun mereka tetap mengejar.

“Pegang erat!” Raisa berkata.

Mobil meluncur ke jalan utama yang ramai. Klakson berbunyi di mana-mana.

Motor kesulitan menyalip.

Raisa memanfaatkan celah itu dan berbelok tiba-tiba ke parkiran pusat perbelanjaan bawah tanah.

Gelap.

Berliku.

Motor tidak bisa mengikuti dengan mudah.

Beberapa detik kemudian—

Sunyi.

Mereka berhenti di sudut parkiran kosong.

Aluna masih gemetar.

“Kita lolos?” suaranya kecil.

“Untuk sementara.”

Raisa mematikan mesin.

Keheningan berat menyelimuti mobil.

Aluna memegang liontin itu lagi.

“Kalau ini benar-benar berisi data… apa yang akan kita lakukan?”

Raisa menatapnya.

“Itu keputusanmu.”

“Kau terus bilang begitu.”

“Karena memang begitu.”

Aluna menatap kosong ke depan.

“Kalau kubuka, mereka akan mengejar lebih keras.”

“Ya.”

“Kalau tidak kubuka, ayahku mati sia-sia.”

Raisa tidak menjawab.

Hanya menunggu.

Aluna menarik napas dalam.

“Buka.”

Raisa mengangguk kecil.

Ia mengeluarkan alat kecil dari tasnya—sebuah pembuka mikrochip portabel.

Liontin itu ternyata memiliki celah kecil tersembunyi.

Tangan Aluna gemetar ketika menyerahkannya.

Raisa membukanya dengan hati-hati.

Di dalamnya—

Chip kecil berwarna hitam.

Sangat kecil.

Tapi cukup untuk menghancurkan banyak orang.

Raisa memasukkannya ke alat pembaca.

Layar kecil menyala.

File muncul.

Banyak sekali.

Nama perusahaan. Transfer dana. Rekening luar negeri.

Dan satu folder dengan label berbeda.

Proyek Aurora.

Aluna mengerutkan kening.

“Apa itu?”

Raisa terlihat benar-benar terkejut kali ini.

“Itu… tidak ada di dokumen versi manapun.”

Aluna menelan ludah.

“Buka.”

Raisa mengkliknya.

File pertama muncul.

Foto.

Seorang pria berdiri di ruangan mewah.

Pria yang sangat mereka kenal.

Pak Aditya.

Namun ia tidak sendirian.

Di sampingnya berdiri seseorang yang membuat darah Aluna terasa berhenti.

Arkan.

Foto itu terlihat lama.

Jauh sebelum kebakaran.

Aluna merasa dunia kembali runtuh.

“Ini tidak mungkin…” bisiknya.

Raisa menatap layar tanpa ekspresi.

“Proyek Aurora dimulai tujuh tahun lalu.”

“Arkan tidak mungkin—”

“Foto tidak selalu berarti keterlibatan,” Raisa berkata cepat, tapi nada suaranya tidak sepenuhnya yakin.

Aluna merasakan jantungnya berdetak keras di telinga.

“Kenapa ayahku menyimpan ini?”

“Karena mungkin… ini lebih besar dari yang kita kira.”

Aluna menatap foto itu lagi.

Arkan terlihat lebih muda.

Tapi jelas itu dia.

Dan ia berdiri tepat di samping pria yang kini mereka tahu sebagai bagian dari Konsorsium.

Tangan Aluna mulai gemetar.

“Raisa…”

“Ya?”

“Kalau Arkan terlibat sejak awal…”

Kalimat itu menggantung.

Suara mesin mobil lain terdengar memasuki parkiran.

Raisa langsung mematikan layar.

Lampu mobil mendekat.

Perlahan.

Terarah.

Aluna merasakan napasnya membeku.

Mobil itu berhenti beberapa meter dari mereka.

Lampu sorot menyala terang.

Siluet seseorang keluar dari kursi pengemudi.

Tinggi.

Tegap.

Langkahnya tenang.

Dan ketika ia mendekat—

Wajahnya terlihat jelas.

Arkan.

Aluna membeku total.

Jantungnya terasa berhenti.

Kalau Arkan ada di sini—

Lalu siapa pria di foto itu?

Dan siapa yang sebenarnya ia percayai selama ini?

END BAB 18 🔥

1
Veline
Semangat Author untuk Karya nya 🔥🔥💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!