NovelToon NovelToon
Reinkarnasi Paksa Sang Dewa Kegelapan

Reinkarnasi Paksa Sang Dewa Kegelapan

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Isekai / Sistem / Kultivasi Modern
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: DityaR

Upaya bunuh diri Onad Nevalion berakhir dengan kegagalan. Alih-alih menemukan kematian, ia justru dibangkitkan oleh Dewa Kegelapan dan dikirim ke Solmara, sebuah dunia asing yang hancur oleh konflik antar entitas ilahi.

Onad terpilih sebagai wakil sang dewa untuk menghadapi Dewa Iblis di dunia Solmara. Dewa Kegelapan tidak dapat turun langsung karena campur tangannya akan melanggar hukum keseimbangan antar dunia.

Satu-satunya hal yang diinginkan Onad hanyalah menghilang dari kesialan hidupnya di dunia. Namun, mengapa kesialan itu justru mengejarnya hingga ke dunia lain?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DityaR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sandiwara

Noah tidak berhenti. Dalam satu lompatan, dia melesat menuju tabib terakhir, lutut kanannya diarahkan tepat ke tulang dada pria itu.

Kekuatan dan momentum serangan itu begitu besar hingga saat lutut Noah menghantam tulang rusuknya, terdengar jelas suara patahan tulang.

“Aaaahhh!” tabib itu menjerit ketika tubuhnya terpental ke belakang dan jatuh keras ke tanah. Dia memuntahkan segumpal darah besar lalu tersedak oleh darahnya sendiri.

Noah tidak membuang waktu. Dia langsung berlari ke arah pendekar pedang terdekat yang masih berusaha mencerna apa yang baru saja terjadi.

Pendekar pedang itu menggenggam pedangnya erat-erat dan menyerbu ke arah Noah.

“Bajingan! Mati kamu!” teriaknya sambil mengayunkan pedang secara horizontal.

Alih-alih mundur atau menghindar, Noah justru mempercepat langkah nya. Sebelum bilah pedang itu sempat menyentuhnya, dia sudah berada sangat dekat. Noah menangkap pergelangan tangan bandit itu, menghentikan ayunan pedang di tengah jalan, lalu memelintirnya dengan paksa. Dia menanduk wajah pria itu dan menendang pelipisnya dengan seluruh tenaga di kakinya.

Krak!

Dua benda berharga hancur hari itu.

Bandit yang baru saja kehilangan dua biji untuk bereproduksi, meraung kesakitan sambil mencengkeram selangkangannya.

Noah segera mengambil pedang yang terjatuh dan menggenggamnya seperti tombak panjang di tangan kanan. Dia memejamkan mata kirinya, Seakan sedang membidik.

Detik berikutnya, dia melempar pedang itu sekuat tenaga ke arah salah satu bandit yang memegang tongkat sihir. Ia dia Penyihir.

Sebelum si penyihir sempat bereaksi, pedang tersebut menembus lehernya, mematahkan tulang, lalu keluar dari sisi seberangnya.

Semua itu terjadi hanya dalam waktu sekitar dua puluh detik sejak para bandit menyadari kehadiran Noah. Tentu saja mereka tidak akan diam menunggu untuk dibantai.

“Bunuh dia!” teriak salah satu bandit. Beberapa orang langsung menyerbu dengan mata penuh amarah dan kebencian. Mereka ingin mencincangnya menjadi ratusan bagian.

Bandit terdekat mengayunkan gada, membidik kepala Noah.

Sejak memasuki pertarungan ini, Noah sudah mengaktifkan Aura Pemburu dan Insting Bertahan Hidup. Tubuhnya bergerak seperti jaguar, lincah dan bereaksi dalam sekejap.

Dia melangkah ke samping sebelum gada itu menyentuhnya, lalu menghantamkan lutut ke tulang rusuk lawannya. Tulang-tulangnya retak, dan tubuh bandit itu ambruk ketika pecahan tulang menembus jantungnya.

“Siapa kamu sebenarnya?!” teriak pemimpin bandit akhirnya. Matanya dipenuhi amarah dan niat membunuh.

“Cuma tukang cabut nyawa, terutama nyawa kamu,” jawab Noah dengan nada dingin sambil mengambil gada yang terjatuh. Dia berjalan mendekati pendekar pedang yang masih tergeletak di tanah, kedua tangannya memegangi selangkangannya setelah serangan mendadak tadi.

“Jangan! Jangan deket-deket aku!” bandit itu berteriak, wajahnya memucat saat melihat mata penuh niat membunuh pria setengah telanjang di depannya.

KACHA!

Suara sesuatu yang keras hancur terdengar, dan satu bandit lagi tumbang. Noah menarik keluar gada dari kepala yang sudah remuk, tergeletak seperti semangka pecah di tanah.

“Siapa lagi?” tanya Noah sambil menatap sisa para bandit.

Dari dua belas orang, kini hanya lima yang tersisa. Dalam hitungan detik, Noah telah menyingkirkan tujuh orang secara singkat.

Tekanan yang tadi menindas para pengawal pun berkurang. Untuk pertama kalinya sejak awal pertempuran, mereka bisa bertarung dengan posisi yang seimbang melawan para bandit yang tersisa.

Tank dan pendekar pedang dari pihak pengawal sudah menyadari kehadiran Noah sejak dia menjatuhkan para pemanah, karena posisi mereka berada di garis depan. Namun mereka tetap diam, fokus menahan serangan bandit yang mereka hadapi.

“kamu bakal bayar mahal buat ini! aku bakal siksa kamu sampai mati!” teriak pemimpin bandit yang bertubuh besar dan kekar. Sosoknya seperti beruang raksasa, berjanggut cokelat panjang, dengan tubuh seorang prajurit berpengalaman.

“Kayaknya kamu belum paham. Bukan aku yang bakal bayar. kamu yang bakal bayar atas dosa-dosa kamu,” balas Noah sambil bersiap menghadapi benturan langsung.

“kamu udah ngambil semuanya dari aku!” teriak sang pemimpin, cukup lantang hingga terdengar oleh para pengawal dan pedagang yang masih bertarung melawan sisa bandit. “aku aja nggak kenal kamu siapa,” imbuh sang pemimpin bandit sambil menerjang ke arah Noah.

golok raksasa itu berputar beberapa kali. Noah menghindar dengan meluncur rendah dan bergerak ke samping. Serangan itu nyaris mengenainya.

Sebagai balasan, Noah mengayunkan gada, tetapi ditepis dan ditahan. Pemimpin bandit itu petarung terampil dengan pengalaman tempur yang tidak sedikit.

Sejauh ini, Noah hanya bertarung dengan kekuatan fisiknya dan belum menggunakan satu pun kemampuan yang dia peroleh dari monster. Jika dia melakukannya, itu akan menimbulkan kecurigaan dan membuatnya tampak seperti monster hutan.

Berbeda dengan bandit lain, sang pemimpin mengenakan perlengkapan yang baik. Banyak bagian vital tubuhnya terlindungi besi atau zirah tebal. Noah sebenarnya bisa merobeknya dengan cakar Serigala miliknya, tetapi dia harus memainkan peran. Dia tidak ingin melakukan sesuatu yang memicu pertanyaan yang tidak perlu.

Sebuah ayunan horizontal kuat kembali datang. Noah berjongkok dan menyapu kaki lawannya, mematahkan keseimbangan pemimpin bandit yang sedang bergerak maju.

CLANGGG

Pemimpin bandit itu jatuh ke tanah.

Noah segera menyerang tangan kanan yang memegang golok raksasa, mematahkan jari-jarinya dalam satu hantaman.

Gada Noah menghantam dada pemimpin bandit yang terjatuh. Dia terus mengayunkannya berulang kali hingga zirah dada itu retak dan pecah.

“Ah! Berhenti! Jangan!” teriak pemimpin bandit sambil terus menerima hantaman di tubuhnya. Dadanya berdarah, wajahnya lebam, darah mengalir dari hidungnya.

Entah bagaimana, pukulan Noah terasa semakin kuat.

Noah melirik sekeliling dan melihat sisa bandit sudah dibunuh oleh para pengawal dengan koordinasi dan timing yang rapi. Dia kembali menatap pemimpin bandit di bawahnya.

“Lihat, anak buah kamu udah nggak ada. Harusnya pemimpinnya nyusul, kan?” ucap Noah Seakan sedang menjatuhkan vonis mati.

“Tolong lepasin aku. aku bakal lakuin apa aja yang kamu mau,” mohon pemimpin bandit itu.

“Waktu kamu bunuh temen-temen aku, kamu lepasin mereka? Waktu kamu bunuh perempuan sama anak-anak itu, kamu biarin mereka pergi?!” teriak Noah dengan suara penuh amarah dan keputusasaan.

“Kami pernah berbuat apa ke kamu?” tanya pemimpin bandit dengan suara gemetar antara hidup dan mati.

“Para petani. Para tentara bayaran,” jawab Noah sambil merobek sisa zirah dada itu dan mengepalkan tinjunya. Dia duduk di atas tubuh bagian atas pemimpin bandit tersebut.

Dia mulai menghantam wajah pemimpin bandit itu dengan kuat untuk menimbulkan suara keras hingga terdengar oleh semua orang.

“kamu ini ngomongin siapa sih?” geram pemimpin bandit itu, nyaris tak sanggup menahan pukulan demi pukulan.

“kamu bahkan nggak inget mereka? Bajingan! Buat kamu mereka cuma orang nggak berarti yang bisa kamu bunuh buat hiburan? Kesalahan kamu waktu itu adalah ngebiarin aku kabur.”

Terkejut, pemimpin bandit itu bertanya, “kamu … salah satu dari mereka?”

Noah sama sekali tidak tahu apa yang dimaksud pria itu, tetapi dia tetap memainkan perannya.

SPLAAATTT!

Kepala pemimpin bandit itu terbelah dua. Darah dan otak berhamburan ke luar.

Peran penjahat telah selesai. Dia tak lagi dibutuhkan.

Noah belum berhenti. Dia menatap langit, berusaha mengingat sesuatu.

“Yaaaaaaaaah!!!” raungnya sekuat tenaga, kepala terangkat ke langit terbuka. Tubuhnya mulai terguncang oleh isak tangis, suaranya bergetar menahan rasa sakit dan duka.

“Elena, Stephen, Pavel, Paman Vasemir … aku udah bales dendam kalian… akhirnya aku bales dendam kaliaaaaaan .…” ucapnya sementara air mata mengalir di pipinya.

Noah turun dari tubuh pemimpin bandit yang mati, lalu jatuh berlutut seakan bendungan kesedihan yang selama ini tertahan akhirnya runtuh.

Dia terus menangis dan mengusap air matanya. Posisi tubuhnya cukup jelas untuk dilihat oleh para pedagang dan pengawal.

Pemandangan itu menyentuh hati siapa pun yang pernah kehilangan keluarga atau orang yang mereka cintai.

Setelah beberapa saat hening, seorang pria tua yang merupakan salah satu pedagang, bersama pria paruh baya dari kelompok pengawal, mendekat ke arah Noah.

Pria tua itu berbicara dengan suara lembut.

“Terima kasih, anak muda. Hari ini kau menyelamatkan nyawa kami semua. Tanpamu, tak seorang pun dari kami akan akan tetap hidup saat ini.”

“Benar. Kami pasti sudah mati, dan para perempuan di kelompok kami akan jatuh ke tangan bajingan-bajingan itu. Kami juga tak akan pernah bisa membalas kematian rekan-rekan kami,” tambah pria paruh baya yang membawa perisai raksasa di punggungnya.

Tubuhnya tak kalah besar dari pemimpin bandit tadi, tetapi auranya lebih menyerupai sosok ayah. Rambutnya mulai beruban di bagian tengah kepala, dan janggutnya sudah putih seluruhnya.

Pria tua itu bertubuh kurus, tetapi dari pakaiannya terlihat jelas bahwa dia seorang pedagang yang berada.

Noah menjawab dengan suara berat, tetap mempertahankan sikap sebelumnya.

“aku nggak ngelakuin ini buat kalian.”

1
umar aryo
gass Thor...
umar aryo
di tunggu updatenya ya
umar aryo
lanjut thorrr
umar aryo
weleh.....
umar aryo
walah...
umar aryo
arus cerita yg unik meski sedikit naif
umar aryo
jos gandos
umar aryo
wiiihhhh... dewa di katain.... anjirrr
umar aryo
mantap... 😄🤣🤣
umar aryo
jalan cerita nya halus Thor... lanjutkan
Piw Piw: terima kasih
total 1 replies
Amir Machmud
thor..ayo dilanjut..aku tambah penasaran...tak tunggu..
Amir Machmud
lanjut bab...beli coin atau lihat seponsor...
Amir Machmud
gimana kelanjutannya...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!