"Capek tidak sayang? aku masih mau sekali lagi.."
"Kamu kuat sekali Mas.."
Si tampan itu tertawa menciumi pipi sang Istri, entah sejak kapan dia sangat mencintai istrinya ini.
"Sudah di minum Pilnya Sayang?"
"Harus Mas? Aku lelah minum Pil KB terus.."
"Menurutlah sayang semua demi kebaikan.."
Tidakkah Tama tau jika larangannya itu justru menyakiti hati Istrinya?
"Aku takut sayang, Aku takut kamu akan meninggalkan aku saat mengetaui kebenaran atas Suamimu ini."
Tama selalu di hantui rasa bersalah, ketakutan dia akan masa lalunya.
Sebenarnya apa Yang terjadi di masa lalu ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nufierose, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
AKU TIDAK MANDUL
BAB 2
“Apa kabar Mam?”
“Mama Baik,, Kamu mau makan apa Nak?”
Menepati janji akhirnya Tama mengajak sang Istri ke rumah Orang tuanya, Di meja makan mereka makan malam bersama, Nampak sang Ibu dengan Adik laki – lakinya duduk tepat di samping kanan dan kiri sang Ibu. Alisya menunduk, kehadirannya seperti tidak di inginkan oleh sang Ibu mertua. Mira jutsru sibuk dengan anaknya tak memperdulikan menantunya sama sekali.
“Kenapa kamu semakin sibuk? Sesekali datanglah berkunjung, Mama rindu sama kamu Nak,,”
“Maaf Ma,, Memang niat dari awal Tama akan datang bersama Alisya.. Dan Baru ada waktu hari ini.. maaf baru mengunjungi Mama..”
“Kenapa harus ajak Alisya? Kan bisa kamu sendiri kesini?”
“Tidak mungkin Ma,, Alisya adalah Istriku dan kemanapun Aku pergi Alisya harus ikut denganku..” Jawaban yang sangat Mutlak, Bahkan Tama mengatakan dengan tegas sekalipun dengan Ibunya.
Mira terdiam di tatapnya sang Menantu dengan tatapan tak suka, Tama mengusap lengan sang Ibu dengan tatapan penuh makna.
Dan sini di halaman belakang rumah Tama bicara empat mana dengan sang Mama. Alisya sudah tidur lebih dulu dan memang Tama butuh waktu berdua, Mamanya harus di beri pengertian.
“Mau sampai kapan Mama seperti ini? Berdamailah dengan keadaan Ma,, Alisya adalah Istriku dan Mama harus menerimanya..”
“Sudahlah Tam,, jangan bicarakan dia..”
“Dia yang mama maksud adalah Istri ku Mah, lima tahun aku menikah dengan Alisya dan Mama belum bisa menerima,, sekarang aku tanya, ,mau sampai kapan Ma?”
Mira terdiam, dia memang tidak pernah suka dengan Alisya, menurutnya anak itu sangat menyusahkan, anak yatim piatu yang kebetulan beruntung di nikahi anak sulungnya.
“Tama dengar mama! Sampai kapan pun mama tidak bisa menerima anak Yatim piatu itu..”
“Ma.. Namanya Alisya.. dia Istriku Ma..”
“Tidak Perduli siapa namanya, sejak dulu mama hanya akan merestui kamu menikah dengan Vio.. anak berpendidikan dengan karir yang cemerlang, sedangkan anak itu? Apa yang bisa di banggakan dari Dia? Anak lulusan SMA yang kini berasa beruntung di nikahi oleh kamu..” begitu kesal Mira sampai dia tidak sadar suaranya yang begitu keras sehingga membuat Tama tidak nyaman.
“Cukup Ma!! Bisa pelankan suara Mama? Aku tidak mau Alisya mendengarnya, dia Istriku Ma,, aku perjelas sekali lagi, Alisya adalah Istriku selepas apapun Masa lalu dan Statusnya dia tetap Istriku, tanggung Jawab Aku..”
Mira terdiam, dia tak mampu berkata - kata lagi, Tama akan selalu tegas dengan prinsipnya, sesuatu yang susah menurun dari sang ayah.
“Apa yang kamu harapkan dengan Wanita mandul seperti dia?”
“Cukup Ma!! Jangan bicara hal itu di depanku lagi, mama tidak tau apa – apa tentang rumah Tanggaku,, bagaimana kerasnya aku menjaga keutuhan keluarga ini.. “
“Tapi memang nyatanya begitu kan Tam? Kalian menikah sudah hampir lima tahun tapi Anak itu belum hamil juga, apa lagi kalau bukan Mandul?”
Tama memejamkan matanya sesaat ingin sekali dia mengamuk, jika saja di depannya ini bukan sang Ibu mungkin Tama sudah mengamuk sejadi – jadinya.
“Maaf Ma,, aku tidak ingin berkata kasar, aku juga tidak ingin menaikan nada bicaraku di depan Mama,, tolong hargai aku sebagai kepala rumah tangga disini, aku adalah pengganti Papa.. tolong Mama hargai aku..”
“Siapa Vio itu?” Alisya diam – diam mendengarkan percakapan keduanya, hatinya begitu teriris mendengar segala hinaan dari ibu mertuanya sendiri,
Mandul?
Siapa yang mandul?
Tega sekali Ibu Mertuanya berkata bahwa dia mandul? Tidak tahu saja kalau anaknya yang sampai saat ini melarang dia mengandung.
“Apa sebenarnya maksudmu Mas? Tidak kah kamu berpikir betapa sakitnya hati aku di bilang mandul oleh Ibumu sendiri? Padahal puluhan anak pun bisa aku berikan asalkan aku tidak meminum obat sialan itu.” Alisya membatin, Hatinya sungguh merasa sakit.
Berjalan perlahan Alisya memasuki kamarnya, malam ini mereka memutuskan untuk menginap di rumah Mama Mira. Biarlah Alisya menurut besok pagi juga mereka sudah kembali pulang kerumah.
“Dari mana Raka?”
“Minum Mas.. menginap?”
Tama mengangguk sedingin – dinginnya Tama ternyata lebih dingin sikap Adiknya, Raka bahkan pria yang sangat irit bicara, bahkan di tengah rapat pun Raka hanya diam menyimak, dia hanya menggeleng dan sesekali mengangguk. Karena sejauh ini tak ada sesuatu yang membuatnya tertarik.
“Bagaimana Perusahaan Papa?”
“Aman..”
“Investor?”
“Stabil.”
“Bagaimana Kuliah mu?”
“Ada pertanyaan lain?”
Tama menarik bungkus Rokok di depan meja Raka, sebagai lelaki Tama selalu menjaga pola hidup sehat, jauhi Rokok dan minuman beralkohol, tidak seperti sang Adik yang aktif merokok.
“Rusak Paru – parumu..”
“Apa perdulimu?”
Lelah bicara dengan Raka, Tama hanya bisa mengelus dada, lebih baik dia menemui istrinya di kamar, Alisya pasti kesepian apa lagi ini di rumahnya. Alisya selalu merasa asing di rumah suaminya sendiri.
Hari – hari berlalu sejak pulang dari rumah Orang tuanya Alisya menjadi pendiam.
Persis dengan Raka, Tiara jadi irit sekali bicara, Tama menjadi bingung sendiri, Ada apa dengan Istrinya ini?
“Aku buatkan Kopi dulu..”
“Tunggu sayang..”
Tama menahan tangan Alisya yang ingin beranjak, senyum Istrinya masih terlihat tapi entah mengapa Tama merasakan sangat hambar ketika dekat dengan Istrinya.
“Sebenarnya kamu kenapa?”
“Aku baik – baik saja Mas..”
“Tidak.. Mas merasa kamu berubah menjadi diam saat pulang dari rumah Mama,, Apa ada yang mengganggu pikiranmu?”
Tama menuntun Istrinya untuk duduk, di usapnya kepala sang Istri dengan lembut, Tama sangat tahu apa yang membuat Istrinya Luluh.
“Bicara sayang,, apa yang kamu pikirkan?”
“Mas.. aku ingin hamil.”
Deg!!
Usapan pada kepala Alisya seketika terhenti, tatapan Tama yang tadinya terfokus pada sang istri langsung teralihkan, seolah – olah Istrinya sedang salah bicara.
“Mas sebenarnya apa alasannya? Kenapa mas Kekeh melarang aku hamil?”
“Kamu tidak mengerti Sayang..” jawab Tama dengan nada yang seolah menahan amarahnya.
“Setiap malam Mas menyentuhku,, setiap malam juga mas memaksaku meminum Pil itu.. aku lelah Mas,, sebagai seorang Istri, aku juga ingin mengandung.. aku ingin memiliki anak...”
Uneg – uneg Alisya tersampaikan malam ini, lama diam akhirnya Alisya buka Suara.. entah Suaminya akan marah atau tidak kerana hari ini Alisya ingin kejelasan dari sang Suami.
“Alisya.. aku jelasin sayang,, tapi aku takut kamu tidak memahami..”
“Sesulit apa Mas sampai aku tidak bisa paham? Apa karena aku Cuma lulusan SMA jadi aku tidak bisa memahaminya?”
Astaga!!
Tama salah bicara.. mengapa Istrinya jadi merendah? Padahal bukan itu maksudnya..
“Sayang dengarkan aku,, aku masih ingin berdua denganmu.. aku belum siap memiliki anak..”
“Apa lima tahun bersamaku belum puas Mas? Mau sampai kapan, ada anak di tengah – tengah kita tidak akan mengganggu keharmonisan orang tuanya.. apa kamu tidak paham itu?”
Alisya sudah mengomel tapi Tama masih bisa mengendalikan emosinya, sungguh... Tama paling tidak bisa meninggikan nada bicara dengan orang – orang yang dia sayang.. terlebih Istrinya.
_______
suka sama karakter Tama walaupun kejam dan cuek tapi sama istri selalu lembut
love banget pokonya 😗 😗
antagonis mulai keluar nih kayanya