Di dunia di mana sihir adalah segalanya, kekuatan bukanlah anugerah—melainkan hasil dari latihan dan pengorbanan.
Ia hanyalah seorang siswi Akademi Sihir Arcanova. Tenang. Cerdas. Tak tersentuh. Hingga sebuah simbol tersembunyi muncul di tubuhnya—tanda kutukan dari iblis yang bahkan hanya hidup dalam legenda.
Tak hanya dirinya.
Dua siswa dari sekolah berbeda—termasuk seorang pewaris Akademi Crimson Crest—ternyata memikul kutukan yang sama… namun berasal dari iblis yang berbeda.
Kekuatan mereka luar biasa. Tak terbatas.
Namun setiap kali digunakan, ada harga yang harus dibayar.
Di tengah persaingan dua akademi, pelatihan mematikan di Hutan Abyss, dan rumor tentang iblis berwujud manusia yang belum pernah terlihat…
Pertanyaannya bukan lagi siapa yang paling kuat.
Tapi siapa yang akan bertahan ketika kutukan itu mulai mengambil alih?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon VYI_syi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Harmoni yang Retak
Padang rumput Silver-Leaf yang tadinya menjadi saksi bisu Labirin Ilusi kini telah berubah fungsi. Master Alaric, dengan lambaian tongkatnya yang membelah udara, menciptakan garis-garis pembatas sihir yang membagi lapangan menjadi beberapa arena melingkar. Matahari tepat berada di atas kepala, membakar semangat sekaligus menguji ketahanan fisik para siswa.
"Latihan kedua!" suara Master Alaric menggelegar, tidak menyisakan ruang bagi keraguan. "Strategi adalah tentang adaptasi. Kalian tidak selalu bisa memilih dengan siapa kalian bertarung. Tim telah dibentuk secara acak oleh bola kristal takdir. Empat anggota, dua akademi, satu tujuan: bertahan dan hancurkan monster yang aku panggil!"
Daefiel berdiri di Arena Tujuh, menghentakkan kakinya dengan gusar. Ia menoleh ke kanan dan ke kiri, mencari wajah Lucien atau Vivienne, namun ia menyadari bahwa ia benar-benar terpisah. Ia terjebak dalam sebuah tim yang, menurut penilaian instingnya, adalah sebuah bencana yang menunggu untuk terjadi.
Pengenalan Tim Arena Tujuh
Di depan Daefiel, berdiri ketua tim yang baru saja ditunjuk oleh instruktur. Nama gadis itu adalah Seraphina, seorang siswi tahun kedua dari Crimson Crest. Wajahnya cantik dengan tutur kata yang sangat lembut, hampir seperti seorang biarawati daripada seorang ksatria. Ia memegang pedang rapier tipis yang berkilau. Seraphina dikenal sebagai jenius teknis, namun semua orang tahu dia memiliki kebiasaan buruk: ia sering ceroboh dalam mengambil keputusan di bawah tekanan.
"Mohon bantuannya, teman-teman," ucap Seraphina dengan senyum manis yang membuat Daefiel ingin memutar bola matanya. "Aku akan berusaha memimpin kita menuju kemenangan."
Di sebelah Seraphina, berdiri seorang siswi Crimson Crest lainnya bernama Lyra. Penampilannya sangat mencolok karena ia membawa sebuah harpa perak besar di punggungnya. Namun, yang membuat suasana menjadi tegang adalah mata Lyra yang tertutup kain sutra putih. Ia buta. Meskipun indra pendengarannya sangat tajam dan ia bisa berjalan dengan anggun mengikuti aliran mana, Lyra hanya fokus pada pertahanan dirinya sendiri. Musik harpanya adalah perisai, bukan pedang.
Lalu, anggota ketiga berasal dari Arcanova, sama seperti Daefiel. Namanya Vera, seorang penyihir Elemen Pasir. Vera memiliki sifat yang sangat sinis dan tertutup. Ia terus-menerus menggerutu tentang debu dan betapa tidak efisiennya ksatria pedang. Ia memandang Daefiel dengan tatapan meremehkan, seolah-olah Daefiel hanyalah penyihir api kelas teri.
Dan terakhir, tentu saja, Daefiel. Sang pemegang kutukan Api Hitam yang harus berpura-pura menjadi penyihir api biasa di depan rekan setimnya yang aneh ini.
Gelombang Pertama: Ancaman dari Abyss
"Mulai!" teriak Master Alaric.
Dari pusat arena, tanah terbelah dan muncul lima ekor Stone-Claw Golem. Monster setinggi tiga meter yang terbuat dari batuan Abyss yang keras dan memiliki cakar yang bisa menghancurkan baja.
"Seraphina! Beri perintah!" teriak Daefiel sembari menyiapkan api oranye di tangannya.
"Ah, ya! Benar!" Seraphina tampak gugup. "Lyra, gunakan musikmu untuk memperlambat mereka! Vera, jebak kaki mereka dengan pasir! Aku akan... aku akan menyerang dari depan!"
Seraphina melesat maju dengan pedangnya. Gerakannya sangat cepat dan elegan, namun karena terlalu bersemangat, ia tidak memperhatikan pijakannya. Ia tersandung akar pohon yang mencuat, membuat serangannya meleset dan ia terjatuh tepat di depan kaki Golem yang sedang mengangkat tinjunya.
"Seraphina, awas!" Daefiel berteriak.
Lyra mulai memetik harpanya. Alunan musik yang tenang keluar, menciptakan gelombang suara yang membelokkan serangan Golem tersebut. Seraphina selamat, namun Lyra tetap diam di posisinya. Ia tidak membantu Seraphina berdiri; ia hanya memastikan tidak ada Golem yang mendekati radius satu meternya sendiri.
"Hmph, ceroboh sekali," cibir Vera. Ia menggerakkan tangannya, membuat pasir di bawah Golem menjadi lunak. Namun, karena Vera tidak suka bekerja sama, ia juga membuat pasir di bawah kaki Seraphina menjadi tidak stabil.
"Hei! Kau malah menjebak ketua tim kita sendiri!" protes Daefiel.
"Dia yang menghalangi jalanku!" balas Vera sengit.
Kekacauan terjadi. Seraphina mencoba bangkit namun terus terpeleset pasir Vera, Lyra hanya bermain musik untuk dirinya sendiri, dan para Golem mulai mengepung mereka dari segala arah. Master Alaric yang melihat dari panggung hanya menggelengkan kepala. Arena Tujuh adalah contoh nyata dari tim yang tidak memiliki sinkronisasi.
Titik Didih: Daefiel Mengambil Alih
Daefiel merasakan amarahnya mulai naik. Ia melihat Golem-golem itu mulai mendekati Lyra yang buta dan Seraphina yang panik. Jika ia tetap menggunakan api oranye biasanya, mereka semua akan hancur dalam hitungan menit. Ia teringat percakapannya dengan Lucien: Gunakan fokus untuk mengendalikan kutukan.
"Minggir kalian semua!" teriak Daefiel. Suaranya berubah menjadi lebih berat, bergetar dengan otoritas yang menakutkan.
Daefiel melompat ke tengah arena. Ia menutup matanya sesaat, membayangkan api di hatinya sebagai sebuah wadah yang harus ia tumpahkan dengan presisi. Saat ia membuka mata, pupilnya berkilat dengan warna oranye yang sangat gelap, hampir mendekati hitam.
Ia tidak melepaskan api oranye. Ia melepaskan Api Hitam yang dikompresi sedemikian rupa sehingga tampak seperti api ungu tua yang pekat di mata orang awam.
"Inferno Burst: Abyssal Grasp!"
Daefiel tidak melempar bola api. Ia menghantamkan kedua tangannya ke tanah. Seketika, lidah-lidah api berwarna gelap menjalar di atas pasir Vera, melahap material organik di sana, dan langsung merambat ke tubuh para Golem. Api itu tidak membakar permukaan batu, tapi ia masuk ke dalam retakan sihir yang menggerakkan Golem tersebut.
Dalam hitungan detik, lima Golem raksasa itu meledak dari dalam. Batuan mereka hancur menjadi debu yang sangat halus.
Seraphina ternganga, pedangnya masih gemetar di tangannya. Vera terdiam, pasirnya membeku karena panas ekstrem yang dihasilkan Daefiel. Bahkan Lyra menghentikan petikan harpanya, kepalanya miring ke arah Daefiel seolah ia bisa "mendengar" sesuatu yang sangat gelap dan haus darah dari energi Daefiel.
"Kau... kekuatan apa itu tadi?" tanya Vera dengan nada ngeri. "Itu bukan sihir api biasa dari Arcanova."
Daefiel mengatur napasnya, menekan kembali api hitam yang mencoba merambat ke lengannya. Ia merasakan rasa sakit yang familiar, namun berkat fokusnya pada perlindungan tim (meskipun timnya menyebalkan), rasa sakit itu bisa ia tahan.
"Hanya teknik rahasia keluargaku," jawab Daefiel dingin, menyembunyikan tangannya di balik jubah. "Jika kalian tidak bisa bekerja sama, setidaknya jangan menghalangi jalanku. Aku tidak ingin mati di sini hanya karena kecerobohan kalian."
Seraphina menundukkan kepalanya, wajahnya memerah karena malu. "Maafkan aku, Daefiel. Sebagai ketua, aku gagal..."
"Simpan permintaan maafmu untuk gelombang berikutnya," potong Daefiel. Ia melirik ke arah panggung pengawas. Ia bisa merasakan tatapan Master Alaric yang tajam tertuju padanya. Daefiel tahu ia baru saja menunjukkan terlalu banyak kekuatan, namun ia tidak punya pilihan.
Di Arena Tujuh, dinamika telah berubah. Seraphina yang ceroboh, Lyra yang egois, dan Vera yang sinis kini menatap Daefiel dengan rasa hormat yang bercampur dengan rasa takut. Mereka menyadari bahwa pemuda berambut berantakan ini adalah predator yang sebenarnya di tim mereka.
Daefiel berdiri tegak di tengah debu monster yang menghilang, menyadari bahwa semakin sering ia menyelamatkan orang lain dengan kekuatan ini, semakin besar risiko identitasnya terbongkar. Namun, di saat yang sama, ia merasa sedikit lebih kuat. Ia telah berhasil mengendalikan apinya untuk menghancurkan musuh tanpa melukai rekan setimnya yang tak berguna itu.
"Siapkan diri kalian," ucap Daefiel sembari menatap tanah yang kembali bergetar. "Gelombang kedua datang. Dan kali ini, aku tidak akan membiarkan satu monster pun menyentuh kalian, jadi pastikan kalian setidaknya bisa berdiri dengan benar."