Jatmika adalah seorang genius di bidang mekanika dan kimia yang tewas dalam kecelakaan pesawat. Namun, maut bukan akhir baginya. Ia terbangun di tahun 1853, masa di mana Nusantara sedang dicekik oleh sistem Cultuurstelsel (Tanam Paksa) yang kejam. Hidup sebagai anak nelayan miskin di pesisir Kendal, Jatmika menyaksikan sendiri bagaimana rakyat mati kelaparan sementara gudang-gudang Belanda penuh dengan rempah dan emas. Berbekal ingatan masa depan, Jatmika memulai "perang" yang berbeda. Bukan dengan bambu runcing, melainkan dengan logistik dan ilmu pengetahuan.
Dapatkah Jatmika membawa Nusantara melompati satu abad perkembangan teknologi untuk merdeka lebih awal? Ataukah ilmu pengetahuan yang ia bawa justru menjadi kutukan yang memicu kehancuran lebih besar bagi rakyat yang ingin ia selamatkan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sastra Aksara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18: Perang Perut Dan Hijau Revolusi
Kolonel Thorne membuktikan bahwa dia adalah lawan yang jauh lebih berbahaya daripada perwira Belanda mana pun yang pernah ditemui Jatmika. Thorne tidak lagi mengejar pasukan Serikat Bayangan ke dalam hutan. Sebaliknya, ia memerintahkan pasukannya untuk membakar sawah-sawah di dataran rendah dan menyita semua cadangan gabah dari desa-desa yang dicurigai menyuplai logistik ke pegunungan.
"Biarkan mereka memiliki senapan masa depan," ucap Thorne dingin di markasnya. "Tapi manusia tidak bisa menembakkan senapan jika perutnya melilit karena lapar."
Krisis pangan segera menghantam Pegunungan Kendeng. Ribuan pengungsi mulai berdatangan ke lembah batu kapur, membawa mulut-mulut lapar namun tangan yang kosong.
"Jatmika, stok jagung kita hanya cukup untuk dua minggu," lapor Pak Sahid dengan wajah lesu. "Tanah di pegunungan kapur ini terlalu gersang untuk menanam padi. Kita terjepit."
Jatmika berdiri di puncak tebing, menatap lembah yang kini dipenuhi tenda-tenda pengungsi. Ia tahu, jika ia gagal memberi makan rakyatnya, revolusi ini akan mati bukan oleh peluru, melainkan oleh pengkhianatan dari dalam karena kelaparan.
"Kita tidak akan menanam padi di sawah," ucap Jatmika. "Kita akan melakukan Pertanian Intensif Vertikal dan menggunakan Pupuk Kimia Sintetis."
Jatmika teringat proses Haber-Bosch untuk membuat amonia, namun itu terlalu rumit untuk teknologi 1853. Ia mengambil jalan alternatif yang lebih cepat: Pupuk Superfosfat. Ia memerintahkan rakyat untuk mengumpulkan tulang-tulang hewan dan deposit guano (kotoran kelelawar) yang melimpah di dalam gua-gua kapur.
"Hancurkan tulang-tulang itu hingga menjadi tepung, lalu campurkan dengan asam sulfat yang kita buat dari belerang," perintah Jatmika. "Proses ini akan melepaskan fosfor yang terkunci, membuat tanah gersang ini menjadi sangat subur dalam waktu singkat."
Tidak hanya itu, Jatmika merancang Sistem Irigasi Pompa Hidram. Menggunakan energi dari aliran sungai bawah tanah yang deras, ia membuat pompa yang bekerja secara otomatis tanpa bahan bakar untuk menaikkan air ke terasering tinggi di lereng bukit.
"Air ini akan mengalir 24 jam sehari," Jatmika menjelaskan kepada para petani yang skeptis. "Dan dengan bibit unggul yang kita seleksi melalui penyerbukan silang, kita akan memanen jagung dan ubi jalar dalam waktu yang lebih singkat."
Dalam beberapa minggu, lereng-lereng batu kapur yang tadinya cokelat dan gersang berubah menjadi hijau royo-royo. Jatmika juga memperkenalkan budidaya jamur di dalam gua yang gelap dan lembap sebagai sumber protein tambahan.
Sementara itu, Thorne mulai merasa ada yang aneh. Ia telah memblokade semua akses makanan selama sebulan, namun ia tidak melihat tanda-tanda kelaparan dari arah pegunungan. Malah, ia mendapat laporan tentang "asap kuning" yang keluar dari gua-gua (hasil produksi pupuk) dan pergerakan air yang tidak wajar di tebing.
"Dia bukan hanya seorang insinyur senjata," gumam Thorne saat membaca laporan intelijennya. "Dia adalah seorang Alkemis Alam. Dia menciptakan makanan dari batu dan kotoran burung."
Thorne menyadari bahwa blokade darat tidak cukup. Ia harus menghancurkan sumber air yang menjadi jantung pertanian Jatmika. Ia memerintahkan tim sabotase elit untuk menyusup ke hulu sungai bawah tanah dengan membawa racun arsenik dalam jumlah besar.
Namun, Thorne tidak tahu bahwa Jatmika telah memasang Sensor Konduktivitas Air sederhana—dua pelat logam yang dihubungkan dengan baterai primitif (sel volta) dan lonceng. Jika komposisi air berubah karena zat asing, alarm akan berbunyi di pusat komando.
Suatu malam, lonceng itu berdenting keras di gubuk Jatmika.
"Suro! Ada yang mencoba meracuni aliran kita!" teriak Jatmika sambil menyambar senapan runduknya.
Pertempuran di dalam gua yang gelap pun pecah. Di antara stalaktit dan stalagmit, pasukan Suro yang kini menggunakan Lampu Karbit (hasil reaksi kalsium karbida dan air) mampu melihat musuh dengan jelas, sementara tim sabotase Thorne terjebak dalam kegelapan.
"Kalian tidak hanya melawan kami," ucap Jatmika setelah berhasil melumpuhkan pemimpin penyusup tersebut. "Kalian melawan hukum alam yang sudah aku jinakkan."
Jatmika menyadari bahwa ia telah berhasil melewati krisis pangan, namun ia tahu Thorne tidak akan berhenti. Langkah selanjutnya dari Belanda adalah serangan artileri berat secara besar-besaran untuk meratakan lembah tersebut.
"Kita butuh perlindungan," gumam Jatmika sambil menatap tembok kapur. "Kita butuh Beton Bertulang Baja."