Di tengah beban hidup yang menghimpit, Xiao Han— pemuda 22 tahun yang menjadi tulang punggung keluarga, berjuang mati-matian menghidupi ibunya yang lumpuh serta membiayai pendidikan adik perempuannya yang baru kelas 1 SMP. Gaji sebagai tukang antar surat tak pernah cukup untuk menutupi biaya pengobatan dan kebutuhan sehari-hari.
Dengan putus asa namun tekad kuat, Xiao Han akhirnya membuka jasa panggilan pria, dan mempromosikannya secara diam-diam di media sosial. Awalnya hanya sebagai cara bertahan hidup, layanan ini perlahan membawanya masuk ke dunia yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya: pertemuan-pertemuan rahasia, rahasia klien, dan batasan moral yang terus diuji.
Hingga suatu malam, satu panggilan khusus datang, sebuah pengalaman yang tak terduga, penuh risiko, dan emosi yang mengubah segalanya. Pertemuan itu bukan hanya mengguncang hidupnya saat ini, melainkan juga membuka pintu menuju masa depan yang akan mengubah kehidupannya secara drastis.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon APRILAH, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35
Sore itu, setelah mengantar Lin Qing pulang ke apartemennya di Golden Heights, Xiao Han baru saja memarkir Mercedes hitam di depan kontrakan. Tubuhnya terasa berat—jadwal ganda supir pagi-sore dan penjaga malam di rumah Rina mulai terasa di tulang-tulangnya. Dia baru saja melepas sepatu dan hendak masuk kamar untuk istirahat sebentar sebelum jemput Hua Ling’er dari sekolah, ketika ponselnya bergetar di saku celana.
Notifikasi pesan masuk dari nomor yang sudah lama tidak muncul di layar: **Vina**.
**Vina:**
Kak Xiao Han, apa kabar? Aku lagi di rumah sendirian. Kangen pijatan Kakak yang dulu. Datang yuk malam ini? Jam 9 aja, aku tunggu. Bayarannya sama seperti dulu, 8 juta. Atau lebih kalau Kakak mau stay lebih lama.
Alamat masih sama, Blok C No. 15 Bukit Permata. Jangan bilang siapa-siapa ya. 😘
Xiao Han menatap pesan itu lama sekali. Jantungnya berdegup lebih kencang—bukan karena tergoda, tapi karena campuran rasa bersalah dan kejutan. Vina adalah adik sepupu Lin Qing. Pertemuan mereka di kantor tadi siang masih segar di ingatan: Vina bersikap seperti hanya kenal sebagai pengantar surat, Lin Qing bersikap seperti Xiao Han hanyalah sopir pribadinya. Rahasia malam di rumah Vina dulu masih aman, tapi sekarang Vina meminta lagi.
Dia mengetik balasan pelan, jarinya ragu.
**Xiao Han:**
Mbak Vina, maaf. Saya lagi banyak jadwal malam ini. Nggak bisa datang. Terima kasih sudah percaya lagi.
Pesan terkirim. Xiao Han mematikan layar, tapi belum sempat meletakkan ponsel, balasan datang cepat.
**Vina:**
Jangan gitu dong, Kak. Aku tahu Kakak sibuk jadi sopir Kak Qing. Tapi malam ini aku butuh banget. Aku lagi stres sama proyek desain. Pijatan Kakak dulu bikin aku rileks luar biasa.
Aku tambah jadi 12 juta kalau Kakak datang sekarang. Transfer DP 4 juta dulu kalau setuju. Please… aku janji nggak bilang siapa-siapa. Rahasia kita berdua aja.
Xiao Han menatap pesan itu, amplop 12 juta terbayang di kepala. Uang itu bisa lunasi terapi ibunya bulan ini, bahkan sisihkan untuk beli buku pelajaran baru Xiao Mei. Tapi pikiran tentang Hua Ling’er yang menunggu jemputan sore ini, tentang janjinya untuk setia, tentang Lin Qing yang baru saja bertemu Vina tadi siang… semuanya bertabrakan di dadanya.
Dia mengetik lagi, kali ini lebih tegas.
**Xiao Han:**
Maaf sekali, Mbak. Saya nggak bisa. Saya lagi fokus ke keluarga dan kerja utama. Terima kasih tawaran Mbak, tapi saya tolak. Semoga Mbak baik-baik aja.
Dia menekan kirim, lalu langsung memblokir nomor Vina untuk sementara. Ponsel diam. Xiao Han menghela napas panjang, menyandarkan kepala ke dinding kontrakan.
Di dalam rumah, Xiao Mei sedang belajar di meja kecil, ibunya tertidur lelap setelah terapi pagi. Xiao Han masuk pelan, mencium kening adiknya.
“Kakak jemput Ling’er dulu ya. Nanti pulang bawa mie ayam.”
Xiao Mei mengangguk sambil tersenyum.
“Hati-hati ya, Kak. Jangan capek-capek.”
Xiao Han keluar lagi, menstarter motor bututnya. Dia melaju ke sekolah Hua Ling’er, angin sore menyapu wajahnya. Pesan Vina masih bergema di pikiran, tapi dia memilih untuk mengabaikannya.
Hari ini, dia memilih keluarga dan Hua Ling’er.
Bukan uang tambahan dari masa lalu yang seharusnya sudah tertutup.
Malam berikutnya, setelah menjemput Hua Ling’er dari sekolah dan menghabiskan sore dengan makan mie ayam serta jalan-jalan kecil di pinggir sungai, Xiao Han kembali ke rutinitas malamnya. Jam 10:30, dia meninggalkan kontrakan dengan motor butut, helm cadangan tergantung di stang, dan pikiran yang sudah terlatih untuk beralih mode: dari kakak yang hangat menjadi penjaga keamanan yang dingin dan profesional.
Mercedes hitam milik Lin Qing ditinggalkan di parkir kontrakan—malam ini dia tidak butuh mobil mewah. Dia melaju pelan menuju Bukit Permata Blok A No. 8, rumah besar Rina Wijaya yang selalu terasa seperti istana kosong.
Gerbang besi hitam terbuka otomatis begitu dia menekan interkom. Lampu taman menyala hangat, kolam koi berkilau di bawah cahaya bulan, dan aroma bunga malam tercium samar. Xiao Han memarkir motor di samping garasi, melepas helm, dan berjalan ke pintu utama.
Rina sudah menunggu di ambang pintu, mengenakan gaun tidur sutra abu-abu muda yang panjang tapi tipis, lengan panjang dengan detail renda halus di pergelangan. Rambut hitamnya tergerai bebas, kulitnya berkilau lembut seperti biasa—hasil perawatan malamannya yang mahal. Dia tersenyum tipis, tapi ada kilau lega di matanya.
“Kak Xiao Han… tepat waktu seperti biasa. Masuk.”
Xiao Han mengangguk hormat, masuk tanpa banyak bicara. Sikapnya tetap profesional—mata lurus ke depan, tangan di samping tubuh, langkah tegap.
“Malam ini aman, Mbak. Saya mulai patroli jam 11 tepat.”
Rina mengikuti dari belakang, gaun sutranya bergoyang pelan mengikuti langkahnya yang anggun.
“Terima kasih sudah kembali. Setelah kejadian pencuri kemarin… aku semakin tidak bisa tidur kalau sendirian. Kamu tahu kan, rumah ini terlalu besar untuk satu orang.”
Xiao Han mengangguk pelan sambil menyapu pandangan ke ruang tamu—semua jendela terkunci, CCTV berkedip hijau.
“Saya paham, Mbak. Saya akan pastikan semuanya aman.”
Rina berhenti di depan tangga, tangannya menyentuh pagar kayu mahoni dengan ujung jari.
“Kak… malam ini aku nggak bisa tidur lagi. Aku masih ingat kejadian kemarin. Bisa… nemenin aku di ruang keluarga sebentar? Cuma duduk, ngobrol. Aku buatkan kopi.”
Xiao Han ragu sejenak. Tapi tugasnya bukan hanya patroli fisik—juga memberikan rasa aman. Dia mengangguk.
“Baik, Mbak. Sebentar saja. Saya harus patroli lagi jam 12.”
Rina tersenyum, berjalan ke ruang keluarga yang luas. Lampu dinding redup menyala, sofa kulit putih terlihat nyaman. Dia menuang kopi dari termos, menyerahkan satu cangkir ke Xiao Han.
“Kamu capek ya? Matanya merah. Kerja ganda lagi?”
Xiao Han menyeruput kopi hitam, pahit dan hangat.
“Iya, Mbak. Tapi saya biasa.”
Rina duduk di sofa seberang, kakinya menyilang elegan, gaun sutranya sedikit terbuka di bagian dada.
“Kamu kuat sekali. Aku suka itu. Pria seperti kamu… jarang. Bisa diandalkan, tapi tetap punya batas.”
Xiao Han tidak menjawab langsung. Dia memandang jam dinding.
“Jam 11:30, Mbak. Saya mulai patroli lagi.”
Rina mengangguk pelan, tapi matanya tidak lepas dari Xiao Han.
“Sebelum itu… terima kasih ya, Kak. Karena kamu ada di sini. Rumah ini nggak terasa sepi lagi.”
Xiao Han berdiri, mengangguk hormat.
“Sama-sama, Mbak. Saya lakukan tugas saya.”
Dia berjalan ke pintu belakang untuk patroli berikutnya. Rina memandang punggungnya dari sofa, senyum tipis di bibirnya. Malam ini belum selesai—dan dia tahu, Xiao Han akan kembali lagi jam 1 pagi, jam 2, jam 3… sampai subuh.
Dan di setiap patroli, dia akan menunggu—dengan gaun sutra yang semakin tipis, dengan kopi hangat, dan dengan hasrat yang semakin sulit disembunyikan.
Xiao Han keluar ke halaman, angin malam menyapu wajahnya. Dia tahu tugasnya: jaga rumah, jaga keamanan. Tapi dia juga tahu, batas antara tugas dan godaan semakin tipis setiap malam.
Dan malam ini, seperti malam-malam sebelumnya, dia harus tetap teguh.