NovelToon NovelToon
"Rahasia Laut Pasuruan"

"Rahasia Laut Pasuruan"

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Cinta Istana/Kuno / Penyelamat
Popularitas:842
Nilai: 5
Nama Author: Kristinawati Wati

Berlatarkan masa kejayaan Kerajaan Panjalu (Singhasari) di wilayah Pasuruan, sebuah prasasti kuno yang ditemukan oleh Gadis nelayan, Mira, mengungkap rahasia pelabuhan perdagangan rempah-rempah yang hilang selama berabad-abad. Bersama dengan Jaka, seorang budak kerajaan yang ahli membaca naskah kuno, keduanya harus mengurai misteri di balik prasasti tersebut sebelum kekayaan dan sejarah kerajaan jatuh ke tangan yang salah. Di tengah ombak laut dan rahasia yang terpendam, apakah mereka berhasil menyelamatkan warisan leluhur?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kristinawati Wati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 8: PEMBUKAAN PINTU YANG TERLARANG

Setelah kejadian mengejutkan di kafe "Kopi Kenangan" dan mengetahui bahwa dunia pararel yang dia tulis benar-benar ada, Rara merasa hidupnya tidak akan pernah sama lagi. Malam itu dia tidak bisa tidur sama sekali—benaknya penuh dengan pikiran tentang Pak Joko, Dika, dan ancaman besar yang akan menghancurkan kedua dunia jika pintu antar dunia tidak segera ditutup. Dia duduk di meja kerjanya di kamar kecilnya yang penuh dengan buku dan catatan cerita, menatap layar laptop yang masih menampilkan pesan dari Dika.

"Mari kita bekerja sama menyelamatkan dunia kita berdua!" tulisnya.

Dengan tekad yang semakin kuat, Rara mulai merencanakan setiap detail adegan di Bab 8 ini. Dia tahu bahwa sekarang tulisannya bukan hanya untuk hiburan pembaca—melainkan untuk menyelamatkan nyawa banyak orang. Saat matahari mulai muncul dari balik jendela kamar nya, memberi cahaya kehangatan di tengah pagi yang masih dingin, Rara mulai mengetik dengan tangan yang penuh keyakinan.

DI DUNIA PARAREL

Di dalam "Hutan Awan Terbalik", Dika masih bersembunyi di balik rak buku tua yang tinggi. Suara langkah kaki berat semakin dekat, diikuti dengan suara menggeram yang membuat tanah sedikit bergoyang. Dengan hati-hati dia menyelinap keluar dari tempat persembunyiannya dan melihat melalui celah buku—ternyata yang datang adalah sekelompok prajurit berpakaian baju besi hitam dengan simbol kepala naga yang menyala merah di dada mereka. Mereka adalah pasukan milik Ratu Serpentina—penjaga gelap yang ingin menguasai semua pintu antar dunia untuk menjadi penguasa semesta.

"Cari semua jejak yang bisa menunjukkan di mana penerus kekuatan itu bersembunyi!" teriak salah satu prajurit dengan suara kasar. "Ratu menginginkan dia hidup atau mati—asalkan kekuatannya bisa kita ambil!"

Dika tahu dia harus cepat bertindak. Dia mengambil peta kuno yang ada di dalam lemari besi dan menyembunyikannya di dalam jaketnya. Lalu dia mencari jalan keluar lain dari ruang bawah tanah itu—dan menemukan sebuah lorong kecil yang tersembunyi di balik salah satu tembok yang penuh dengan lumut tua. Tanpa berpikir dua kali, dia masuk ke dalam lorong yang sempit dan penuh dengan tikus besar yang berlarian kesana kemari.

Setelah berlari selama beberapa menit, akhirnya dia keluar dari lorong dan menemukan dirinya berada di tengah padang rumput tinggi yang dikelilingi oleh pepohonan besar dengan daun yang berwarna biru kehijauan. Di kejauhan terlihat sebuah desa kecil dengan rumah-rumah yang terbuat dari batu bata berwarna emas. Dia bergegas ke arah desa itu, berharap bisa menemukan tempat untuk bersembunyi dan mencari tahu lebih banyak tentang sejarah penerus kekuatan nya—terutama tentang nama Rara yang ada di daftar surat Lia.

Saat memasuki desa, semua warga yang tadinya sibuk dengan aktivitas mereka berhenti sejenak dan menatap Dika dengan mata penuh rasa hormat. Seorang wanita tua dengan rambut putih yang panjang mendekatinya dan menyentuh kalung bintang delapan di lehernya. "Kamu adalah penerus yang kita tunggu-tunggu," ujarnya dengan suara lembut tapi penuh makna. "Aku adalah nenek Lia—dan aku bisa melihat bahwa kamu membawa pesan penting dari dunia lain, bukan?"

Dika terkejut dan segera menjawab, "Betul, Bunda. Aku menemukan surat dari Lia dan nama terakhir sebelum aku adalah Rara. Siapa dia sebenarnya? Dan bagaimana cara kita menghentikan Ratu Serpentina?"

Wanita tua itu menghela napas panjang lalu mengajak Dika masuk ke dalam rumah kayu besar yang menjadi tempat berkumpulnya para pemimpin desa. Di dalamnya ada sebuah ruangan bawah tanah yang lebih besar dari yang dia bayangkan, dengan dinding yang dipenuhi lukisan kuno yang menggambarkan perjalanan para penerus kekuatan antar dunia. "Rara adalah penerus sebelum kamu yang hilang ratusan tahun yang lalu," mulai wanita tua itu menjelaskan. "Dia berasal dari dunia nyata dan datang ke sini untuk membantu kita menutup pintu yang mulai terbuka. Tapi saat itu Ratu Serpentina hampir berhasil menguasainya, jadi dia harus menggunakan kekuatan terakhir nya untuk menyembunyikan pintu dan menghapus ingatan dirinya sendiri agar kekuatannya tidak jatuh ke tangan yang salah. Kini kamu dan Rara yang baru harus bekerja sama untuk menutup pintu secara permanen—karena kali ini pintu tersebut mulai terbuka lagi dengan sendirinya akibat energi negatif yang terlalu kuat di kedua dunia."

Sementara itu, pasukan Ratu Serpentina sudah menemukan jejak Dika dan mulai mendekati desa. Wanita tua itu cepat mengambil sebuah tongkat ajaib yang terbuat dari kayu pohon beringin tua dan memberikannya kepada Dika. "Ini adalah Tongkat Penyeimbang—hanya bisa digunakan oleh penerus yang benar. Dengan ini kamu bisa berkomunikasi langsung dengan Rara di dunia nyata dan bersama-sama mencari lokasi pintu utama yang berada di kedua dunia sekaligus. Sekarang kamu harus pergi ke Gunung Api Biru—tempat dimana pintu pertama kali terbuka ratusan tahun yang lalu!"

KEMBALI KE DUNIA NYATA

Rara sedang fokus menulis adegan tentang perjalanan Dika ke desa tua ketika tiba-tiba laptop nya menyala terang sekali dan layar nya menunjukkan gambar langsung dari dunia pararel—Dika sedang berdiri bersama wanita tua yang disebut nenek Lia, dengan tongkat ajaib di tangannya. Rara terkejut dan berdiri kesakitan, tidak menyangka bahwa dia bisa melihat dunia cerita nya secara langsung seperti ini.

"Rara! Kamu bisa mendengar aku kan?" suara Dika terdengar jelas dari speaker laptop nya.

"Dika! Ya aku bisa mendengar dan melihat kamu juga! Ini benar-benar terjadi?" tanya Rara dengan suara penuh kagum.

"Betul sekali. Kita harus bekerja sama cepat. Nenek Lia bilang pintu utama berada di Gunung Api Biru di dunia ku, dan di dunia mu itu pasti ada tempat yang sesuai dengan lokasi yang sama. Kita harus menemukan tempat itu dan datang bersamaan untuk menutup pintunya sebelum Ratu Serpentina sampai!"

Rara langsung mengambil peta Jawa Timur yang ada di dinding kamar nya. Dia mencari lokasi gunung yang mungkin sesuai dengan deskripsi Gunung Api Biru di cerita nya. Setelah beberapa saat mencari, dia menemukan bahwa lokasi yang sesuai adalah Gunung Bromo—tempat yang selalu membuatnya merasa ada hubungan khusus sejak kecil. "Aku menemukan nya! Di dunia ku lokasinya adalah Gunung Bromo! Tapi bagaimana kita bisa datang bersamaan ke masing-masing lokasi kita?"

"Kamu harus menulis adegan nya di cerita mu—karena setiap kata yang kamu tulis akan memengaruhi dunia ku dan membantu kita bergerak lebih cepat. Selain itu, Pak Joko akan membawamu ke sana. Dia sudah menunggu di luar rumah mu sekarang!"

Rara langsung berlari ke luar rumah dan melihat Pak Joko berdiri dengan mobil tua yang sudah siap mengantar nya. Tanpa banyak bicara, mereka langsung berangkat menuju Gunung Bromo. Di jalan, Pak Joko mulai menjelaskan tentang semua yang terjadi ratusan tahun yang lalu—bagaimana Rara yang dulu berhasil menyelamatkan kedua dunia tapi harus mengorbankan ingatannya sendiri. "Kamu harus kuat ya, Rara. Kali ini kita tidak hanya menyelamatkan dunia kita masing-masing, tapi juga masa depan kedua dunia yang terhubung erat satu sama lain," ujar Pak Joko dengan suara penuh harapan.

Saat mereka sampai di kaki Gunung Bromo, langit sudah mulai mendung dan ada rasa getaran yang kuat dari dalam tanah. Rara mengambil laptop nya dan mulai menulis adegan dimana Dika juga sedang sampai di kaki Gunung Api Biru di dunia pararel nya. Saat dia mengetik kalimat terakhir—"Kedua penerus berdiri di depan pintu yang mulai terbuka dengan cahaya merah menyala terang"—tiba-tiba tanah bergoyang hebat dan sebuah cahaya terang muncul dari balik reruntuhan batu besar di depan nya. Pintu antar dunia yang sebenarnya mulai terbuka lagi!

Di dunia pararel, Dika juga melihat pintu yang sama terbuka dengan cahaya yang sama kuatnya. Ratu Serpentina dengan pasukannya sudah mulai mendekati dari kejauhan, dengan suara tertawa yang menyeramkan mengisi udara. "Kamu tidak akan pernah berhasil menutup pintu ini! Kekuatan ini akan menjadi milik ku!" teriaknya dengan suara yang menggema.

Rara dan Dika saling melihat melalui pintu yang terbuka—meskipun berada di dunia yang berbeda, mereka bisa merasakan kekuatan yang mengalir dari dalam diri masing-masing. Bersamaan mereka mengangkat tangan mereka—Rara dengan tangan yang sedang mengetik di laptop, dan Dika dengan tangan yang memegang Tongkat Penyeimbang. Cahaya keemasan menyala terang dari kedua tangan mereka, menyatu menjadi satu di tengah pintu yang terbuka.

"BERSAMA KITA AKAN MENUTUP PINTU INI UNTUK SELAMA-LAMA!" teriak mereka berdua serentak.

Cahaya yang menyala semakin kuat, membuat pasukan Ratu Serpentina terpental jauh ke belakang. Pintu antar dunia mulai perlahan tertutup, dengan simbol bintang delapan yang muncul di tengah nya sebagai tanda bahwa pintu tersebut telah terkunci dengan aman. Saat pintu benar-benar tertutup, Rara merasa tubuh nya menjadi lemah dan jatuh ke tanah—sedangkan di dunia pararel, Dika juga merasakan hal yang sama dan duduk dengan lelah di atas batu besar.

Kembali di dunia nyata, Pak Joko mendekati Rara dan membantu dia berdiri. "Kamu berhasil, Rara. Kamu dan Dika berhasil menyelamatkan kedua dunia," ujarnya dengan senyum bangga. Rara melihat ke arah reruntuhan batu yang sekarang sudah kembali tenang, lalu melihat layar laptop nya yang menampilkan akhir adegan di dunia pararel—Dika sedang disambut dengan sukacita oleh warga desa, dengan janji bahwa dia akan menjaga kedamaian dunia pararel tersebut.

Namun di bagian akhir halaman cerita nya, muncul sebuah kalimat yang tidak pernah Rara tulis: "Tetapi ini bukanlah akhir cerita—karena masih ada banyak pintu lain yang tersembunyi di berbagai dunia, dan ancaman baru akan segera muncul..."

Rara merasa bulu kuduk nya merinding, tapi dia juga merasa ada keyakinan di dalam hatinya bahwa jika ada ancaman lagi, dia dan Dika akan siap untuk menghadapinya bersama-sama. Dengan tangan yang masih sedikit gemetar, dia mulai mengetik judul untuk Bab selanjutnya—"BAB 9: JEJAK PINTU YANG TERSEMBUNYI".

1
Anna
Thor maaf sekali, tapi ini cerita kamu sebener ee mau novel apa cerpen kok tiap bab beda. bukan beda alur tapi beda isi cerita. padahal tema judul kamu bagus lho. 🙏🙏
Anna
kok agak bingung ya, kan di bab 2 mira sudah kabur sama jaka, kenapa di bab 3 baru ketemu? tapi di awal ada mereka ketemu, eh ketemu atau belum ketemu 🙏🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!