NovelToon NovelToon
Milik Sang Penguasa

Milik Sang Penguasa

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu
Popularitas:36.1k
Nilai: 5
Nama Author: Vaelisse

Arabelle, seorang barista, tak menyangka hidupnya akan berubah ketika Lorenzo Devereaux, pemimpin dunia bawah yang dikenal sebagai Damon, datang menagih utang ayahnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vaelisse, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

26

Lorenzo menghentikan mobil tepat di pintu masuk sebuah pantai. Ia turun lebih dulu dan membuka pintu untuk Arabelle.

"Sampai sudah. Turun."

Arabelle melangkah keluar dengan ekspresi bingung, matanya menyapu sekeliling. "Pantai? Kita mau apa di sini?"

"Turun dulu, lihat sendiri," jawab Lorenzo.

Ia menyatukan tangannya dengan tangan Arabelle, dan mereka berjalan maju ke arah air, menuruni anak tangga dari batu yang mengarah ke bawah.

Lalu Arabelle melihatnya.

Olivia berdiri di sana, tersenyum. Di sebelahnya ada seorang gadis yang wajahnya persis seperti foto yang pernah Olivia tunjukkan, Belle. Dan di samping Belle, seorang pria yang Arabelle perkirakan adalah Liam. Di sekeliling mereka, orang-orang lain yang tidak Arabelle kenal berpencar dalam jarak yang teratur, seolah sudah menunggu.

"Ini... apa maksudnya, Lorenzo?" tanya Arabelle pelan.

Matanya berpindah, dan di situlah ia melihatnya, huruf-huruf besar yang terbentang di hadapannya:

MARRY ME.

Arabelle mematung.

Lorenzo mengambil sebuah kotak merah berbentuk hati dari sakunya, lalu berlutut di hadapannya. Suasana di sekeliling mereka hening seketika.

"Arabelle," katanya, suaranya lebih lembut dari yang biasa Arabelle dengar, "aku tahu kita belum lama saling kenal. Tapi dari semua waktu yang sudah kita lewati bersama, aku semakin yakin, kamu memang diciptakan untuk menjadi milikku, dan aku milikmu. Aku mencintaimu tanpa batas. Maukah kamu menikah denganku?"

Air mata jatuh tanpa Arabelle sadari, bukan dari kesedihan, tapi dari sesuatu yang jauh lebih besar dari sekadar kebahagiaan yang bisa ia namakan.

"Ya, tentu saja!" jawabnya, suaranya pecah di ujung.

Lorenzo tersenyum, senyum yang jarang sekali muncul, tapi selalu berhasil membuat segalanya terasa berhenti. Semua orang yang hadir bertepuk tangan dan berseru, dan confetti meletus dari segala arah, berterbangan di atas kepala mereka berdua.

Arabelle memeluk Lorenzo erat. Ia membalasnya, dan perlahan memasangkan cincin di jari Arabelle, sempurna, seperti sudah selalu ada di sana.

Lorenzo mencium bibirnya dengan lembut. Ketika mereka terpisah, seluruh keluarga Lorenzo sudah mengelilingi mereka. Ada sedikit rasa sesak di dada Arabelle karena keluarganya tidak ada di sini, tapi ia menyimpan itu dalam hati. Nanti, kalau sudah pulang, ia akan menceritakan semuanya.

**

Mereka duduk bersama di meja bundar Arabelle, Lorenzo, Olivia, Belle, dan Liam. Makanan sudah tersaji, dan obrolan mengalir hangat sejak menit pertama.

"Kamu cantik sekali. Mama sudah cerita banyak tentang kamu," kata Belle, matanya berbinar ramah.

"Terima kasih, kamu juga sangat menyenangkan," jawab Arabelle.

"Sudah berapa lama kalian bersama?" tanya Liam.

"Belum lama," jawab Lorenzo, "tapi rasanya sudah bertahun-tahun." Ia melingkarkan lengannya di bahu Arabelle.

"Aduh, manisnya," kata Belle dengan nada manja yang membuat semua orang tertawa.

Malam itu terasa ringan dan penuh. Arabelle bicara banyak dengan keluarga Lorenzo, dan tanpa ia sadari, ia sudah merasa nyaman di antara mereka seperti orang yang sudah lama dikenal.

Ketika malam makin larut, Belle yang pertama berdiri. "Mama, aku dan Liam pamit ya. Sudah malam dan aku capek."

Olivia mengangguk, lalu menoleh ke Arabelle. "Kalian juga pulang istirahat. Besok pagi sarapan bersama di rumah ya, sarapan keluarga."

Arabelle terkikik. "Pasti datang. Kan, Lorenzo?"

"Iya, kita datang, Ma," jawab Lorenzo.

Mereka semua beranjak dari meja dan berjalan bersama ke arah kendaraan masing-masing. Langit Roma malam itu gelap dan penuh bintang, udara dingin menyentuh kulit dengan lembut.

**

Di dalam mobil, sepanjang perjalanan pulang ke vila, Arabelle tidak bisa berhenti memandangi tangannya. Cincin itu berkilat halus setiap kali tertimpa cahaya lampu jalan yang lewat.

"Kamu suka?" tanya Lorenzo.

"Sangat suka," jawab Arabelle pelan.

Lorenzo menggenggam tangannya dan tidak melepaskannya sampai mereka tiba.

Di vila, salah satu staf memarkirkan mobil sementara Lorenzo menyerahkan kunci. Mereka masuk ke dalam dan naik ke kamar mereka.

Arabelle melepas jaket dan meletakkan tasnya di meja. Belum sempat ia beranjak jauh, sepasang tangan melingkar di pinggangnya dari belakang, diikuti kecupan-kecupan lembut di lehernya.

Arabelle menghela napas pelan, lalu berbalik menghadap Lorenzo.

"Betapa aku mencintaimu," katanya, mengangkat Arabelle dengan mudah.

"Aku juga mencintaimu," jawab Arabelle, dan Lorenzo tersenyum.

Ia memakai celana hitam longgar dan tidak berbaju, tato dan lekuk ototnya tampak jelas di bawah cahaya kamar yang redup.

Lorenzo mulai menciumnya, dalam, penuh, seperti orang yang sudah lama menahan diri. Pelan-pelan bibirnya berpindah ke leher, ke tulang selangka Arabelle. Ia menarik napas panjang di sana.

"Wanginya selalu begini," gumamnya.

Arabelle memejamkan mata.

Ia melempar Arabelle pelan ke atas kasur, dan malam itu milik mereka berdua saja, perlahan, intim, dan penuh dengan sesuatu yang tidak perlu diucapkan.

Setelahnya, mereka berbaring berdampingan dalam diam yang nyaman. Lorenzo mematikan lampu. Arabelle tidak repot-repot mencari piyamanya.

"Selamat malam," kata Lorenzo, mendaratkan kecupan di kening Arabelle.

"Selamat malam," balas Arabelle.

Dan mereka terlelap, berdekatan, dalam ketenangan yang terasa seperti milik mereka sendiri.

**

Pagi datang dengan cahaya tipis yang menyelinap masuk.

Arabelle membuka mata dan mendapati Lorenzo masih tidur di sisinya, wajahnya tenang, semua ketegangan yang biasa ada di sana lenyap sepenuhnya. Ia terlihat seperti orang yang berbeda ketika tidur.

Arabelle menyentuh pipinya pelan. Lorenzo bergerak, matanya terbuka perlahan.

"Selamat pagi, istriku," katanya, suaranya masih berat, dan langsung menarik Arabelle lebih dekat.

Arabelle tersenyum mendengar kata itu. "Selamat pagi."

Lorenzo mengubur wajahnya di leher Arabelle sebentar, seperti tidak ingin benar-benar bangun.

"Aku mau mandi," kata Arabelle akhirnya.

Lorenzo mengangguk tanpa melepaskan pelukannya dulu.

Arabelle mengambil ponselnya dari meja, jam menunjukkan pukul 09.21. Ia bangkit, berjalan ke kamar mandi di dalam kamar mereka, dan menyalakan shower. Air hangat mengalir, dan ia menikmatinya lebih lama dari yang perlu tubuhnya masih sedikit lelah dari semalam, dan hawa pagi yang dingin membuat ia enggan buru-buru keluar.

Setelah selesai, Arabelle melingkari handuk di tubuhnya, mengeringkan rambutnya, lalu menggosok gigi. Ia berjalan ke lemari pakaian untuk memilih baju, hari ini ada sarapan keluarga, dan ia ingin tampil dengan baik.

1
Amoyy
bagus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!