NovelToon NovelToon
SELESAI MENJADI SABAR

SELESAI MENJADI SABAR

Status: sedang berlangsung
Genre:Ibu Mertua Kejam / Slice of Life / Penyesalan Suami / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Penyesalan Keluarga / Suami Tak Berguna
Popularitas:3.9k
Nilai: 5
Nama Author: Sefna Wati

Lima tahun Hana mengabdi sebagai istri dan menantu yang sempurna, meski hanya dianggap sebagai pelayan tak berbayar. Ia rela makan sisa rendang di ujung meja dan menelan hinaan setiap hari demi keutuhan rumah tangga.
Namun, saat Hana menemukan Aris—suaminya—sengaja menyembunyikan uang puluhan juta sementara putra mereka terancam putus sekolah karena SPP menunggak, Hana sadar: kesabarannya telah habis.
Hana pergi membawa ijazah akuntansi yang selama ini berdebu di gudang. Dari seorang ibu rumah tangga yang tertindas, ia bertransformasi menjadi akuntan tangguh di bawah bimbingan Adrian, CEO dingin yang membantunya mengungkap borok finansial keluarga Aris.
Hana tidak membalas dengan amarah, ia membalas dengan cara yang paling menyakitkan: menjadi jauh lebih sukses dan menghancurkan harga diri Aris di meja hukum. Ternyata, berhenti menjadi sabar adalah keputusan terbaik dalam hidupnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sefna Wati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 5: Benang Tipis di Ujung Kesabaran

Pagi di Jakarta selalu punya cara untuk mengingatkan Hana bahwa waktu tidak pernah menunggu siapa pun yang sedang bersedih. Di kontrakannya yang sempit, Hana sedang merapikan seragam sekolah Gilang. Ia memastikan kerah kemeja anaknya tegak sempurna, sebuah detail kecil yang selalu ia jaga agar anaknya tidak terlihat seperti anak dari keluarga yang hancur.

"Mama, nanti yang jemput Gilang siapa? Ayah bilang kemarin mau jemput pakai mobil baru," tanya Gilang polos sambil mengikat tali sepatunya.

Tangan Hana terhenti sejenak di pundak Gilang. Ada rasa perih yang menusuk. Aris bahkan masih sempat menjanjikan kemewahan palsu pada anaknya di tengah kehancurannya sendiri.

"Nanti Mama yang jemput, atau Tante Siti. Gilang jangan ikut siapa pun ya, meskipun itu Ayah, kalau tidak ada kabar dari Mama. Mengerti?" pesan Hana, matanya menatap dalam ke mata putranya.

Hana tahu Aris sedang terdesak. Uang dua ratus lima puluh juta bukan jumlah yang kecil bagi seorang karyawan tingkat menengah seperti Aris. Apalagi setelah uangnya habis untuk "gengsi" di teras rumah ibunya.

Siang harinya, kantor Pak Baskoro kedatangan tamu yang tak terduga. Bukan Aris, melainkan seorang pria muda dengan setelan jas yang sangat pas di tubuhnya, membawa aura profesionalisme yang sangat kontras dengan ruko tersebut.

"Hana, perkenalkan, ini Adrian," ujar Pak Baskoro dengan nada bangga. "Dia adalah pemilik Wiratama Konstruksi. Dia sedang mencari kepala keuangan baru untuk proyek ekspansinya. Saya sudah ceritakan bagaimana kamu membongkar kasus Gunawan kemarin."

Hana berdiri, sedikit merapikan blazernya yang sederhana namun bersih. Ia menjabat tangan Adrian. Genggaman pria itu mantap, namun tatapan matanya tajam, seolah sedang membedah karakter Hana dalam sekali pandang.

"Hana Anindita," sapa Hana singkat.

"Saya sudah melihat hasil auditmu terhadap CV. Maju Jaya, Hana. Sangat detail, bahkan sampai ke pola penarikan ATM yang tidak wajar," suara Adrian berat dan tenang. "Jarang ada akuntan yang punya insting detektif seperti itu. Tapi saya harus jujur, perusahaan saya jauh lebih kompleks daripada ruko ini. Kamu yakin bisa menangani tekanan yang lebih besar?"

Hana tidak berpaling. "Tekanan terbesar dalam hidup saya bukan berasal dari angka di atas kertas, Mr. Adrian, tapi dari orang-orang yang mencoba menghapus eksistensi saya. Jika saya bisa bertahan dari itu, angka-angka di perusahaan Anda hanyalah masalah teknis yang mudah diselesaikan."

Adrian terdiam sejenak, lalu sebuah senyum tipis—hampir tak terlihat—muncul di sudut bibirnya. "Menarik. Saya tunggu kamu besok di kantor pusat saya untuk tes teknis. Pak Baskoro sangat menjagokanmu, jangan bikin dia malu."

Namun, kebahagiaan kecil itu seketika sirna saat ponsel Hana bergetar hebat di atas meja. Sebuah pesan suara dari guru sekolah Gilang masuk dengan nada panik.

"Bu Hana, maaf sekali, tadi ada pria yang mengaku ayahnya Gilang menjemput paksa Gilang sebelum jam pulang. Kami mencoba menahan, tapi dia bilang ada keadaan darurat dengan neneknya. Gilang sekarang dibawa pergi dengan mobil putih."

Hana merasa dunianya seolah tersedot ke dalam lubang hitam. Jantungnya berdegup kencang hingga telinganya berdenging. Tanpa pamit pada Pak Baskoro atau Adrian, Hana menyambar tasnya dan berlari keluar ruko.

Hana sampai di rumah Aris dalam waktu tiga puluh menit dengan napas memburu. Ia menendang pintu depan yang tidak terkunci, sebuah tindakan yang tak pernah ia bayangkan akan ia lakukan dulu.

Di ruang tengah, di atas keramik Italia yang mengkilap itu, Gilang sedang duduk ketakutan di sudut kursi. Di hadapannya, Aris sedang duduk sambil merokok dengan santai, sementara Ibu Salma dan Maya menonton dengan wajah yang seolah-olah tidak terjadi apa-apa.

"Kembalikan Gilang padaku, Aris!" teriak Hana, suaranya melengking penuh amarah yang murni.

Aris berdiri, membuang puntung rokoknya ke lantai keramik yang mahal itu—sebuah ironi yang menyakitkan. "Oh, sang akuntan hebat sudah pulang? Santai saja, Han. Ini rumah bapaknya, wajar kalau dia di sini."

"Kamu menculiknya dari sekolah! Itu kriminal, Aris!"

"Kriminal?" Aris tertawa sinis, langkahnya mendekat ke arah Hana. "Yang kriminal itu istri yang membongkar aib suaminya sendiri sampai suaminya terancam masuk penjara. Dengar, Hana. Pak Baskoro minta uang itu kembali dalam tiga hari. Aku tidak punya uangnya. Ibu juga tidak punya."

Ibu Salma angkat bicara dari kursi goyangnya, suaranya tetap penuh racun. "Hana, sudahlah. Kamu kembali saja ke sini. Minta maaf pada Pak Baskoro, cabut laporan itu, bilang kalau kamu salah hitung. Kalau kamu lakukan itu, Gilang aman di sini. Kita bisa jadi keluarga lagi."

Hana menatap Ibu Salma dengan rasa muak yang tak terhingga. "Ibu pikir anak saya itu barang jaminan? Setelah apa yang kalian lakukan padaku?"

"Hana, pilihannya cuma dua," Aris memotong dengan nada mengancam. "Kamu bantu aku selesaikan masalah di kantor Pak Baskoro, atau Gilang tetap di sini dan aku akan urus hak asuh anak dengan alasan kamu tidak punya tempat tinggal yang layak dan pekerjaan tetap. Kamu pikir hakim akan kasih anak pada wanita yang tinggal di kontrakan sempit dan kumuh?"

Hana menatap Gilang yang mulai menangis. "Mama... aku mau pulang..."

Hati Hana hancur berkeping-keping. Aris benar-benar menggunakan titik terlemahnya untuk memerasnya. Selama lima tahun ia sabar dihina, tapi kali ini, mereka menyentuh nyawanya.

"Kamu ingin aku membantu? Baik," suara Hana mendadak dingin dan rendah. Ia tidak lagi berteriak. "Aku akan bantu kamu mendapatkan apa yang layak kamu dapatkan, Aris."

Hana berjalan mendekat, menarik Gilang ke dalam pelukannya dengan sangat erat. Ia menatap Aris lurus-lurus ke matanya. "Aku akan datang ke kantor Pak Baskoro besok. Tapi jangan harap aku akan menarik laporan itu. Aku akan memastikan setiap sen yang kamu curi, setiap air mata yang Gilang tumpahkan hari ini, akan dibayar dengan kehancuranmu yang paling hina."

Hana membawa Gilang keluar dari rumah itu. Aris mencoba menghalangi, namun Hana mengeluarkan ponselnya.

"Aku sudah merekam pembicaraan ini sejak aku masuk. Dan di luar, ada Pak Baskoro dan pengacaranya yang sudah aku hubungi lewat pesan singkat tadi. Kamu mau tambah pasal penculikan anak di laporanmu, Aris? Silakan coba satu langkah lagi."

Aris terpaku. Ia melihat ke arah jalan, di mana sebuah mobil hitam mewah—mobil milik Adrian yang ternyata mengikuti Hana karena cemas—berhenti tepat di depan pagar. Adrian turun dari mobil dengan wajah yang sangat dingin, auranya begitu mengintimidasi hingga Aris menciut seketika.

Hana berjalan melewati Aris tanpa menoleh. Di dalam mobil Adrian, Hana mendekap Gilang yang gemetar.

"Terima kasih sudah mengikuti saya, Mr. Adrian," ucap Hana dengan suara yang hampir habis.

Adrian menatap Hana lewat kaca spion. Ia melihat seorang wanita yang hancur namun tetap tegak berdiri. "Saya tidak suka melihat aset berharga saya diganggu oleh orang-orang amatir, Hana. Mulai besok, kamu bekerja di kantor saya. Dan soal pria di dalam sana... biar tim hukum saya yang membereskan sisanya."

Malam itu, Hana menyadari satu hal. Masa lalu mungkin masih mencoba merantainya, tapi ia baru saja mendapatkan pedang yang lebih besar untuk memutuskannya.

1
❤️⃟WᵃfTɑ˪ˡʈʜΑ𝐇⃟⃝ᵧꕥ
terlambat sudah penyesalan mu Aris mau gimana pun kamu memohon agar Hana mau kembali tetep aja hasilnya nihil karna Hana sekarang bukan Hana yang dulu lagi
❤️⃟WᵃfTɑ˪ˡʈʜΑ𝐇⃟⃝ᵧꕥ
kok gak Aris gak emak nya sama² ngeyel sih udah tau nanti kena ulti sama Hana eh masih aja mau gangguin Hana 😒
❤️⃟WᵃfTɑ˪ˡʈʜΑ𝐇⃟⃝ᵧꕥ
baguslah akhirnya sekarang Hana bisa hidup tenang dan terbebas dari hama² ini
❤️⃟WᵃfTɑ˪ˡʈʜΑ𝐇⃟⃝ᵧꕥ
pelajaran nya disini tu jangan pernah meremehkan orang dari penampilan nya,berawal dari Hana yang diperlakukan seperti babu sekarang malah lebih bersinar dari orang² yang dulu memerintah nya
❤️⃟WᵃfTɑ˪ˡʈʜΑ𝐇⃟⃝ᵧꕥ
kapokkk modyar aee kau Aris bisa² habis sudah semua harta haram mu itu 😂😂
❤️⃟WᵃfTɑ˪ˡʈʜΑ𝐇⃟⃝ᵧꕥ
sok²an meremehkan ni si Aris jangan kira karna Hana dulu diperlakukan seperti babu bukan berarti fungsi kepintaran di otak nya udah gak kerja yaa 😏
❤️⃟WᵃfTɑ˪ˡʈʜΑ𝐇⃟⃝ᵧꕥ
karma mu Aris bahkan anak mu aja gak Sudi lagi sama kamu lagian bisa² nya dia beli keramik baru tapi anak nya aja nunggak SPP 😒
❤️⃟WᵃfTɑ˪ˡʈʜΑ𝐇⃟⃝ᵧꕥ
kok si Aris makin gak ngotak ya emang gak punya tangan ya buat mijet doang masak Hana Mulu yang gerak 😑
❤️⃟WᵃfTɑ˪ˡʈʜΑ𝐇⃟⃝ᵧꕥ
emang sih semua orang itu punya batas kesabaran gak semua orang itu tahan disakiti berkali kali apa lagi sama keluarga nya sendiri
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!