Kaburnya Alana dari rumah justru menyeretnya ke dunia Arka, lelaki berkuasa yang menjadikannya pelayan sebagai ganti rugi sebuah insiden.
Beberapa bulan kemudian Arka memutuskan untuk menikahi Alana hanya untuk melindunginya dari perjodohan orang tuanya.
Tanpa penjelasan Alana diusir oleh orang tua Arka. Beberapa saat kemudian, ia kembali dengan kehamilan di rahimnya, hinaan menjadi balasan, anak itu dituduh milik Rafael, abang iparnya Arka, mafia berdarah dingin.
Alana memutuskan selamanya pergi dari hidup Arka. Akhirnya dia kembali ke rumah Rafael, pria paling berbahaya yang justru menjadi pelindungnya.
Di antara cinta dan pengkhianatan, siapa yang akan menghancurkan Alana lebih dulu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mama reni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab Dua Puluh Sembilan
Arka tak menjawab pertanyaan mamanya. Dia masih berusaha menenangkan Revan yang kembali menangis histeris. Bocah itu minta diantar ke kamar. Arka mengantar dan membiarkan dia tenang. Dia juga kembali ke meja kerjanya.
Rumah besar itu terasa ada yang salah sejak pagi. Biasanya, jam segini aroma masakan Alana sudah menguar dari dapur. Suara langkah kakinya ringan, sesekali diselingi gumaman kecil saat ia berbicara sendiri. Revan biasanya sudah duduk di meja makan, menggoyang-goyangkan kaki kecilnya sambil menunggu disuapi.
Tapi pagi ini meja makan kosong. Revan mengurung diri di kamar.
Sudah hampir satu jam Bi Marni berdiri di depan pintu itu, membawa nampan berisi bubur ayam kesukaan Revan. Buburnya masih hangat. Asapnya tipis mengepul, tapi harapannya mulai menipis.
“Revan …,” panggil Bi Marni lembut dari balik pintu. “Ini buburnya Bibi bawain. Kamu kan belum makan dari pagi.”
Tidak ada jawaban. Bi Marni menarik napas, mencoba lagi. “Kalau tidak makan, nanti perutmu sakit, Nak.”
Hening sesaat. Lalu, suara isakan kecil terdengar dari dalam. Disusul suara Revan yang serak, pecah oleh tangis yang ditahan terlalu lama.
“Aku mau makan sama Mbak Alana ….”
Bi Marni menutup mata. Dadanya ikut sesak.
“Revan, Mbak Alana lagi …,” Dia ragu melanjutkan. Kata pergi terasa terlalu kejam untuk bocah sekecil itu.
Pintu tiba-tiba dibanting dari dalam.
“Aku nggak mau makan!” Revan berteriak. “Aku mau Mbak Alana! Aku nggak mau Bi! Aku nggak mau siapa-siapa!”
Teriakan itu menggema di lorong. Arka yang baru saja turun dari ruang kerja berhenti melangkah. Tangannya refleks mengepal. Rahangnya mengeras.
Sudah sejak tadi pagi kepalanya terasa seperti dihantam palu bertubi-tubi. Kurang tidur, emosi yang belum reda, dan sekarang teriakan Revan seperti menekan luka yang belum sempat mengering.
Dia melangkah cepat menuju kamar Revan. “Revan,” panggilnya sambil mengetuk pintu. Tidak keras, tapi cukup tegas. “Buka pintunya.”
“Aku nggak mau!” suara Revan melengking. “Oom bohong! Oom bilang mau cari Mbak Alana!”
Kalimat itu menghantam Arka lebih telak dari yang ia duga. Tangannya berhenti di udara.
“Oom lagi cari,” ucap Arka akhirnya, suaranya lebih pelan. “Tapi kamu harus makan dulu.”
“Kalau Mbak Alana nggak balik, aku nggak mau makan selamanya!” teriak Revan, disusul tangis keras yang membuat dada Arka ikut bergetar.
Arka menghela napas panjang. Ia menoleh ke Bi Marni yang berdiri tak jauh darinya, wajah perempuan itu penuh rasa bersalah dan kelelahan.
“Bi, biarin dulu,” ujar Arka lirih. “Nanti biar saya yang masuk.”
Bi Marni ragu. “Tapi, Tuan ....”
“Biar saya.”
Bi Marni mengangguk pelan dan menjauh, meski langkahnya berat. Arka memutar kenop pintu. Tidak terkunci.
Begitu pintu terbuka, pemandangan itu langsung menyayatnya.
Revan duduk meringkuk di sudut ranjang, memeluk bantal kecil berwarna biru, bantal yang biasanya dibawakan Alana setiap malam sebelum tidur. Matanya sembab, pipinya basah. Di sekelilingnya, mainan berserakan, tak satu pun disentuh.
Arka melangkah mendekat perlahan, lalu duduk di tepi ranjang.
“Oom …,” Revan terisak. “Kenapa Mbak Alana pergi?”
Pertanyaan itu sederhana. Tapi Arka tidak punya jawabannya.
Dia mengusap wajahnya sendiri pelan, lalu menarik Revan ke pelukannya. Tubuh kecil itu langsung menempel, seolah takut kehilangan lagi.
“Oom lagi cari dia,” ulang Arka, lebih kepada dirinya sendiri. “Percaya sama Oom.”
Revan tidak menjawab. Tangisnya pelan, melemah, tapi tidak berhenti. Arka menatap lurus ke depan. Dan tanpa ia kehendaki, ingatannya kembali ke malam tadi.
Alana dengan mata merah, tubuhnya kaku, suaranya gemetar saat memohon agar Arka berhenti. Tangannya yang mendorong, tapi kalah kuat. Tangis yang tercekik, bukan karena sakit fisik saja, tapi karena hancurnya kepercayaan.
Arka mengatupkan mata kuat-kuat. Apa aku yang membuatnya pergi?
Dadanya mengencang ingat punggung Alana yang bergetar setelahnya. Ingat caranya membalikkan badan, membungkus diri dengan selimut, seolah ingin menghilang. Ingat tatapan kosongnya,tatapan yang tidak marah, tidak berteriak, hanya seperti hampir mati.
Arka menelan ludah. Atau dia pergi Mama?
Bayangan Mama Ratna dengan senyum tipisnya muncul. Kalimatnya yang dingin. Orang seperti dia memang tidak pantas di rumah ini.
Arka membuka mata. Tangannya tanpa sadar mencengkeram sprei.
Entah mana yang lebih menyakitkan: kemungkinan bahwa ia menghancurkan Alana sendiri, atau kenyataan bahwa ibunya mungkin mengusirnya tanpa ampun. Atau dua-duanya.
“Oom …,” Revan berbisik. “Mbak Alana marah sama aku ya?”
Arka langsung menunduk. “Tidak,” ucapnya cepat. “Tidak ada hubungannya sama kamu.”
“Tapi dia pergi ….”
Arka mengusap rambut Revan. “Dia sayang kamu. Dia pasti mikirin kamu sekarang.” Kata-kata itu terasa seperti kebohongan yang dipaksakan.
Beberapa jam berlalu. Revan tetap tidak mau makan. Bahkan saat Arka sendiri yang menyuapi, bocah itu hanya menggeleng, bibirnya mengatup rapat.
Akhirnya, Revan tertidur karena lelah menangis. Arka berdiri di depan jendela kamar Revan, menatap halaman luas rumah itu tanpa benar-benar melihat.
Keputusan itu diambilnya saat itu juga. Arka meraih ponsel. Satu nama dipanggil.
“Cari Alana,” perintah Arka begitu sambungan tersambung. Tidak ada basa-basi. “Aku mau tahu dia di mana. Sekarang.”
“Baik, Tuan,” jawab suara di seberang. “Ada petunjuk khusus?”
Arka terdiam sejenak. “Cek semua tempat yang mungkin. Dan …,” Dia berhenti, rahangnya mengeras. “Fokus juga ke orang-orang lama.”
Ia menutup telepon. Waktu terasa berjalan lambat. Terlalu lambat.
Arka kembali ke ruang kerja. Berkas-berkas terbuka di mejanya, tapi tak satu pun terbaca. Pikirannya penuh oleh satu nama. Alana.
Beberapa jam kemudian, ponselnya bergetar. Nama bawahannya muncul di layar.
Arka mengangkat cepat. “Dapat?”
“Ada, Tuan.”
Napas Arka tertahan. “Di mana?”
Ada jeda sepersekian detik di seberang sana, cukup lama. Sepertinya ragu untuk menjawab “Alana ada di rumah Tuan Rafael.” Kalimat itu seperti ledakan.
“Apa?” suara Arka langsung meninggi. “Ulangi.”
“Di rumah Tuan Rafael, Tuan,” ulang bawahannya hati-hati. "Kami telah menyelidiki. Dari malam tadi dia di rumah Tuan Rafael!" lapor pria itu.
Dunia Arka seolah menyempit. Rafael. Nama itu sudah lama menjadi duri di hidupnya. Ayah kandung Revan. Pria yang ia benci dengan seluruh napasnya.
Tangannya bergetar. “Kenapa dia di sana?” Arka bertanya dengan suaranya yang dingin, nyaris tanpa emosi dan itu tanda paling berbahaya.
Semangaaat Alana,,semogah selamatdan sehat kalian ber dua,,,,setelah ITU balas Dendam Sama Arka,,,,,gimana sakit nya di pangil om sama anak sendiri....
enyah saja kau arka
😡