"Ketika seorang anak ingin dicintai tapi selalu dijadikan alasan"
Kanaya ditinggalkan ibunya sejak bayi berumur 14 bulan dan tumbuh bersama ayah yang selalu menyalahkannya atas setiap kegagalan hidup.
Saat ayahnya menikah lagi, kasih sayang yang dulu sempat ia rasakan perlahan hilang.
Rumah yang seharusnya menjadi tempat pulang berubah menjadi sumber luka.
Kanaya hanya ingin diakui sebagai anak, bukan beban.
Namun semakin ia berusaha, semakin ia disalahkan.
Sampai akhirnya ia hanya bisa bertanya dalam diam—
Ayah, apa salahku?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dinna Wullan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TABUNGAN CINTA DIBALIK AMARAH
Pagi itu, suasana di teras belakang rumah terasa begitu hangat dan intim. Kanaya diletakkan di atas pangkuan Mbok Darmi yang duduk di kursi rendah, sementara Ibu Bagas (Mbah Uti) menyiapkan air hangat dan kapas. Ayah Bagas (Mbah Akung), yang biasanya irit bicara dan hanya duduk di pojok sambil membaca koran, kali ini ikut mendekat. Ia memperhatikan dengan saksama saat Mbok Darmi dengan telaten mengusap bagian ubun-ubun Kanaya menggunakan minyak kelapa untuk melunakkan kerak yang membandel.
Melihat cucunya tenang dalam asuhan mereka, dinding pertahanan Ayah Bagas perlahan runtuh. Ia menghela napas panjang, tatapannya jauh menerawang, mengenang masa-masa sulit yang dilalui Bagas setahun belakangan ini.
"Pelan-pelan saja, Mbok. Kasihan, kulitnya masih tipis sekali," ucap Ayah Bagas dengan suara yang terdengar lebih lunak dari biasanya.
Mbok Darmi tersenyum sambil terus memijat lembut kepala Kanaya. "Inggih, Pak. Ini memang harus sabar. Kok bisa sampai setebal ini ya, Pak?"
Ayah Bagas terdiam sejenak, lalu ia berujar dengan nada suara yang rendah, hampir seperti sebuah pengakuan dosa. "Sebenarnya, saya dulu suka datang diam-diam ke daerah sana, Mbok. Saya tahu Bagas tinggal di gang sempit itu. Saya nggak tega lihat mereka susah, jadi saya suruh orang suruhan buat kasihkan makanan, baju, sama uang titipan saya ke rumahnya," ungkapnya, membuat Mbok Darmi dan istrinya menoleh terkejut.
"Loh, Bapak beneran ke sana?" tanya istrinya dengan mata berkaca-kaca.
Ayah Bagas mengangguk pelan. "Iya, Bu. Saya kasihan sekali lihat cucu saya hidup di tempat pengap begitu. Tapi saya nggak berani muncul sendiri... saya takut kalau diomelin Maya. Kamu tahu sendiri kan, kalau Maya sudah marah, seisi rumah bisa kena semprot. Dia paling benci kalau saya masih bantu Bagas yang sudah bikin malu keluarga."
Mbok Darmi terkekeh kecil sambil menggelengkan kepala. "Oalah, Pak... ternyata di balik galaknya Bu Maya, Bapak lebih takut ya? Tapi ya memang bener, Bu Maya itu kalau sudah prinsip, sulit digoyang."
"Makanya saya main belakang, Mbok," lanjut Ayah Bagas sambil mencoba memegang jemari kecil Kanaya yang bergerak-gerak. "Saya biarkan Bagas merasa dia berjuang sendiri biar dia jadi laki-laki, tapi saya nggak mungkin biarkan cucu saya kelaparan. Sekarang, setelah Maya sendiri yang minta anak ini dibawa pulang, rasanya separuh beban di pundak saya ikut hilang."
Mbah Uti tersenyum haru mendengar pengakuan suaminya. Ternyata, selama ini bukan hanya dia yang menangisi Bagas di setiap sujudnya, melainkan suaminya juga ikut menjaganya dalam diam, bertarung antara rasa sayang dan rasa takut pada kemarahan putri sulung mereka. Di bawah sinar matahari pagi itu, kerak di kepala Kanaya perlahan mulai menghilang, seiring dengan mulai terkikisnya rahasia dan beban hati di dalam keluarga itu.
Siang itu, pekerjaan Mbok Darmi akhirnya membuahkan hasil. Setelah dengan sabar mengoleskan minyak dan menyisir pelan menggunakan sisir bayi yang halus, kerak-kerak di kepala Kanaya mulai terangkat. Mbah Uti kemudian memandikannya dengan air hangat yang dicampur sabun bayi beraroma lavender yang harum. Kanaya yang biasanya rewel saat mandi, kali ini justru tampak menikmati pijatan lembut di kepalanya, hingga ia tertidur pulas dalam bedongan kain yang bersih dan rapi.
Sore harinya, Bagas pulang dengan seragam satpam yang sedikit berdebu dan keringat yang membasahi dahi. Namun, rasa lelahnya hilang seketika saat ia melangkah masuk ke ruang tengah.
"Sudah pulang, Gas?" sapa Mbah Akung yang sedang memangku Kanaya yang sudah bangun dan harum.
Bagas terpaku menatap putrinya. "Loh... kepalanya sudah bersih, Pa?" Bagas mendekat, mengelus rambut halus Kanaya yang kini sudah tidak lagi tampak kusam. "Wanginya sampai ke depan."
"Tadi Mbok Darmi yang urus, dibantu Mbah Uti sama Mbah Akungmu itu," jawab ibunya yang muncul dari dapur sambil membawa teh hangat untuk Bagas. "Bapakmu itu malah tadi yang paling sibuk, Gas. Takut Kanaya kedinginan lah, takut kapasnya kasar lah."
Bagas menatap ayahnya dengan rasa terima kasih yang tak terhingga. Namun, momen hangat itu sedikit terhenti saat terdengar suara motor Mbak Maya di halaman. Tak lama kemudian, Maya masuk dengan wajah lelah sehabis mengajar. Ia meletakkan tasnya di meja, melepas kacamata, dan langsung berjalan menuju arah Kanaya.
Ia tidak menyapa Bagas, melainkan langsung memeriksa kepala Kanaya seolah sedang melakukan inspeksi mendadak.
"Nah, begini kan enak dilihat," gumam Maya pelan, namun nadanya masih terdengar kritis. "Nggak seperti lumut di pinggir got lagi. Mbok Darmi mana?"
"Sudah pulang sore tadi, Maya," jawab Ibunya.
Maya menoleh ke arah Bagas yang masih berdiri kaku. "Kamu sudah mandi? Jangan dekat-dekat anakmu kalau badanmu masih bau asap pabrik begitu. Banyak kuman. Nanti bayinya sakit, yang repot aku sama Ibu lagi."
Bagas hanya tersenyum tipis, sudah hafal dengan "bahasa cinta" kakaknya. "Iya, Mbak. Ini Bagas langsung mandi."
Mbak Maya kemudian duduk di samping ayahnya, memperhatikan Kanaya yang sedang mencoba meraih ujung jarinya. "Besok aku mau beli kelambu buat di kamar. Bandung lagi banyak nyamuk, kasihan kulitnya kalau sampai bentol-bentol," tambahnya sambil tetap memasang wajah datar.
Mbah Akung melirik Bagas sambil mengerlingkan mata, seolah memberi kode rahasia tentang apa yang ia ceritakan pada Mbok Darmi tadi pagi. Bagas menyadari satu hal: di rumah ini, Kanaya bukan hanya sekadar bayi, tapi ia adalah penyembuh bagi ego masing-masing anggota keluarga yang selama ini saling mengunci diri dalam diam.
Suasana makan malam itu terasa lebih tenang dibandingkan hari-hari sebelumnya. Bau harum masakan Ibu dan tawa kecil Kanaya yang sedang digendong Mbah Akung menjadi latar belakang yang nyaman. Bagas meraba saku celananya, mengeluarkan beberapa lembar uang yang ia rapikan sejak dari pabrik tadi. Itu adalah gaji pertama hasil lembur dan uang makan yang ia sisihkan mati-matian.
Dengan tangan yang sedikit gemetar karena rasa sungkan, Bagas mengulurkan uang itu ke arah Mbak Maya yang sedang sibuk menyendok nasi.
"Mbak... ini ada sedikit uang buat keperluan Kanaya. Buat ganti uang susu sama bantu bayar Mbok Darmi," ucap Bagas pelan namun tegas.
Gerakan tangan Mbak Maya terhenti. Ia menatap uang di atas meja, lalu beralih menatap adiknya dengan tatapan yang sulit diartikan. Ruang makan itu mendadak sunyi. Ayah dan Ibu saling lirik, menunggu reaksi apa yang akan keluar dari mulut si sulung yang terkenal keras itu.
Mbak Maya menghela napas panjang, ia meletakkan sendoknya. "Simpan uangmu, Gas," jawabnya datar.
"Tapi Mbak, aku mau tanggung jawab. Aku nggak mau terus-terusan jadi beban..."
"Aku bilang simpan, ya simpan!" potong Maya, suaranya naik satu oktav namun kali ini tidak terdengar marah, melainkan penuh penekanan. "Gaji satpammu itu berapa? Kalau dipotong buat Mbok Darmi dan susu formula yang mahal itu, sisanya tinggal apa? Buat beli sepatu kerjamu yang sudah jebol itu saja mungkin kurang."
Maya menggeser uang itu kembali ke arah Bagas. "Urusan Mbok Darmi dan kebutuhan rumah ini, biar jadi urusanku. Itu bagianku sebagai anak tertua untuk bantu Ibu. Uangmu itu, kamu tabung. Buka rekening di bank tempat Mas Anto kerja kalau perlu. Tabung buat biaya sekolah Kanaya nanti. Anak itu jangan sampai putus sekolah kayak bapaknya yang sempat luntang-lantung."
Bagas tertegun. Ia tidak menyangka Mbak Maya akan berpikir sejauh itu.
"Mbak cuma minta satu hal," lanjut Maya sambil menatap Bagas lurus-lurus. "Buktikan kalau kamu beneran sudah berubah. Kerja yang rajin, jangan sampai kena pecat. Jangan bikin malu seragam yang kamu pakai. Uang itu... pakai buat beli baju kerja yang layak atau sepatu baru. Kamu itu sekarang wajahnya Kanaya. Kalau bapaknya rapi, orang nggak akan meremehkan anakmu."
Ibu Bagas tersenyum haru, matanya berkaca-kaca melihat kedewasaan putri sulungnya. Ayah Bagas pun berdehem, mencoba menutupi rasa bangganya. "Dengar itu kata Mbakmu, Gas. Dia benar. Tabungan itu penting buat masa depan. Kanaya masih panjang perjalanannya."
Bagas menarik kembali uang itu dengan perlahan. Ada rasa haru yang menyesak di dada. "Terima kasih, Mbak. Aku janji... aku nggak akan sia-siakan kesempatan ini."
Malam itu, Bagas menyadari bahwa Mbak Maya tidak sedang meremehkan penghasilannya, melainkan sedang memberinya "napas" untuk bisa berdiri tegak lebih cepat. Mbak Maya sedang menjaganya agar ia punya modal untuk masa depan Kanaya yang lebih baik.