"Cinta adalah akting terbaik, dan kebenaran adalah kemewahan yang tidak mampu mereka beli."
Di tengah gemerlapnya Paris Fashion Week dan eksklusivitas jet pribadi, Serena Rousseau Mane, sang supermodel yang beralih menjadi aktris, memiliki satu aturan emas: jangan pernah berurusan dengan Nicholas Moreau Feng.
Nicholas bukan hanya aktor papan atas dengan reputasi predator di depan kamera, tetapi juga pria yang menghancurkan hatinya di masa SMA mereka. Kembalinya Nicholas ke dalam hidup Serena lewat proyek film jutaan dolar bukan sekadar reuni profesional, melainkan sebuah permainan kekuasaan. Di balik setelan bespoke dan perhiasan berlian yang mereka kenakan, tersimpan dendam lama tentang pengkhianatan masa lalu dan ketakutan Serena akan "ciuman mematikan" Nicholas yang sanggup menghancurkan kariernya—atau lebih buruk, kembali mencuri hatinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sesi Dubbing Menegangkan
Ruang dubbing yang kedap suara itu terasa lebih menyesakkan daripada penjara bawah tanah. Serena berdiri di depan mikrofon sensitif yang mampu menangkap getaran napas terkecil sekalipun. Di balik kaca studio, Nicholas duduk berdampingan dengan Valerie, seolah sengaja memamerkan posisi baru wanita itu di hidupnya.
Sesi dimulai. Serena harus mengisi suara untuk adegan terakhir, adegan perpisahan di teater yang membuat media heboh.
"Bisa kita zoom bagian leher untuk sinkronisasi gerakan napas?" instruksi sang teknisi audio melalui interkom.
Layar monitor raksasa di dalam studio menampilkan close-up wajah Serena. Karena pencahayaan studio yang sangat terang, concealer yang Serena gunakan mulai sedikit luntur akibat keringat dingin. Beberapa bercak kemerahan yang sudah mulai membiru, jejak bibir Nicholas malam itu mulai terlihat samar namun jelas bagi mata yang teliti.
"Tunggu sebentar," sela asisten sutradara sambil mengerutkan kening. "Serena, apa kau sedang alergi? Ada tanda kemerahan di lehermu yang tertangkap kamera. Apa perlu kita panggilkan dokter set?"
Suasana studio mendadak hening. Valerie yang duduk di samping Nicholas mencondongkan tubuh, ikut mengamati layar dengan saksama. Wajah Nicholas tetap datar, namun rahangnya mengeras saat melihat hasil perbuatannya terpampang nyata di layar 4K.
Serena menarik napas panjang, tangannya secara refleks meraba lehernya yang tertutup syal yang mulai melonggar. Ia menatap pantulan dirinya di layar dengan tatapan dingin yang tak tergoyahkan.
"Hanya alergi cuaca," jawab Serena singkat, suaranya terdengar sangat profesional melalui mikrofon. "Cuaca di puncak gunung kemarin malam sangat tidak menentu. Lanjutkan saja, jangan buang waktu saya."
"Ah, benar. Musim gugur di Paris memang sering membuat kulit sensitif meradang," sahut teknisi itu tanpa curiga, kembali fokus pada panel kontrolnya.
Namun, Valerie tidak sebodoh itu. Sebagai wanita yang tumbuh di lingkungan elit, dia tahu perbedaan antara ruam alergi dan hickey yang dibuat dengan penuh gairah. Valerie melirik Nicholas, mencoba mencari reaksi, namun Nicholas hanya menatap layar dengan pandangan kosong, meski tangannya yang memegang cangkir kopi tampak gemetar tipis.
Sesi dubbing berlanjut. Serena harus mengucapkan kalimat: "Aku membencimu karena kau membuatku merasa memiliki dunia, lalu merampasnya dariku."
Serena mengucapkannya dengan emosi yang begitu nyata hingga membuat semua orang di ruangan itu merinding. Ia tidak sedang berakting. Ia sedang bicara pada pria di balik kaca itu.
Setelah sesi selesai, Serena keluar dari ruang dubbing dengan langkah angkuh. Saat melewati Nicholas dan Valerie, ia berhenti sejenak. Tanpa memandang Nicholas, ia berbicara pada Valerie dengan nada manis yang mematikan.
"Hati-hati dengan Nicholas, Valerie. Terkadang dia terlalu bersemangat saat memerankan perannya."
Serena melangkah pergi, membiarkan Valerie terpaku dalam kebingungan dan Nicholas yang kini benar-benar terbakar oleh rasa bersalah sekaligus gairah yang kembali tersulut. Nicholas tahu, Serena baru saja melakukan serangan balik yang sangat elegan.
Berita tentang "alergi cuaca" Serena di ruang dubbing ternyata menjadi bola salju yang menggelinding liar. Media gosip kelas atas di Prancis dan Asia mulai melakukan investigasi mendalam. Jika itu benar-benar tanda dari seorang pria, maka itu akan menjadi skandal terbesar tahun ini, karena sepanjang kariernya, Serena Rousseau Mane adalah sebuah misteri yang tak terpecahkan.
Majalah L'Officiel dan Dispatch merilis artikel kolaborasi yang mengejutkan publik. Mereka mencoba mengulik sejarah percintaan Serena, dan hasilnya nihil.
"Kami melacak catatan selama sepuluh tahun terakhir. Tidak ada satu pun foto Serena yang sedang berkencan. Tidak ada makan malam romantis di sudut Paris, tidak ada pria misterius di mobilnya, bahkan tidak ada rumor cinta lokasi sebelum film ini. Serena Rousseau adalah satu-satunya dewi di industri ini yang belum pernah tersentuh oleh skandal asmara mana pun."
Netizen mulai membuat teori gila di media sosial:
@LuxuryBlogger: "Bagaimana mungkin wanita secantik dia tidak pernah pacaran? Apa dia sengaja menutup diri atau memang seleranya setinggi langit?"
@FilmGeek: "Lihat tanda merah di lehernya saat dubbing kemarin. Jika dia tidak pernah pacaran, lalu siapa pria yang berani meninggalkan tanda itu? Apakah itu 'pria pertama' sang dewi?"
Nicholas duduk di kantor pribadinya, menatap artikel-artikel tersebut dengan perasaan yang bercampur aduk. Ia tahu dialah pria pertama dan satu-satunya yang pernah menyentuh Serena tujuh tahun lalu sebelum mereka berpisah. Namun, membaca fakta bahwa Serena benar-benar tidak pernah bersama pria lain selama tujuh tahun terakhir membuat jantungnya berdegup tidak keruan.
Ada rasa bangga yang posesif muncul di dadanya, namun juga rasa bersalah yang menghantamnya sangat keras.
"Dia menjaganya..." bisik Nicholas pada diri sendiri. "Dia menjaga dirinya tetap asing bagi semua orang, hanya karena dia tidak bisa melupakan apa yang terjadi di antara kita."
Nicholas melihat ke arah Valerie yang sedang duduk di sofa ruang tamunya, sedang asyik memilih perhiasan untuk acara premier film mereka. Valerie tampak sempurna, namun Valerie bukanlah wanita yang menghabiskan tujuh tahun dalam kesendirian demi sebuah memori pahit.
Sore itu, sebelum benar-benar meninggalkan studio, Nicholas menemukan Serena sedang berdiri sendirian di balkon, menatap matahari terbenam dengan sebatang rokok tipis di jemarinya, sebuah kebiasaan yang hanya ia lakukan saat sedang sangat tertekan.
Nicholas mendekat, aroma parfum wood-sage miliknya langsung menusuk indra penciuman Serena.
"Media bilang kau tidak pernah punya kekasih, Serena," suara Nicholas rendah, sarat dengan emosi yang tertahan.
"Mereka bilang kau 'belum pernah pacaran'. Apa itu benar? Apa benar-benar tidak ada siapa pun setelah aku pergi tujuh tahun lalu?"
Serena tidak menoleh. Ia mengembuskan asap rokoknya ke udara Paris yang dingin. "Media hanya tahu apa yang ingin kutunjukkan, Nicholas. Tapi ya, jika kau ingin tahu kebenarannya... tidak ada pria yang cukup berharga untuk kumasukkan ke dalam hidupku. Terlalu melelahkan untuk mengajar pria baru bagaimana cara menghadapi kerumitanku."
Serena akhirnya berbalik, menatap Nicholas dengan mata yang terlihat sangat lelah. "Aku tidak sepertimu, Nick. Aku tidak bisa dengan mudah mengganti satu bibir dengan bibir lainnya hanya karena tidak cocok. Aku lebih suka sendirian daripada harus berbagi kulit dengan orang yang tidak membuatku merasa hidup."
Nicholas melangkah satu langkah lebih dekat, namun Serena mengangkat tangannya, memberi jarak.
"Jangan bangga, Nicholas. Fakta bahwa aku tidak punya kekasih bukan berarti aku masih menunggumu. Itu hanya berarti kau telah merusak seleraku begitu parah hingga semua pria lain terlihat hambar di mataku. Dan itu adalah kutukan yang harus kujalani, bukan sebuah kemenangan untukmu."
Nicholas terdiam. Kata-kata Serena jauh lebih menyakitkan daripada melihatnya bersama pria lain. Ia menyadari bahwa ia bukan hanya meninggalkan Serena tujuh tahun lalu, tapi ia juga telah membekukan hati wanita itu.
"Hapus tanda itu dengan benar besok pagi, Serena," Nicholas berbisik, suaranya parau. "Karena setiap kali aku melihatnya, aku ingin membunuh setiap pria yang berani menatap lehermu dan membayangkan hal yang sama denganku."
🌷🌷🌷🌷🌷🌷
Happy Reading Dear 😍😍😍