Zahra tumbuh sebagai pribadi yang tenang dan tertutup.
Ia tidak terluka, hanya terbiasa menjaga jarak dan memilih diam.
Schevenko berbeda.
Di balik sikap dingin dan wibawanya, ada masa lalu yang membentuknya menjadi pria yang tidak mudah percaya, tidak mudah berharap.
Pertemuan mereka tidak pernah dibungkus dengan janji manis. Tidak ada cinta yang datang tiba-tiba, hanya kebersamaan yang pelan, percakapan seperlunya, dan perhatian yang tak terucapkan.
Zahra tidak datang untuk menyembuhkan.
Ia hanya hadir—dan entah bagaimana, kehadiran itu cukup.
Hingga akhirnya, dua orang yang sama-sama dingin, dengan alasan yang berbeda, ditakdirkan untuk saling menggenggam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rifqi Ardiasyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hari pertama yang resmi mengubah hidupku
Mobil melaju pelan membelah jalanan kota. Aku duduk di kursi penumpang, menatap keluar jendela tanpa benar-benar melihat apa pun. Kepalaku masih penuh oleh kejadian sejak pagi—rumah yang kutinggalkan, status yang berubah, dan kenyataan bahwa aku kini duduk di mobil seseorang yang… sah… menjadi suamiku.
Kata itu masih terasa asing.
Untuk beberapa menit, kami tidak berbicara. Bukan karena suasana buruk, tapi karena kami sama-sama belum tahu harus memulai dari mana. Keheningan itu akhirnya ia pecahkan.
“Kalau capek, bilang,” katanya santai, matanya tetap fokus ke jalan.
“Kita bisa berhenti sebentar.”
Aku menggeleng.
“Enggak. Aku baik-baik aja.”
Ia mengangguk kecil.
“Kampusnya agak ke tengah kota.”
Aku baru ingin bertanya lebih jauh, tapi mobil sudah berbelok memasuki kawasan yang berbeda. Gedung-gedung tinggi mulai terlihat. Jalanannya lebih rapi, lebih tenang, dan entah kenapa… terasa mahal.
Beberapa menit kemudian, mobil berhenti.
Aku menoleh ke depan—dan membeku.
Gerbang besar dengan nama universitas terukir jelas berdiri di hadapanku. Bangunannya megah, luas, dan terlihat seperti tempat yang selama ini hanya kulihat di brosur atau berita.
Aku menoleh cepat ke Schevenko.
“Ini… serius?”
Nada suaraku refleks naik.
“Pak, ini tempatnya? Nggak salah?”
Ia melirikku sekilas, lalu tersenyum kecil.
“Kok manggil pak?”
Nada suaranya santai, hampir menggoda.
“Kita cuma beda dua tahun.”
Aku tersentak.
“Eh—terus harus manggil apa?”
Ia berpikir sebentar, lalu menjawab ringan.
“Mas juga boleh.”
Pipiku terasa hangat.
“O-oh…”
Ia turun lebih dulu, lalu membuka pintu untukku.
“Ayo.”
Aku turun perlahan, masih menatap sekeliling dengan tidak percaya.
“Serius ini? Aku—”
“Udah,” potongnya lembut.
“Ayo. Keburu sore nanti.”
Aku berjalan lebih dulu, langkahku ragu tapi penuh rasa ingin tahu. Ia mengikutiku dari belakang, tidak terlalu dekat, tidak terlalu jauh. Sikap itu lagi-lagi membuatku sadar—ia memberiku ruang, tapi tidak melepaskanku.
Begitu masuk ke pintu utama, suasana langsung berubah. Interiornya luas dan elegan. Petugas menyambut kami dengan senyum ramah—tapi anehnya, tatapan mereka lebih dulu tertuju pada Schevenko.
“Selamat datang,” ujar salah satu dari mereka dengan nada hormat.
Aku melirik Schevenko, bingung.
Kami diarahkan masuk ke ruang pendaftaran. Di dalamnya, duduk seorang perempuan yang sudah lumayan tua. Rambutnya disanggul rapi, wajahnya tenang.
Ia menatapku sekilas—biasa saja.
Lalu pandangannya bergeser ke Schevenko.
Detik berikutnya, ia langsung berdiri.
“Tuan muda,” katanya sopan.
“Ada keperluan apa Anda datang ke sini?”
Aku menegang.
Tuan muda?
Aku diam. Tidak berani bicara. Tidak tahu harus bereaksi bagaimana.
Schevenko menjawab tenang, seolah panggilan itu hal biasa.
“Saya ingin mendaftarkan istri saya kuliah di sini.”
Waktu seolah berhenti sepersekian detik.
Istri.
Kata itu meluncur begitu saja dari mulutnya, tapi efeknya langsung terasa di wajahku. Pipiku memanas. Aku menunduk, jantungku berdetak tidak karuan.
Perempuan itu tersenyum lebar dan langsung menghampiriku.
“Oh, mari, mari. Silakan duduk.”
Aku duduk dengan gerakan kaku. Tanganku gemetar saat menyerahkan map berisi berkas-berkasku. Ia menerimanya—tapi tidak membukanya. Sama sekali.
Map itu hanya diletakkan rapi di atas meja.
“Baik,” katanya setelah beberapa detik.
“Kamu diterima di universitas ini. Minggu depan sudah mulai aktif, ya.”
Aku refleks mengangkat kepala.
“Eh—loh, Bu?”
Aku menahan diri agar tidak terdengar tidak sopan.
“Itu belum dicek…”
Ia tersenyum tenang.
“Sudah.”
Aku makin bingung.
Schevenko berdiri dan berkata sopan,
“Terima kasih sudah menerima istri saya di universitas ini.”
Perempuan itu tersenyum lebih dalam.
“Kami justru yang beruntung.”
Kepalaku penuh tanda tanya.
Schevenko menoleh kepadaku.
“Zahra, ayo pulang. Semuanya sudah selesai.”
Aku berdiri hampir otomatis.
Ia lalu berpamitan,
“Kami pergi dulu.”
“Terima kasih, Tuan,” jawab perempuan itu.
“Semoga hari Anda menyenangkan.”
Kami keluar bersama.
Begitu pintu tertutup di belakang kami, aku langsung menoleh padanya.
“Loh… kok semudah itu?”
Nada suaraku tidak bisa menyembunyikan keterkejutanku.
“Aku belum ngapa-ngapain, loh.”
Ia hanya tersenyum, senyum kecil yang sulit kutebak artinya.
“Masuk mobil dulu.”
Aku mengikuti tanpa banyak protes. Begitu pintu tertutup dan mobil kembali melaju, aku kembali bertanya,
“Ini beneran? Aku keterima gitu aja?”
“Iya,” jawabnya singkat.
“Tapi—”
“Aku jelasin nanti,” katanya pelan.
“Sekarang aku mau ngajakmu ke satu tempat dulu sebelum ke rumah.”
Aku menoleh.
“Ke mana?”
Ia melirikku sekilas, lalu kembali menatap jalan.
“Ayo. Nanti keburu malam.”
Mobil berbelok ke arah yang tidak kukenal. Jalanan mulai mengecil, gedung-gedung tinggi berganti dengan bangunan yang lebih jarang. Lampu jalan menyala satu per satu, cahayanya memantul di kaca mobil, membuat bayanganku sendiri terlihat samar. Aku menempelkan dahi ke jendela, menatap keluar tanpa benar-benar melihat apa pun.
Perasaanku campur aduk—kagum, bingung, sedikit gugup, dan… penasaran.
Aku menarik napas, lalu kembali menoleh ke arahnya.
“Mas,” kataku akhirnya.
“Hmm?”
“Yang di universitas tadi itu… beneran? Kok gampang banget? Aku belum ngapa-ngapain, berkas aku bahkan nggak dibuka.”
Ia tersenyum kecil, masih fokus menyetir.
“Nanti juga kamu ngerti.”
Aku mengernyit. “Mas, ini serius. Itu universitas bergengsi banget. Orang-orang pasti susah masuk ke sana.”
Ia tidak menjawab. Senyumnya tetap di situ, seolah semua pertanyaanku hanya angin lalu.
“Mas,” aku melanjutkan, nadaku mulai naik. “Terus kenapa aku dipanggil istri? Kenapa mereka manggil kamu tuan muda? Kamu tuh sebenernya siapa sih?”
Masih tidak ada jawaban.
Aku mendecak kesal. “Ih, nyebelin. Aku serius nanya.”
Ia terkekeh pelan, membuat dadaku makin panas. Tanpa berpikir panjang, aku mencondongkan tubuhku dan mencubit lengannya.
“Mas! Jawab—”
Aku langsung membeku.
Tanganku masih menempel di lengannya. Hangat. Nyata. Terlalu dekat.
Aku tersadar apa yang baru saja kulakukan. Wajahku panas seketika. Cepat-cepat aku menarik tanganku kembali dan duduk tegak.
“Ma—maaf,” ucapku terbata.
Ia menoleh ke arahku, alisnya terangkat.
“Maaf untuk apa?”
Aku menunduk, jari-jariku saling meremas. “Aku… nyubit.”
Ia tertawa kecil, kali ini lebih jelas.
“Itu aja?”
Sebelum aku sempat menjawab, mobil melambat lalu berhenti.
“Ayo turun,” katanya santai.
Aku mengangkat kepala. “Hah?”
“Udah sampai.”
Aku menoleh ke luar. Baru saat itu aku sadar kami sudah berhenti di depan sebuah bangunan besar dengan fasad kaca tinggi dan lampu temaram keemasan. Di balik kaca, terlihat deretan pakaian rapi, manekin dengan gaun elegan, jas mahal, dan aksesori yang berkilau di bawah cahaya lampu.
Aku terdiam.
“Mas…” aku menelan ludah. “Ini… toko apa?”
Ia turun lebih dulu, lalu membuka pintu untukku.
“Ayo.”
Aku ikut turun, masih terpaku menatap bangunan itu.
“Ngapain kita di sini?”
Ia menatapku, lalu tersenyum tipis.
“Masuk dulu. Keburu malam.”
Aku ragu, tapi akhirnya melangkah mendahuluinya. Begitu pintu kaca terbuka, hawa sejuk langsung menyambut. Aroma lembut—entah parfum atau kain baru—menguar di udara.
“Selamat datang, Tuan.”
Aku tersentak.
Seorang pelayan berpakaian rapi membungkuk sedikit ke arah Schevenko.
“Tuan ke sini mencari apa? Biar saya yang carikan.”
Aku menoleh cepat ke Schevenko, jantungku berdegup lebih cepat. Kata itu lagi. Tuan.
Schevenko melirikku sekilas, lalu berkata tenang,
“Ambilkan semua baju yang bagus untuk istri saya.”
Ia mengarahkan wajahnya padaku.
Aku membelalak. “Eh—nggak usah!”
Pelayan itu langsung tersenyum lebar. “Baik, Tuan.”
“Mas!” aku menarik lengan Schevenko pelan. “Ngapain sih? Aku udah bawa baju banyak dari rumah.”
Ia menatapku lembut, lalu berkata pelan,
“Ini untuk keseharian kuliahmu.”
Aku terdiam.
“Dan ayo,” lanjutnya sambil berjalan ke arah etalase aksesori. “Kita cari jam.”
Aku menggeleng cepat. “Nggak usah. Aku bisa lihat jam di HP.”
Ia berhenti, menoleh, lalu berkata singkat tapi tegas,
“Ayo.”
Nada itu membuatku tidak bisa membantah.
Satu per satu barang dibawa ke hadapan kami. Kemeja, blus, rok, gaun sederhana tapi elegan. Aku hanya berdiri, bingung, sesekali menggeleng, tapi tak ada satu pun yang didengarkan. Jam dipilihkan, lalu kalung. Bahkan cincin, Dan cincinnya bukan sekadar cincin, cincin ini adalah tanda kalau aku sudah menikah.
Aku menatap benda-benda itu dengan kepala penuh tanda tanya.
“Mas,” ucapku lirih saat pelayan pergi ke kasir. “Ini kebanyakan.”
Ia menatapku lama. “Zahra.”
Aku mendongak.
“Kamu sekarang istriku,” katanya tenang. “Aku nggak mau kamu merasa kekurangan apa pun.”
Dadaku terasa aneh. Bukan senang sepenuhnya, bukan takut sepenuhnya. Seperti berdiri di ambang dunia baru yang belum kupahami.
Setelah semua dibayar, kami keluar. Tas-tas belanjaan memenuhi bagasi mobil.
Aku masuk ke kursi penumpang, masih terdiam.
Mobil kembali melaju. Kota kembali bergerak di luar jendela.
“Mas,” kataku akhirnya. “Aku ngerasa… hidup aku berubah terlalu cepat.”
Ia tersenyum tipis, tanpa menoleh.
“Memang.”
Aku menggigit bibir. “Aku takut.”
Ia akhirnya melirikku, pandangannya serius tapi hangat.
“Aku ada.”
Hanya dua kata itu. Tapi entah kenapa, jantungku berdetak lebih pelan.
Mobil terus melaju, membawa kami pulang—ke rumah yang bahkan belum sepenuhnya kupahami sebagai milikku.
Dan untuk pertama kalinya sejak hari itu dimulai, aku sadar:
Hari ini terlalu banyak hal terjadi.
Pernikahan.
Status resmi.
Universitas bergengsi.
Dan mulai dari sekarang...aku akan tinggal satu atap dengannya.
Aku menggenggam ujung tas di pangkuanku.
Di dalam hati, satu pertanyaan berputar pelan—
kalau semua ini baru hari pertama, lalu apa lagi yang sebenarnya belum kuketahui tentang hidup baruku… dan tentang dia?