Rajendra Baskara, putra sulung keluarga konglomerat, dikhianati oleh adik angkatnya dan istrinya sendiri demi warisan keluarga. Setelah dibunuh, ia terbangun kembali di usia 20 tahun—sebelum pernikahan dan sebelum kehancuran hidupnya. Dengan ingatan masa depan, kecerdasan, dan pengalaman pahit, Rajendra memilih memutus hubungan keluarga dan membangun kerajaan bisnisnya sendiri, sambil menyiapkan balas dendam yang perlahan, menyakitkan, dan tak terhindarkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon asep sigma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
ARTIKEL DAN ANCAMAN TERSEMBUNYI
Kamis pagi, Rajendra bangun dengan perasaan berat di dada.
Dua hari lagi sidang.
Empat puluh delapan jam sebelum hidupnya berubah total.
Dia mandi, ganti baju, sarapan roti tawar yang sudah mulai keras karena beli tiga hari lalu dan lupa taruh di kulkas.
Ponselnya bergetar, pesan dari Dina.
"Bos, artikel Jakarta Biz udah publish pagi ini! JakartaBiz.com. Lumayan bagus, lu harus baca."
Rajendra membuka link itu.
Halaman artikel terbuka dengan foto header: Rajendra duduk di kantor dengan laptop, senyum tipis, background produk-produk LokalMart yang ditata rapi.
Judul artikel: "LokalMart: Startup yang Membawa UMKM Indonesia ke Era Digital dengan Pendekatan Human-Centric"
Rajendra scroll ke bawah, membaca artikel itu dari awal sampai akhir.
Ditulis dengan baik. Balanced. Menjelaskan konsep LokalMart, misi untuk support UMKM, sistem COD yang unique, storytelling approach yang jadi diferensiasi.
Ada bagian tentang background Rajendra juga, tapi ditulis dengan hati-hati:
"Rajendra Baskara, meski berasal dari keluarga pengusaha besar, memilih untuk membangun LokalMart dari nol tanpa menggunakan privilege keluarga. 'Saya ingin membuktikan bahwa saya bisa tanpa nama besar,' katanya. Dengan modal pas-pasan dan tim kecil yang solid, LokalMart berhasil mendapat seed funding 500 juta rupiah dan meluncur dengan respons positif dari pasar.'"
Rajendra tersenyum kecil.
Artikel ini bagus untuk awareness. Bagus untuk credibility.
Dia screenshot artikel, kirim ke group chat tim dengan caption:
"Good job, team. Artikel bagus. Keep the momentum."
Balasan masuk cepat dari Arief:
"Wah kita famous! Gue kirim ke temen-temen gue ah."
Dari Rian:
"Nice article. Foto gue lumayan ganteng juga."
Dari Dina:
"Lu liat comments section-nya belum? Banyak yang appreciate."
Rajendra scroll ke comment section artikel.
Ada puluhan comment, sebagian besar positif:
"Konsep LokalMart keren. Akhirnya ada yang peduli sama UMKM lokal."
"Gue suka pendekatan storytelling-nya. Jadi tahu siapa yang bikin produk yang gue beli."
"Udah coba beli batik dari LokalMart. Kualitas bagus, pengiriman cepat. Recommended!"
Tapi ada juga beberapa comment yang agak negatif:
"Anak orang kaya pura-pura jadi entrepreneur grassroots. Classic."
"Funding 500 juta itu gak 'modal pas-pasan'. Privilege tetap privilege."
Rajendra tahu comment seperti ini akan ada. Tidak semua orang akan percaya atau support.
Tapi yang penting, lebih banyak yang positif daripada negatif.
Dia menutup artikel, bersiap berangkat ke kantor.
Di kantor, suasana lebih ceria dari kemarin.
Arief sedang share artikel Jakarta Biz ke berbagai group Facebook dan forum startup. Rian sedang monitoring traffic website yang mulai naik sejak artikel publish.
Dina duduk di mejanya dengan senyum lebar, mengecek analytics.
"Bos, traffic naik tiga kali lipat dari biasanya sejak artikel publish. Kita dapat spike besar."
"Conversion rate gimana?"
"Masih stabil. Artinya yang datang bukan cuma curious, tapi genuine interested buyers."
"Bagus."
Rajendra duduk di mejanya, membuka laptop, mulai kerja seperti biasa.
Tapi di tengah fokus ke pekerjaan, ponselnya bergetar.
Panggilan dari Hartono.
Rajendra angkat.
"Pak Hartono."
"Rajendra, sudah baca artikel Jakarta Biz?"
"Sudah. Bagus kan?"
"Bagus untuk awareness. Tapi ada satu masalah."
Rajendra menegang.
"Masalah apa?"
"Artikel itu mention funding 500 juta yang kamu dapat. Itu informasi sensitif. Sekarang publik tahu kamu punya dana besar. Itu bisa jadi ammunition untuk pihak lawan."
"Maksud Bapak?"
"Mereka bisa pakai narrative bahwa kamu punya akses ke dana besar berarti kamu tidak butuh warisan. Atau worse, mereka bisa claim kamu dapat funding itu dengan cara yang questionable."
Rajendra diam, pikiran berputar cepat.
"Tapi funding itu legal. Term sheet jelas. Richard sendiri yang invest."
"Saya tahu. Tapi mereka tidak perlu prove kamu salah. Mereka cuma perlu create doubt di kepala hakim. Dan artikel ini kasih mereka opening."
Rajendra menghela napas.
"Berarti saya harus prepare defense untuk ini juga di sidang?"
"Tidak perlu terlalu worry. Ini minor concern. Bukti kita untuk kasus utama masih kuat. Cuma saya ingatkan supaya kamu aware."
"Oke. Terima kasih, Pak."
"Sama-sama. Oh ya, sidang Sabtu jam sepuluh. Datang lebih awal. Kita review bukti terakhir kali sebelum masuk ruang sidang."
"Siap."
Sambungan terputus.
Rajendra menatap ponselnya dengan perasaan tidak enak.
Hartono benar. Artikel itu double-edged sword. Bagus untuk awareness tapi juga expose informasi yang bisa dipakai lawan.
Dina yang melihat ekspresi Rajendra berjalan mendekat.
"Ada masalah?"
"Pak Hartono bilang artikel tadi bisa jadi masalah karena mention funding kita."
"Kenapa itu masalah?"
"Bisa dipakai keluarga gue untuk attack gue di sidang."
Dina mengerutkan dahi.
"Tapi kita gak bisa control artikel yang udah publish. Damage already done."
"Gue tahu. Cuma harus prepare aja kalau mereka bring it up."
"Lu mau gue reach out ke journalist, minta edit artikel?"
"Enggak. Itu malah bikin suspicious. Biarkan aja. Gue handle kalau ada masalah."
"Oke."
Jam dua belas siang, mereka semua break untuk makan siang.
Rajendra pesan nasi goreng dari warung sebelah, makan di mejanya sambil baca-baca laporan Bima lagi.
Di tengah makan, ponselnya bergetar. Pesan dari nomor tidak dikenal.
Rajendra ragu sebentar, tapi tetap buka.
Isinya cuma satu kalimat:
"Kamu pikir kamu aman? Think again."
Rajendra menegang.
Siapa ini?
Dia cek nomor, tapi tidak ada info apapun. Nomor baru, mungkin burner phone.
Dia screenshot pesan, lalu block nomor itu.
Beberapa menit kemudian, pesan lain masuk dari nomor berbeda:
"Sabtu besok kamu akan tahu akibatnya melawan keluarga."
Rajendra merasakan sesuatu dingin menjalar di punggungnya.
Ini bukan random spam. Ini targeted threat.
Dia screenshot lagi, block nomor itu, lalu langsung telepon Hartono.
"Pak, saya dapat ancaman lewat SMS. Dua pesan dari dua nomor berbeda."
"Isi pesannya apa?"
Rajendra bacakan isi pesan itu.
Hartono diam sebentar, lalu bicara dengan nada serius.
"Ini intimidation tactic. Mereka coba bikin kamu takut, bikin kamu goyah sebelum sidang. Jangan respond. Block semua nomor mencurigakan. Dan save semua pesan sebagai bukti."
"Saya harus lapor polisi?"
"Bisa. Tapi polisi biasanya gak bisa berbuat banyak untuk SMS ancaman kalau belum ada tindakan fisik. Tapi tetap dokumentasikan. Kalau ada lebih banyak ancaman atau escalate ke physical threat, baru kita lapor."
"Oke."
"Dan Rajendra, jangan keluar sendirian malam-malam. Jangan ke tempat sepi. Stay safe."
"Saya paham."
Sambungan terputus.
Rajendra menatap ponselnya dengan perasaan campur aduk antara marah dan sedikit takut.
Mereka sudah desperate. Ancaman lewat SMS itu tanda mereka kehabisan cara legal untuk jatuhkan dia.
Tapi justru itu yang bikin mereka lebih berbahaya. Orang desperate bisa lakuin apa aja.
Dina yang melihat Rajendra dari jauh menatap ponsel dengan ekspresi tegang berjalan mendekat.
"Bos, lu oke? Lu keliatan pucat."
Rajendra menaruh ponselnya.
"Gue dapat ancaman lewat SMS."
"Apa?!"
Rajendra tunjukkan screenshot pesan itu ke Dina.
Dina membaca dengan wajah serius, lalu menatap Rajendra.
"Bos, ini serius. Lu harus lapor polisi."
"Pak Hartono bilang polisi gak bisa berbuat banyak untuk SMS doang."
"Tapi tetap harus dicatat. Build paper trail. Ini harassment."
"Gue tahu. Gue akan dokumentasikan semua."
Dina menatapnya dengan tatapan khawatir.
"Lu mau gue stay sama lu sampai sidang selesai? Gue bisa crash di sofa kantor atau ikut lu ke kamar kos. Biar ada yang jaga."
Rajendra tersenyum tipis.
"Gak perlu segitunya. Gue akan hati-hati."
"Bos, gue serius. Lu lagi di-target. Mereka bisa lakuin apa aja."
"Gue appreciate concern lu. Tapi gue gak mau involve lu lebih dalam dari ini. Ini masalah gue sama keluarga gue. Lu udah bantuin lebih dari cukup."
Dina ingin protes, tapi dia lihat tatapan Rajendra yang firm.
Dia tahu kalau Rajendra sudah decide, susah untuk diubah.
"Oke. Tapi lu harus janji, kalau ada apa-apa, langsung telepon gue. Anytime. Okay?"
"Okay."
"Janji?"
"Janji."
Dina mengangguk, lalu kembali ke mejanya, tapi tetap sesekali melirik ke Rajendra dengan tatapan khawatir.
Sore itu, Rajendra pulang jam enam seperti biasa.
Naik bus, duduk di pojok belakang, menatap keluar jendela.
Jalanan Jakarta macet seperti biasa. Orang-orang pulang kerja dengan wajah lelah. Kehidupan normal yang terus berjalan tanpa peduli drama individual.
Rajendra cek ponselnya setiap beberapa menit, waspada kalau ada pesan ancaman lagi.
Tapi tidak ada.
Sampai kamar kos jam tujuh malam, dia langsung masuk, kunci pintu, tutup jendela, tutup gorden.
Paranoid? Mungkin. Tapi lebih baik paranoid daripada lengah.
Dia duduk di tepi kasur dengan laptop, membuka file dokumentasi yang dia buat kemarin, menambahkan entry baru:
5 Agustus (H-1 sidang): Terima ancaman via SMS dari dua nomor tidak dikenal. Isi ancaman: intimidasi terkait sidang besok. Screenshot tersimpan.
Dia save file, backup ke cloud, kirim copy ke email Hartono.
Ponselnya berdering, panggilan dari nomor tidak dikenal lagi.
Rajendra tidak angkat. Langsung block.
Lima menit kemudian, ada yang ketuk pintu kamarnya.
Rajendra menegang.
Siapa yang datang jam segini?
Dia berjalan pelan ke pintu, tidak langsung buka.
"Siapa?" tanyanya dari dalam.
Suara wanita di luar, familiar.
"Rajendra, ini Bu Siti. Buka pintunya. Cepat."
Bu Siti?
Rajendra buka pintu sedikit, mengintip.
Benar, Bu Siti berdiri di luar dengan jilbab putih dan wajah panik.
Rajendra buka pintu lebih lebar.
"Bu Siti? Kenapa Ibu di sini? Gimana Ibu tahu alamat saya?"
"Gak ada waktu jelasin. Boleh saya masuk? Ini penting."
Rajendra mundur, membiarkan Bu Siti masuk.
Bu Siti masuk cepat, Rajendra tutup pintu lagi.
"Duduk, Bu. Ada apa?"
Bu Siti duduk di kursi kayu lusuh di pojok kamar, tangannya gemetar.
"Mas Rajendra, saya dengar mereka ngobrol lagi tadi malam. Mas Dera dan Nona Jessica. Di rumah."
"Ngobrol soal apa?"
"Soal besok. Soal sidang. Mereka bilang mereka punya rencana terakhir. Sesuatu yang akan activated besok malam, sebelum sidang Sabtu pagi."
Rajendra duduk di tepi kasur, menatap Bu Siti dengan fokus penuh.
"Rencana apa?"
"Saya gak tahu detailnya. Tapi Mas Dera bilang ini foolproof. Dia bilang meski Mas Rajendra menang di sidang, Mas gak akan bisa pakai warisan itu. Ada sesuatu yang dia plant, sesuatu yang akan trigger otomatis."
Rajendra merasakan darahnya jadi dingin.
"Plant di mana? Trigger apa?"
"Saya gak dengar jelas. Tapi sepertinya ada hubungannya dengan komputer atau file digital. Mas Dera bilang 'file will auto-activate' atau semacam itu."
Rajendra langsung berdiri.
File auto-activate.
Hack attempt ke admin panel LokalMart kemarin.
Ini connected.
Mereka plant malware atau file palsu di sistem dia, dan akan auto-trigger besok malam untuk create masalah tepat sebelum sidang.
"Bu Siti, terima kasih. Ini informasi penting banget."
Bu Siti berdiri, menatap Rajendra dengan mata berkaca-kaca.
"Mas, hati-hati. Mereka sudah gak waras. Mereka bisa lakuin apa aja. Saya takut mereka bisa—"
"Saya akan hati-hati, Bu. Ibu juga. Jangan sampai ketahuan Ibu datang ke sini."
"Saya tahu. Saya cuma... saya gak bisa diam aja lihat Mas dijatuhkan dengan cara kotor. Pak Dimas pasti sedih kalau lihat keluarganya seperti ini."
Rajendra memeluk Bu Siti sebentar.
"Terima kasih, Bu. Banyak terima kasih."
Bu Siti mengangguk, lalu keluar cepat dari kamar.
Rajendra menutup pintu, langsung telepon Arief.
"Rief, emergency. Lu bisa ke kantor sekarang?"
"Sekarang? Jam segini?"
"Iya. Ini urgent. Ada kemungkinan mereka plant malware di sistem kita. Kita harus scan semuanya sekarang."
Arief langsung terdengar alert.
"Shit. Oke. Gue ke kantor sekarang. Rian juga?"
"Iya. Panggil Rian. Kita butuh semua tangan."
"Siap. Dua puluh menit gue sampai."
Rajendra langsung keluar kamar kos, naik ojek online, ke kantor dengan kecepatan penuh.
Malam ini akan jadi malam panjang.
Tapi setidaknya sekarang dia tahu ada ancaman, dan dia punya waktu untuk counter sebelum terlambat.
[ END OF BAB 31 ]