Raka Adiyaksa adalah definisi nyata dari "Sobat Misqueen". Mahasiswa biasa yang rela makan mie instan diremas setiap akhir bulan demi menabung untuk gebetannya, Tiara. Namun, pengorbanannya dibalas dengan pengkhianatan. Di malam konser yang seharusnya menjadi momen pernyataan cintanya, Raka justru melihat Tiara turun dari mobil mewah milik Kevin, anak orang kaya yang sombong, sementara Raka ditinggalkan sendirian di trotoar GBK dengan dua tiket yang hangus.
Di titik terendah hidupnya, saat harga dirinya diinjak-injak, sebuah suara mekanis berbunyi di kepalanya.
[DING! Sistem Sultan Gacha Tanpa Batas Telah Diaktifkan!]
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DipsJr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28: Rekrutmen BEM dan Senior Penggoda
|Di Dalam Kokpit McLaren 720S - Menuju The Langham|
Suasana di dalam kabin supercar itu hening, namun nyaman. AC berhembus pelan, meredam panasnya Jakarta.
Vania membuka tas tangannya, mengeluarkan sebuah amplop tebal berwarna cokelat dan meletakkannya di laci dasbor mobil.
"Raka," ucap Vania lembut, menatap profil samping Raka yang sedang fokus menyetir. "Ini rincian donasi dari hasil penjualan mobil dan hadiah kemarin. Aku udah minta staf yayasan buat rekap semuanya transparan. Kamu bisa cek nanti kalau ada waktu."
Raka menoleh sekilas, tersenyum tipis. "Nggak perlu, Van. Aku percaya sama kamu 100%. Kalau kamu bilang buat anak yatim, ya buat anak yatim. Nggak bakal aku audit kayak KPK."
Vania tertawa kecil. "Ya tetep aja, profesionalitas itu penting. Uang 700 juta itu bukan daun."
"Buat aku, senyum kamu lebih mahal dari 700 juta," celetuk Raka santai.
Blush. Pipi Vania merona lagi. Dia memalingkan wajah ke jendela, menyembunyikan senyumnya. "Gombal terus."
"Btw, aku drop di lobi The Langham ya?"
"Iya. Kamu nggak mau mampir dulu? Di atas ada lounge enak buat ngopi," tawar Vania, sebenarnya berharap Raka mau tinggal lebih lama.
Raka melirik jam tangannya. "Pengen sih, tapi sorry banget, Van. Aku harus balik ke kampus. Ada urusan mendadak soal administrasi mahasiswa baru."
"Oh... oke deh. Kampus nomor satu," jawab Vania, sedikit kecewa namun memaklumi.
|Lobi Utama - The Langham Jakarta|
McLaren merah itu berhenti mulus di depan lobi. Petugas valet yang sudah hafal dengan mobil dan tips Raka langsung sigap membuka pintu.
Vania turun dengan anggun. Raka menurunkan kaca jendela.
"Hati-hati ya, Van. Salam buat Sarah yang lagi ngambek di jalan," kata Raka sambil nyengir.
"Iya, nanti aku sampein. Bye, Raka. Thanks for the ride!" Vania melambaikan tangan.
Raka mengangguk, lalu mesin V8 kembali meraung, membawa mobil itu melesat meninggalkan hotel.
Vania berdiri di lobi, menatap lampu belakang mobil Raka sampai menghilang di tikungan SCBD.
"Jalanannya sepi, tapi perginya ngebut banget," gumam Vania sambil menghentakkan kaki kecilnya. "Dasar cowok, nggak peka."
Tak lama kemudian, sebuah taksi Silver Bird (Alphard) berwarna hitam masuk ke lobi. Pintu terbuka, dan Sarah keluar dengan wajah cemberut sambil menyeret dua koper besar.
Sarah melihat Vania yang berdiri sendirian. Dia celingukan.
"Loh? Raka mana?" tanya Sarah.
"Udah balik. Katanya ada urusan kampus," jawab Vania lesu.
Sarah melongo. "Hah? Pulang? Tanpa mampir? Tanpa ngopi? Tanpa... ehem... pamitan cipika-cipiki?"
Badjingan, katanya mau traktir. ngomel Sarah.
"Nggak," Vania menggeleng dan tertawa cekikikan.
"Gila..." Sarah berdecak kagum sekaligus kesal. "Itu cowok bener-bener spesies langka. Udah nganterin Dewi Nasional, bukannya modus minta jatah nongkrong, malah cabut karena urusan kampus. Antara dia polos banget, atau dia jual mahal level dewa."
"Atau emang dia anak baik-baik, Sar," bela Vania.
"Iya, iya. Anak baik yang mobilnya 10 Miliar. Yuk ah masuk, aku butuh spa buat ngilangin trauma hampir naik Jaguar tadi," gerutu Sarah sambil menyeret koper.
|Jalan Sudirman - Arah Kampus|
Sementara itu, di dalam McLaren, Raka sebenarnya berniat mampir ngopi. Siapa yang menolak ngopi bareng Vania Winata di hotel bintang lima?
Namun, niat itu buyar karena sebuah panel holografik yang tiba-tiba muncul menghalangi pandangannya di kaca depan.
[TING!] [MISI SAMPINGAN TERDETEKSI: PENGUASA KAMPUS]
Deskripsi: Kehidupan perkuliahan bukan hanya soal belajar, tapi juga soal koneksi dan kekuasaan. Bergabunglah dengan organisasi elit kampus untuk memperluas pengaruh.
Target: Bergabung dengan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) atau Senat Mahasiswa hari ini.
Hadiah: Tiket Gacha x10.
"Simpel dan to the point," gumam Raka. "Join BEM dapet 10x Gacha? Gas!"
Raka adalah mahasiswa baru (Maba) di Universitas Mulia (UM), salah satu kampus swasta elite di Jakarta. Hari ini memang jadwal Open Recruitment untuk organisasi mahasiswa.
Raka memutar setir, mengarahkan mobilnya menuju kampusnya yang terletak di Jakarta Barat.
|Kampus Universitas Mulia (UM) - Area Boulevard|
Suasana kampus hari ini sangat meriah. Stand-stand organisasi mahasiswa berjejer di sepanjang jalan utama kampus, dihiasi spanduk warna-warni dan musik yang saling bertabrakan.
Di depan stand BEM Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB), suasana terlihat paling ramai.
Bukan karena program kerjanya yang bagus, tapi karena siapa yang menjaganya.
Duduk di meja pendaftaran adalah Bella Anindya. Mahasiswi semester 3, Ketua Divisi Seni dan Budaya BEM FEB.
Bella adalah definisi "Primadona Kampus". Wajahnya cantik dengan fitur tegas yang menggoda, rambutnya dicat cokelat chestnut bergelombang, dan tubuhnya... tubuhnya adalah keajaiban dunia kedelapan. Tinggi, ramping, namun memiliki kurva yang berbahaya di tempat yang tepat.
Hari ini, Bella mengenakan kemeja almamater BEM yang sengaja dipilih ukuran slim fit. Kancing kemejanya terlihat berjuang keras menahan beban di bagian dada, menciptakan celah imajinasi bagi para mahasiswa yang lewat.
Bella sedang mengipasi lehernya yang berkeringat dengan brosur, membuat rambutnya berkibar pelan.
"Duh, panas banget sih hari ini," keluh Bella manja.
Di sekitarnya, beberapa anggota BEM junior (cewek) menatapnya dengan tatapan iri campur pasrah.
"Kak Bella..." bisik seorang junior bernama Rini. "Liat tuh, antrean cowok di stand kita panjang banget. Tapi mereka cuma mau liat Kakak doang, pas disuruh daftar malah kabur."
"Iya nih, Kak. Kita butuh bibit unggul. Cowok yang ganteng, pinter, dan tajir kalau bisa. Biar dana usaha BEM lancar," timpal junior lain.
Bella tersenyum miring, senyum yang mematikan. "Tenang aja, Girls. Serahkan pada ahlinya. Mata Kakak ini udah kayak scanner. Sekali ada cowok potensial lewat, nggak bakal lolos."
Universitas Mulia memiliki dua gedung terpisah. Gedung A (Teknik/Komputer) yang isinya 90% cowok, dan Gedung B (Ekonomi/Bisnis/Komunikasi) yang isinya bidadari-bidadari Jakarta.
Masalahnya, cowok di Gedung B itu jumlahnya sedikit. Dan yang berkualitas (Ganteng + Kaya) itu langka. Jadi, setiap tahun ajaran baru adalah ajang perang bagi para senior cewek untuk "memangsa" Maba (Mahasiswa Baru) potensial.
"Mana nih Maba ganteng? Dari tadi isinya jamet semua," keluh Bella sambil memutar pulpennya bosan. Dia bahkan sengaja membusungkan dadanya sedikit untuk menarik perhatian, membuat beberapa maba cowok yang lewat nyaris menabrak tiang listrik.
"Curang banget sih Kak Bella," bisik Rini. "Pake 'senjata' gitu."
"Namanya juga usaha, Dek," kekeh Bella. "Dunia ini keras. Kalau nggak punya aset, ya harus punya strategi."
Tepat saat Bella hendak menguap karena bosan...
VROOOOM... BLAR! BLAR!
Sebuah suara gemuruh rendah yang menggetarkan aspal terdengar dari arah gerbang utama kampus. Suara itu berbeda dengan suara knalpot motor racing atau mobil modifikasi murahan.
Itu suara mesin High Performance yang murni.
Seluruh aktivitas di Boulevard kampus terhenti sejenak. Ratusan pasang mata menoleh ke arah sumber suara.
Sebuah mobil meluncur masuk dengan perlahan.
Bentuknya pipih, lebar, dan aerodinamis seperti pesawat tempur yang kehilangan sayap. Warnanya merah menyala yang berkilau di bawah terik matahari, memantulkan cahaya menyilaukan.
McLaren 720S.
"ANJIR! MOBIL APAAN TUH?!" "Gila! Ada McLaren masuk kampus!" "Itu anak yayasan apa gimana woy?!"
Kampus gempar. Mobil itu berjalan pelan membelah kerumunan mahasiswa yang otomatis menyingkir memberikan jalan, seolah Laut Merah yang terbelah untuk Musa.
Di balik kemudi, Raka duduk santai dengan kacamata hitamnya, satu tangan memegang setir, satu tangan bertumpu di jendela yang terbuka.
Aura "Bad Boy Sultan" menguar kuat darinya.
Bella, yang tadinya bosan, langsung menegakkan punggungnya. Matanya yang jeli langsung mengenali nilai mobil itu.
"Tiga Miliar? Nggak... itu seri 720S. Harganya di atas 10 Miliar!" batin Bella cepat. Kalkulator di otaknya bekerja.
"Maba... bawa McLaren ke kampus? Ini bukan Ikan Paus lagi. Ini Leviathan!"
Mata Bella berbinar buas. Dia melihat target utamanya. Dia tidak peduli siapa cowok itu. Yang dia tahu, cowok itu harus masuk ke divisinya.
Dengan gerakan cepat secepat kilat, Bella meraih tas makeup-nya di bawah meja.
"Rini, pegangin cermin!" perintah Bella.
Dalam hitungan detik, Bella memoles bibirnya dengan lipstik warna merah maroon yang menggoda. Dia merapikan rambutnya agar jatuh sempurna di bahu.
Lalu, dengan gerakan yang sangat disengaja dan penuh perhitungan, Bella membuka satu kancing kemeja tambahannya.
Sekarang, dua kancing teratas terbuka. Belahan dadanya yang putih mulus terlihat lebih terekspos, namun masih dalam batas "kecelakaan yang indah".
"Sempurna," bisik Bella.
Mobil McLaren itu berhenti tepat di depan stand BEM FEB. Raka, yang melihat keramaian, memutuskan untuk bertanya arah.
Kaca jendela turun sepenuhnya. Raka menoleh ke arah meja pendaftaran.
"Siang," sapa Raka dengan suara beratnya. "Numpang tanya, ini stand pendaftaran BEM?"
Suaranya... wajahnya... mobilnya... Kombinasi maut.
Para junior cewek di sebelah Bella sudah menahan napas, tidak sanggup berkata-kata.
Bella berdiri. Dia tidak berjalan biasa. Dia melakukan Catwalk menuju pintu mobil Raka.
Saat sampai di samping pintu mobil yang rendah itu, Bella melakukan manuver andalannya.
Dia membungkuk.
Membungkuk dalam-dalam, menumpukan kedua tangannya di bingkai jendela mobil.
Posisi ini membuat wajah cantiknya sejajar dengan wajah Raka. Dan yang lebih penting... posisi membungkuk ini, ditambah gravitasi, membuat "aset" Bella terekspos dengan sempurna di depan mata Raka.
Pemandangan lembah putih yang dalam dan menggoda tersaji secara High Definition di depan Raka.
Bella tersenyum manis, senyum yang bisa melelehkan kutub utara.
"Halo, Ganteng..." sapa Bella dengan suara yang dibuat serak-serak basah. "Bener banget. Ini stand BEM."
Dia menatap mata Raka lekat-lekat, lalu matanya turun sedikit ke bibir Raka, lalu kembali ke mata. Teknik Eye-Triangle untuk menggoda.
"Kamu Maba ya? Kenalin, aku Bella. Kakak tingkat kamu yang paling... friendly," Bella mengedipkan sebelah mata. "Tertarik gabung sama Kakak? Di BEM... kita bisa ngelakuin banyak hal seru loh."
Raka menatap wanita di depannya. Dia melihat wajah cantik itu. Dia melihat "pemandangan" di bawah leher itu. Dia mencium aroma parfum Victoria's Secret yang manis.
Panel sistem Raka menyala otomatis.
[TING!]
[Target Terdeteksi: Bella Anindya]
[Skor Wajah: 92/100]
[Ukuran Atribut: 34D (Push-Up Effect: Maximum)]
[Status: Man-Eater / Senior Agresif]
[Niat: Ingin merekrut Tuan Rumah demi dana usaha dan gengsi.]
Raka tersenyum miring. Wah, agresif banget senior satu ini. Belum apa-apa udah nyodorin 'proposal' begini.
Di sekitar mereka, ratusan mahasiswa cowok menatap pemandangan itu dengan hati hancur dan air liur menetes.
"Anjir... Kak Bella..." "Menang banyak tuh si Maba!" "Gue mau dong dibungkukin kayak gitu!" "Mobilnya woy, mobilnya! Kalau lo bawa McLaren, Rektor juga bakal ngebungkuk ke lo!"
Raka membalas tatapan Bella dengan tenang.
"Menarik," kata Raka. "Emangnya hal seru apa yang Kak Bella tawarkan? Kalau cuma rapat doang, saya sibuk."
Bella semakin mencondongkan tubuhnya, ujung rambutnya menyentuh lengan Raka.
"Rapatnya beda dong," bisik Bella. "Khusus buat kamu... Kakak bisa kasih private mentoring. Gimana? Mau formulirnya? Atau mau nomor WA Kakak dulu?"