Julius Randle Seorang Laki-laki yang Memiliki aura yang mampu membekukan ruangan, namun seketika mencair hanya oleh senyum satu wanita.
Jane Mommartre, Seorang Gadis Yang menganggap dirinya Hanya Figuran Dan Hanya Debu yang tidak Terlihat Dimata Julius Randle, Dengan segala kekaguman dari jarak Tiga Meter, Dia Sudah menyukai Julius Randle Sejak Lama.
Dibalik Layar seorang Mr A dan Ms J sebagai pelengkap, yang ternyata Mr A adalan Julius Yang Tak tersentuh, Dan Ms J adalah Jane Si gadis Tekstil.
Cinta mereka tumbuh di antara jalinan Kerja sama Tekstil. Julius yang kaku perlahan mencair oleh Jane si Ms J, menciptakan momen-momen manis yang puncaknya terjadi di malam penuh kenangan.
Kekuatan cinta mereka diuji oleh manipulasi kejam Victoria Randle, Yang merupakan ibu Dari Julius Randle . Fitnah mendorong ibu, pesan singkat palsu, hingga tuduhan perselingkuhan membuat Julius buta oleh amarah. Jane diusir dalam keadaan hancur, membawa rahasia besar di Rahimnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kesunyian Mr. A
Hari itu terasa hampa. Sejak bangun tidur sampai jam makan siang, ponselku sunyi. Mr. A benar-benar hilang tanpa kabar. Biasanya, ia akan mengirimkan ucapan selamat pagi yang singkat atau sekadar komentar tentang cuaca. Absennya si peramal ini membuatku merasa kehilangan kompas, membuatku kembali merasa sebagai Jane Montmartre yang sendirian di tengah kerumunan.
Otakku yang biasanya cepat memecahkan teori ekonomi makro, entah kenapa, lumpuh total jika harus menghubungkan Mr. A dan Julius. Bagiku, itu mustahil. Julius adalah es, angka, dan ketegasan, sementara Mr. A adalah kehangatan, puisi, dan ketenangan. Mereka seperti minyak dan air yang tidak akan pernah menyatu dalam logikaku.
Di kelas, suasana "Geng Somplak" sedang tidak beres. Tidak ada tawa konyol atau godaan Henry pada mahasiswi tingkat satu.
"Pokoknya gue nggak setuju!" suara Lucia meninggi, membuat seisi kelas menoleh. Ia menatap Clark dengan tatapan tajam yang bisa melubangi baja. "Clark, lo itu cuma mikirin angka! Lo nggak mikir efeknya ke kesehatan mental Julius?"
Clark tetap tenang, jemarinya menari di atas layar tablet. "Ini bukan soal mental, Lucia. Ini soal kestabilan saham Randle Group menjelang kuartal ketiga. Kalau pertunangan ini goyah sekarang, pasar bakal panik."
"Bodo amat sama pasar!" Lucia menggebrak meja. "Grace itu parasit! Dia sengaja bawa media ke kampus cuma buat bikin klaim sepihak. Dia tahu Julius nggak akan membantah di depan publik demi nama baik ayahnya."
Henry, yang biasanya banyak bacot soal wanita, kali ini terdengar bicara sangat pelan. Ia berbisik serius pada Patrick, "Gue emang brengsek, tapi gue nggak suka liat Jules ditekan kayak gitu. Grace bener-bener mainin kartu mati lewat jalur orang tua."
Aku mencoba memfokuskan pendengaranku, tapi mereka mulai merendahkan suara. Pembicaraan mereka berubah menjadi istilah teknis tentang saham, merger, dan strategi komunikasi publik yang sama sekali bukan ranahku. Aku merasa seperti orang asing yang mencoba membaca bahasa kuno.
Di tengah kekacauan itu, Julius adalah yang paling diam.
Ia duduk tegak dengan laptop di depannya. Matanya menatap layar dengan intensitas yang menakutkan. Ia tidak ikut berdebat dengan Lucia, tidak juga membela Clark. Ia hanya diam, tapi aura dingin yang dipancarkannya terasa lebih tajam dari biasanya. Ia terlihat benar-benar tidak tersentuh, seperti raja yang sedang dikepung namun tetap menolak untuk menyerah.
Aku menatapnya dari jarak tiga meter yang amat menyiksa. Ada keinginan untuk mendekat, untuk bertanya apakah dia baik-baik saja, tapi siapa aku? Aku hanya si anak tekstil yang sedang memegang cokelat hitam pemberiannya kemarin.
Sesaat, Julius menghentikan ketikannya. Ia tidak menoleh padaku, tapi aku melihat tangannya merogoh saku, mengeluarkan ponsel, lalu meletakkannya kembali di meja tanpa membukanya. Ekspresinya tampak... frustrasi?
Hingga kelas berakhir, Mr. A tetap tidak mengirim pesan. Aku berjalan keluar gedung dengan perasaan berat.
"Jane!"
Aku menoleh. Lucia berjalan cepat ke arahku, meninggalkan yang lain. Wajahnya masih terlihat merah karena marah.
"Jane, lo liat kan gimana stresnya dia?" tanya Lucia tiba-tiba tanpa basa-basi.
"Maksudmu... Tuan—maksudku, Julius?"
Lucia menghela napas kasar, menyandarkan tubuhnya ke pilar. "Dia butuh sesuatu yang nyata, Jane. Bukan Grace yang plastik itu. Tapi dia terlalu keras kepala buat minta bantuan." Lucia menatapku dalam-dalam, seolah sedang menilai sesuatu. "Tolong, jangan jauhi dia meski suasananya lagi kacau gini."
Aku tertegun. Mengapa Lucia mengatakan itu padaku? Seorang figuran?
Saat Lucia pergi, ponselku bergetar. Jantungku melonjak.
Mr. A: Maaf baru berkabar. Hari ini sangat menyesakkan. Terkadang, matahari pun harus tertutup awan hitam agar orang tahu betapa pentingnya cahaya yang sederhana. Bagaimana harimu di kelas tadi? Apakah kau melihat sesuatu yang mengganggumu?
Aku menatap pesan itu. Menyesakkan. Kata yang sama yang kugunakan untuk menggambarkan suasana kelas hari ini. Aku mulai merasa Mr. A bukan sekadar peramal, dia benar-benar ada di sana, bernapas di udara yang sama denganku.
🌷🌷🌷🌷🌷🌷
Happy Reading Dear 😍😍