Bagi Arkanza Malik, sentuhan wanita adalah racun yang mematikan. CEO dingin ini mengidap penyakit aneh yang membuatnya sesak napas dan kulitnya terbakar setiap kali kulitnya bersentuhan dengan lawan jenis. Namun, sebuah insiden di lorong hotel mengubah segalanya.
Aira, gadis miskin yang kabur dari kejaran rentenir setelah menghantam kepala pria yang ingin melecehkannya, tanpa sengaja jatuh ke pelukan Arkanza. Bibir mereka bertemu dalam kegelapan. Arkanza yang seharusnya mati karena alergi, justru merasakan napasnya kembali. Gadis kumal ini adalah satu-satunya penawar racunnya!
"Aku sudah melunasi hutang ayahmu. Sebagai gantinya, kau harus menjadi istriku dan biarkan aku menyentuhmu kapan pun aku membutuhkannya."
Aira terjebak. Menjadi "obat hidup" bagi CEO kejam yang tidak punya hati. Di antara kontrak miliaran rupiah dan intrik perebutan harta, mampukah Aira bertahan tanpa harus menyerahkan hatinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29: Permainan Dua Raja
Udara hutan yang dingin terasa menusuk paru-paru saat tubuh Arkanza ditarik keluar dari reruntuhan terowongan. Tubuhnya penuh debu, darah mengering di pelipisnya, dan bintik merah menyebar di sepanjang rahang hingga lehernya. Arkanza tampak seperti pria yang baru saja kembali dari neraka.
"Arkan!" Aira menghambur, menangkap tubuh Arkanza yang hampir tumbang.
Begitu kulit Aira bersentuhan dengan kulit Arkanza, sebuah desahan lega lolos dari bibir pria itu. Arkanza memejamkan mata sesaat, menyerap energi dari satu-satunya wanita yang bisa menenangkan sistem syarafnya yang sedang mengamuk.
"Jangan... menangis..." bisik Arkanza parau. Tangannya yang gemetar meraih tengkuk Aira, menariknya mendekat hingga dahi mereka bersentuhan.
Di saat itulah, di tengah kebisingan alat berat dan perintah kasar para pengawal Syarif, Arkanza membisikkan rahasia fatal itu tepat di telinga Aira.
"Jangan berikan kode yang asli, Aira. Kode di liontin itu adalah jebakan virus. Jika Syarif memasukkannya ke sistem bank Swiss tanpa sidik jariku sebagai verifikasi akhir, seluruh akses itu akan terkunci selamanya dan identitasnya akan terlacak oleh interpol."
Aira membeku. Jantungnya berdegup kencang. Ia menatap mata Arkanza yang sayu namun tetap memiliki kilatan kecerdikan yang menakutkan. Jadi, sejak awal Arkanza sudah tahu? Dia membiarkan semua ini terjadi sebagai bagian dari rencana?
"Sudah cukup dramanya!" Syarif Malik melangkah mendekat, berdiri tegak dengan tangan di dalam saku mantel wolnya yang mahal. "Aku sudah menepati janjiku. Anakku masih bernapas. Sekarang, berikan apa yang menjadi hakku, Aira."
Aira perlahan berdiri, masih memegangi tangan Arkanza. Ia menatap Syarif dengan keberanian yang baru. "Kau sangat tidak sabar untuk menjadi pencuri internasional, ya, Tuan Syarif?"
Syarif menyipitkan mata. "Jaga bicaramu. Kode itu bukan pencurian, itu adalah kompensasi atas semua kerugian yang diberikan keluarga Sterling pada Malik Group selama ini."
"Kompensasi?" Aira tertawa getir. "Kau membunuh Ibuku, kau menghancurkan hidup istrimu sendiri, dan sekarang kau ingin menyebut ini kompensasi? Kau benar-benar tidak punya hati."
"Hati tidak bisa membeli kekuasaan, Aira," balas Syarif dingin. Ia mengeluarkan sebuah tablet digital dan menyodorkannya pada Aira. "Masukkan kodenya sekarang. Jika tidak, aku akan meminta Arthur untuk membawa Arkanza kembali ke dalam lubang itu."
Aira melirik Arkanza. Arkanza memberikan anggukan kecil yang hampir tak terlihat.
Dengan tangan gemetar yang dipalsukan, Aira mulai mengetikkan deretan angka biner yang ada di liontinnya. Setiap digit terasa seperti peluru yang ia lepaskan ke arah Syarif. Setelah selesai, ia menyerahkan tablet itu kembali.
"Sudah. Sekarang biarkan kami pergi," tuntut Aira.
Syarif memeriksa layar tablet itu dengan mata berbinar. "Sabar... sistem perbankan Swiss butuh waktu untuk sinkronisasi. Dan sebelum itu terjadi, kalian berdua akan ikut denganku ke sebuah tempat yang lebih 'nyaman' daripada hutan ini."
"Kau berjanji akan membiarkan kami pergi!" teriak Aira.
"Aku berjanji akan membiarkan Arkanza hidup, bukan membiarkan kalian bebas," Syarif memberi isyarat pada anak buahnya. "Bawa mereka ke rumah aman di pinggiran Kent. Dan Arthur... pastikan tidak ada alat pelacak yang menempel di tubuh mereka."
Di Dalam Mobil – Menuju Rumah Aman
Arkanza bersandar di bahu Aira, tampak sangat lemah, namun jemarinya diam-diam menuliskan sesuatu di telapak tangan Aira dengan gerakan samar.
P-A-N-T-A-U
Aira mengerti. Arkanza sedang memantau sesuatu.
"Arkan," bisik Aira pelan, suaranya teredam oleh deru mesin mobil. "Kenapa kau tahu soal virus di liontin itu? Kapan kau memeriksanya?"
Arkanza menoleh sedikit, menatap Aira dengan tatapan posesif yang dalam. "Ibumu... Riana... dia wanita yang cerdas. Dia tahu Sterling tidak akan berhenti mencarinya. Dia memberitahu Ibuku sebelum kecelakaan itu terjadi, dan Ibu memberitahuku lewat surat rahasia saat aku masih di bangku sekolah."
"Jadi selama ini kau mendekatiku karena tahu soal kode ini?" tanya Aira dengan nada yang sedikit terluka.
Arkanza meraih tangan Aira, meremasnya kuat. "Awalnya, iya. Itu adalah tugasku untuk menyelamatkan Malik Group. Tapi setelah aku menyentuhmu... setelah aku tahu kau adalah satu-satunya udara bagi paru-paruku... kode itu tidak ada artinya lagi. Aku lebih memilih membakar seluruh emas di Swiss daripada kehilangan satu hari tanpamu."
Aira tertegun. Di balik semua manipulasi dan sifat obsesifnya, Arkanza benar-benar menyerahkan hidupnya pada Aira.
"Syarif akan segera tahu kalau kodenya palsu, kan?" tanya Aira cemas.
"Tidak palsu," koreksi Arkanza dengan seringai pucat. "Itu kode asli, tapi terkunci. Dia akan terjebak dalam proses verifikasi yang tak berujung. Dan saat dia menyadari ada yang salah, tim Reno seharusnya sudah sampai ke sini. Aku sudah mengaktifkan pelacak di kancing kemejaku sebelum masuk ke terowongan tadi."
Tiba-tiba, mobil berhenti mendadak.
Syarif, yang berada di mobil depan, keluar dengan wajah memerah. Ia membanting pintu mobil dan berjalan ke arah mobil Arkanza. Ia menggebrak jendela kaca dengan keras.
"ARKANZA! KELUAR!!!"
Syarif melemparkan tabletnya ke tanah. Di layarnya tertulis: ACCESS DENIED - IDENTITY VERIFICATION REQUIRED.
"Apa yang kau lakukan pada kode itu?!" Syarif menarik kerah baju Arkanza keluar dari mobil.
Arkanza berdiri dengan sisa kekuatannya, menatap ayahnya dengan tatapan menghina. "Aku melakukan apa yang seharusnya dilakukan oleh seorang Malik, Ayah. Aku memastikan aset itu tidak jatuh ke tangan seorang pengkhianat."
"KAU!" Syarif melayangkan pukulan ke wajah Arkanza.
Aira menjerit, mencoba melerai, namun ia ditahan oleh pengawal.
"Dengar, Ayah," Arkanza meludah darah ke samping, senyumnya semakin lebar dan menyeramkan. "Sistem itu meminta sidik jariku. Dan jika kau membunuhku sekarang, kau tidak akan pernah menyentuh satu sen pun dari harta Sterling. Kau butuh aku tetap hidup, dan kau butuh Aira tetap berada di sisiku agar aku mau bekerja sama."
Syarif terengah, amarahnya memuncak hingga dadanya sesak. "Kau pikir kau menang? Aku akan menyiksamu sampai kau memohon untuk memberikan sidik jarimu!"
"Silakan coba," tantang Arkanza. "Tapi ingat, setiap detik kau menahanku di sini, polisi Inggris dan tim keamanan pribadiku semakin dekat. Kau ingin masuk penjara di Inggris? Di sini bukan Indonesia, Ayah. Uangmu tidak akan bisa menyuap hukum di sini."
...****************...
Suara helikopter mulai terdengar di kejauhan. Syarif panik, ia mengeluarkan senjatanya dan menodongkannya ke pelipis Aira.
"Berikan tanganmu, Arkanza! Berikan sidik jarimu di tablet ini sekarang, atau aku akan meledakkan kepala istrimu!" teriak Syarif kalap.
Arkanza membeku. Rencananya buyar seketika saat nyawa Aira kembali menjadi taruhan.