NovelToon NovelToon
ISTRI UNTUK SUAMIKU

ISTRI UNTUK SUAMIKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Cintamanis / Wanita perkasa / Cinta Seiring Waktu / Keluarga / Romansa
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: Alvaraby

"Mencintai bukan hanya soal memiliki, tapi soal memastikan duniamu tetap berputar saat kamu tak lagi ada di sana."

Canida punya segalanya: karir cemerlang sebagai penulis best-seller, suami suportif seperti Alfandy, dan dua anak yang menjadi pusat semestanya. Namun, sebuah amplop putih mengubah hidupnya menjadi nightmare dalam semalam. Vonis kanker serviks stadium lanjut datang tanpa permintaan maaf, merenggut semua rencana masa depannya.

Di tengah rasa sakit yang mulai menggerogoti tubuhnya, Nida tidak takut mati. Ia hanya takut akan satu hal: Kekosongan. Ia takut anak-anaknya kehilangan arah, dan suaminya kehilangan pegangan akidah.

Maka, Nida mengambil keputusan paling gila dan paling menyakitkan yang pernah dipikirkan seorang istri: Mencarikan calon istri untuk suaminya sendiri.

Di satu sisi, ada Anita, ipar ambisius dan manipulatif siap mengambil alih posisinya demi harta. Di sisi lain, ada Hana, wanita tulus yang Nida harap bisa jadi "pelindung surga" bagi keluarganya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alvaraby, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 11 Kemoterapi Pertama

Ruang perawatan rumah sakit itu terasa begitu dingin, meski pendingin ruangan telah diatur pada suhu normal. Bau tajam antiseptik dan suara ritmis mesin pemantau jantung menjadi musik latar yang menyesakkan bagi Nida. Hari ini adalah awal dari babak baru yang sangat ia takuti: kemoterapi pertama. Nida berbaring di atas ranjang putih yang kaku, menatap cairan kimia yang perlahan menetes dari botol infus menuju pembuluh darahnya. Setiap tetesnya terasa seperti api dingin yang menjalar, mencoba membakar sel-sel jahat namun sekaligus merenggut sisa-sisa kekuatannya.

Di kursi samping ranjang, Fandy duduk terdiam. Kemarahannya yang meledak tempo hari kini mendingin, berganti menjadi sebuah rasa bersalah yang membeku. Ia menatap wajah istrinya yang kian tirus, kulit yang biasanya cerah kini tampak sepucat kertas. Kecurigaan tentang "wanita bayaran" yang kemarin sempat membakar hatinya seolah menguap saat ia melihat Nida meringis menahan mual yang luar biasa.

"Nida... minumlah sedikit," bisik Fandy, menyodorkan segelas air dengan tangan yang gemetar.

Nida menggeleng lemah. Rasa logam di mulutnya membuat segala sesuatu terasa mual. Ia menatap Fandy dengan mata yang sayu, mencari sisa-sisa kehangatan yang sempat hilang. "Mas... maafkan aku," suaranya hampir tak terdengar, tenggelam di balik masker oksigen yang membantunya bernapas.

"Jangan bicara dulu, Nida. Fokuslah pada pengobatanmu," jawab Fandy pendek. Ia masih belum sanggup membahas soal Hana atau fitnah Anita, namun hatinya tak tega melihat raga yang ia cintai itu kini hancur di depan matanya.

Proses kemoterapi itu berlangsung berjam-jam, namun efeknya terasa seperti selamanya. Nida mulai merasa pening yang hebat, dan saat ia mencoba mengusap dahinya, beberapa helai rambut rontok dan tertinggal di jemarinya. Nida terpaku. Ia menatap rambut-rambut hitam itu dengan dada yang sesak. Inilah awal dari kehilangan identitas fisiknya. Satu per satu mahkotanya akan pergi, menyisakan kerontokan yang menjadi pengingat bahwa maut kian mendekat.

"Mas... rambutku," Nida menangis tanpa suara, menunjukkan segenggam rambut di tangannya pada Fandy.

Fandy merasakan jantungnya seperti diremas. Ia bangkit, mendekap kepala Nida ke dadanya, mencoba menyembunyikan tangisnya sendiri. "Tidak apa-apa, Sayang. Hanya rambut. Kamu tetap Nida yang paling cantik bagiku," bohong Fandy dengan suara serak. Ia tahu, kata-kata itu tidak akan banyak membantu, namun hanya itu yang bisa ia berikan di tengah ketidakberdayaannya.

Di saat kondisi Nida sedang drop, pintu kamar perawatan terbuka pelan. Arini masuk dengan wajah cemas, namun ia tidak sendiri. Di belakangnya, Hana berdiri dengan mata sembab. Hana membawa sebuah bungkusan kecil berisi makanan rumahan dan sebuah Al-Qur'an saku.

Fandy seketika berdiri, tubuhnya menegang melihat kehadiran Hana. Kecurigaannya kembali berdenyut, namun saat ia melihat tatapan Hana yang penuh keprihatinan murni—bukan tatapan seorang wanita yang sedang berakting—ia tertegun.

"Pak Fandy... Mbak Arini bilang kondisi Mbak Nida sedang tidak baik. Saya... saya hanya ingin mengantarkan doa dan sedikit masakan yang mungkin bisa membantu Mbak Nida menelan makanan," ujar Hana dengan suara lembut dan sangat sopan.

Hana mendekati ranjang Nida. Ia tidak memedulikan tatapan dingin Fandy. Ia justru meraih tangan Nida yang bebas dari infus, mengecupnya dengan takzim. "Mbak Nida, harus kuat. Anak-anak menunggu di rumah. Saya tadi sempat mampir ke rumah dan menemui Syabila. Dia mengirimkan surat ini untuk Mbak," Hana meletakkan sebuah amplop berwarna merah muda di tangan Nida.

Nida tersenyum di balik maskernya. Kehadiran Hana seperti oase di padang pasir kemoterapinya. Namun, Fandy tetap menjaga jarak. Ia keluar dari kamar, diikuti oleh Arini yang ingin menjelaskan duduk perkara sebenarnya.

"Fandy, dengarkan aku," ujar Arini di koridor rumah sakit yang sepi. "Uang transferan itu benar-benar royalti. Aku yang mengurus administrasinya di kantor. Nida tidak menyewa Hana. Nida justru melindungi Hana dari fitnah Anita yang sudah menyebar ke yayasannya. Hana ke sini karena dia merasa berutang budi pada kebaikan Nida, bukan karena dia mengincar posisimu."

Fandy bersandar pada dinding, menutup matanya rapat-rapat. "Kenapa semuanya jadi serumit ini, Ar? Aku ingin fokus pada kesembuhan Nida, tapi Nida terus-menerus menarik orang lain masuk ke dalam penderitaan kami."

"Karena Nida tahu dia tidak akan selamanya ada di sana untukmu, Fandy! Dia sedang menyiapkan pelampung sebelum kapal kalian benar-benar karam!" Arini bicara dengan nada tegas. "Lihat wanita di dalam itu. Dia rela kehilangan rambutnya, kehilangan kecantikannya, dan sekarang dia mencoba melepaskan egonya sebagai istri demi memastikan kamu tidak sendirian. Jangan hukum dia dengan kecurigaanmu."

Di dalam kamar, Nida dan Hana berbicara dalam keheningan yang dalam. Nida memberikan instruksi-instruksi kecil tentang kesukaan Syauqi, tentang alergi yang dimiliki Syabila, dan tentang bagaimana menghadapi Fandy saat ia sedang stres. Hana mendengarkan dengan air mata yang terus mengalir. Ia merasa memikul beban yang sangat berat, sebuah amanah dari seorang wanita yang sedang bertaruh nyawa.

"Hana... jika nanti aku sudah tidak kuat lagi, berjanjilah padaku satu hal," bisik Nida.

"Apa itu, Mbak?"

"Jangan tinggalkan mereka saat badai datang. Mas Fandy mungkin sulit dihadapi, tapi hatinya tulus. Dan anak-anak... mereka hanya butuh cinta," Nida terbatuk lagi, rasa sakit itu kembali menyerang.

Malam itu, kemoterapi pertama berakhir dengan penderitaan fisik yang luar biasa bagi Nida. Ia muntah berkali-kali hingga hanya tersisa cairan bening. Fandy tetap setia di sampingnya, membersihkan sisa muntahan dan mengusap punggungnya, namun pikirannya terus berkecamuk. Ia melihat bagaimana Hana dengan telaten membantu merapikan tempat tidur Nida sebelum pamit pulang. Ada keserasian yang menyakitkan di depan matanya—sebuah transisi yang belum sanggup ia terima.

Satu minggu berlalu, Nida diperbolehkan pulang, namun ia pulang sebagai sosok yang berbeda. Rambutnya kini ditutupi turban karena kerontokan yang kian parah. Tubuhnya semakin ringkih hingga ia harus menggunakan kursi roda. Syabila dan Syauqi menyambutnya dengan tangis, namun kehadiran Hana yang kini sering datang untuk membantu mengajar mereka mengaji mulai memberikan suasana baru di rumah itu.

Namun, konflik belum selesai. Di saat Nida sedang dalam kondisi paling lemah, Anita kembali melancarkan serangan melalui Mama Rosa. Mama Rosa datang ke rumah dan secara terang-terangan menghina kondisi fisik Nida, menyebutnya tidak lagi layak bersanding di samping Fandy yang merupakan figur publik.

"Fandy, lihat istrimu. Dia sudah seperti mayat hidup. Kamu butuh pendamping yang bisa menemanimu ke acara-acara penting, bukan yang hanya menghabiskan uang untuk biaya rumah sakit yang sia-sia!" seru Mama Rosa di depan Nida.

Kalimat itu menjadi pemicu ledakan baru. Nida merasa harga dirinya diinjak-injak di rumahnya sendiri. Namun di tengah hinaan itu, Fandy akhirnya membuat keputusan besar. Ia memegang tangan Nida di depan ibunya.

"Ma, jika Nida adalah mayat hidup, maka aku adalah ruhnya. Aku tidak akan pernah meninggalkannya. Dan jika Mama terus membawa Anita ke sini untuk menghina istriku, maka Mama juga tidak perlu datang lagi ke rumah ini," tegas Fandy.

Nida menangis haru. Namun di dalam batinnya, ia tahu ini hanyalah ketenangan sesaat. Kemoterapi pertama telah membuktikan bahwa fisiknya sedang kalah dalam pertempuran. Dan saat ia melihat Hana sedang menyuapi Syauqi di meja makan dari kejauhan, Nida menyadari satu hal: cintanya pada Fandy kini telah berubah bentuk. Bukan lagi cinta yang ingin memiliki, tapi cinta yang ingin memastikan bahwa saat ia tiada, Fandy akan tetap berdiri tegak, meski bukan lagi di sampingnya.

---

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!