"Aku tidak membelimu untuk dicintai. Aku membelimu untuk menghancurkan ayahmu."
Aria Vane hanyalah tumbal. Dijual oleh ayahnya sendiri untuk melunasi utang darah kepada Dante Moretti, pria paling kejam yang pernah memimpin sindikat Milan.
Dante tidak butuh istri. Dia butuh senjata.
Aria tidak butuh perlindungan. Dia butuh balas dendam.
Di atas ranjang yang sama, mereka saling mengincar nyawa. Namun, saat rahasia masa lalu mulai terkuak, Aria menyadari bahwa sang Iblis yang menikahinya adalah satu-satunya peluru yang ia miliki untuk bertahan hidup.
Satu pernikahan. Dua pengkhianatan. Ribuan peluru yang mengintai.
Di dunia Moretti, hanya ada satu aturan: Jangan jatuh cinta, atau kau akan menjadi orang pertama yang mati.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Coldmaniac, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20: Jalur Darah Menuju Sanctuarium
DUNIA di mata Dante Moretti mulai bergoyang. Adrenalin yang tadi memompa jantungnya seperti mesin perang kini mulai surut, meninggalkan rasa sakit yang menghantam seperti ombak godam. Darah dari bahunya telah merembes hingga ke lengan baju, menetes pelan ke lantai batu biara yang dingin. Namun, setiap kali matanya mulai meredup, ia menoleh ke arah Aria yang terbaring di brankar darurat, dan kesadarannya tersentak kembali.
"Bos, kita harus pergi sekarang," suara Marco terdengar mendesak. Ia sedang membantu Agostino membereskan peralatan medis portabel ke dalam tas taktis. "Satelit menunjukkan konvoi tambahan Valerio sedang menuju ke sini dari arah utara. Mereka akan sampai dalam lima belas menit."
Dante mengangguk kaku. Ia mendekati brankar Aria, menggenggam tangan istrinya yang terpasang infus. "Aria, dengar aku. Kita akan memindahkanmu ke van medis. Perjalanannya akan sedikit kasar, tapi Marco akan mengemudi sehalus mungkin."
Aria membuka matanya sedikit. Masker oksigen di wajahnya tampak mengembun setiap kali ia bernapas. Ia tidak bisa bicara banyak, namun ia meremas tangan Dante dengan sisa tenaganya. Sebuah pesan tanpa kata: Jangan menyerah.
"Agostino, apakah dia bisa bertahan dalam perjalanan dua jam ke Ragusa?" tanya Dante.
"Jika pendarahannya tidak pecah lagi, dia punya peluang," jawab Agostino sambil memasang sabuk pengaman di tubuh Aria agar tidak terguncang. "Tapi dia butuh transfusi darah lengkap dan pemantauan detak jantung janin secara konstan. Kita tidak punya pilihan lain, Tuan. Di sini kita hanya menunggu maut."
Proses evakuasi itu berlangsung dengan ketegangan yang nyaris meledak. Tim Reapers membentuk barikade manusia saat brankar Aria didorong keluar menuju van putih yang sudah dimodifikasi menjadi ambulans rahasia.
Hujan gerimis mulai turun di perbukitan Sisilia, menyamarkan suara mesin van yang menderu pelan. Dante duduk di dalam van, tepat di samping Aria, sementara Agostino sibuk memperhatikan monitor jantung yang berkedip redup. Marco berada di kursi kemudi, sementara dua mobil SUV pengawal berada di depan dan belakang mereka.
"Matikan lampu," perintah Dante. "Gunakan night vision."
Van itu meluncur membelah kegelapan jalur tikus pegunungan Iblei. Jalanannya sempit, berliku, dan penuh dengan lubang. Setiap kali van berguncang, Dante bisa melihat Aria merintih tertahan di balik maskernya. Dante menempelkan keningnya ke tangan Aria, membisikkan doa-doa yang sudah lama ia lupakan, meminta agar tuhan—jika memang ada—tidak mengambil cahaya hidupnya malam ini.
Tiba-tiba, suara statis di radio Marco pecah.
"Bos! Ada blokade di depan! Jembatan layang menuju Ragusa telah dipotong oleh tim Sombra!"
Dante langsung menegakkan tubuhnya, mengabaikan rasa perih di bahunya. "Cari jalur alternatif! Sekarang!"
"Satu-satunya jalur lain adalah melewati lembah terbuka, tapi itu artinya kita akan menjadi sasaran empuk jika mereka punya helikopter," sahut Marco, suaranya terdengar tegang.
"Lakukan saja! Kita tidak bisa kembali!"
Saat van mereka keluar ke area lembah yang lebih terbuka, sebuah cahaya lampu sorot tiba-tiba menyambar dari langit.
WUUUSH!
Sebuah helikopter serbu Bell 412 milik Valerio muncul dari balik bukit, lampu sorotnya mengunci van putih itu seolah-olah mereka adalah semut yang siap diinjak.
"Tiarap!" teriak Marco.
Helikopter itu mulai melepaskan rentetan senapan mesin. Peluru-peluru kaliber .50 menghujam tanah di sekitar van, menciptakan lubang-lubang besar yang mengirim tanah dan batu beterbangan ke arah kaca mobil.
"Dante..." bisik Aria, matanya membelalak ketakutan saat melihat kilatan cahaya di luar jendela.
Dante segera mendekap tubuh Aria, menutupi wanita itu dengan tubuhnya sendiri. "Tetap di bawah, Aria! Jangan lepaskan masker itu!"
"Marco! Balas mereka!" teriak Dante.
SUV pengawal di depan mereka tiba-tiba berhenti. Dua anggota Reapers keluar membawa peluncur rudal panggul FIM-92 Stinger. Mereka membidik ke arah helikopter yang sedang menukik rendah itu.
SHUUUUT—BOOM!
Rudal itu melesat membelah malam, menghantam ekor helikopter tersebut. Helikopter itu berputar liar di udara sebelum akhirnya jatuh menghantam lereng bukit dan meledak menjadi bola api raksasa yang menerangi seluruh lembah.
"Jalan! Jalan terus!" teriak Dante.
Satu jam kemudian, mereka sampai di sebuah bangunan yang tampak seperti gudang anggur tua di pinggiran Ragusa. Namun, begitu gerbang besi terbuka, bagian dalamnya adalah sebuah rumah sakit privat dengan teknologi tercanggih yang bisa dibeli oleh kekayaan Moretti.
Beberapa perawat dan dokter yang sudah disumpah untuk setia segera berlari menjemput brankar Aria.
"Bawa dia ke ruang operasi sekarang! Periksa plasentanya!" perintah Agostino kepada tim medis setempat.
Dante mencoba mengikuti, namun langkahnya terhenti di depan pintu steril. Ia terhuyung, pandangannya menjadi hitam sepenuhnya. Ia jatuh berlutut, darah dari bahunya kini membasahi lantai rumah sakit yang putih bersih.
"Bos!" Marco menangkap tubuh Dante sebelum kepalanya menghantam lantai.
"Selamatkan... selamatkan mereka, Marco..." gumam Dante sebelum akhirnya ia kehilangan kesadaran.
Dante terbangun tiga jam kemudian. Ia mendapati dirinya terbaring di tempat tidur rumah sakit dengan bahu yang sudah diperban rapi dan kantong infus yang tergantung di sampingnya. Ruangan itu sunyi, hanya ada suara detak jam dinding yang monoton.
Ia mencoba duduk, rasa sakit di bahunya masih ada namun sudah lebih reda berkat obat bius. Ingatannya langsung tertuju pada Aria.
Dante mencabut infusnya dengan kasar dan mencoba berdiri. Kakinya masih terasa lemas, namun ia memaksakan diri untuk melangkah keluar kamar. Di koridor, ia melihat Marco sedang duduk di bangku tunggu dengan kepala tertunduk.
"Marco," panggil Dante, suaranya parau.
Marco mendongak, matanya tampak merah karena kurang tidur. Ia segera berdiri. "Bos, kau seharusnya tetap di tempat tidur."
"Aria. Di mana dia? Bagaimana bayinya?" tanya Dante, suaranya bergetar karena ketakutan yang belum hilang.
Marco diam sejenak, membuat jantung Dante seolah berhenti berdetak. Lalu, sebuah senyum tipis muncul di wajah Marco. "Agostino baru saja keluar sepuluh menit yang lalu. Aria stabil. Pendarahannya berhasil dihentikan sepenuhnya tanpa perlu operasi caesar darurat. Bayinya... detak jantungnya kembali normal. Mereka berdua selamat, Dante."
Dante menyandarkan punggungnya ke dinding, menarik napas panjang yang terasa seperti oksigen pertama setelah ia tenggelam selama berjam-jam. Ia menutup wajahnya dengan tangannya, membiarkan beberapa tetes air mata jatuh. Ia tidak peduli jika Marco melihatnya. Malam ini, ia telah memenangkan pertempuran yang paling penting dalam hidupnya.
"Boleh aku melihatnya?"
"Dia sedang tidur di bawah pengaruh obat penenang di kamar 402. Agostino sedang menjaganya."
Dante masuk ke kamar Aria dengan langkah yang sangat pelan. Ruangan itu remang-remang, hanya diterangi oleh cahaya dari monitor jantung yang berbunyi beep... beep... beep... yang sangat teratur dan menenangkan.
Aria terbaring di sana, wajahnya sudah tidak sepucat tadi, meskipun masih tampak sangat lelah. Dante duduk di kursi di samping tempat tidurnya. Ia mengambil tangan Aria, menciumnya dengan sangat lembut.
"Kau sangat kuat, cara mia," bisik Dante. "Kau dan si kecil... kalian adalah pejuang yang sesungguhnya."
Dante menatap monitor yang menampilkan gelombang detak jantung bayinya. Sebuah kehidupan kecil yang belum pernah ia lihat, namun sudah ia cintai lebih dari nyawanya sendiri. Ia menyadari bahwa Valerio telah gagal. Valerio mencoba menghancurkan pondasi Moretti, namun dia justru membuat pondasi itu menjadi tak terkalahkan.
Tiba-tiba, ponsel satelit di atas meja bergetar. Dante mengambilnya. Sebuah pesan masuk dari nomor yang tidak terenkripsi.
> "Kau menang di lembah itu, Dante. Tapi kau lupa satu hal. Aku tidak butuh membunuh istrimu untuk menghancurkanmu. Aku hanya butuh dunia tahu bahwa pewaris Moretti adalah seorang 'cacat' hasil hubungan terlarang dengan keluarga pengkhianat. Besok pagi, semua media di Italia akan menerima dokumen asli tentang kehamilan istrimu dan lokasi persembunyian kalian. Selamat tinggal, Sang Penjagal. Mari kita lihat bagaimana kau melindungi mereka dari amukan massa dan hukum internasional."
>
Dante meremas ponsel itu hingga layarnya retak. Valerio tidak lagi menyerang dengan peluru; ia menyerang dengan eksposur. Ia ingin memaksa Dante dan Aria keluar dari persembunyian mereka dan menjadi target publik.
Dante menoleh ke arah Aria yang sedang tidur dengan tenang. Ia tahu bahwa waktu mereka untuk bersembunyi sudah habis. Jika dunia ingin melihat Moretti, maka ia akan memberikan mereka pertunjukan yang tidak akan pernah mereka lupakan.
Ia keluar dari kamar dan menemui Marco yang masih di koridor.
"Marco, siapkan tim. Kita tidak akan lari lagi," ucap Dante dengan nada yang sangat dingin dan penuh otoritas.
"Apa rencana kita, Bos?"
"Valerio ingin menggunakan media? Baik. Kita akan menggunakan media juga. Tapi kita tidak akan memberikan mereka skandal. Kita akan memberikan mereka pengakuan dari seorang monster yang sudah bosan bersembunyi."
Dante menatap ke arah jendela yang memperlihatkan fajar yang mulai menyingsing di atas Ragusa. "Hubungi stasiun TV nasional di Roma. Katakan pada mereka bahwa Dante Moretti ingin memberikan wawancara eksklusif secara langsung besok malam. Dan katakan pada mereka... untuk menyiapkan kamera di depan markas besar kepolisian Italia."
Marco tertegun. "Bos, itu sama saja dengan menyerahkan diri."
"Bukan menyerahkan diri, Marco. Ini adalah langkah catur terakhir. Aku akan membakar diriku sendiri untuk memastikan Aria dan anakku memiliki masa depan yang bersih. Dan dalam prosesnya, aku akan memastikan Valerio Moretti ikut terbakar bersamaku."
Perang saudara ini akan berakhir dengan cara yang paling tidak terduga. Bukan di medan perang Sisilia, melainkan di hadapan jutaan pasang mata di seluruh negeri.