NovelToon NovelToon
Mahar Satu Miliar Dari Pria Impoten

Mahar Satu Miliar Dari Pria Impoten

Status: tamat
Genre:Penyesalan Suami / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Pengantin Pengganti / Terpaksa Menikahi Suami Cacat / Tamat
Popularitas:1.4M
Nilai: 5
Nama Author: Aisyah Alfatih

Arum Mustika Ratu menikah bukan karena cinta, melainkan demi melunasi hutang budi.
Reghan Argantara, pewaris kaya yang dulu sempurna, kini duduk di kursi roda dan dicap impoten setelah kecelakaan. Baginya, Arum hanyalah wanita yang menjual diri demi uang. Bagi Arum, pernikahan ini adalah jalan untuk menebus masa lalu.

Reghan punya masa lalu yang buruk tentang cinta, akankah, dia bisa bertahan bersama Arum untuk menemukan cinta yang baru? Atau malah sebaliknya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisyah Alfatih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

22. Empat Tahun Kemudian...

“Tidak, Tuan … bukan aku … Tuan Reghan, ku mohon…”

Suara teriakan itu terus bergema di dalam ruang yang sunyi itu. Langit di luar tampak muram, hujan menetes lembut di jendela, menimbulkan bunyi gemericik yang tenang berlawanan dengan napas tersengal Arum yang baru saja tersentak bangun dari tidurnya.

Tubuhnya gemetar, keringat membasahi wajah dan lehernya. Kedua matanya terbuka lebar, menatap kosong ke arah langit-langit kamar.

“Nggak ... bukan aku...” suaranya bergetar, sisa dari mimpi yang begitu nyata, mimpi tentang malam ketika punggungnya dicambuk berkali-kali, darah menetes, dan suara jeritan menggema di antara tembok dingin keluarga Argantara.

Pintu kamar berderit pelan. Seorang pria masuk dengan langkah hati-hati, lampu meja dinyalakan, menyinari wajah lembut pria itu, dia adalah Gavin, lelaki berusia tiga puluhan dengan sorot mata yang selalu tenang.

“Arum,” panggilnya lembut, duduk di sisi ranjang.

“Mimpi itu lagi?”

Arum mengusap wajahnya, berusaha menenangkan diri.

“Iya … masih sama. Aku … mendengar suara cambuk itu lagi.”

Gavin menghela napas pelan, menatap wanita di hadapannya penuh khawatir.

“Kamu nggak boleh terus-terusan disiksa oleh masa lalu, Arum. Sudah tidak tahun sejak malam itu.”

Dia meraih tangan Arum, menggenggamnya hangat. “Aku bisa membawa kamu ke rumah sakit besok, atau ke psikiater yang kamu mau.”

Namun Arum hanya menggeleng. “Aku baik-baik saja, Gavin. Aku cuma … terlalu lelah.”

Dia tersenyum kecil, berusaha menutupi guncangan yang belum pernah benar-benar sembuh. Tiba-tiba, suara langkah kecil terdengar dari luar. Seorang bocah laki-laki berusia tiga tahun berlari tergopoh-gopoh memasuki kamar sambil menyeret boneka kelincinya.

“Mama!” serunya.

Gavin tersenyum melihatnya datang. Ia berjongkok, mengulurkan tangan.

“Hei, Revan, kemari.”

Bocah kecil itu langsung menggapai tangan Gavin. Lelaki itu mengangkatnya dengan lembut, lalu menaruhnya di atas ranjang di samping Arum. Revano menatap ibunya dengan mata besar dan polos.

“Mama kenapa?” tanyanya dengan suara lirih.

Arum tersenyum kecil, mengusap rambut anak itu.

“Mama nggak apa-apa, Sayang. Mama baik-baik aja. Revan tidur lagi, ya.”

Revano menguap, lalu merebahkan diri di pangkuan Arum, sementara Gavin menatap keduanya dengan tatapan yang sulit dijelaskan, antara sayang dan luka yang ia sembunyikan sendiri.

“Kalau kamu terus begadang seperti ini, aku beneran bawa kamu ke rumah sakit besok,” ujar Gavin lagi, setengah menggoda namun serius.

Arum hanya menatapnya, kemudian berkata pelan, “Tiga tahun, Gavin. Harusnya aku udah sembuh dari semua ini. Tapi setiap kali aku tidur … aku selalu kembali ke malam itu.”

Gavin menatapnya lama, lalu menjawab lembut, “Mungkin luka di tubuh bisa sembuh, Arum. Tapi luka di hati butuh waktu lebih lama. Tapi kamu nggak sendiri, aku dan Revano selalu di sini.”

Arum menatap ke arah anak kecil itu, hasil dari cinta yang tak pernah diinginkan, tapi kini menjadi alasan satu-satunya untuk bertahan hidup. Dia menghela napas panjang, menatap ke luar jendela.

Hujan turun lebih deras, seperti menghapus jejak masa lalu yang masih membekas di jiwanya.

Keesokan paginya.

Sinar matahari menembus tirai ruang makan sederhana yang tampak hangat. Aroma roti panggang dan telur dadar memenuhi udara. Revano duduk di kursi makan mungilnya, menggoyang-goyangkan kaki sambil memainkan potongan buah di piring.

“Pelan-pelan, sayang. Jangan kebanyakan buah dulu, nanti perutnya sakit,” ucap Arum lembut sambil tersenyum.

“Lepan kuat, Ma. Lepan pengen makan yang banyak bial bica jadi doktel kayak Papa Avin,” sahut bocah itu polos, membuat Gavin yang duduk di seberang meja tersenyum tipis.

“Wah, dokter kecil nih,” Gavin mengacak rambut si kecil. “Tapi dokter harus sehat dulu. Nanti Papa ajak jalan-jalan, tapi habiskan sarapan, ya.”

Arum tersenyum, menatap keduanya, dua orang yang kini menjadi dunia kecilnya. Dia tak pernah menyangka, dari luka masa lalu yang begitu gelap, ia bisa merasakan pagi seperti ini lagi.

Namun, kebahagiaan itu hanya berlangsung sesaat. Saat Arum mengambil potongan pepaya untuk disuapkan, ia melihat cairan merah menetes di bawah hidung Revano.

“Revan?” panggilnya panik.

Bocah itu mengerjap bingung, lalu menatap tangannya yang kini ternoda darah. “Mama … dalahnya kelual.” gumamnya lucu khas bayi yang belum bisa menyebut kosa kata dengan benar.

Arum segera berlari mendekat, menekan lembut hidung anaknya dengan tisu. Tapi darah itu tak berhenti, napasnya mulai tersengal.

“Gavin!” panggilnya dengan suara bergetar.

Gavin yang baru saja akan meneguk kopi langsung berdiri, langkahnya cepat menghampiri.

“Astaga, Arum, kita harus ke rumah sakit sekarang!”

Revano mulai menangis ketakutan. Arum memeluknya erat, panik, tak bisa berpikir jernih.

“Tidak apa-apa, Nak, tidak apa-apa,” bisiknya, walau suaranya sendiri sudah gemetar.

Gavin mengambil kunci mobil. “Ambil mantel dan kartu identitas, aku bawa kalian sekarang.”

Sepanjang perjalanan ke rumah sakit, Arum memeluk Revano di kursi belakang. Bocah itu tampak lemas, kepalanya bersandar di dada sang ibu. Arum mencium puncak kepalanya berulang kali, air matanya jatuh tanpa bisa ditahan.

Sesampainya di rumah sakit, Gavin segera menugaskan tim medis untuk memeriksa. Arum hanya bisa menunggu di luar ruang periksa, tubuhnya dingin, jantungnya berdegup kencang. Setiap suara di lorong rumah sakit terasa menakutkan. Tak lama kemudian, Gavin keluar bersama dokter anak berseragam putih, wajah Gavin tampak tegang.

“Arum,” panggilnya lembut, “ikut aku ke ruang dokter, ya.”

Arum menatapnya, mencoba membaca dari sorot mata Gavin, tapi pria itu menghindari tatapannya. Langkah Arum terasa berat, seolah setiap tapak mendekatkannya pada sesuatu yang menakutkan.

Di ruang konsultasi, dokter itu duduk dengan wajah serius.

“Bu Arum, kami sudah melakukan pemeriksaan awal terhadap darah Revano. Hasilnya menunjukkan indikasi yang mengkhawatirkan. Untuk memastikan, kami lakukan tes lanjutan, dan hasilnya … Revano mengidap leukemia limfoblastik akut.”

Suasana hening, hanya terdengar detak jam di dinding. Arum mematung, menatap kosong ke arah meja.

“Penyakit ini menyerang sel darah putih,” lanjut sang dokter hati-hati. “Revano perlu penanganan segera, termasuk kemungkinan transplantasi sumsum tulang belakang. Tapi kami harus mencari donor yang cocok.”

“Donor?” gumam Arum, suara nyaris tak terdengar. “Siapa yang … yang bisa mendonorkan?”

“Biasanya, yang paling cocok adalah keluarga sedarah ... seperti ayah atau ibu kandungnya,” jawab dokter hati-hati.

Tubuh Arum membeku, dunia di sekelilingnya seolah berhenti. Keluarga kandung, kata itu menggema berkali-kali di kepalanya, memaksa wajah seseorang muncul di benaknya, yaitu wajah Reghan.

Gavin meremas tangan Arum, menatapnya dengan prihatin.

“Arum, kita akan cari jalan sama-sama. Tapi kamu tahu … cepat atau lambat, kamu harus mempertimbangkan untuk memberitahunya.”

Arum menggeleng kuat, air matanya jatuh tanpa henti.

“Tidak, Gavin … aku tidak akan kembali ke sana. Aku tidak akan membiarkan siapa pun dari keluarga itu menyentuh anakku.”

Tapi ketika ia menoleh ke arah pintu dan melihat Revano digendong perawat, wajah pucatnya tersenyum lemah memanggil “Mama…” seluruh pertahanannya runtuh.

Arum memeluk anaknya erat, menangis tanpa suara. Dia tahu kali ini, hidup memaksanya berhadapan kembali dengan masa lalu yang paling ingin ia lupakan.

Dokter itu menatap Arum dan Gavin dengan ekspresi penuh empati.

“Bu Arum, Dokter Gavin,” ucapnya pelan, “kami menyarankan agar Revano dibawa ke rumah sakit pusat di kota. Di sana fasilitasnya jauh lebih lengkap, alat medisnya lebih canggih, dan tim dokter spesialis anak serta onkologi-nya sangat berpengalaman. Mereka juga memiliki bank donor yang lebih luas ... mungkin saja kita bisa menemukan pendonor yang cocok, selain dari keluarga sekandung.”

Arum menatap dokter itu dengan mata sembab. “Jadi … masih ada harapan?” suaranya bergetar, nyaris tak terdengar.

“Masih, Bu. Tapi kita harus bergerak cepat,” jawab sang dokter tegas namun lembut. “Kami akan bantu proses rujukan secepatnya.”

Arum mengangguk pelan, tangannya bergetar di atas pangkuan. Ia tahu tubuhnya sendiri sudah lemah, bahkan jika diminta menjadi donor pun, dokter sudah memperingatkan risikonya terlalu besar.

Saat dokter keluar meninggalkan ruangan, Gavin berjongkok di hadapan Arum, menggenggam tangannya erat.

“Dengar, Arum,” ucapnya pelan namun tegas, “kita akan bawa Revan ke kota. Aku sudah urus semuanya ... ruang perawatan, penginapan, transportasi. Kamu tidak perlu khawatir.”

“Gavin…” Arum menatapnya, matanya masih berkaca. “Aku takut … kalau ini semua tidak berhasil…”

Gavin tersenyum samar, walau jelas ada kekhawatiran di matanya.

“Kamu harus percaya, Arum. Revan anak kuat. Dan kamu … ibu yang hebat. Sekarang bukan waktunya memikirkan masa lalu.”

Dia mengusap lembut pipi Arum. “Apa pun yang terjadi, aku akan selalu di sisi kalian. Kita lawan ini bersama.”

Air mata Arum jatuh lagi, tapi kali ini ia mengangguk mantap.

1
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
Reghan terlalu ceroboh mempertaruhkan keselamatan Arum dan Revan tanpa pengawalan padahal tau bahaya mengintai..aneh
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
apa Reghan mau melamar ulang Arum ya, tp malesnya pasti ada para siluman kumpul di sana.🤣🤣
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
syutingnya ceritanya lagi musim hujan apa gimana thor, perasaan hujan mulu.🤭🤭🤭
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎: hihihihiii... terbawa suasana sambil makan yg anget² selebihnya inget apa yaa...jangan sampe ingetnya kenangan. 🤣🤣🫣
total 2 replies
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
thor ga kedengaran lagi kabar para siluman Maya dan antek²nya juga keluarga yg dulu membesarkan Arum gimana tuh... sudah dapet kartu merah belum.🤭🤭
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
hebatnya Dr Gavin dia dewasa pemikirandan tindakannya juga bijak ga egois..
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
resiko besar yg harus kamu merasakan Reghan kalau ankmu harus memanggil pria lain papahnya jd cobalah lapang dada karna Dr Gavin punya peran besar dalam kehidupan Arum sama Revan
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
Dr Gavin salut dengan kedewasaan dan kelapangan hatimu...👏👏👏
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
ikutan berat banget jadi Arum.🤭🤭
kembali lg ke author yg punya sekenario mereka, mau gimana lagi Reghan masih mencintai Arum dan begitupun sebaliknya meskipun rasanya ga rela mereka balikan tp alasa Revan butuh ayah kandungnya selalu jd alasan utama padahal aku dukungnya Arum sama Dr. Gavin.🤣🤣
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
heehhh pada telaaaattt bertindaakkk.. setelah kesakitan Arum yg kalian lakukan di rumah itu
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
kenapa baru sekarang kamu tegasnya Reghan, ternyata harus kehilangan dulu baru bertindak
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
kekuasaan di atas segalanya yg kecil makin tertindas sedangkan yg berkuasa hidup bahagia... tp kalau bener endingnya Arum balikan sama Reghan waaahh di luar prediksi aku yg baca...
logika saja dari awal Arum di buat menderita di rumah Argantara dan segitu mudahnya minta maaf trs balikan.
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
thor jangan di buat balikan tapi kalaupun di buat balikan lg jangan sampai di kasih gampang, enak saja Arum berjuang sendiri tanpa Reghan atau siapa pun... apa lg mereka sudah membuat luka pd Arum.
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
jangan sampe Arum di bikin balikan lagi sama Lelaki plin plan seperti Reghan thor sudah cukup Arum menderita tapi malah di tambah lagi penderitaannya dengan Revan yg sakit parah... trs apa kabar dengan orang² yg buat dia menderita... kasihan Arum
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
aneh masa iya di rumah sebesar itu ga ada cctv maen nuduh sembarangan dan Reghan ga berubah sama sekali yrs Arum dengan b0d0hnya mudah percaya dengan Reghan dan omanya
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
syukurlah Arum pergi buat kewarasan diri dari pada bertahan di sana tp ga di anggap
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
hadeuuhh Arum kamu mah manut bae sudah tau mereka manfaatin kamu, kamu di rumah itu bukan untuk di jadikan pesuruh suman tapi fokus pd Reghan.
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
kasian Arum, bukan hanya tekanan dan beban fisiknya saja yang dia tanggung tapi juga mentalnya...
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
dr Samuel aneh emangnya dia psikolog atau dokter umum kok seolah² keadaan Arum ga penting buat dia.. aneh, dia di bayar buat mengobati kalaupun bukan bidangnya tp penyampaianmu ga yg seharusnya
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
Reghan ga ada harga dirinya sama sekali dengan mantan sendiri saja lemah..
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
sudah tau tanggung jawabmu diperusahaan membutuhkan kamu tp kamu tetap terpuruk dengan orang yg sudah meninggalkan kamu demi harta Reghan dan yg mirisnya kamu ga mau sembuh dan move on dari siluman Alena..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!