NovelToon NovelToon
Kronik Dewa Asura: Jalur Penentang Takdir

Kronik Dewa Asura: Jalur Penentang Takdir

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Balas dendam dan Kelahiran Kembali
Popularitas:6.9k
Nilai: 5
Nama Author: hakim2501

Langit ingin aku mati, tapi aku menolak untuk berlutut!"
Di Benua Awan Merah, kekuatan adalah satu-satunya hukum. Ye Chen, Tuan Muda Klan Ye yang jenius, kehilangan segalanya dalam satu malam. Keluarganya dibantai oleh Sekte Pedang Darah, Dantian-nya dihancurkan, dan harga dirinya diinjak-injak.
Tiga tahun lamanya, ia hidup lebih rendah dari anjing sebagai budak penambang Nomor 734 di Lembah Kabut Hitam. Tanpa masa depan, tanpa harapan.
Namun, takdir berubah ketika sebuah reruntuhan gua tambang mengungkap benda terlarang dari era purba: Mutiara Penelan Surga. Benda pusaka yang mampu melahap segala bentuk energi—batu roh, senjata pusaka, darah iblis, hingga esensi kehidupan musuh—dan mengubahnya menjadi kekuatan murni.Dengan Sutra Hati Asura di tangannya dan kebencian membara di hatinya, Ye Chen bangkit dari neraka. Dia bukan lagi budak. Dia adalah sang Penakluk.
Satu per satu, mereka yang menghinanya akan membayar dengan darah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hakim2501, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 23: Warisan Tanpa Wujud dan Rantai yang Putus

Debu batu sisa reruntuhan stalaktit perlahan mengendap, menyelimuti Makam Pedang dalam keheningan yang mencekam. Di tengah pulau batu itu, pilar cahaya Qi yang memancar dari tubuh Ye Chen perlahan meredup, menyerap kembali ke dalam kulitnya yang kini berkilau seperti tembaga gelap yang dialiri listrik.

Ranah Pemadatan Qi Tingkat 4.

Ye Chen membuka matanya. Tidak ada kegembiraan yang meluap-luap, hanya ketenangan sedingin es.

Di pinggir kolam, Han Yun berdiri mematung. Rantai hitam di tangannya berhenti berdetak. Matanya yang kosong kini dipenuhi dengan ketidakpercayaan.

"Kau... menerobos tingkat di tengah pertarungan?" suara Han Yun bergetar karena kemarahan. "Kau menggunakan seranganku sebagai palu tempa?!"

Bagi Han Yun, ini adalah pelanggaran terbesar. Dia bermaksud menghancurkan Ye Chen menjadi daging cincang, tapi malah membantu musuhnya naik level.

“Terima kasih, Jagal,” kata Ye Chen datar. Dia mengibaskanPedang Pemecah Gunung-nya, merontokkan debu batu dari bilah pisau hitam itu. “Berkatmu, fondasiku semakin kokoh.”

"JANGAN SOMBONG!"

Han Yun meraung. Aura darah merah meledak dari tubuhnya. Dia tidak peduli lagi dengan tekanan Niat Pedang di kolam.

"Mati kau!"

Han Yun melemparkan rantainya lagi. Kali ini dengan kekuatan penuhTingkat 9. Rantai itu melesat lurus seperti tombak naga hitam, membelah udara dengan suara ledakan sonik, mengincar kepala Ye Chen.

Namun, Ye Chen tidak menghindar. Dia juga tidak menangkis dengan pedangnya.

Ye Chen hanya kembali membelakangi Han Yun, dan melangkah maju menuju pusat pulau.

"Dia mengabaikanku?!" Han Yun murka.

Tetapi, saat rantai itu melewati batas kolam pedang...

WUUUNG!

Ribuan pedang patah di dalam kolam bergetar serentak. Niat Pedang kuno yang tertidur di sana terbangun karena provokasi Qi Han Yun yang brutal.

Seolah-olah memiliki kesadaran sendiri, Niat Pedang yang tak kasat mata berkumpul menjadi dinding angin tajam.

DENTANG!

Rantai Han Yun terpental hebat seolah menabrak dinding baja tak terlihat. Percikan api menyembur. Rantai itu terlempar ke belakang, hampir mengenai wajah Han Yun sendiri.

"Apa?!" Han Yun mundur, tangannya mati rasa.

Ye Chen berhenti sejenak, melirik ke belakang lewat bahunya.

"Ini tempat menolak energi kotor, Han Yun. Hanya mereka yang mengerti pedang yang boleh masuk. Jagal sepertimu... hanya pantas menunggu di luar seperti anjing penjaga."

Setelah mengatakan itu, Ye Chen kembali melangkah. Langkah ke-60...70...

Setiap langkah Ye Chen kini terasa lebih ringan.Tubuh Guntur Asura dan impas barunya membuatnya mampu menahan tekanan yang sebelumnya meremukkan tulang.

Di langkah ke-99, Ye Chen berhenti di depan pedang perak yang tertancap di pusat pulau.

Dari dekat, pedang itu terlihat sangat sederhana. Bilahnya lurus, gagangnya polos ukiran tanpa naga atau phoenix. Namun, pedang itu tidak berkarat sedikit pun meskipun telah berada di sini ribuan tahun.

Ye Chen mengulurkan tangannya.

“Apakah kamu menungguku?” bisiknya.

Saat jari Ye Chen menyentuh gagang pedang dingin itu, sebuah suara kuno menggema langsung di dalam jiwa. Bukan suara manusia, melainkan suara denting logam yang jernih.

"Bukan bentuk yang memotong, melainkan niat. Pedang hanyalah wadah. Asura adalah barang."

KRAK!

Pedang perak di depan Ye Chen tiba-tiba retak.

Ye Chen terkejut. "Hancur?"

Dalam sekejap mata, pedang perak itu hancur menjadi serbuk cahaya putih.

Bukan pedang fisik yang diwariskan. Pedang itu hanyalah segel.

Dari sisa serbuk cahaya itu, muncul sebuah bola kecil seukuran kelereng, bersinar putih menyilaukan. Itu adalah Benih Niat Pedang (Seed of Sword Intent).

Intisari dari pemahaman pedang seumur hidup sang Dewa Pedang kuno.

Bola cahaya itu melesat masuk ke tengah alis Ye Chen.

"ARGH!"

Ye Chen memegangi kepalanya. Rasanya seperti otaknya dibelah oleh kapak. Ribuan teknik pedang, ribuan pertarungan, dan ribuan pemahaman membanjiri pikirannya dalam satu detik.

Di dunia jiwanya, Ye Chen melihat bayangan seorang pria tua menebas langit dengan ranting kayu. Ranting itu membelah awan, membelah gunung, dan membelah bintang.

"Pedang Asura: Tahap Satu - Kehancuran (Destruction)."

Ye Chen membuka matanya. Pupil matanya yang hitam kini memiliki cincin perak tipis di sekelilingnya.

Dia tidak mendapatkan senjata pusaka. Dia mendapatkan sesuatu yang jauh lebih berharga: Niat Pedang Kehancuran.

Dengan ini, apapun yang dipegang Ye Chen—baik itu pedang besi, kayu, atau rumput—bisa menjadi senjata mematikan.

RUMBLE...

Saat Benih Niat Pedang itu menyatu dengan Ye Chen, tekanan di seluruh ruangan gua menghilang seketika. Dinding pelindung tak kasat mata yang menahan Han Yun runtuh.

Han Yun, yang sedari tadi menunggu dengan gigi gemeretak di pinggir kolam, merasakan perubahan itu.

"Tekanannya hilang?" Han Yun menyeringai lebar, seringai yang penuh kekejaman. "Bocah, waktumu habis."

Han Yun tidak melempar rantai lagi. Dia melompat masuk ke dalam kolam pedang, kakinya menginjak hancur pedang-pedang tua di lantai.

Dia menerjang ke arah Ye Chen yang masih berdiri memegangi kepalanya di pulau tengah.

"MATI KAU DAN SERAHKAN WARISAN ITU!"

Han Yun memutar rantai besinya, melilitkannya ke kepalan tangannya yang sebesar helm prajurit.

Tinju Rantai Penghancur Gunung!

Ye Chen masih menunduk. Dia merasakan kehadiran Han Yun yang mendekat dengan cepat.

"Berisik," bisik Ye Chen.

Ye Chen mengangkat Pedang Pemecah Gunung-nya dengan satu tangan.

Pedang hitam yang tadinya tumpul dan kasar itu, tiba-tiba diselimuti oleh aura perak tipis. Itu bukan Qi, itu adalah Niat Pedang.

Ye Chen berbalik dan menebas secara horizontal.

Sederhana. Tanpa teknik bunga-bunga.

Slash!

Pedang Ye Chen beradu dengan tinju berantai Han Yun.

Tidak ada suara ledakan besar seperti sebelumnya.

Hanya suara sret yang tajam.

Rantai besi hitam milik Han Yun—senjata Tingkat Kuning Puncak yang terbuat dari baja campuran—terpotong putus semudah memotong tali rami.

Tinju Han Yun terus melaju, tapi rantainya sudah putus. Dan pedang Ye Chen terus bergerak, mengiris udara, menuju leher Han Yun.

Mata Han Yun membelalak. Insting mautnya menjerit. Dia menarik kepalanya ke belakang dengan panik.

Crass!

Darah muncrat.

Han Yun berhasil menghindari pemenggalan, tapi pedang Ye Chen meninggalkan luka sayatan panjang dari dada kiri hingga bahu kanannya. Armor bajanya terbelah rapi seperti kertas.

Han Yun melompat mundur sepuluh meter, mendarat di pinggir kolam dengan wajah pucat.

Dia menatap rantainya yang putus di lantai, lalu menatap luka di dadanya yang mengucurkan darah.

"Mustahil..." Han Yun gemetar. "Rantaiku... terbuat dari Baja Hitam Dingin... Bagaimana bisa dipotong oleh pedang tumpul itu?"

Ye Chen berdiri tegak di pulau tengah. Dia mengibaskan pedangnya, membuang darah Han Yun.

"Sudah kubilang," kata Ye Chen, matanya bersinar perak dingin. "Bukan pedangnya yang tajam. Tapi niat penggunanya."

Ye Chen mengangkat pedang raksasanya, mengarahkannya pada Han Yun.

"Han Yun. Kau bilang ingin mematahkan tulangku satu per satu?"

Ye Chen menghilang dari tempatnya.

Langkah Kilat Hantu!

Kecepatannya sekarang dua kali lipat lebih cepat dari sebelumnya. Dia muncul tepat di depan Han Yun.

"Cobalah!"

Ye Chen menghantamkan pedangnya dari atas ke bawah.

Han Yun, yang masih syok, refleks menyilangkan sisa rantai di tangannya untuk menangkis.

TRANG!

Lantai batu di bawah kaki Han Yun retak dan amblas. Han Yun dipaksa berlutut satu kaki. Berat serangan Ye Chen kini ditambah dengan ketajaman Niat Pedang yang menembus pertahanan Qi.

"Ugh!" Han Yun meraung, menahan beban itu. Lututnya sakit. Harga dirinya hancur. Dia, seorang Tingkat 9, dipaksa berlutut oleh Tingkat 4!

"AKU AKAN MEMBUNUHMU!"

Han Yun meledakkan seluruh Qi darah di tubuhnya. Dia tidak peduli lagi dengan cedera. Dia membakar Esensi Darah-nya sendiri untuk mendapatkan kekuatan sesaat.

Transformasi Iblis Darah: Tahap Dua - Berserk!

Tubuh Han Yun membesar lagi, kulitnya berubah menjadi merah tua, matanya menjadi putih total. Dia melempar Ye Chen menjauh dengan ledakan energi murni.

Ye Chen salto di udara dan mendarat dengan mulus.

"Kau membakar nyawamu?" Ye Chen menyipitkan mata.

Han Yun sekarang bukan lagi manusia. Dia adalah binatang buas yang mengamuk. Kekuatannya melonjak mendekati Ranah Pembentukan Inti setengah langkah.

"ROAARR!"

Han Yun menerjang. Kecepatannya gila. Dia tidak menggunakan senjata lagi, hanya cakar dan tinju.

Ye Chen dipaksa bertahan.

BAM! BAM! BAM!

Setiap benturan membuat Ye Chen mundur. Sudut bibir Ye Chen berdarah lagi. Perbedaan level dasar masih terlalu jauh. Niat Pedang bisa memotong pertahanan, tapi tubuh Han Yun sekarang sekeras berlian dan regenerasinya sangat cepat.

"Gua ini akan runtuh!" sadar Ye Chen saat melihat langit-langit mulai retak akibat benturan energi mereka.

Jika dia terjebak di sini, dia akan mati terkubur.

"Aku harus mengakhirinya. Satu serangan. Menang atau kalah."

Ye Chen mengambil napas dalam-dalam. Dia membiarkan Han Yun mendekat.

Dia mengaktifkan Mutiara Penelan Surga untuk menyerap sisa Qi di udara, Tubuh Guntur untuk kecepatan, dan Niat Pedang untuk daya hancur.

Semua disatukan ke dalam Pedang Pemecah Gunung.

Pedang hitam itu bergetar, mengeluarkan suara dengung yang menyakitkan telinga.

Han Yun melompat tinggi, siap menghancurkan kepala Ye Chen dengan kedua tangannya.

"MATI!"

Ye Chen tidak bergerak sampai detik terakhir.

Saat bayangan Han Yun menutupi tubuhnya, Ye Chen menebas. Bukan ke arah Han Yun, tapi ke arah Pilar Penyangga Utama di belakang Han Yun.

Teknik Pedang Asura: Runtuhnya Langit!

BLARRRR!

Pilar batu raksasa itu terpotong miring.

Pilar itu runtuh, tepat ke arah Han Yun yang sedang melayang di udara.

Han Yun, yang sedang fokus menyerang Ye Chen, tidak bisa mengubah arah di udara.

"TIDAK!"

DUMMM!

Pilar seberat puluhan ton itu menghantam tubuh Han Yun, menyeretnya jatuh ke lantai dan menimpanya.

Reruntuhan gua mulai berjatuhan. Langit-langit ambruk.

Ye Chen tidak menunggu untuk melihat apakah Han Yun mati atau tidak. Dia tahu monster seperti itu susah mati. Tapi setidaknya dia tertahan.

Ye Chen melihat celah cahaya di dinding yang baru saja retak—jalan keluar yang tercipta akibat runtuhnya struktur gua.

Langkah Kilat Hantu!

Ye Chen melesat menuju celah itu.

Di belakangnya, terdengar raungan marah Han Yun dari bawah tumpukan batu.

"ASURA! AKU AKAN MENGEJARMU SAMPAI KE NERAKA!"

Ye Chen melompat keluar dari celah itu tepat saat seluruh ruangan Makam Pedang runtuh total, mengubur segalanya dalam debu.

Dia berguling di tanah berumput di luar. Udara segar hutan menyambutnya.

Ye Chen terbaring terlentang, menatap langit biru. Dia selamat. Dan dia lebih kuat.

Tapi dia tahu, Han Yun pasti selamat.

Ye Chen bangkit berdiri, menahan rasa sakit di sekujur tubuhnya.

"Han Yun masih hidup. Dan Han Feng pasti ada di sekitar sini," gumam Ye Chen. "Aku harus pergi."

Namun, saat dia berbalik, dia melihat sosok yang berdiri di bawah pohon besar, sepuluh meter darinya.

Bukan Han Feng. Bukan Han Yun.

Itu adalah seorang wanita berpakaian hitam ketat dengan cadar menutupi wajahnya. Di tangannya, dia memegang sepasang belati kembar.

Mata wanita itu menatap Ye Chen dengan tatapan yang rumit.

"Kau benar-benar membuat kekacauan, Tuan Asura," kata wanita itu.

Ye Chen mengangkat pedangnya waspada. "Siapa kau?"

Wanita itu menurunkan cadarnya sedikit, memperlihatkan tahi lalat kecil di bawah matanya.

"Aku Ying (Bayangan). Mata-mata pribadi Nona Mu Xue dari Sekte Teratai Es. Nona Mu mengirimku untuk membawamu keluar dari sini sebelum pasukan utama Sekte Pedang Darah tiba."

Ye Chen menurunkan pedangnya sedikit, tapi tidak sepenuhnya. "Mu Xue? Dia sudah aman?"

"Dia aman. Dan dia membayar hutangnya. Ikut aku, aku tahu jalan rahasia keluar dari Pegunungan Sepuluh Ribu Binatang yang tidak dijaga."

Ye Chen menatap reruntuhan di belakangnya yang masih mengepulkan debu. Perang dengan Han Bersaudara belum selesai, tapi sekarang bukan waktunya.

"Pimpin jalan," kata Ye Chen.

Bayangan Asura dan Ying menghilang ke dalam hutan, meninggalkan reruntuhan Dewa Pedang sebagai kuburan bagi ambisi Sekte Pedang Darah.

(Akhir Bab 23)

1
Nanik S
Hadir
sembarang channel: mksh kk
total 1 replies
sembarang channel
mksh🙏🙏🙏
Divka
bgus
sembarang channel: terikash atas dukungannya🙏🙏🙏🙏
total 1 replies
Aman Wijaya
jooooz kotos kotos mantab Thor lanjut terus semangat semangat semangat
Aman Wijaya
mantab ye Chen semangat membara
Aman Wijaya
jooooz pooolll Ye Chen semangat bersama tim
Aman Wijaya
mantab ye Chen bantai tie Shan dan kroni kroninya.bikin kabut darah
Ip 14 PRO MAX
ok bntai,suka mcx kejam sadis
sembarang channel
ok siap
BoimZ ButoN
lanjutkan thhooor semangat 💪🙏
Aman Wijaya
jooooz pooolll Thor
sembarang channel
ok siap,mkasih masukannya🙏🙏🙏🙏
selenophile
bahasa tolong di perbaiki min..
Aman Wijaya
lanjut
Aman Wijaya
makin seru Thor 💪💪💪 terus
Aman Wijaya
bagus ye Chen semangat semangat
Aman Wijaya
jooooz jooooz pooolll lanjut
Aman Wijaya
joooooss joooooss pooolll lanjut
Aman Wijaya
makin seru ceritanya Thor lanjut terus semangat semangat semangat
sembarang channel: mksh untuk semuanya yang suka dengan ceritanya,jangan lupa kasih bintang 5 y🙏🙏🙏🙏🙏🙏
total 1 replies
Aman Wijaya
mantab ye Chen lanjut terus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!