Hellowwww
Ini adalah novel pertama sayaa.
Semoga sukaa ya 😍🙏
Sinopsis:
Bercerita tentang dua pasangan yang bucin banget di sekolah. Namun, karena suatu hal menyebabkan hubungan mereka menjadi renggang hingga ada di pinggir jurang, bahkan setelah jatuh pun mereka masih dihadapkan pada ribuan masalah.
Masalah apa ya kira-kira?
Yuk dibaca langsung ajaa!
Donasi ke aku:
Saweria: parleti
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon jaaparr., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29. Aku Yang Salah
Setelah pertengkaran hebat dengan Raya di taman belakang sekolah, Asha memutuskan untuk pulang lebih awal.
Ia tidak peduli kalau masih ada jam pelajaran. Ia tidak peduli kalau nanti nilainya jelek.
Yang ia pedulikan sekarang hanya satu, ia ingin segera pergi dari sekolah. Pergi dari tempat yang terus mengingatkannya pada Arsa dan Raya.
Cinta yang khawatir dengan kondisi Asha akhirnya memutuskan untuk ikut pulang menemani sahabatnya.
"Sha, gw anterin lo pulang ya. Gw gak tega ninggalin lo sendirian" ucap Cinta dengan nada lembut.
Asha mengangguk lemah. "Makasih, Cin..."
Mereka berdua lalu berjalan keluar dari kelas menuju parkiran.
🌷🌷🌷🌷
Sementara itu, di taman belakang sekolah, Raya masih menangis sendirian di sana.
Pipinya masih terasa perih dari tamparan Asha. Hatinya hancur setelah pertengkaran tadi.
Ia tidak menyangka Asha akan semarah itu. Ia tidak menyangka Asha akan menamparnya.
"Hmm... Asha... Maafin aku..." isak Raya dengan air mata yang terus mengalir.
Ia memeluk lututnya sembari terus menangis. Ia merasa sangat bersalah, tapi di sisi lain ia juga merasa tidak salah.
Ia hanya... Ia hanya ingin bahagia bersama orang yang ia sayangi. Apa itu salah?
Tiba-tiba, Raya mendengar suara langkah kaki mendekat. Ia mendongak dan melihat Arsa berdiri di hadapannya dengan wajah yang khawatir.
"Lea! Lo kenapa nangis?!" tanya Arsa dengan panik sembari berjongkok di depan Raya.
Melihat Arsa, tangisan Raya semakin pecah. "Hmm, Arsa..."
Tanpa berpikir panjang, Raya langsung memeluk Arsa dengan erat sembari menangis di dadanya.
Arsa terkejut dengan pelukan Raya, tapi ia tidak mendorong gadis itu. Ia hanya menepuk punggung Raya dengan lembut.
"Lea, ada apa? Kenapa lo nangis?" tanya Arsa dengan nada yang sangat khawatir.
"Hmm, Arsa... Gw... Gw berantem sama Asha..." isak Raya di pelukan Arsa.
Arsa tersentak mendengar ucapan Raya. "Apa? Lo berantem sama Asha? Kenapa?"
Raya menggeleng di pelukan Arsa. Ia tidak mau menceritakan detail pertengkaran mereka. Ia tidak mau Arsa tau tentang perasaannya.
"Hmm, gw... Gw gak bisa cerita, Arsa... Yang jelas... Asha marah sama gw... Dia... Dia namparin gw..." isak Raya sembari menunjukkan pipinya yang masih merah.
Arsa menatap pipi Raya dengan mata yang membulat. Ia melihat bekas tamparan yang jelas di pipi gadis itu.
"Asha... Asha namparin lo?" tanya Arsa dengan nada tidak percaya.
Raya mengangguk sembari menangis. "Hmm, iya... Dia... Dia marah banget sama gw... Gw takut, Arsa..."
Arsa merasakan amarah yang tiba-tiba muncul di dalam dadanya. Ia tidak bisa menerima Asha melakukan kekerasan seperti itu, apapun alasannya.
"Di mana Asha sekarang?" tanya Arsa dengan nada yang mulai tinggi.
"Hmm, gw... Gw gak tau. Kayaknya dia udah pulang" jawab Raya dengan suara yang bergetar.
Arsa berdiri dari posisinya. Wajahnya terlihat marah. "Gw harus nemuin dia. Gw harus minta klarifikasi."
"Hmm, Arsa... Jangan... Lo gausah—" Raya mencoba menghentikan, tapi Arsa sudah berjalan cepat meninggalkan taman.
🌷🌷🌷🌷
Di parkiran, Asha baru saja akan menaiki motornya saat tiba-tiba Arsa datang dengan langkah yang cepat dan wajah yang marah.
"ASHA!" panggil Arsa dengan suara yang keras.
Asha dan Cinta langsung menoleh. Mereka melihat Arsa berjalan mendekat dengan wajah yang memerah.
"Arsa?" ucap Asha dengan bingung.
Arsa berhenti tepat di hadapan Asha. Ia menatap gadis itu dengan tatapan yang begitu tajam.
"Lo... Lo namparin Raya?" tanya Arsa dengan nada menuduh.
Asha tersentak mendengar pertanyaan Arsa. "Itu—"
"Jawab! Lo namparin dia apa enggak?!" bentak Arsa dengan suara yang tinggi.
Cinta yang melihat situasi langsung ikut bersuara. "Arsa, tunggu dulu. Lo gak tau kejadian yang sebenarnya—"
"Gw gak nanya sama lo, Cinta!" potong Arsa dengan nada yang tajam. "Gw nanya sama Asha!"
Asha merasakan dadanya sesak melihat Arsa yang begitu marah padanya. "Iya... Iya, gw namparin dia..."
"KENAPA?!" teriak Arsa dengan suara yang keras. "KENAPA LO NAMPARIN DIA?! DIA SALAH APA?!"
"LO GAK TAU APA-APA, ARSA!" balas Asha dengan suara yang juga tinggi. "LO GAK TAU APA YANG DIA LAKUIN—"
"APAPUN YANG DIA LAKUIN, LO GAK BOLEH NAMPARIN DIA!" bentak Arsa dengan mata yang memerah. "LO GAK PUNYA HAK BUAT LAKUIN KEKERASAN KAYAK GITU!"
Asha merasakan air matanya hampir jatuh. "Lo... Lo gak ngerti, Arsa..."
"EMANG GW HARUS NGERTI APA?!" teriak Arsa dengan suara yang semakin keras. "YANG GW TAU, LO UDAH NYAKITIN TEMEN GW! LO UDAH NAMPARIN DIA SAMPE PIPINYA MERAH!"
"DAN LO TAU GAK GIMANA RASANYA GW NGELIAT DIA NANGIS KAYAK GITU?! NGELIAT DIA KETAKUTAN KAYAK GITU?!"
Asha merasakan dadanya seperti ditusuk pisau mendengar ucapan Arsa. "Jadi... Jadi lo lebih peduli sama dia daripada gw?"
Arsa terdiam sejenak. "Bukan gitu—"
"TERUS KENAPA?!" teriak Asha dengan air mata yang mulai jatuh. "KENAPA LO LANGSUNG NYALAHIN GW TANPA TAU KEJADIAN YANG SEBENARNYA?!"
"KARENA LO YANG SALAH, ASHA!" balas Arsa dengan suara yang tidak kalah keras. "LO YANG NAMPARIN DIA DULUAN!"
"GW NAMPARIN DIA KARENA DIA UDAH NYAKITIN GW!" teriak Asha dengan air mata yang semakin deras. "DIA UDAH NGEREBUTIN LO DARI GW!"
Arsa tertawa sinis mendengar ucapan Asha. "Ngerebutin? Asha, gw bukan barang yang bisa direbutin!"
"Dan lagian, gw sama lo udah putus! Lo gak punya hak lagi buat ngatur hidup gw!"
Asha merasakan hatinya hancur berkeping-keping mendengar ucapan Arsa. "Arsa..."
"Asha, dengerin gw baik-baik" ucap Arsa dengan nada yang sedikit lebih tenang tapi tetap tegas.
"Gw tau lo sakit hati karena gw kehilangan ingatan tentang lo. Gw tau lo sedih karena kita putus. Tapi itu bukan alasan buat lo nyakitin orang lain!"
"Raya itu gak salah apa-apa! Dia cuma temen gw! Dia yang selalu ada buat gw waktu gw lagi susah!"
Asha menggeleng keras. "Lo... Lo gak ngerti, Arsa... Dia... Dia bukan cuma temen—"
"TERUS EMANG KENAPA?!" potong Arsa dengan suara yang kembali tinggi. "EMANG KENAPA KALAU DIA LEBIH DARI TEMEN?! ITU URUSAN GW, BUKAN URUSAN LO!"
"LO UDAH GAK ADA HUBUNGAN LAGI SAMA GW, ASHA! LO GAK PUNYA HAK BUAT NGATUR HIDUP GW!"
Air mata Asha jatuh semakin deras. "Jadi... Jadi gitu ya... Lo udah gak anggap gw apa-apa lagi..."
"BUKAN GITU!" teriak Arsa dengan frustrasi. "GW MASIH NGANGGAP LO TEMEN! TAPI LO YANG BIKIN SEMUANYA JADI SUSAH!"
"LO YANG TERUS NGEJAR-NGEJAR GW! LO YANG TERUS BERUSAHA BIKIN GW INGET! PADAHAL GW UDAH BILANG BERKALI-KALI KALAU GW GAK BISA INGET!"
Asha terdiam mendengar ucapan Arsa. Dadanya sesak. Hatinya hancur.
"Asha, lo tau gak..." lanjut Arsa dengan nada yang sedikit lebih pelan tapi tetap tegas.
"Sejak gw kecelakaan, hidup gw udah berubah total. Gw kehilangan sebagian dari diri gw. Gw harus belajar lagi dari awal."
"Dan waktu itu, yang ada di samping gw cuma ayah gw. Gak ada orang lain."
Asha ingin membantah, tapi Arsa melanjutkan ucapannya.
"Terus tiba-tiba lo muncul dan bilang kalau lo adalah pacar gw. Lo cerita tentang hubungan kita. Lo berusaha bikin gw inget."
"Dan lo tau gimana perasaan gw waktu itu? Gw bingung. Gw frustrasi. Karena gw gak ngerasain apa-apa sama lo."
"Gw liat lo kayak orang asing yang tiba-tiba masuk ke hidup gw dan ngaku-ngaku sebagai pacar gw."
Asha merasakan hatinya semakin hancur mendengar ucapan Arsa. "Arsa..."
"Gw tau lo pasti sakit hati denger ini. Tapi ini fakta, Asha" lanjut Arsa dengan tatapan yang tajam.
"Gw gak ngerasain apa-apa sama lo. Gw gak inget hubungan kita. Dan gw gak bisa memaksa diri gw buat ngerasain sesuatu yang gak ada."
"Tapi kenapa lo gak bisa ngerti itu? Kenapa lo terus maksa gw buat inget? Buat ngerasain sesuatu yang gak gw rasain?"
Asha menangis semakin keras. "Karena... Karena gw sayang sama lo, Arsa... Gw sangat sayang sama lo..."
"Tapi sayangnya itu egois, Asha!" ucap Arsa dengan nada yang tegas. "Lo cuma mikirin perasaan lo sendiri! Lo gak mikirin perasaan gw!"
"Lo gak mikirin gimana beratnya gw harus hadapin lo setiap hari sambil berusaha untuk ngerasain sesuatu yang gak ada!"
"Dan sekarang... Sekarang lo malah nyakitin Raya. Nyakitin orang yang gak ada salahnya. Cuma karena lo cemburu!"
Asha menggeleng keras. "Bukan cuma karena cemburu, Arsa! Dia—"
"CUKUP!" bentak Arsa memotong ucapan Asha. "GW GAK MAU DENGER ALASAN LO LAGI!"
"Yang jelas, lo udah salah. Lo udah namparin Raya. Dan gw... Gw gak bisa ngeliat lo kayak temen lagi setelah ini."
Asha merasakan dunianya runtuh mendengar ucapan Arsa. "Arsa... Jangan... Jangan gitu..."
"Asha, dengerin gw baik-baik" ucap Arsa dengan nada yang dingin.
"Mulai sekarang, gw mau lo jauhin gw. Jauhin Raya. Dan jauhin hidup gw."
"Gw gak mau ada hubungan apa-apa lagi sama lo. Gw gak mau lo ganggu hidup gw lagi."
"Anggap aja... Anggap aja kita udah gak kenal lagi. Udah gak pernah punya hubungan. Udah gak pernah punya kenangan bersama."
Air mata Asha jatuh dengan sangat deras. "Arsa... Please... Jangan bilang kayak gitu..."
"Maafin gw kalau gw kejam. Tapi ini satu-satunya cara biar lo bisa move on. Biar lo bisa melupakan gw" ucap Arsa dengan nada yang sedikit melembut di akhir.
"Gw harap... Gw harap lo bisa nemuin kebahagiaan lo sendiri. Tanpa gw."
Setelah mengatakan itu, Arsa berbalik dan berjalan pergi meninggalkan Asha yang menangis di tempatnya.
Cinta yang selama ini hanya bisa menyaksikan langsung memeluk Asha yang hampir jatuh karena kakinya lemas.
"SHA! SHA, LO GAPAPA?!" teriak Cinta dengan panik.
Tapi Asha tidak menjawab. Ia hanya menangis dengan sangat keras di pelukan Cinta.
"Arsa... Arsa..." isak Asha dengan suara yang sangat lemah. "Jangan... Jangan tinggalin aku..."
"ARSAAAAA!" teriak Asha dengan suara yang memilukan.
Tapi Arsa tidak menoleh. Ia terus berjalan tanpa menoleh ke belakang.
🌷🌷🌷🌷
Beberapa siswa yang mendengar teriakan Asha langsung keluar dan melihat pemandangan di parkiran.
Mereka melihat Asha yang menangis dengan sangat keras di pelukan Cinta.
Bisikan-bisikan mulai terdengar. Mereka membicarakan apa yang terjadi.
Tapi Asha tidak peduli. Ia hanya terus menangis dan menangis.
"Sha... Sha, dengerin gw..." ucap Cinta dengan suara yang bergetar. "Lo harus kuat, Sha... Please..."
Tapi Asha tidak mendengar. Ia hanya terus menangis sambil mengucapkan nama Arsa berkali-kali.
"Cin... Gw... Gw gak sanggup..." isak Asha dengan suara yang sangat lemah. "Gw gak sanggup lagi..."
"Arsa... Arsa benci sama gw... Dia... Dia gak mau liat gw lagi..."
Cinta memeluk Asha dengan semakin erat. Air matanya juga mulai jatuh melihat sahabatnya yang begitu hancur.
"Sha... Udah... Udah jangan nangis... Please..." isak Cinta sembari mengelus punggung Asha.
Tapi Asha tidak bisa berhenti menangis. Ia merasa dunianya sudah benar-benar runtuh.
Arsa... Orang yang paling ia sayangi... Orang yang paling ia cintai...
Sekarang membencinya. Tidak ingin melihatnya lagi. Memintanya untuk menjauh.
Dan itu... Itu adalah pukulan terakhir yang menghancurkan Asha sepenuhnya.
🌷🌷🌷🌷
Sementara itu, Arsa berjalan dengan cepat meninggalkan parkiran. Tangannya mengepal dengan kuat.
Di dalam hatinya, ada perasaan campur aduk. Marah, kecewa, tapi juga... Bersalah?
Ia tau ucapannya tadi sangat kejam. Ia tau ucapannya pasti sangat menyakiti Asha.
Tapi ia tidak punya pilihan lain. Ia harus tegas. Ia harus membuat Asha mengerti bahwa mereka sudah tidak ada hubungan lagi.
'Ini demi kebaikan dia. Biar dia bisa move on. Biar dia bisa melupakan gw' batin Arsa mencoba meyakinkan dirinya sendiri.
Tapi kenapa... Kenapa dadanya terasa begitu sesak?
Kenapa ia merasakan penyesalan yang luar biasa?
Arsa menggelengkan kepalanya dengan keras. "Gw udah melakukan yang benar. Gw harus tegas sama dia."
Tapi di dalam hatinya, ada suara kecil yang terus berbisik.
'Apa kamu yakin kamu melakukan yang benar?'
'Apa kamu tidak menyesal dengan ucapanmu tadi?'
'Apa kamu benar-benar tidak merasakan apa-apa saat melihat Asha menangis seperti itu?'
Arsa menutup matanya dengan keras. "Cukup. Gw gak mau mikirin itu lagi."
Ia lalu berjalan kembali ke taman belakang sekolah di mana Raya masih menunggu.
Saat melihat Arsa datang, Raya langsung berdiri dan menghampirinya. "Hmm, Arsa... Lo udah ketemu Asha?"
Arsa mengangguk dengan wajah yang datar. "Udah."
"Hmm, terus... Gimana?" tanya Raya dengan hati-hati.
"Gw udah bilangin dia buat jauhin gw. Dan jauhin lo juga" jawab Arsa dengan nada yang dingin.
Raya terdiam mendengar jawaban Arsa. Di dalam hatinya, ada perasaan lega tapi juga... Bersalah.
"Hmm, Arsa... Lo... Lo yakin?" tanya Raya dengan suara yang pelan.
Arsa menatap Raya dengan tatapan yang sulit diartikan. "Iya. Gw udah yakin."
"Gw gak mau ada drama lagi. Gw mau hidup tenang. Dan buat itu, gw harus ngejauh dari Asha."
Raya mengangguk pelan meskipun di dalam hatinya ada perasaan tidak enak.
Ia tau... Ia tau ucapan Arsa tadi pasti sangat menyakiti Asha.
Dan sebagian dari dirinya merasa bertanggung jawab atas semua ini. Merasa bahwa dia adalah orang ketiga yang datang tiba-tiba.
Tapi sebagian lainnya... Sebagian lainnya merasa lega karena sekarang Asha tidak akan mengganggu lagi.
Sekarang ia punya kesempatan yang lebih besar untuk dekat dengan Arsa. Kesempatan untuk melanjutkan cinta yang diperjuangkannya bertahun-tahun.
'Hmm, maafin aku, Asha...' batin Raya dengan perasaan yang campur aduk.
'Tapi aku... Aku juga pengen bahagia...'
TO BE CONTINUED
🌷🌷🌷🌷🌷
HANCURRR TOTALLL! 😭😭😭 Pertengkaran terparah antara Asha dan Arsa akhirnya terjadi! Dan kali ini... Arsa bilang hal-hal yang SANGAT menyakitkan!
Arsa bilang dia gak ngerasain apa-apa sama Asha. Dia nganggap Asha kayak orang asing. Dan yang paling sakit... Dia minta Asha untuk menjauh dan anggap mereka gak pernah kenal 💔
Ucapan Arsa yang bilang "Lo cuma mikirin perasaan lo sendiri" dan "Gw gak ngerasain apa-apa sama lo" bener-bener menghancurkan Asha!
Tapi... Kenapa Arsa ngerasa bersalah setelahnya? Apa dia sebenernya masih ngerasain sesuatu?
Dan gimana nasib Asha setelah ini? Apa dia masih bisa bertahan?
Penasaran kan kelanjutannya? Yuk stay tune terus dan jangan lupa follow ig author!
@Jaaparr
tapi bikin Asha sungguh movie on Thor kalau bersama arsa itu menyakitkan jangan sia siakan airmataku ,..bahagiakan asha bersama orang lain juga supaya arsa merasakan kesakitan dan air mataku