NovelToon NovelToon
MONSTER DI DUNIA MURIM

MONSTER DI DUNIA MURIM

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Sistem
Popularitas:947
Nilai: 5
Nama Author: FantasiKuyy

Dulu aku adalah sampah di Sekte Awan Azure, sampai sistem 'Night Crawler' merobek kemanusiaanku dan menggantinya dengan insting predator. Sekarang, aku bisa bertransformasi menjadi monster dan melahap kultivasi siapa pun yang berani menghalangi jalan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon FantasiKuyy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 17

Lantai batu di bawah kakiku terbelah menjadi dua. Makhluk raksasa itu merayap keluar dengan gerakan yang sangat kaku, namun setiap gesekan tubuhnya menciptakan suara dentuman yang membuat tulang belulangku terasa ngilu. Mata merahnya yang tunggal menatap kami satu per satu, seolah sedang menghitung berapa banyak nyawa yang akan ia cabut hari ini.

"Mundur! Semuanya mundur!" teriak tetua berbaju putih itu sembari melambaikan tangannya dengan panik.

Aku tidak bergeming dari posisiku. Aku justru semakin mempererat genggamanku pada bahu He Ran, memastikan dia tetap berada di belakang punggungku. Aku bisa merasakan napas He Ran yang semakin pendek dan tidak beraturan.

"Han, jangan coba-coba melawannya sendirian," desis He Ran sembari mencengkeram kain bajuku.

"Aku tidak punya banyak pilihan, He Ran," balasku tanpa melepaskan pandangan dari monster batu itu.

Prajurit Aliansi Murim yang tadinya terlihat begitu perkasa kini kocar-kacir. Salah satu dari mereka mencoba menusukkan pedangnya ke arah kaki makhluk itu, namun bilah pedangnya patah seperti ranting kering hanya dengan sekali sentuh.

"Hanya debu... kalian semua hanya debu!" raung si raksasa batu dengan suara yang sangat berat.

Tiba-tiba, monster itu mengayunkan tangannya yang sebesar batang pohon kelapa. Kecepatannya tidak masuk akal untuk makhluk dengan ukuran sebesar itu. Tiga prajurit zirah perak yang berdiri paling dekat langsung hancur menjadi serpihan kecil, tanpa sempat mengeluarkan teriakan terakhir mereka.

"Siapa sebenarnya benda ini, Kakek?" tanyaku sembari melirik Han Gwang yang masih terkapar tidak jauh dariku.

Lelaki tua itu tertawa parau, wajahnya kini dipenuhi dengan ketakutan yang sangat nyata. "Itu adalah kemurkaan pertama dari keluarga kita, Han Wol. Penjaga yang kita tinggalkan untuk membusuk di dalam sini."

"Berhenti tertawa dan berikan solusinya!" bentakku sembari menghindari bongkahan batu yang terbang ke arah kami.

Han Gwang menggelengkan kepalanya perlahan. "Tidak ada solusi. Dia hanya akan berhenti setelah memakan semua darah Asura yang ada di ruangan ini."

Tetua Aliansi Murim mulai membentuk formasi lingkaran. Mereka menggumamkan mantra dalam bahasa yang tidak kupahami, menciptakan jaring cahaya emas yang mencoba mengikat pergelangan tangan si monster. Cahaya itu berpendar terang, namun si raksasa hanya mendengus meremehkan.

"Kalian mengganggu waktu makanku," ucap si raksasa sembari merobek jaring cahaya itu dengan tangan kosong.

Dampaknya sangat mengerikan. Para tetua yang mempertahankan formasi itu langsung terpental ke dinding makam, memuntahkan darah segar dari mulut mereka. Jin Seo yang berdiri di barisan tengah tampak pucat pasi, pedangnya gemetar hebat di tangannya.

"Han Wol! Gunakan kekuatanmu! Hanya kau yang bisa menahannya!" seru Jin Seo sembari mundur perlahan.

"Tadi kalian ingin menangkapku, sekarang kalian memintaku menjadi perisai?" sindirku sembari menyeringai sinis.

Meskipun aku berkata demikian, aku tetap memicu aliran energiku. Guratan hitam di lenganku mulai berpendar lebih terang dari sebelumnya. Aku merasakan koneksi aneh dengan monster batu tersebut, seolah-olah darah kami berasal dari sumber yang sama.

"Kau... yang kecil... baumu berbeda," ucap si raksasa sembari memusatkan mata merahnya tepat ke arahku.

"Namaku Han Wol, dan aku bukan makananmu," sahutku sembari melangkah maju, melepaskan pegangan He Ran.

"Han! Jangan!" teriak He Ran dengan nada suara yang penuh kekhawatiran.

Aku tidak mendengarkan. Aku membiarkan sayap hitamku membentang lebar, menciptakan tekanan udara yang sanggup mendorong mundur para prajurit yang masih tersisa. Aku tidak butuh instruksi sistem lagi. Aku tahu apa yang harus kulakukan karena instingku berteriak lebih keras dari apa pun.

Aku melesat seperti anak panah menuju wajah si raksasa. Tangan kananku mengepal, mengumpulkan seluruh esensi kegelapan yang tersisa di dalam jantungku. Si raksasa mencoba menangkapku, namun aku berputar di udara dan mendaratkan pukulan telak tepat di mata merahnya yang besar.

Blar!

Goncangan yang dihasilkan membuat seluruh langit-langit makam mulai runtuh. Si raksasa mengerang keras, memegangi wajahnya yang kini mengeluarkan cairan biru menyala. Aku mendarat kembali di tanah dengan posisi berlutut, merasakan beban yang luar biasa di kedua lenganku.

"Kau menyakitiku, Cicit yang hilang!" raung si raksasa dengan kemarahan yang meluap.

Cicit? Aku tertegun sejenak. Jika Han Gwang adalah kakekku, berarti makhluk ini adalah sesuatu yang jauh lebih tua dari itu. Sebuah sejarah hidup yang seharusnya sudah terkubur selamanya.

"Dia bukan monster biasa, Han! Dia adalah leluhur pertama kita yang gagal mencapai tahap kesempurnaan!" teriak Han Gwang sembari berusaha merangkak menjauh.

Si raksasa batu tidak memedulikan Han Gwang. Ia justru menancapkan kedua tangannya ke lantai makam. Seketika, pilar-pilar batu tajam muncul dari bawah tanah, mengarah tepat ke tempat He Ran berada.

"He Ran! Awas!" seruku sembari melesat kembali.

Aku berhasil memeluk He Ran dan melompat menjauh tepat saat pilar-pilar itu menghancurkan posisi kami sebelumnya. Namun, saat aku mendarat, aku menyadari bahwa kami kini terpojok di sudut ruangan yang sudah mulai runtuh total.

"Han, biarkan aku di sini. Pergilah lewat lubang di atas sana," pinta He Ran sembari menunjuk celah di langit-langit.

"Diamlah, kau cerewet sekali saat terluka," balasku sembari menatap si raksasa yang kini mulai bersinar biru di seluruh tubuhnya.

Pria tua berbaju putih dari Aliansi Murim tiba-tiba melesat ke arahku. Ia tidak menyerang si raksasa, melainkan mengarahkan sebuah medali emas ke arah dadaku.

"Jika kami tidak bisa membunuh monster itu, maka kami akan mengorbankanmu untuk menenangkannya!" teriak pria tua itu dengan wajah yang penuh kebencian.

Medali itu mengeluarkan rantai cahaya yang langsung melilit leher dan tangan kiriku. Aku merasakan energiku tersedot paksa masuk ke dalam medali tersebut.

"Sialan! Apa yang kau lakukan?" geramku sembari mencoba merobek rantai itu.

"Ini adalah Segel Penenang Jiwa! Dengan energimu, raksasa itu akan tertidur kembali!" sahut pria tua itu sembari tertawa gila.

Si raksasa batu berhenti mengamuk. Ia menatapku dengan tatapan yang sangat aneh, seolah-olah ia sedang menunggu sesuatu. Aku merasakan dadaku semakin sesak, dan penglihatanku mulai kabur karena energi Asura-ku ditarik habis oleh segel aliansi.

"Han Wol, jangan menyerah!" teriak Jin Seo sembari mencoba menyerang pria tua berbaju putih itu dari belakang.

Namun, sebelum Jin Seo sempat sampai, si raksasa batu justru mengulurkan tangannya dan meremas pria tua berbaju putih itu hingga hancur berkeping-keping bersama medali emasnya. Rantai cahaya yang melilitku pun putus seketika.

Aku terengah-engah, berlutut di lantai dengan sisa tenaga yang ada. Si raksasa membungkukkan tubuhnya yang besar, hingga wajahnya yang mengerikan berada tepat di depan wajahku.

"Bawa aku keluar... Han Wol..." bisik si raksasa dengan suara yang tiba-tiba berubah menjadi suara seorang wanita yang sangat lembut.

Aku terpaku. Suara itu terdengar sangat familiar di telingaku, meskipun aku yakin belum pernah mendengarnya seumur hidupku.

"Siapa kau?" tanyaku dengan suara yang sangat rendah.

Makhluk batu itu tidak menjawab. Sebaliknya, ia mulai mengecil, kulit batunya rontok satu per satu, memperlihatkan sesosok wanita cantik dengan rambut putih panjang yang mengenakan jubah berwarna biru laut.

He Ran yang berada di sampingku langsung membelalakkan matanya dengan penuh ketakutan. "Ibu?" gumam He Ran dengan suara yang hampir tidak terdengar.

Tepat saat itu, lantai di bawah kami benar-benar runtuh, menyeret kami semua ke dalam kegelapan yang jauh lebih dalam daripada makam ini.

1
johanes ronald
ceritanya agak bingung, kl rantai hitamnya diserap, trs wkt penjaga masuk, apa gak liat rantainya sdh gak ada?
johanes ronald
hidup jang mi ulat sekali ya?
johanes ronald
bingung + excited mo smp dimna ceritanya berakhir
johanes ronald
politiknya bnyk skali
KanzaCyr_ 🐼🌻
❤️🥰
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!