Pernikahannya dengan Serka Dilmar Prasetya baru saja seminggu yang lalu digelar. Namun, sikap suaminya justru terasa dingin.
Vanya menduga, semua hanya karena Satgas. Kali ini suaminya harus menjalankan Satgas ke wilayah perbatasan Papua dan Timor Leste, setelah beberapa bulan yang lalu ia baru saja kembali dari Kongo.
"Van, apakah kamu tidak tahu kalau suami kamu rela menerima Satgas kembali hanya demi seorang mantan kekasih?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hasna_Ramarta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29 Bekerja Kembali
Pagi yang cerah di hari Senin, hari pertama Dilmar kembali ke kantor. Vanya sibuk di dapur untuk menyiapkan sarapan. Sedangkan Dilmar masih di kamar. Dilmar sudah merasa tubuhnya benar-benar sehat saat ini.
Hp Vanya saat ini selalu jadi pusat perhatiannya sejak lelaki yang bernama Sidik Zamzami mengirimkan pesan chat terhadap Vanya. Dilmar memang cemburu, dia tidak mau Vanya pergi dari hidupnya setelah ia merasakan ketulusan yang Vanya berikan selama merawatnya.
Tapi, Dilmar masih belum bisa mengembalikan sikap Vanya yang ceria dan genit seperti dulu. Hari-hari pun kini masih dilalui dengan ketegangan, karena hampir tiap waktu Dilmar akan mengecek Hp Vanya.
"Vanya sudah memblokir nomer lelaki itu, tapi aku belum tenang. Sepertinya lelaki itu masih akan menghubungi Vanya." Dilmar bergumam seraya bangkit menuju lemari dan meraih baju PDL yang akan dipakainya hari ini.
Vanya masuk ke kamar dan menyeru Dilmar, memberitahu kalau sarapan pagi sudah siap. Dilmar baru selesai menggunakan kaos dalamnya.
"Abang sarapan sudah siap," beritahu Vanya. Matanya sekilas melirik Hp nya yang kini berada di atas kasur, sepertinya sejak tadi Dilmar memang mengutak-atik Hp Vanya.
"Hmmm." Dilmar berdehem sebagai balasan untuk Vanya. Vanya menghampiri lemari, hari inipun dia akan bersiap juga dan kembali ke toko. Dilmar juga tidak melarang dirinya bekerja.
"Vanya hari ini akan kembali ke toko, dan bekerja seperti biasanya," beritahu Vanya tanpa ditanya.
Dilmar melirik ke arah Vanya tapi tanpa bicara, yang ada dalam pikirannya kini adalah rasa cemburu. Vanya yang saat ini tengah mengenakan blusnya, Dilmar punya ide untuk membuat Vanya sibuk memperhatikannya.
"Tolong ambilkan sangkur dan kaos kaki serta karetnya. Dan pakaikan sekalian!" titahnya. Vanya belum selesai berdandan, tapi Dilmar sudah memerintahnya.
Vanya segera bergerak mengambil apa yang dibutuhkan Dilmar barusan. Setelah siap semua, Dilmar sudah siap dan berdiri tegak, membiarkan Vanya untuk memakaikan baju lorengnya.
Vanya berdiri di hadapan Dilmar, lalu memakaikan seragam lorengnya. Hal ini pertama sekali ia lakukan, mengingat dulu setelah pernikahan, sikap Dilmar sudah berubah karena Sela sudah hadir dalam hatinya.
Dilmar menatap tanpa kedip wajah Vanya yang sesekali mengelak untuk menghindar. Cantik alami karena memang belum dipoles make up. Namun selama Vanya bekerja di toko kosmetik mamanya, Vanya tidak pernah bermake-up berlebihan, sebab ia memang tidak suka terlalu menor apabila memakai make-up.
Jari-jemari Vanya mulai meraih kancing baju loreng Dilmar. Walau belum gesit, tapi Vanya melakukannya dengan baik. Dilmar tiba-tiba meraih pinggang Vanya. Lalu menarik tangan Vanya yang akan meraih sabuk sangkur yang akan dipasangkan di pinggang Dilmar. Tangan Vanya tertahan, ia terlihat gugup sehingga wajahnya memerah.
"Sabuknya belum." Vanya protes.
"Nanti dulu, ini dulu," tunjuknya seraya meraih tengkuk Vanya lalu mencium bibir Vanya. Vanya tidak bisa menolaknya, lagipula dia saat ini sedang berdiri di hadapan Dilmar. Dilmar menumpahkan gejolak rindunya di sana disertai deru nafasnya yang memburu.
"Aku jadi pengen, kapan bersihnya?" tanya Dilmar saat ia sudah melepaskan pagutan bibirnya.
"Beberapa hari lagi. Kenapa?" Dilmar memasang wajah kesal dengan pertanyaan Vanya yang seakan tidak paham maksudnya.
"Malam pertama kita," jawab Dilmar yang langsung mendapat rengutan dari wajah Vanya.
Vanya kembali memasangkan sabuk sangkurnya Dilmar yang masih ingin dipasangkan olehnya.
"Kaos kaki dan karetnya," titahnya lagi sembari tersenyum puas karena sudah memerintah Vanya dengan leluasa.
Vanya meraih kaos kaki dan karet yang akan dipasang di kaki dan betis Dilmar. Beberapa saat kemudian, tugas Vanya selesai. Kini giliran dirinya merapikan diri, menyisir dan memoleskan make-up di wajahnya.
"Sebaiknya abang antar kamu ke toko dengan mobil, kamu jangan pergi sendiri," cegah Dilmar saat Vanya akan meraih kunci motor yang digantung di paku.
"Tapi, apakah Abang tidak akan telat pergi ke kantor?"
"Tidak," jawabnya seraya berjalan keluar kamar. Vanya terpaksa mengikuti Dilmar dan diantar Dilmar dengan mobil menuju toko.
Mereka kini berada di meja makan, menghadapi sarapan pagi. Nasi goreng dengan toping telur dadar dan taburan bawang goreng sudah teronggok di depan meja masing-masing.
Dilmar mulai menyuap, begitupun Vanya. "Kamu tidak pernah menggunakan uang di dalam ATM yang abang berikan, kenapa?" Tiba-tiba Dilmar membahas kartu ATM yang pernah diberikan untuk Vanya.
Vanya diam, dia memang belum menggunakan sepeserpun uang itu sejak Dilmar tugas ke Papua.
Dilmar menatap sembari masih mengunyah makanan di dalam mulutnya.
"Kenapa? Kamu menggunakan uangmu untuk belanja makanan kita ini? Kalau seperti itu, percuma aku kasihkan ATM kalau kamu tidak pernah menggunakannya. Apakah uangmu sudah cukup banyak sehingga menolak pemberian dariku, itu uang nafkah aku untuk kamu, lho," cecar Dilmar. Sarapan pagi yang tadinya damai, kini menegang gara-gara Dilmar membahas uang yang ada di ATM yang diberikan Dilmar untuk Vanya.
"Maaf, Vanya belum sempat ke bank, lagipula Abang tidak pernah memberikan nomer PIN nya," ucap Vanya sedikit merasa bersalah.
"Bukankah aku sempat bilang kalau PIN nya tanggal lahir aku," tukas Dilmar.
Vanya termenung dan berpikir, kapan Dilmar meyebutkan nomer PIN nya, perasaan belum pernah.
"Jangan kamu jadikan alasan kalau aku tidak memberikan nomer PIN, kamu itu terlalu bersemangat saat aku memberikan ATM waktu itu dan kamu tidak ingat saat aku mengatakan kalau PIN nya tanggal lahir aku."
Vanya termenung kembali, sepertinya dia memang hari itu kurang fokus dengan kata-kat Dilmar. Karena hari itu dia sudah sangat bahagia banget bisa menikah dengan Dilmar, dan tidak sadar kalau hari itu hati Dilmar disusupi Sela kembali. Sikap datar Dilmar, Vanya duga karena saat itu dirinya sedang halangan.
"*Sepertinya aku memang lupa kalau Bang Dilmar pernah menyebutkan no PIN ATM itu. Lagipula aku memang tidak berniat menggunakan duit dalam ATM itu karena marah sama Bang Dilmar. Tapi sekarang Bang Dilmar justru yang kesal dengan aku yang tidak pernah memakai satu kalipun uang dalam ATM itu*." Vanya membatin.
"*Lagian aku sempat mengatakan bahwa kartu ATM itu mau aku kembalikan setelah Bang Dilmar pulang dari Papua*," batinnya lagi.
"Ya sudah, sebaiknya kita berangkat, nanti aku kesiangan pula. Lain kali pakailah uang di ATM itu, jangan membuat aku menjadi seorang suami yang seakan tidak menafkahi istrinya gara-gara kamu marah masalah aku kemarin," tukasnya sembari berdiri dan bergegas meninggalkan Vanya, menuju keluar. Vanya mengikuti dar belakang, ia pun kini jadi serba salah dengan keadaan ini. Niat tadinya mau mengembalikan ATM itu karena marah pada Dilmar, tapi justru kini dirinya kena marah karena tidak pernah sepeser pun menggunakan uang dalam ATM itu.