NovelToon NovelToon
Mempelai Pengganti

Mempelai Pengganti

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta setelah menikah / Pengantin Pengganti / Pernikahan Kilat / Cinta Seiring Waktu / Keluarga / Romansa
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Sablah

aku berdiri kaku di atas pelaminan, masih mengenakan jas pengantin yang kini terasa lebih berat dari sebelumnya. tamu-tamu mulai berbisik, musik pernikahan yang semula mengiringi momen bahagia kini terdengar hampa bahkan justru menyakitkan. semua mata tertuju padaku, seolah menegaskan 'pengantin pria yang ditinggalkan di hari paling sakral dalam hidupnya'

'calon istriku,,,,, kabur' batinku seraya menelan kenyataan pahit ini dalam-dalam.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sablah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

sidang keluarga

"Gan, sini!" Arya memanggilnya, tapi Gani hanya tersenyum kecil dan berjalan perlahan ke arah kami.

ketika dia akhirnya sampai, senyumnya terlihat dipaksakan. dia menjabat tanganku, tapi tatapannya lebih banyak tertuju pada Alda.

"selamat, Ram… Alda," katanya singkat, suaranya datar.

"terima kasih, Gani," jawaban Alda sopan tapi sedikit canggung.

aku sempat berpikir itu hanya perasaan ku saja, tapi saat aku melihat sekilas ke arahnya, aku menangkap sesuatu yang berbeda di matanya, sebuah ketidak relaan yang sulit dijelaskan.

Gani berdiri di sana sebentar, lalu mundur sebelum percakapan dilanjut oleh Arya.

"Jadi, Ram, Alda... udah kepikiran belum, setelah ini kalian ingin menghabiskan waktu dimana? itu loh pasca pengantin baru, hihi" tanya Arya sambil tersenyum lebar. dia dengan santai membahas hal diluar perkiraan ku, bahkan di samping nya, Laras dan Ayu langsung ikut menyimak dengan penuh rasa ingin tahu.

aku dan Alda saling berpandangan sejenak. aku tahu ini pertanyaan yang wajar, tapi situasinya terlalu mendadak untuk dipikirkan sejauh itu. Alda tersenyum canggung, lalu menjawab pelan, "kita masih belum berpikir sampai kesana, Arya."

"ayo dong, bahas sekarang! ini momen yang harus diinget seumur hidup!" sahut Laras, matanya berbinar. "menurutku, Bali selalu jadi pilihan yang romantis. pantainya, suasananya, romantis banget....." dia sengaja memperpanjang kata terakhir sambil melirik kami berdua.

"atau, kalau mau yang lebih dingin dan tenang, coba ke Bandung. udah pasti seru!" Ayu menimpali, nada suaranya penuh semangat.

aku hanya tersenyum, mencoba menanggapi santai. tapi pandanganku tak sengaja menangkap sosok Gani, yang berdiri tak jauh dari kami. dia masih menyimak pembicaraan kami, tapi sesekali matanya melirik ke arah Alda. tatapannya... sulit dijelaskan

"eh, Gan? diem-duem baek. ayo ikut kasih saran dong, kita lagi ngebahas masalah surga duniawi mereka nih!" Arya, tanpa sadar, melanjutkan pembicaraan yang membuat suasana semakin canggung.

Gani akhirnya mengalihkan pandangannya kearah Arya, senyum tipisnya sengaja diukir, "itu masalah pribadi mereka. memangnya Rama sendiri sudah ada rencana ke tahap itu?" tanyanya, dengan nada datar.

"belum," jawabku. "kita belum sempat mikirin."

Gani hanya mengangguk kecil, tapi matanya lagi-lagi sekilas memandang Alda. "ya, yang penting kalian bahagia, kan?” katanya, dengan nada yang hampir terdengar sarkastik. “bulan madu itu cuma formalitas."

Laras dan Ayu saling bertukar pandang, bingung dengan respon Gani, tapi tidak dengan Arya yang justru tengah tertawa. "ah, formalitas gimana, Gan? kalau punya pasangan, kamu pasti bakal ngerti pentingnya momen-momen kayak gini."

aku melihat wajah Gani tetap datar tanpa ekspresi. pandangan nya tiba-tiba berbalik kearah ku, "iya, mungkin," sahut Gani akhirnya, dengan suara rendah. "tapi tidak semua orang seberuntung Rama"

kalimat itu meluncur seperti anak panah yang menancap di udara, membuat suasana mendadak sunyi. Gani melirik Alda sekali lagi sebelum akhirnya menghela napas panjang. "aku pamit dulu, masih banyak yang mau kasih selamat kan?."

aku tidak sempat mengatakan apa-apa. dia melangkah pergi, meninggalkan kami dengan keheningan yang aneh. Laras dan Ayu, yang biasanya cerewet, hanya bisa saling melirik bingung, sedangkan Arya sebatas mengangkat bahu, tampak tak terlalu memikirkan.

Alda menoleh padaku, suaranya pelan. "ada apa dengan dia? hari ini Gani kelihatan berbeda dari biasanya,"

aku hanya tersenyum kecil, mencoba mencari kata-kata sebagai jawabannya. "mungkin dia cuma kaget. semua ini mendadak."

Alda tidak berkata apa-apa lagi, hanya menunduk, kembali fokus pada tamu yang mulai mendekat. tapi dalam diam, aku tidak bisa menghilangkan pikiran bahwa Gani menyembunyikan sesuatu, sesuatu yang mungkin berkaitan dengan Alda.

***

singkat cerita, acara resepsi akhirnya selesai, tapi keheningan di dalam hati kami justru semakin menggema. Alda dan aku kembali dipisahkan untuk sementara. aku dibawa masuk ke salah satu ruangan di rumah, tempat keluargaku berkumpul.

wajah abangku, RAKA, sudah terlihat gelap sejak awal acara, dan aku tahu ini bukan sekadar ketidaksetujuan biasa.

Rama, apa-apaan ini?" suara Raka langsung memecah keheningan begitu aku masuk. nadanya tajam, penuh tekanan. "kamu nggak pikir panjang? ini pernikahan, bukan keputusan main-main!"

aku menghela napas berat, mencoba menenangkan diri meskipun dadaku terasa sesak. "bang, aku tahu ini mendadak, tapi aku tidak punya pilihan. abang lihat sendiri situasinya bagaimana tadi?"

"pilihan?" Raka menatapku tajam. "kamu lebih baik membatalkan semuanya daripada menyeret Alda masuk ke dalam kekacauan ini. kamu sadar nggak, ini bukan cuma soal kamu, Ram? ini soal dia, keluarganya, dan kita juga!"

aku terdiam, tidak tahu harus menjawab apa. sebagian dari diriku tahu Raka benar, tapi aku juga tidak bisa mengubah apa yang sudah terjadi.

saat Raka melontarkan kata-kata tajamnya, suara ibu yang lembut tapi tegas tiba-tiba memecah ketegangan itu.

"Raka, kamu harus berhenti," suara ibu bergetar, tetapi penuh kekuatan. "jangan kamu tambah beban adikmu dengan kemarahan seperti ini."

Raka terdiam sejenak, menatap ibu dengan tatapan yang penuh perlawanan. namun, ibu melanjutkan dengan tenang, meskipun matanya menyiratkan keprihatinan.

"ada banyak cara untuk menunjukkan perhatian dan kasih sayang, Raka," kata ibu dengan suara yang tidak bisa dibantah. "Rama memang membuat keputusan yang cepat, dan kita semua tahu itu tidak mudah. Tapi kamu harus mengingat, dia tidak sendirian dalam hal ini. Kita keluarga, dan kita harus ada untuk dia, bukan hanya memberi kritik."

aku merasakan kehangatan dari kata-kata ibu, seolah ada kekuatan tersembunyi yang dia kirimkan untuk menenangkan keadaan. Raka, yang sebelumnya terlihat seperti akan meledak, kini mulai menurunkan tatapannya.

"pernikahan ini bukan hanya soal keputusan sendiri, tapi tentang bagaimana kita menerima dan mendukung satu sama lain," lanjut ibu, dengan tatapan lembut yang mengarah ke Raka. "Rama butuh kita, bukan hanya untuk menilai, tapi untuk mencari jalan bersama-sama."

keheningan menggantung, dan aku merasa terharu mendengar ibu berbicara dengan penuh perhatian. Raka akhirnya menarik napas panjang, meskipun dia masih tampak kecewa. aku tahu, ibu baru saja berhasil meredakan amarahnya, memberi kami sedikit ruang untuk berpikir lebih jernih.

ayah yang duduk di sudut ruangan akhirnya juga angkat bicara. suaranya lebih tenang, tapi tetap tegas. "Rama, kamu tidak bisa hidup dengan rasa sesak ini selamanya," lanjut ayah dengan suara yang penuh kebijaksanaan. "kamu harus bisa bicara dengan Alda, cari tahu apa yang dia rasakan. ini bukan hanya soal kamu, tapi soal keduanya. kita semua punya tanggung jawab."

aku mengangguk, meskipun dalam hati terasa berat untuk menghadapi Alda lagi. ada rasa cemas dan ketakutan yang terus membayangiku, takut jika apa yang sudah aku pilih ini malah semakin memperburuk segalanya. namun, apa yang bisa kulakukan selain mencoba?

"aku akan bicara dengan Alda, Ayah," jawabku pelan, berusaha meyakinkan diri sendiri lebih dari siapapun.

Raka hanya terdiam, sepertinya masih belum sepenuhnya setuju, tetapi dia tidak mengucapkan apapun lagi.

namun, sebelum aku sempat merasa lega, pintu ruangan lain terbuka, dan suara dari keluarga Alda mulai terdengar di ruangan sebelah. suara berat seorang pria tua mendominasi suasana. aku tahu pemilik suara itu adalah kakek Alda, PAK SAMIR.

"bagaimana kalian bisa membiarkan Alda menikah begitu saja tanpa persetujuan kami yang jelas kakek dan nenek kandung nya?" suaranya lantang, penuh otoritas. "ini penghinaan untuk keturunan kami! Alda bukan gadis sembarangan yang bisa kalian seret ke dalam masalah seperti ini!"

aku melangkah mendekat, meskipun tubuhku terasa berat. dari pintu ruangan, aku melihat Alda duduk di antara keluarganya. wajahnya tertunduk, tapi aku tahu dia sedang berusaha keras menahan perasaannya.

"kami tidak bermaksud seperti itu, Pak,,," Ayah Alda mencoba menjelaskan, tapi Kakek Samir mengangkat tangan, menyuruhnya berhenti.

"Alda, kamu kenapa diam saja?" tanya kakek, suaranya lebih lembut tapi penuh tekanan. "kenapa kamu melakukan hal memalukan ini? kamu itu wanita, kodratmu itu menerima, bukan mengajukan!"

Alda akhirnya mengangkat wajahnya. suaranya pelan, tapi tegas. "karena Alda tidak mau lihat Rama sendirian, Kek. Rama adalah salah satu teman terbaik Alda. aku tahu ini keputusan besar, tapi insyaAllah Alda tidak menyesal kek."

kakek terdiam, jelas tidak menyangka jawaban itu. tapi tatapan matanya masih tajam. "kamu pikir, keputusan itu nggak punya konsekuensi? pernikahan ini akan jadi beban di pundakmu. Apa kamu siap?"

Alda menunduk lagi, tapi kali ini dia menjawab lebih yakin. "aku akan coba, Kek. aku tahu ini berat, tapi aku ingin mendukung Rama."

aku merasa dadaku sesak mendengar keberanian Alda. sebelum aku sadar, aku melangkah maju, berdiri di depan keluarganya.

"pak Samir, saya tahu apa yang saya lakukan ini salah dan mendadak," kataku, mencoba terdengar tenang meski suaraku sedikit bergetar. "tapi saya janji, saya akan menjaga Alda. saya akan bertanggung jawab atas semua ini."

semua mata tertuju padaku. ada keheningan sejenak sebelum Kakek Alda berbicara lagi, kali ini lebih pelan.

"kita lihat sejauh mana tanggung jawabmu, Rama," katanya akhirnya. "tapi ingat, kalau kamu melukai cucuku sedikit saja, apalagi kau tidak sanggup memenuhi kebutuhan lahir dan batin nya, kau akan berurusan denganku."

Kakek Samir memandangku dengan tatapan tajam, seolah menimbang setiap kata yang baru saja aku ucapkan. aku tahu, ucapan saja tidak akan cukup untuk meyakinkan beliau. tepat saat suasana kembali terasa tegang, suara ibu memecah keheningan.

"Pak Samir," ujar ibu dengan nada lembut tapi tegas, "saya tahu keputusan ini tidak mudah diterima, terutama karena prosesnya sangat mendadak. tapi saya ingin Bapak tahu, kami sebagai orang tua Rama akan memastikan dia menjalankan tanggung jawabnya dengan sebaik mungkin."

Kakek Samir menoleh ke arah ibu, tapi tidak menjawab. wajahnya masih terlihat dingin, menunggu penjelasan lebih lanjut.

Ibu melanjutkan, kali ini dengan penuh ketulusan, "kami tidak akan membiarkan anak kami mengabaikan kewajibannya. Jika Rama mengambil keputusan sebesar ini, maka tugas kami adalah membimbingnya agar dia bisa menjadi suami yang baik untuk Alda. saya berjanji, kami akan mendidik dan mengawasi dia agar dia belajar menjadi laki-laki yang benar-benar bertanggung jawab."

Ayah, yang sejak tadi hanya diam, kini akhirnya ikut angkat bicara. suaranya pelan tapi penuh wibawa. "Pak Samir, kami memahami kekhawatiran Bapak. saya juga seorang ayah, dan saya tidak akan rela jika anak saya dirugikan dalam sebuah pernikahan. namun, saya yakin Rama mampu belajar, dan kami semua akan mendukung prosesnya. Alda sudah menunjukkan keberanian dan kepercayaannya kepada Rama, dan itu adalah sesuatu yang tidak bisa kami sia-siakan. Jika Bapak membutuhkan bukti tanggung jawab kami sebagai keluarga, kami siap untuk berdiskusi lebih lanjut."

Kakek Samir menatap ayahku dalam-dalam. Ada keheningan yang panjang di ruangan itu, seolah semua sedang menahan napas menunggu keputusan. tapi kemudian, suara seorang wanita tua, yang tidak lain adalah nenek Alda, terdengar lembut namun penuh makna.

"kita semua ini orang tua," kata nenek Alda sambil menatap Pak Samir. "tugas kita bukan hanya menghakimi keputusan anak-anak kita, tapi juga membantu mereka tumbuh. kalau keluarga Rama bersungguh-sungguh ingin mendukung anak-anak ini, kenapa kita tidak memberi mereka kesempatan?"

menek Alda memegang tangan Pak Samir, lalu melanjutkan, "Samir, ingat bagaimana kita dulu memulai? kita pun harus belajar dari bawah, dan keluarga kita ada untuk membimbing kita. biarkan anak-anak ini belajar, seperti kita dulu."

Pak Samir akhirnya menghela napas panjang. matanya kembali menatapku, kali ini tidak sekeras sebelumnya. "kalau begitu,,," katanya dengan nada yang lebih pelan, "saya berharap keluarga kalian benar-benar bisa membimbing Rama. ini bukan hanya soal janji, tapi soal bagaimana dia membuktikan tanggung jawabnya setiap hari."

aku mengangguk dalam-dalam. "saya mengerti, Pak Samir. saya akan melakukan yang terbaik, dan saya tidak akan mengecewakan Alda, keluarga saya, ataupun keluarga Bapak."

Ibu dan Ayah ikut mengangguk, begitupun dengan kedua orang tua Alda yang sejak tadi hanya menyimak pembicaraan ini, seolah mereka memberikan dukungan dengan keputusan ini.

keheningan itu perlahan berubah menjadi suasana yang lebih damai. Aku bisa melihat Alda menatapku sekilas, senyumnya tipis tapi penuh kelegaan. Untuk pertama kalinya sejak acara tadi, aku merasa ada harapan untuk memperbaiki semuanya, bersama keluarga, bersama Alda.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!