Cahaya, wanita berusia 21 tahun. Sikapnya yang ceria dan periang, kini seketika menjadi diam pada suaminya yang bernama Rian Pamungkas.
Pernikahan yang selama 3 tahun mereka hiasi dengan kebahagiaan, seketika sinar di mata Cahaya.
Air mata terus mengalir saat tak sengaja melihat suaminya bermesraan dengan sahabatnya yang bernama Vina.
Sahabat yang tidak pernah dia sangka akan menjadi duri di dalam rumah tangganya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gustikhafida, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20
"Mas, jangan tarik-tarik aku! Aku sedang hamil!" ujar Vina.
"Tidak perduli, kamu hamil atau tidak. Aku sangat kecewa denganmu. Rumah tanggaku hancur karenamu!"
"Itu bukan kesalahanku saja, Mas. Tapi, kesalahanmu juga. Andai saja, kamu tidak mencuri kesempatan menggodaku, aku tidak akan tergoda!" ucap Vina emosi.
"Oh, jadi kamu menyalahkanku, iya! Asal kamu tahu juga, Vin. Aku menikahimu tanpa cinta. Aku terpaksa menikahimu karena apa? Karena ibuku yang menginginkan seorang cucu. Sedangkan aku tahu, bagaimana Aya berusaha untuk bisa hamil. Aku tidak tega melihat Aya yang hampir setiap hari di cemooh oleh ibu!"
"Tapi, kamu tidak bisa memperlakukanku seperti sampah, Mas. Aku sedang mengandung anakmu. Ikhlaskan Aya. Jodoh kalian sampai di sini!"
"Itu tidak mungkin! Aku tidak akan melupakan Aya. Pergilah!" ucap Rian mendorong tubuh Vina sampai terjatuh di depan pintu rumahnya.
Melihat menantunya yang terjauh. Iris langsung berlari menolong menantunya.
"Vin, kamu baik-baik saja?" tanya Iris.
"Aku baik-baik saja. Tapi, hatiku benar-benar sakit saat mendengar ucapan Mas Rian, Bu. Dia menganggapku seperti sampah. Aku mau pulang aja, Bu. Kehadiranku di sini hanya membuat masalah untuk ibu dan Mas Rian!" ucap Vina di selingi isak tangisnya.
"Jangan, Vin. Kamu tetap di sini saja. Ibu tidak mau, Aya datang ke rumahmu dan melakukan hal buruk kepadamu."
"Tapi, Bu. Kehadiranku di sini, tidak di harapkan oleh mas Rian. Yang ada di otak Mas Rian hanya Aya, Aya, dan Aya. Dia sama sekali tidak memikirkanku! Orang yang sedang mengandung anaknya!"
"Pergilah! Jangan membuat drama di rumahku!" usir Rian.
"Rian, kamu benar-benar jahat! Kamu sama sekali tidak memikirkan masih Vina? Dia butuh kamu. Apalagi anak yang ada di rahimnya."
"Terserah kalian mau bicara apa! Aku tetep tidak perduli." ketus Rian masuk ke dalam rumahnya.
Iris membantu menantunya berdiri. "Kita masuk. Ibu akan membujuk Rian untuk menerimamu di sini!"
"Terimakasih, Bu!" jawab Vina, 'Akhirnya, rencanaku berhasil. Aku akan terus berpura-pura lemah di depan ibu mertuaku. Dengan begitu, ibu mertuaku akan merasa Kasihan dan terus membelaku!' batin Vina.
Rian masuk ke dalam kamarnya. Dia mengunci rapat pintu kamarnya.
"Aya, aku tidak akan bisa sepenuhnya mengikhlaskanmu. Untuk saat ini, aku akan diam. Tapi, aku janji, aku akan berusaha mencari tempat tinggalmu yang baru." gumam Rian meraih ponselnya.
Rian mencoba menghubungi sahabatnya sedari kecil yang bernama Pras.
"Pras,"
"Hai sobat. Ada apa menghubungi." ucap Pras dari seberang sana.
"Aku butuh teman. Kita ketemu di klub dekat kantorku!" titah Rian.
"Tapi istrimu. Bukankah, istrimu sangat benci tempat seperti itu? Ada apa, bro? Kalian bertengkar?"
"Sudahlah. Aku akan ceritakan semuanya di sana!" ujar Rian, kemudian mengakhiri panggilannya.
Rian menyambar jaketnya lalu keluar kamar membuat Vina dan Iris yang tengah berdiri tak jauh dari pintu kamar Rian terkejut.
"Mas, kamu mau kemana?" tanya Vina.
"Rian, kamu mau kemana, ha? Kamu mau cari istrimu itu? Sudah berulang kali ibu bilang, kalau jodoh kalian sampai di sini. Sekarang, kamu harus terima Vina sebagai istrimu, sebagai pengganti Aya." ucap Iris.
"Silahkan, kalian mau bicara apa saja. Aku malas mendengar ocehan kalian. Lebih baik, aku pergi!" ketus Rian berjalan menerobos istri siri dan ibunya.
"Mas, kamu belum jawab pertanyaanku. Kamu mau kemana?" teriak Vina mengikuti langkah kaki Rian.
"Mas!" pekiknya lagi.
Tak ingin berdebat, Rian berlari menuruni tangga. Dia berjalan keluar rumah dan masuk ke dalam mobilnya.
"Mas Rian!" teriak Vina saat melihat mobil Rian keluar gerbang rumah, "Ibu, Mas Rian mau kemana?" tanya Vina saat ibu mertuanya berdiri di sampingnya.
"Kamu tenang saja. Ibu yakin, Rian tidak akan pergi jauh-jauh. Dia pasti pulang. Paling, Rian menemui teman atau sahabatnya!" ucap Iris meyakinkan menantu kesayangannya.
"Tapi, aku takut Mas Rian menelantarkan aku dan calon anaknya, Bu. Aku takut, Mas Rian kembali ke Aya."
"Itu tidak mungkin terjadi, sayang. Ya sudah, kita masuk ke dalam. Kamu perlu istirahat. Dan kamu bisa menempati kamar Rian dan Aya." titah Iris.
Vina mengangguk. Dia berjalan masuk ke dalam rumah dengan bantuan ibu mertuanya.
"Terimakasih, Bu. Aku senang mempunyai ibu mertua seperti ibu!" ucap Vina setelah sampai di depan kamar Rian.
"Masuklah dan istirahat. Ibu tidak mau terjadi sesuatu dengan cucu ibu!"
"Iya, Bu." jawab Vina lalu membuka dan masuk ke dalam kamar Rian dan Aya.
Setelah pintu kamar tertutup. Vina tersenyum manis. Dia menatap ke sekeliling sudut kamar. "Akhirnya, kamar ini, menjadi kamarku juga. Hahaha ... Aya, Aya. Hidupmu selalu bahagia, dan hidupku selalu berantakan. Kamu selalu beruntung, bahkan kamu mempunyai suami yang sangat mencintaimu. Sedangkan aku? Tidak ada yang menyukaiku. Tapi, sekarang ... aku mau berterimakasih denganmu. Karenamu, aku mengenal Mas Rian dan karenamu juga, aku bisa memiliki Mas Rian." gumam Vina menatap foto pernikahan Aya dan Rian yang terpajang besar di dinding tembok. "Aku akan mengeluarkan pakaian Aya dan menggantinya dengan pakaianku!" ujarnya lagi.
Melampiaskan emosinya ke jalanan, itulah yang sedang Rian lakukan. Beberapa kali, dia menerobos lampu lalu lintas. Kini mobilnya sudah terparkir mulus di depan club dekat kantor.
"Hai, bro!" panggil Pras saat melihat Rian turun dari mobil, "Di mana istrimu? Yakin, Aya tidak akan marah?" goda Pras yang tak tahu apa-apa.
"Haha ... jangan bahas istri di depanku. Aku muak!" ketus Rian berjalan masuk menuju club di ikuti oleh Pras di sampingnya.
Rian mendudukkan pantatnya di kursi kosong, "Pesan minuman yang bisa membuat beban di kepalaku berkurang!" titah Rian pada Pras.
"Aku pesankan seperti biasa. Sebelum kamu ketahuan bermain di sini oleh istrimu!" ejek Pras membuat Rian tersenyum getir.
'Sekarang, tidak ada yang melarangku atau memarahiku lagi. Aya, kamu di mana? Apa kamu baik-baik saja? Atau kamu sedang menangis karenaku? Aku minta maaf, Ay. Aku salah. Tapi aku masih berharap, kamu pulang ke pelukanku!' batin Rian.
Setelah memesan minuman, Pras mendudukkan pantatnya di dekat Rian. "Ada apa bro? Kalian bertengkar?" tanya Pras.
"Di mana minumannya? Aku haus!"
"Sebentar lagi, waiters datang!" ucap Pras, lalu melihat waiters datang sambil membawa pesanan Pras, "Ini dia, minumlah. Tapi jangan sampai mabuk. Aku tidak mau, di marahi Aya!"
"Tidak ada yang memarahimu! Santai saja!" ucap Rian menuangkan minumannya ke dalam gelas kecil dan meneguknya.
Pras menggelengkan kepalanya saat melihat cara minum Rian yang bruttal. "Cukup, kau sudah mabuk! Aya bisa marah!" ucap Pras merebut botol yang berada dalam genggaman Rian.
"Kau! Kembalikan!" racau Rian