Gagal menikah dengan calon tunangannya tidak membuatnya putus asa dan tetap kuat menghadapi kenyataan.
Kegagalan pertunangannya disebabkan karena calon suaminya ternyata hanya memanfaatkan kebaikannya dan menganggap Erina sebagai wanita perawan tua yang tidak mungkin bisa hamil.
Tetapi suatu kejadian tak terduga membuatnya harus menikahi pemuda yang berusia 19 tahun.
Akankah Erina mampu hidup bahagia dengan pria yang lebih muda darinya??
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fania Mikaila AzZahrah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 16
Beberapa mobil berbak tertutup berjejer di sepanjang jalan kenangan ehh jalan rumahnya pak Raffi dan Bu Ulfa yang menurunkan beberapa bingkisan berupa bahan-bahan kebutuhan pokok sehari-hari.
Kedatangan rombongan keluarga besar Erina yang hanya berjumlah sekitar sepuluh orang itu, disambut hangat oleh orang-orang kampung Mekarjaya.
“Masya Allah Pak Jendral baik banget sampai-sampai membawa sumbangan yang cukup banyak untuk warga kami,’ ucapnya Pak Didi selaku pak RT setempat.
“Syukur Alhamdulillah kami sangat bersyukur dan berterima kasih Pak Irfan karena bantuan bapak sangat dibutuhkan oleh warga apalagi dalam rangka persiapan bulan suci Ramadhan,” ucap Pak Budi.
“Ini hanya tidak seberapa Pak, ibu-ibu kami bahagia bisa berbagi bersama dengan kalian semua,” balasnya Pak Irfan.
“Mari masuk istirahat Pak, ijinkan bapak-bapak yang akan membagikan semua bungkusan itu kepada para masyarakat. Bapak dengan ibu Rasmi silahkan masuk beristirahat karena pasti kalian capek telah melakukan perjalanan jauh,” ucapnya Pak Raffi yang tidak enak hati dengan besannya.
“Makasih banyak, kami permisi bapak,ibu insha Allah sore nanti kami akan mengunjungi beberapa tempat sebagai agenda kunjungan kerja kami,” ucapnya pak Irfan.
“Iya Pak Jenderal siap,” balas semuanya.
Semua orang masuk ke dalam kamar masing-masing. Rumah yang terbilang sederhana tapi memiliki banyak kamar bisa menampung semua anggota keluarga Erina yang berasal dari kota.
Bangunan yang kebanyakan berbahan kayu jati itu berdiri kokoh di atas lahan yang cukup luas.
Warna cokelat tua mendominasi semua ornamen perabot rumah yang terdapat di dalamnya itu.
Pak Raffi sama sekali tidak memakai barang-barang elektronik modern kecuali televisi, komputer dan kipas angin. Alat memasak pun masih memakai cara lama yaitu tungku api kayu bakar.
Alasannya cita rasa masakannya akan lebih terasa nikmat dan tentunya lebih sehat dan higienis. Bahkan sebagian besar bahan-bahan makanan seperti sayuran mereka peroleh dari hasil ladang yang ada di belakang rumahnya.
Sayur mayur tidak ada yang tersentuh pupuk ataupun pestisida yang mengandung bahan kimia. Pak Raffi memakai pupuk kompos, kandang dan pupuk organik sebagai pupuk utama mereka.
Semua itu petuah dari kedua buyutnya dan menurun hingga ke kedua orang tuanya yang sudah lama meninggal dunia.
“Maaf rumah kami sederhana dan mungkin kondisinya jauh berbeda dengan apa yang ada di rumah kalian,” ujarnya Pak Raffi.
“Maaf kami seperti ini karena sudah terbiasa dan karena amanah dari mendiang bapak kami yang melarang dan menganjurkan agar kami memakai barang-barang yang sederhana yang tidak banyak menyebabkan polusi,” sahutnya Bu Ulfa.
Kedua pasangan suami istri itu menjelaskan kondisi rumahnya karena melihat raut wajah mereka yang terkaget-kaget melihatnya.
Rumah yang bersih tertata rapi sehingga terkesan seperti rumah orang-orang yang tinggal di keraton saja Karena bangunannya mengadopsi dari keraton yang ada di Jogja.
“Kami sangat beruntung Pak Raffi karena untuk pertama kalinya kami bisa merasakan benar-benar hidup di pedesaan yang masih memyuguhkan suasana yang masih alami dan sejujurnya kehidupan seperti ini lebih sehat dibanding kehidupan kami yang ada di perkotaan,” timpalnya pak Raffi.
“Kami gembira Paman, kalau boleh jujur saya sudah lama mengimpikan hidup yang jauh dari kebisingan ibu kota besar yang setiap hari bisa menikmati pemandangan pagi hari yang cerah dengan pemandangan hamparan sawah yang menguning pohon-pohon yang menghijau,” imbuhnya Esra.
Pak Raffi dan Bu Ulfa serta Arsyila bersyukur karena anggota keluarga istrinya Arshaka tidak sombong dan malah bahagia bisa menikmati suasana pedesaan yang masih kebanyakan alami belum tersentuh oleh kehidupan modern yang lebih banyak dampak negatifnya dibandung dengan positifnya jika pemakaiannya disalah gunakan.
“Alhamdulillah kalau begitu silahkan beristirahat dan kalau ada yang ingin jalan-jalan di sekitar sini panggil Arsyila kakaknya Shaka atau bisa Shaka yang memandu kalian,” Bu Ulfa melirik ke arah anaknya yang selalu lengket kemanapun istrinya melangkah.
“Iya, aku akan memandu kalian anggap saja aku adalah tour guide kalian,” candanya Arshaka.
Bu Ulfa dan Arsyila berjalan ke arah dapur karena sudah pukul sepuluh pagi lewat sedikit setelah melihat langsung ke arah jam dinding.
“Mas, aku jalan-jalan ke belakang yah, gak bisa tidur juga,” pinta Erina.
“Mbak Erina kagak takut kan kalau hanya sendirian?” Tanyanya Shaka yang membersihkan ranjangnya yang sudah rapi dan bersih.
Erina tertawa mendengar perkataan dari suaminya itu,” mas kira gue ini anak kecil yang mudah kesasar apa? Insha Allah gue balik dengan selamat kecuali ada pria ganteng yang membuatku tertarik mungkin gue gak balik-balik lagi ke sini,” candanya Erina.
Arshaka yang mendengar ucapan Erina sontak berjalan mendekat dan tanpa permisi langsung memeluk tubuhnya Erina dengan erat.
“Gue gak bakalan biarkan pria manapun yang mengusik dan merebut milikku! Gue akan bertarung dengan orang itu,”
Erina tersenyum karena Shaka akhirnya terpancing dengan omongannya,” enggak ijinkan gue dekat dengan cowok lain tapi kamu nggak mau memenuhi tanggung jawabmu sebagai seorang suami.”
Shaka tanpa ragu menarik tengkuk lehernya Erina, tapi baru saja ingin mendaratkan ciumannya tiba-tiba pintu kamarnya terbuka lebar dari arah luar.
“Ahhh! Aku gak lihat kok!” Teriaknya Elma yang langsung gegas pergi dari kamar kedua pengantin baru itu.
Shaka dan Erina cekikan karena kedapatan sedang melakukan sesuatu yang berbau plus+++.
“Gue akan memenuhi tanggung jawabku sebagai seorang suami asalkan hatimu dan hatiku sama-sama terukir nama kita berdua dan tidak ada tempat untuk nama orang lain,” Shaka mengusap bibirnya Erina yang semakin membuatnya tergoda.
Shaka bahagia karena dugaannya ternyata salah yang menganggap kalau dirinya pria impoten. Tapi, dia belum siap menuntut haknya dan menunaikan kewajibannya sebagai seorang suami.
Erina mengangguk sambil tersenyum simpul,” makasih banyak atas pengertiannya lagian gue juga datang bulan jadi untuk seminggu kedepan tidak bisa melakukannya kalau setelah itu mungkin bisa.”
Shaka menyelipkan anak rambutnya Erina ke belakang telinganya,” gue suka Mbak terus terang tapi gue belum yakin apa itu sekadar kagum saja ataukah karena rasa nyaman bersama Mbak, entahlah dan gue berharap Mbak juga mulai membuka hatinya untuk suami brondongnya Mbak.”
Erina mengecup sekilas bibirnya Shaka,” gue juga sudah ada rasa tapi baru dikit.”
Erina buru-buru melepaskan pelukannya dari tangan kekarnya Shaka dan berjalan ke arah belakang rumah yang cukup panjang itu.
Shaka tersenyum sambil menyentuh bibirnya,” gue pastikan Mbak adalah satu-satunya wanita yang ada di dalam hatiku dan hanya Mbak yang akan gue cintai sepanjang hidupku.”
Erina berjalan mengelilingi rumah kedua mertuanya itu yang memiliki ukuran paling terbesar dari rumah yang ada di sekitar area itu.
“Kamu nggak istirahat?” Tanyanya Erina yang melihat Esra memainkan ponselnya.
“Nggak ngantuk Mbak, ini lagi lihat-lihat orang yang sibuk di dapur. Katanya orang sini kalau hajatan semua keluarga sanak saudara dan tetangga berdatangan untuk membantu persiapan acara sambil membawa barang-barang yang dibutuhkan oleh pihak keluarga yang punya hajatan,” jelasnya Esra.
“Gue mau ke sana bantuin ibu mertua gue, kamu mau disini saja atau mau gabung kami?” tawarnya Erina.
“Nantilah setelah kerjaan gue selesai. Kakak duluan saja lagian gue malu gabung mereka pegang pisau saja kagak pernah nanti malu-maluin atau ngerepotin mereka saja” tolaknya Esra dengan halus sambil terkekeh.
“Gue duluan ke sana, jangan mau dikibuli oleh pria, cukup kakak yang pernah merasakan dipermainkan oleh seorang pria,” ucap Erina yang tau apa yang dialami oleh Esra adiknya itu.
Esra memandangi kepergian kakaknya,” gimana caranya gue bisa melupakannya sedangkan dia adalah satu-satunya lelaki yang aku cinta. Tapi, kami sangat sulit bersatu karena dia sudah berkeluarga.”
Air matanya lolos seketika, dia sering merutuki kebodohannya karena jatuh cinta pada suami wanita lain tapi tidak mau menjadi perusak rumah tangga wanita lain. Dia hanya ingin mencintai dalam diamnya tanpa mengutarakan perasaannya sendiri.
Erina berbaur dengan masyarakat sekitar, kedatangannya disambut hangat oleh para emak-emak rempong.
“Ibu Polwan tidak perlu repot-repot membantu kami, takutnya kuku cantiknya ibu polwan rusak lagi gara-gara motong sayuran,” cibirnya Bu Jamila.
Galih memperhatikan Erina sambil tersenyum mengejek, “Iya Bu polwan ini pekerjaan tidak cocok untuk ibu. Lagian belum tentu ibu Polwan bisa memotong-motong sayuran,” ejek Galih.
Erina tersenyum hambar karena baru saja bersemangat untuk membantu para ibu-ibu malah langsung diskatmat.
“Pekerjaan yang tidak cocok dengan saya itu adalah pekerjaan yang menghina demi kebahagiaan sendiri dan menjatuhkan mental orang lain. Insha Allah saya akan melakukannya meski ini adalah pertama kalinya aku ke dapur,” sarkas Erina.
Bu Lina yang melihat kejadian itu langsung menengahi mereka,” Neng geulis sini nak bantuin ibu kupas sayuran ini, kamu pasti bisa melakukannya.”
“Sini nak cantik, nggak usah diladeni. Mulut mereka memang pada suka nyinyir,” ucapnya Bu Reni.
Erina membantu ibu-ibu memasak siang hari itu. Sesekali Erina bertanya kepada mereka, apabila ada hal-hal yang tidak diketahuinya terutama yang membuatnya penasaran.
Arshaka yang memperhatikan dari jauh istrinya tersenyum lebar,” gue kirain dia enggak bisa berbaur dengan orang-orang sini ternyata dia mudah beradaptasi dengan siapapun dan dimanapun dia berada.”
“Itu namanya dimana kaki berpijak di situ langit dijunjung, adik ipar orangnya engga gengsian berbeda dengan cewek-cewek kota yang ketakutan padahal baru ngupas bawang saja sudah pada ngedrama,” sahut Arsyila yang kebetulan dia mendengar ucapan adiknya.
“Gue bersyukur karena dipertemukan oleh Mbak Erina, andaikan perempuan lain belum tentu seperti ini. Gue pasti akan kerepotan mengurusnya tapi Mbak Erina orangnya serba mandiri tapi terkadang muncul juga sisi manjanya sebagai perempuan,” jelas Arshaka.
Arsyila bahagia mendengar adiknya berkata seperti itu karena itu tandanya sudah ada sinyal-sinyal cinta dari mereka berdua.
“Kakak doakan semoga pernikahan kalian langgeng hingga Kakek nenek dan sakinah mawadah warahmah hingga til Jannah,” ucapnya Arsyila.
Arshaka buru-buru mengaminkan doa-doanya Arsyila tanpa ada keraguan,” amin ya rabbal alamin.”
Arshaka masih betah berdiri sambil memandangi apa yang dilakukan oleh istrinya hingga ucapan ungkapan perasaan yang menggambarkan perasaannya meluncur dari bibirnya begitu saja.
“Hidup tanpamu seperti hidup tanpa udara, Aku mencintaimu Erina Syifa Mutmainah, semoga kita memiliki kehidupan yang bahagia bersama selamanya,”