Sebuah insiden kecelakaan pesawat mengakibatkan Elara menjadi salah satu korbannya.
Gadis berusia 24 tahun itu tidak ditemukan dalam keadaan masih bernyawa, maupun jasad. Alhasil, Elara pun dinyatakan hilang.
Pada kenyataannya, Elara hidup, dia terdampar di sebuah hutan hingga mempertemukannya dengan sosok pria pendaki gunung, Shane Gladwin.
Shane merawat Elara dalam keadaan sulit dan mereka saling jatuh cinta satu sama lain.
Akan tetapi, saat kembali pada kehidupan awal, Elara menemukan fakta baru yang membuat Elara harus menyadari posisinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chyntia R, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
29. Satu-satunya
Setelah mendapat telepon dari Shane yang mengajaknya untuk bertemu. Elara langsung bersiap. Ia mandi dan mematut diri di meja rias. Meski kemarin sempat terjadi pertengkaran diantara mereka, tapi akhirnya hubungan keduanya kembali membaik.
"Cantik," gumam Elara memuji bayangan diri sendiri yang terpantul dari cermin. Merasa sudah siap, ia lantas keluar dari kamar di Apartmennya.
Bersamaan dengan itu, bel pun terdengar. Yang Elara yakin jika itu adalah Shane yang datang menjemputnya.
Ini adalah saturday night, sekaligus kencan pertama mereka setelah melalui beberapa hari yang sibuk di weekdays.
Elara membuka pintu dan mendapati sebuah buket besar bunga mawar merah didepan wajahnya. Bunga itu sekaligus menutupi siapa yang membawanya. Namun Elara tahu siapa itu berkat aroma parfum yang terasa familiar di indera penciumannya.
"Shane?"
Shane memperlihatkan wajah tampannya yang disembunyikan dari balik buket tersebut, tersenyum dan mengulurkan itu pada Elara.
"Untukmu ..."
"Thanks," ujar Elara sembari menghirup wangi buket bunga yang kini sudah berpindah ditangannya. Elara tidak bisa menahan senyumannya yang merekah akibat perlakuan romantis Shane saat ini.
"Kau cantik sekali, aku jadi tidak rela jika kecantikanmu ini dilihat oleh pria lain. Apa kita tidak usah kemana-mana?" kelakar pria itu.
Elara terkekeh pelan, menutup mulutnya yang terbuka karena tawanya. "Kau selalu saja menjadi perayu ulung," ujarnya sembari memutar bola mata.
Shane memang mengajak Elara untuk makan malam bersama malam ini. Entah apa yang ingin pria itu bicarakan
Ini tidak akan seperti makan malam sebelum-sebelumnya yang kaku, karena kali ini mereka tampak mesra, bahkan tidak ragu untuk menunjukkan perhatian satu sama lain. Itu terbukti saat Elara mulai membenarkan dasi Shane dan Shane turut merapikan poni Elara.
Sekarang Shane tertawa, lalu menyodorkan tangannya pada gadis itu. "Kita berangkat?" tanyanya kemudian.
Dan Elara mengangguk sembari menautkan tangannya di lengan Shane.
"Bukankah kita sangat serasi?" kata Shane saat mereka mulai berjalan menuju basement dimana mobil Shane diparkirkan.
"Hmm, sepertinya begitu."
"Kenapa jawabanmu tidak yakin begitu?"
"Karena kau terlalu tampan untukku."
Shane tergelak. "Sepertinya kau sudah mulai terkena virus perayu ulung yang ku tebarkan," kelakarnya.
Elara masuk ke dalam mobil yang pintunya sudah dibukan oleh Shane. Lalu mobil itu mulai meluncur membelah jalanan kota yang tampak padat dan megah.
Mereka tiba di sebuah Restoran mewah yang belum pernah Elara kunjungi sekalipun selama ia berada di Hamburg.
Shane bahkan memesan meja khusus untuk mereka berdua yang letaknya ada di rooftop Restoran tersebut. Disana cukup dingin karena angin mulai berhembus semilir. Elara yang mengenakan gaun dengan lengan sebahu, mulai merasa kedinginan.
Shane membuka jas yang ia kenakan, lalu menyampirkannya di bahu Elara.
"Thank you," kata Elara melihat sikap Shane yang pengertian.
Shane hanya tersenyum saat menanggapinya.
Tempat itu menyajikan pemandangan-- dimana lampu-lampu gedung dan instalasi kota terhampar dan berpendar dimana-mana--menambah kesan romantis makan malam mereka kali ini.
"Shane, disini indah sekali," puji Elara pada tempat makan pilihan Shane.
"Lebih indah dirimu," gombal Shane.
Elara terkikik lali duduk di kursi yang sudah Shane tarik.
Shane ikut mendudukkan diri dihadapan Elara, lalu tak lama pelayan sudah menyajikan makanan untuk mereka berdua, sepertinya Shane sudah memesan tempat sekaligus menu makanan saat me-reservasi meja tersebut sehingga mereka tak akan repot memilih lagi.
"Nikmati makanannya dan pastikan perutmu terisi," kata Shane sambil mengelus punggung tangan Elara dengan lembut.
Mereka mulai makan dan menikmati menu makanan yang cukup banyak dan beragam.
"Apa rasa makanannya cocok di lidahmu?"
Elara mengangguk atas pertanyaan Shane. Mereka mengobrol ringan dan Shane juga berterus terang pada Elara mengenai kehidupan kerjanya.
"Aku mewarisi sebagian dari perusahaan real estate milik mendiang Ayahku. Sebagian lagi sebenarnya milik Shawn, tapi karena Shawn meninggal, akhirnya semua miliknya menjadi milikku. Sehingga tanggung jawabku disana bukan lagi setengah, melainkan sepenuhnya."
Elara spechless dengan pernyataan yang Shane utarakan padanya. Apakah ini benar? Namun tidak ada keraguan dihati Elara yang mengatakan jika Shane membohonginya.
"Kau bilang kau hanya bekerja di perusahaan Real Estate?" tanya Elara merujuk perkataan Shane saat mereka berkenalan di hutan waktu itu.
"Aku memang bekerja disana, kan?" Shane mengendikkan bahu. "Hanya saja, aku belum mengatakan jika aku pemiliknya. Belum, bukan berarti tidak akan mengatakan--sehingga saat ini lah aku baru mengatakannya padamu," pungkasnya.
Elara terdiam, dia sulit berkata-kata. Bukan karena kekasihnya ternyata seorang bilionare. Melainkan, karena Shane sangat terbuka padanya. Kenapa? Apa Elara memang berhak mengetahui hal itu? Mengetahui siapa Shane sebenarnya?
Saat makan malam mereka sudah habis, Shane mulai melanjutkan pembicaraan kembali karena ia merasa Elara banyak diam setelah dia mengutarakan semua tentang dirinya pada gadis itu.
"Lara, aku harap kau memahami bahwa dirimu sangat berarti untukku. Maka dari itu, aku berusaha terbuka padamu. Mengenai siapa aku. Karena aku percaya, kau mencintaiku bukan karena siapa aku, tetapi karena kau menerimaku apa adanya."
"Darimana kau yakin? Bisa saja aku memanfaatkanmu setelah aku tau kau kaya?" kata Elara terkikik.
"Aku tau pasti karena aku bisa menilai jika kau orang yang tulus. Aku tau kau tidak mencintaiku karena kekayaanku. Jangankan memanfaatkanku, ku pikir saat ini kau sedang menyesali karena berurusan dengan pria sepertiku, kan?" tebak Shane kemudian.
Jika dikulik lebih dalam, dihati Elara memang tidak pernah memandang siapa Shane, bahkan selama ini ia tidak pernah mencari tau apa dan siapa lelaki itu. Ia percaya pada Shane atas dasar apa yang pria itu ucapkan padanya. Dan lagi, sejak awal Elara memang sudah menyerahkan diri sepenuhnya pada pria tersebut kendati waktu itu dia belum mengetahui siapa Shane sebenarnya.
Dan benar, Elara terkejut mengetahui siapa Shane dan ada penyesalan dalam dirinya kenapa ia harus terjebak perasaan dengan pria seperti Shane yang notabenenya berada di level yang sangat jauh dengan Elara. Elara merasa tidak percaya diri. Pun menganggap dirinya tidak pantas membersamai Shane.
"Lara, aku jatuh cinta padamu, untuk itu... menikahlah denganku." Shane tiba-tiba sudah berlutut dihadapan Elara sembari mengeluarkan satu kotak berisi cincin berlian yang berkilauan.
Elara semakin tidak bisa berkata-kata. Kenapa pria ini memilihnya? Bukankah jika Shane mau dia bisa menunjuk gadis mana saja yang dia inginkan. Kenapa harus Elara yang dipilihnya? Begitulah batin Elara.
"Shane ..." Suara Elara tercekat, dia bahkan nyaris kehilangan kata sekarang.
"Will you marry me, Elara Faradisa?"
Meskipun Elara ingin menolak mengingat derajat mereka yang jauh berbeda, tapi entah kenapa perasaan hatinya justru menuntut pergerakan tubuh untuk mengangguki pernyataan Shane.
"Kau mau?" tanya Shane dengan raut semringah saat melihat Elara mengangguk.
"Ya, tidak ada alasan bagiku menolakmu," kata Elara disertai airmata haru.
Shane langsung memasangkan cincin di jari Elara dan memeluknya erat.
"Kenapa secepat ini, Shane? Aku pikir kita belum lama mengenal?"
"Selain karena mencintaimu, aku tidak bisa menunggu lebih lama. Lagipula, aku tidak mau semua orang terus beranggapan jika aku adalah suami Stevi."
Mendengar nama Stevi, Elara langsung melepas pelukannya dengan Shane.
"Kalau kita menikah, bagaimana dengannya, Shane?"
"Biar dia pergi dengan sendirinya karena kau yang akan menjadi istriku. Satu-satunya istriku," tegas Shane menekankan kalimat terakhirnya.
Sejak di Hutan bersama Elara, ia bahkan sudah berjanji akan menikahi gadis itu, jadi sekarang adalah saat yang tepat menurutnya, apalagi ia sudah terlanjur berbohong pada ibunya mengenai kehamilan Elara.
Meski sekarang Elara belum tau mengenai hal itu, tapi Shane yakin jika Elara akan marah jika tau Shane mengarang soal kehamilannya. Untuk itu, Shane mau meyakinkan Elara dulu dan mengajaknya menikah barulah nanti ia akan mengatakan pada Elara terkait kebohongan yang Shane ucapkan pada Emma dan Stevi.
...Bersambung ......
Dukung terus ya. Jangan lupa tekan gambar jempolnya✅
mksud dari gk pernah bisada hamil anak Shane itu gmna??jgn bilang klo rahimnya jg diambil Thor?? please jgn sampek..kasian Elara.nya..
dan sebagai wanita baik2 penting punya harga diri,agar tak sembaranfan membuka paha utk laki2 yg bukan suami..error semua tokohnya
yg baca juga sewot
hahaja🤣🤣🤣