NovelToon NovelToon
Kiandra Dan Tara

Kiandra Dan Tara

Status: sedang berlangsung
Genre:Keluarga / Teman lama bertemu kembali / Mengubah Takdir
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Sabana01

Kiandra tumbuh sebagai anak yang tak pernah diakui ayahnya. Ibunya diusir, hidupnya penuh luka, dan amarah menjadi satu-satunya cara bertahan.

Di sekolah, ia bertemu Tara—perempuan yang selalu berada di sisi yang dipilih dunia. Mereka musuh, saling menjatuhkan, hingga seorang cowok bernama Daffa membuat kebencian itu semakin panas.

Semua berubah ketika Kia tahu: **Tara adalah saudara tirinya.**

Salah paham menghancurkan segalanya. Tuduhan kejam membuat hidup Tara runtuh, dan takdir mempertemukan mereka di bawah satu atap sebagai dua orang yang saling membenci. Hingga waktu memisahkan mereka.

Enam tahun kemudian, mereka bertemu kembali sebagai orang dewasa. Luka lama belum sembuh, cinta lama belum mati, dan kebenaran menunggu untuk diakui.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sabana01, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 21 – Rumah yang Tak Pernah Damai

Jika ada satu hal yang Kia pelajari setelah Tara tinggal di rumah itu, maka itu adalah:

berbagi atap tidak berarti berbagi ketenangan.

Rumah kecil itu tidak pernah benar-benar sunyi lagi.

Bukan karena suara tawa, bukan pula karena kehangatan keluarga yang bertambah. Tapi karena cekcok kecil yang tak pernah selesai, seperti api yang tidak pernah benar-benar padam—hanya berganti bentuk.

Pagi pertama setelah makan malam canggung itu, Kia bangun lebih awal. Ia terbiasa mengerjakan segalanya sendiri. Menyeduh kopi, menyapu halaman, menyiapkan sarapan sederhana untuk ibunya.

Saat ia masuk dapur, panci di atas kompor sudah menyala.

Tara berdiri di sana.

Memakai kaus longgar dan rambut diikat asal. Terlihat berbeda dari Tara yang biasa ia lihat di sekolah—tidak rapi, tidak anggun, tidak terlihat seperti “anak yang dipilih”.

Kia berhenti melangkah.

“Oh,” kata Tara kaku. “Aku pikir belum ada yang bangun.”

Kia menatap kompor. “Kompor gue.”

Nada suaranya datar, tapi cukup tajam.

Tara buru-buru mematikan api. “Maaf. Aku cuma mau bikin teh.”

“Lain kali bilang.”

Tara menghela napas kecil. “Aku nggak tahu harus izin ke siapa. Tante lagi tidur.”

Kalimat itu terdengar sederhana, tapi tetap terasa asing.

Kia meletakkan tas sekolahnya agak keras di meja. “Ini rumah ibu gue.”

Tara menatap lantai. “Aku tahu. Aku cuma… dititipkan.”

Kata itu terdengar ringan, tapi sarat makna.

Ibunya Kia muncul dari belakang dengan sapu di tangan. “Ada apa pagi-pagi?”

“Nggak apa-apa, Bu,” jawab Kia cepat.

Tara menunduk. “Aku ke kamar aja.”

Ia pergi, meninggalkan dapur dengan suasana yang terasa semakin sempit.

Ibunya Kia menatap punggung Tara, lalu menoleh ke Kia. “Dia nggak punya siapa-siapa di sini selain kita.”

Kia menghela napas panjang. “Bu, aku capek.”

Ibunya tidak memaksa lagi.

Hari-hari berikutnya menjadi pola yang melelahkan.

Masalah kecil berubah jadi besar.

Handuk yang tergantung di tempat salah.

Piring yang lupa dicuci.

Lampu yang dibiarkan menyala.

Pintu kamar yang ditutup terlalu keras—entah sengaja atau tidak.

“Lo bisa nggak sih rapihin barang lo sendiri?” suara Kia terdengar dari ruang tengah.

“Aku lagi mau beresin,” sahut Tara dari kamarnya. “Nggak perlu ngomel.”

“Udah dua hari.”

“Aku masih adaptasi!”

“Ini bukan kosan!”

Tara keluar kamar. “Aku juga nggak minta dititipin di sini!”

Kalimat itu membuat udara membeku.

Ibunya Kia muncul di ambang pintu. “Cukup.”

Keduanya diam.

Tara masuk kembali ke kamar tanpa membanting pintu. Justru itu yang membuat Kia merasa bersalah.

Di sekolah, jarak mereka semakin jelas.

Mereka duduk terpisah. Tidak berangkat bersama. Tidak pulang bersama. Seolah rumah dan sekolah adalah dua dunia yang sama-sama tidak nyaman.

“Kalian ribut terus?” tanya Daffa suatu siang.

Kia mengangkat bahu. “Namanya juga orang asing dipaksa serumah.”

“Dia bukan asing,” balas Daffa pelan.

“Belum tentu juga keluarga,” jawab Kia dingin.

Daffa menatapnya lama. “Kadang luka bikin orang kelihatan jahat.”

Kia tidak membalas.

Karena ia tahu—ia juga terluka.

Malam hari selalu jadi waktu paling berat.

Saat rumah sepi, saat pikiran tidak bisa lari.

Suatu malam, Tara terbangun karena suara air dari kamar mandi. Tangis tertahan.

Ia berdiri di depan pintu kamarnya.

Tangannya terangkat… lalu turun kembali.

Ia kembali ke tempat tidur.

Karena ia juga lelah.

Karena ia juga sedang menumpang hidup.

Pertengkaran terbesar terjadi beberapa hari kemudian.

Dimulai dari hal sepele—makanan.

Ibunya Kia memasak menu sederhana seperti biasa.

Tara menatap piringnya lama. “Aku alergi ikan laut.”

Ibunya Kia terkejut. “Kamu nggak pernah bilang, Nak.”

Tara menunduk. “Aku nggak enak.”

Kia mengangkat kepala. “Terus kita harus berubah semua?”

Tara menatapnya. “Aku cuma pengen dimengerti.”

“Ini rumah kami,” balas Kia tajam. “Bukan rumah singgah rasa hotel.”

Kalimat itu menghantam keras.

Tara berdiri. “Kalau aku bisa milih, aku nggak akan di sini!”

Ibunya Kia menepuk meja. “Cukup!”

Keduanya terdiam.

Tara mengambil jaketnya. “Aku ke luar sebentar.”

Ia pergi sebelum air matanya jatuh.

Makan malam itu berakhir tanpa suara.

Malam semakin larut.

Kia duduk di ruang tamu, sendirian.

Kenapa hidup serumah justru lebih melelahkan daripada saling membenci dari jauh?

Di luar, Tara duduk di bangku taman kecil dekat rumah.

Ia memeluk lututnya.

“Aku cuma pengen numpang hidup… bukan numpang luka,” gumamnya.

Saat Tara kembali, lampu teras masih menyala.

Ibunya Kia menatapnya lembut. “Masuklah. Ini juga tempatmu istirahat.”

Tara mengangguk pelan.

Dari balik kamar, Kia mendengar semuanya.

Untuk pertama kalinya, ia sadar—

Tara bukan datang untuk merebut.

Ia datang karena tidak punya tempat pulang.

Dan mungkin…

rumah ini tidak pernah benar-benar damai

karena dua anak yang terluka dipaksa berbagi ruang

sebelum mereka siap berdamai.

...****************...

1
sabana
terimakasih
Bela Viona
anak anak tdk salah
yg salah adalah org tua
terutama arman dan keluarga ny.
mash jdi teka teki,knp dgn ank perempuan ?
ank dri istri pertama perempuan,ank dri istri ke 2 perempuan, tpi knp ank dri istri ke 2 tetap di pilih dan di sayang ?
bgtu pun dgn Arman ? dri ke 2 ank ny,knp dia kaku dgn ank² ny ? sprti ad tembok yg kokoh .
Bela Viona
owhhh ank manjaaaa ya..
cucu intan payung oma kek ny..
cihhhhh dsar laki² gak guna, ga bisa tegas,model manut ae..
tunggu aj karma mu
Bela Viona
lumayan sesak di episode awal..
blm bisa komen bnyk..
Bela Viona
serius ini blm ada papan komentar ?
ok salam kenal thor,izin membaca karya nya
sabana: salam kenal jg🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!